
Happy reading 😘😘😘
Setibanya di Bandung, Rangga, Idam, dan Johan disambut hangat oleh tuan rumah. Mereka dipersilahkan masuk ke dalam mansion yang teramat megah dan bertabur hiasan nan mewah.
Dikelilingi oleh semilir udara khas perkebunan, mansion glamor milik keluarga Fariz dilengkapi kolam renang, air mancur serta air yang mengalir ke bawah melalui dinding kaca seolah seperti air terjun. View berupa hamparan dedaunan dan tumbuhan menghijau bisa terlihat dari jendela serta pintu yang terbuat dari kaca.
"Rangga --" Suara Nadia tercekat karena buncahan rasa bahagia kala melihat pria berparas rupawan berdiri di hadapan. Kerinduannya terobati setelah penantian panjang.
Semenjak lulus dari SMA, Nadia dan Rangga tidak pernah lagi bertemu. Nadia melanjutkan study ke luar negeri sedangkan Rangga pindah ke desa W bersama sang bunda.
Nadia mencintai Rangga sejak mereka masih duduk di bangku SMA kelas satu. Namun sayang, cinta Nadia bertepuk sebelah tangan. Rangga hanya mencintai Khanza. Sejak pertama kali bertemu, hingga kelak pria itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.
"Nad, apa kabar?" Rangga sekedar berbasa-basi untuk menghalau kecanggungan.
"Baik, Ngga. Kamu, apa kabar?" Nadia berganti melontarkan kalimat tanya dan mengulurkan tangan. Seketika Rangga menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada, menolak uluran tangan Nadia secara halus.
"Alhamdulillah baik." Rangga mengulas seutas senyum dan sedikit menundukkan wajah untuk menghindari tatapan Nadia yang menyiratkan binar kerinduan dan rasa yang masih bertahta di dalam kalbu. Meski Nadia pernah menikah dan memiliki seorang putri, nyatanya perasaannya terhadap Rangga tak jua terkikis.
"Nad, kenapa kamu tidak segera mempersilahkan ketiga tamu kita untuk duduk?" tegur Fariz menginterupsi.
"Oh eh, maaf Ayah. Mmm ... mari silahkan duduk!" Nadia sedikit tergagap. Ia mempersilahkan ketiga tamunya untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
"Ngga, kamu dan kedua rekanmu mau minum apa?" tanya yang dilisankan oleh Nadia setelah ketiga tamu dan ayahnya mendaratkan bobot tubuh mereka di sofa.
"Maaf Nad, kami tidak ingin minum apa-apa," jawabnya tanpa menatap lawan bicara. Rangga benar-benar menjaga pandangan dan menjaga hatinya untuk istri tercinta, Saqueena Khanza Humaira. Selain itu, Rangga teramat risih melihat penampilan Nadia yang teramat seksi. Wanita itu mengenakan dress berwarna putih yang menonjolkan auratnya.
"Baiklah, bagaimana jika aku buatkan teh spesial untuk kalian?"
"Maaf, tidak usah Nad. Kami sedang menjalankan puasa sunah," ucapnya menolak dengan halus. Kebetulan, Rangga, Idam, dan Jo memang sedang berpuasa.
Selain itu, sebelum pergi ke Bandung, Rangga sudah diwanti-wanti oleh Khanza agar menolak segala bentuk minuman dan makanan yang diberikan oleh tuan rumah untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Firasat Khanza mengatakan ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh Nadia dibalik niat baik sang ayah. Rencana apa itu? Entahlah. Yang jelas, firasat seorang istri terkadang menjadi nyata. Dan Khanza tidak ingin itu terjadi.
__ADS_1
"Loh, puasa sunah apa Ngga? Bukankah, hari ini hari Jumat?" tanya yang terlisan dari bibir Fariz diikuti tautan kedua pangkal alis. Ia merasa heran, kenapa ketiga tamunya itu berpuasa di hari Jumat.
Bibir Rangga melengkung, hingga terbitlah seutas senyum yang membingkai wajah teduhnya.
"Kami menjalankan puasa sunah seperti yang dilaksanakan oleh Nabi Daud Om," jawabnya mantap.
Fariz manggut-manggut. Sedangkan Nadia, menimpali dengan melontarkan kalimat tanya. Seolah, ia tidak mengerti yang dimaksud dengan puasa Daud.
"Puasa sunah seperti yang dilaksanakan oleh Nabi Daud? Memangnya, puasa apa itu Ngga? Setauku hanya puasa di bulan Ramadhan dan puasa sunah Senin Kamis."
Senyum Rangga kembali terbit. Ia pun lantas memberi penjelasan mengenai puasa Daud, masih dalam posisi yang sama, tanpa menatap lawan bicara.
"Nad, puasa sunah yang kami jalankan yaitu puasa sunah Daud. Puasa yang dilakukan secara selang-seling. Sehari puasa dan sehari tidak. Oleh karena itu, apabila sedang melaksanakan puasa Daud dan jadwalnya bertepatan dengan hari Jumat, maka puasa tersebut tetap boleh dijalankan."
"Owhh, begitu. Aku kagum padamu, Ngga. Kamu sama sekali nggak berubah. Dulu, kamu rajin menjalankan puasa sunah Senin Kamis. Dan sekarang, kamu rajin menjalankan puasa sunah Daud. Pasti, Khanza comel sangat beruntung mempunyai suami yang alim sepertimu. Tidak seperti aku. Menikah dengan pria yang sama sekali bukan tipeku."
Kata-kata yang diucapkan oleh Nadia sukses mencubit hati Fariz. Pria itu menunduk lesu. Ia merasa teramat bersalah karena menikahkan Nadia dengan seorang pria yang sama sekali tidak dicintai dan mencintai putrinya itu. Pernikahan Nadia dan mantan suaminya hanyalah pernikahan bisnis. Pernikahan yang dilakukan hanya karena ambisi untuk melebarkan sayap bisnis dan menambah kekayaan.
Untuk menebus rasa bersalahnya, Fariz pun bersedia melakukan apa pun yang menjadi keinginan Nadia. Termasuk, mengelabui Rangga.
"Insya Allah, saya bersedia Om. Namun, saya harus mengetahui terlebih dahulu persyaratan yang ingin Om berikan."
Fariz mengulas senyum. Ia alihkan pandangan netranya ke arah Nadia yang duduk bersebelahan dengannya.
"Rangga, nikahilah putri saya! Nadia rela menjadi istri kedua karena dia sangat mencintaimu."
Rangga terkesiap. Begitu pun Idam dan Johan. Ketiganya tetap bersikap tenang, meski dada mereka bergemuruh.
"Maaf Om, saya tidak bisa," ucap Rangga dengan suaranya yang terdengar tegas.
"Kenapa? Putri saya sangat cantik. Bahkan lebih cantik bila dibandingkan dengan Khanza."
"Bagi saya, tidak ada wanita yang lebih cantik bila dibandingkan dengan Khanza. Istri saya tidak hanya cantik parasnya. Namun, jiwanya pun cantik. Sampai menutup mata, hanya Khanza-lah ... istri saya. Tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikan posisinya," tandas Rangga tanpa ragu.
__ADS_1
"Sebagai owner Go Sukses, saya mengucapkan ribuan terima kasih atas bantuan yang ingin diberikan oleh Om Fariz kepada para driver yang bekerja di bawah naungan perusahaan saya. Namun maaf, saya tidak bisa menerimanya jika persyaratan yang Om berikan sangat memberatkan," sambungnya.
Raut kecewa terlihat jelas di wajah Nadia. Ia tidak menyangka, Rangga dengan terang-terangan menolaknya. Menolak seorang wanita yang berparas cantik dan bergelimang kemewahan.
"Jika tidak ada yang ingin Om bicarakan lagi, kami mohon diri," ucap Rangga sembari beranjak dari posisi duduk.
Idam, Johan, Fariz, dan Nadia pun turut beranjak dari posisi duduk.
"Ngga, lebih baik ... kamu pertimbangkan lagi keputusanmu! Bukankah, ratusan driver yang bekerja di bawah naungan Go Sukses sangat membutuhkan bantuan dari saya? Sepeda motor mereka sudah usang dan sepertinya tidak layak digunakan."
"Dari mana Om Fariz tau?" tanya Rangga menyelidik.
Fariz tersenyum lebar. Pria bertubuh tambun itu menjawab pertanyaan Rangga dengan pongah.
"Rangga, Rangga. Kamu lupa siapa saya? Selain seorang pengusaha yang memiliki puluhan perusahaan, saya juga seorang pejabat. Pejabat yang sangat berpengaruh, bukan hanya di kota ini. Jadi, saya dapat dengan mudah mendapatkan informasi apapun tentangmu. Oya, jika kamu menolak persyaratan yang saya berikan, nyawa istri, anak, dan seluruh orang yang kamu cintai ... akan terancam. Kami sudah memasang bom di rumah mertuamu yang sewaktu-waktu bisa meledak."
Rangga mengepalkan tangan hingga urat-uratnya terlihat. Kentara sekali bahwa ia tengah diselimuti api amarah ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Insya Allah konflik terakhir menuju end. Jadi, tetap stay on hingga novel ini tamat. 😉
Maaf jika bertebaran typo
Jangan lupa meninggalkan jejak like 👍
Beri rate 5 ⭐
Klik ❤ untuk favoritkan karya
Beri dukungan author dengan memberi gift atau vote seikhlasnya (geratis kog) 😉
__ADS_1
Trimakasih dan lope lope sekebon 💗💗💗