
Happy reading 😘😘😘
Anjani menatap langit-langit kamar dengan pandangan netranya yang menerawang. Terbayang olehnya kejadian sebelum ia dibawa ke rumah sakit oleh Jaka dan Ijah. Kedua orang itu merupakan pelayan yang teramat empati terhadap Anjani.
....
Awan hitam bergulung-gulung disertai rintik gerimis yang mulai jatuh membasahi bumi. Angin yang semula bertiup lembut, kini berhembus kencang ... menggugurkan dedaunan. Seolah, alam sedang memberi pertanda. Namun pertanda apa?
"Dokter Khanza ...." Meri berteriak dan menghambur ke pelukan Khanza. Ia tumpahkan titik-titik air yang sedari tadi menganak di kelopak mata. Entah apa yang terjadi, hingga Meri terlihat seperti orang yang tengah dirundung duka ....
Tangan yang semula menjuntai, diangkatnya untuk membalas pelukan Meri. Lantas ia usap punggung Meri dengan penuh kelembutan seraya memberi ketenangan.
"Sus, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa, Suster Meri menangis?" tanya yang terlisan dari bibir Khanza. Tiba-tiba Khanza merasakan nyeri di ulu hati, meski ia belum mengetahui penyebab Meri menangis. Pikirannya tertuju pada seseorang yang mungkin mengalami drop pasca operasi caesar.
"Nyonya A-Anjani, Dok ...." Suara Meri tercekat. Seakan duka yang ia rasa menyumbat tenggorokannya.
"Apa yang terjadi pada Anjani, Sus?" Dhava menyahut ucapan Meri dengan melontarkan tanya disertai raut wajah yang menyiratkan kekhawatiran. Ia merasa, Anjani tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Ta-tadi kondisi Nyonya Anjani tiba-tiba drop. Dokter Nabila dan Dokter Aisyah sudah berusaha maksimal untuk menyelamatkan nyawa Nyonya Anjani. Ta-tapi, gagal --" Tangis Meri semakin menjadi. Tubuhnya berguncang hebat.
TES
Dhava meneteskan air mata duka. Begitu juga dengan Khanza. Segumpal daging yang bersemayam di dalam dada, serasa teramat nyeri kala mendengar kabar duka yang terlisan dari bibir Meri.
Dengan langkah gontai, Dhava berjalan mendekati ranjang pasien. Tubuh Anjani yang sudah tak bernyawa masih terbaring di sana.
Perlahan, Dhava mendaratkan bobot tubuhnya di tepi ranjang. Tangannya terulur untuk membuka kain berwarna putih yang menutupi wajah pucat Anjani.
"Jani ...." Lirih Dhava sembari memeluk tubuh wanita yang masih menjadi ratu di hatinya. Dhava menangis tersedu, meluapkan duka yang menyiksa jiwa.
"Jani, bangunlah! Kamu sudah berjanji ... akan berjuang demi ketiga putrimu. Kamu juga berjanji akan tetap tegar menghadapi badai ujian yang menyapa."
"Jani, buka matamu sayang! A-aku selalu ada untukmu. A-aku tak akan membiarkan Rudi menyakitimu lagi. Aku berjanji, akan menemani dan menguatkanmu. Aku akan menganggap ketiga putrimu sebagai putriku sendiri --"
Dhava mengeratkan pelukannya. Ia sangat berharap, Anjani kembali membuka kelopak matanya yang terbingkai bulu mata lentik.
Meri dan Khanza melerai pelukan. Keduanya lantas mengusap jejak air mata yang membasahi wajah sebelum mengayun kaki menyusul Dhava.
__ADS_1
"Va, kamu harus mengikhlaskan kepergian Anjani! Allah lebih mencintainya. Biarkan Anjani melangkah tanpa beban menuju pintu surga yang insya Allah terbuka lebar untuknya. Anjani sudah tidak merasakan sakit lagi, Va. Di surga-Nya, Anjani akan selalu berbahagia, karena dia pantas mendapat kebahagiaan setelah bersabar mengarungi kehidupan di dunia yang dipenuhi coba dan uji," tutur Khanza sembari mengusap pundak Dhava.
Nabila mengeluarkan selembar kertas putih yang berisi tulisan tangan Anjani. Lalu ia memberikannya kepada pria muda yang tengah dirundung duka. Dia ... Dhava Alfathan. Putra bungsu pasangan Alray, Alya dan Raikhan.
Dengan tangan gemetar, Dhava menerima selembar kertas dari tangan Nabila. Perlahan, ia membuka lantas membacanya di dalam hati.
Assalamu'alaikum Dhava. Pria yang selalu bertahta di hati hingga saat ini ....
Dhava, ketika kamu membaca tulisan tangan ini ... mungkin aku sudah pergi ke alam keabadian.
Dhava, dosaku terlalu besar terhadapmu. Aku menodai kesucian cinta kita dengan kekhilafan yang kini berujung nestapa. Aku tau, bahkan sangat tau ... rangkaian kata maaf tak akan mampu menebus dosa yang pernah aku perbuat. Meski aku bersujud dan mengiba, tak akan bisa mengembalikan keadaan seperti semula.
Dhava, rasa sesal selalu menghantui dan menyiksa jiwaku. Meski ragaku dimiliki oleh pria lain, tetapi hatiku ini masih setia untukmu.
Ikhlaskan aku pergi Va. Aku sudah lama merindu bertemu ayah dan bunda yang mungkin selalu setia menunggu putrinya ini di pintu surga. Aku yakin, suatu saat nanti ... kamu akan bertemu seseorang yang lebih baik dari wanita pendosa ini. Bukalah pintu hatimu untuk seorang gadis yang telah ditakdirkan menjadi pasanganmu, Va. Rengkuhlah kebahagiaan yang telah dipersiapkan oleh Allah untukmu, seorang hamba berhati mulia.
Dhava, jangan menangis ketika membaca tulisan tanganku ini. Tersenyumlah, karena senyummu selalu membuatku jatuh cinta.
Aku titip ketiga putriku, Va. Sayangi mereka seperti putrimu sendiri. Namun jika kedua mertuaku meminta hak asuh, maka ... serahkanlah ketiga putriku kepada mereka. Tetapi, jangan sekali-kali menyerahkan Mawar, Melati, dan Jingga kepada Rudi. Pria itu sama sekali tidak pantas menjadi papa ketiga putriku. Sungguh aku tidak rela jika Rudi menyentuh tubuh putri-putriku karena dia telah menyematkan sebutan kurcaci pada darah dagingnya sendiri.
Va, tubuhku sudah sangat lelah dan mataku ingin segera terpejam. Aku merasa, sudah tiba waktuku untuk kembali kepada-Nya. Merengkuh cinta yang sebenar-benarnya cinta.
Wassalamu'alaikum ....
Anjani
Dhava kembali menangis tergugu. Duka yang ia rasa semakin mendalam setelah membaca tulisan tangan Anjani. Andai waktu bisa berputar kembali, ia ingin mempertahankan dan memperjuangkan Anjani meski wanita itu sudah ternoda. Namun, apa yang sudah terlanjur terjadi tidak akan mungkin bisa diubah. Kini hanya kata sesal yang terlisan di dalam kalbu.
"Jani, maafkan aku. Maaf karena aku tidak bisa mempertahankan dan memperjuangkanmu. Maaf sayang ... maafkan aku. Ini semua kesalahanku, Jani."
Khanza kembali mengusap pundak Dhava seraya mentransfer energi positif agar pria muda itu merasa lebih tenang.
"Va, berlapang dada lah menerima takdir yang telah digoreskan oleh sang penulis skenario kehidupan. Kita hanya pemeran dalam kisah yang telah ditulis olehnya. Lanjutkan hidupmu meski tanpa Anjani. Ikhlaskan kepergiannya, agar langkah wanita yang kamu cintai itu terasa ringan," tutur Khanza bijak.
Dhava mengusap derai air mata yang membasahi wajah rupawannya. Lantas ia menghela nafas dalam sebelum bersuara.
"Iya Mbak. Dhava berusaha untuk mengikhlaskan Anjani. Dhava tidak ingin memberatkan langkahnya ... menuju ke alam keabadian untuk bertemu dengan almarhum ayah dan almarhumah ibundanya. Mungkin, dengan kepergian Anjani ... semua dera yang menghujam jiwanya akan sirna berganti kebahagiaan hakiki --"
Hening. Tak terdengar lagi ratap tangis yang memenuhi seisi ruangan. Berganti untaian do'a teruntuk almarhumah Anjani yang terlantun di dalam kalbu.
__ADS_1
"Menantuku, Anjani ...." Suara teriakan Dewi mengalihkan perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan.
Wanita paruh baya itu memeluk tubuh sang menantu diiringi isak tangis yang menyayat hati.
"Anjani sayang, maafkan bunda. Maaf karena tidak bisa bersikap tegas terhadap Rudi. Maaf Jani. Maaf ...."
.....
Bonus visual Bunda Dewi (ibu mertua Anjani) dan Dokter Aisyah
1. Bunda Dewi atau Ratna (nama asli visual Bunda Dewi)
Ratna merupakan salah satu sahabat author yang selalu ceria dan mudah bergaul. Ada beberapa karya yang sudah ditulisnya di apk ini dan di apk lain. Salah satu karya yang tengah digarapnya dengan bahasa santai dan teramat menarik mengisahkan ketulusan cinta Devan pada Naya. 😍
2. Dokter Aisyah atau Mama Al (Meelisya)
Sahabat author yang satu ini sangat aktif berselancar di media sosial dan dengan senang hati mempromosikan karya teman-teman author termasuk karya author Istri Comel.
Salah satu karya yang tengah digarapnya dengan sangat apik mengisahkan ketulusan cinta Alam kepada Ina. 😍
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
__ADS_1
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤