Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Murka


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Menantuku, Anjani ...." Suara teriakan Dewi mengalihkan perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan.


Wanita paruh baya itu memeluk tubuh sang menantu diiringi isak tangis yang menyayat hati.


"Anjani sayang, maafkan bunda. Maaf karena tidak bisa bersikap tegas terhadap Rudi. Maaf Jani. Maaf --" ucapnya penuh rasa sesal.


Herman, ayah mertua Anjani yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu, kini membawa tubuhnya mendekat ke sisi ranjang. Pria paruh baya itu mengusap lembut pundak sang istri dan berkata, "Bunda, ikhlaskan kepergian menantu kita. Meski terasa berat, tetapi dengan mengikhlaskan kepergiannya, insya Allah langkah Anjani menuju alam keabadian akan terasa ringan. Lebih baik, jenazah Anjani segera kita bawa pulang untuk disholatkan dan dikebumikan bersanding dengan makam kedua orang tuanya. Tidak baik jika menunda pemakaman terlalu lama."


"Benar apa yang dikatakan oleh suami anda Nyonya, lebih baik ... jenazah Anjani segera dibawa pulang dan dikebumikan. Serta jangan lupa untuk memberitahu putra anda, bahwa dia telah berhasil membunuh istrinya. Bukan membunuh dengan cara menghujamkan sebilah pisau belati atau anak panah yang runcing ke tubuh Anjani, tetapi membunuh dengan cara yang lebih kejam." Khanza terlihat geram. Amarahnya yang sudah tak terbendung ... ia tumpahkan melalui kata-kata bernada sarkasme. Andai Rudi berada di hadapannya, ia ingin sekali memberi pelajaran, dengan cara melayangkan bogeman mentah ke seluruh tubuh pria lucnut itu.


"Maafkan putra kami, Dokter. Saya berjanji ... kali ini akan bertindak tegas kepada Rudi. Saya pastikan, Rudi akan menyesali perbuatannya." Herman berucap dengan suaranya yang terdengar tegas dan tanpa ragu.


"Jangan meminta maaf kepada saya, Tuan. Tetapi, minta maaflah kepada Anjani. Karena perbuatan putra Tuan, Anjani mengalami preeklamsia ketika ia mengandung darah daging Rudi. Dan sekarang ... wanita malang ini menghembuskan nafasnya setelah melahirkan. Andai Rudi memperlakukan Anjani selayaknya seorang istri yang diperlakukan dengan sangat manis oleh suaminya, insya Allah ... Anjani tidak akan meninggal."


Kata-kata yang diucapkan oleh Khanza sukses mencubit hati Herman dan Dewi. Keduanya membenarkan ucapan yang dilisankan oleh dokter comel berparas cantik itu.


Nabila yang sedari tadi tak kuasa untuk melisankan kata-kata karena teramat syok setelah gagal menyelamatkan nyawa Anjani, kini ia membuka suara meski terdengar lirih. Nabila tidak ingin, jika kandungan sang menantu bermasalah karena tidak bisa mengontrol emosi.


"Sudahlah Khanza. Jangan membicarakan tentang Rudi di hadapan jenazah Anjani! Mungkin, sukma Anjani masih berada di sini. Jangan membuat Anjani bersedih. Biarkan Anjani melangkah tanpa terbebani oleh rasa amarah, benci, dan dendam!"


"Iya Bunda. Khanza tidak akan lagi membicarakan tentang Rudi di hadapan jenazah Anjani. Khanza hanya sekedar meluapkan emosi yang sudah tak terbendung."

__ADS_1


"Za, kamu harus pandai mengontrol emosi. Bunda tidak ingin kandunganmu bermasalah. Lebih baik, segeralah pulang ke rumah dan beristirahatlah! Bunda dan rekan-rekan dokter yang akan menangani semua pasien," tutur Nabila sembari mengusap jilbab sang menantu sebagai ungkapan rasa sayang.


Khanza menerbitkan seutas senyum manis lalu ia membalas ucapan ibu mertuanya. "Baik Bunda. Khanza akan menghubungi mas Rangga, supaya dia segera datang menjemput."


....


Rintik gerimis yang masih setia membasahi bumi, mengiringi pemakaman almarhumah Anjani. Para takziah meneteskan air mata duka, tatkala menyaksikan tubuh wanita malang itu dimasukkan ke dalam liang lahat, tak terkecuali Dhava. Kentara sekali bahwa Dhava sangat terpukul. Meski bibir dengan mudah mengucap kata ikhlas, tetapi nyatanya ... Dhava masih saja meratapi kepergian Anjani. Wanita yang masih setia bersemayam di dalam hati.


Alya mengusap lembut bahu putra bungsungnya. Wanita paruh baya itu berusaha membujuk Dhava agar tidak lagi meneteskan air mata duka dan mengajaknya untuk segera meninggalkan area pemakaman. Sebagai seorang ibu, Alya sungguh tidak tega melihat putranya tenggelam dalam kedukaan. Alya sangat memahami perasaan putranya saat ini, sebab ia pun pernah berada di posisi Dhava, kehilangan seseorang yang ia cinta.


"Va, yuk kita pulang! Tidak baik jika terus-menerus meratapi seseorang yang telah tiada. Lebih baik, kirimkan doa untuk Anjani dan lantunkan ayat-ayat cinta supaya langkah Anjani terasa ringan menuju alam akhirat. Mama yakin, Anjani tidak ingin melihatmu meneteskan air mata, Va."


"Tapi, Ma. Dhava masih ingin menemani Anjani. Kasihan dia berada di sini seorang diri. Rasa-rasanya, Dhava ingin ikut Anjani pergi. Supaya Anjani tidak merasa kesepian."


"Sayang, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Hidup dan mati seseorang itu sudah tertulis di dalam kitab-Nya. Begitu juga dengan jodoh. Va, kehendak Allah adalah yang terbaik. Jangan sampai kita berputus asa karena ujian yang datang menyapa. Bukankah, putra mama berkata ... sudah mengikhlaskan Anjani, jadi buktikanlah Va. Buktikan dengan perbutan, bukan hanya dengan kata-kata. Mengenai jodoh, yakinlah bahwa sang penulis skenario kehidupan sudah mempersiapkannya untukmu," tutur Alya bijak.


Alya melengkungkan bibir hingga terbitlah senyuman yang menghiasi wajah cantiknya. "Va, saat ini ... memang benar belum ada seorang wanita yang mampu menggantikan posisi Anjani. Belum bukan berarti tidak 'kan? Mama yakin, bila saat itu tiba ... maka pintu hatimu akan kembali terbuka. Dan kamu akan merasakan indahnya cinta dalam hubungan yang diridhoi oleh Allah."


"Benar yang dikatakan oleh Mama, Va. Dulu, Mama juga tidak bisa move on dari mantan calon suaminya yang kami kira sudah meninggal. Namun seiring berjalannya sang waktu, pintu hati Mama terbuka untuk papa," ujar Raikhan menimpali.


"Itu karena ketulusan cinta Papa yang mampu meluluhkan hati mama," sahut Alya tanpa memudar senyum.


"Va, sepertinya ... air langit akan turun semakin deras, lebih baik kita pulang sekarang. Kita langitkan pinta dan membaca kalam cinta untuk Anjani beserta kedua orang tuanya. Semoga, Allah meridhoi mereka untuk bertemu di surga-Nya." Raikhan kembali membuka suara.


"Iya, Pa." Dhava menghembus nafas berat. Perlahan, ia bangkit dari posisinya bersimpuh setelah mencium papan yang tertera nama Anjani.

__ADS_1


Dengan langkah gontai, Dhava mengikuti jejak kedua orang tuanya yang berjalan terlebih dahulu.


....


BRAKK


Herman mendobrak pintu kamar sang putra. Api amarah yang menyala di dalam dada semakin berkobar tatkala sepasang netranya menyaksikan ritual yang tengah dilakukan oleh Rudi dan Dahlia.


"Ayah ...." Rudi memekik. Ia dan Dahlia terkesiap. Seketika, kedua insan itu menutupi tubuh polos mereka dengan selimut tebal.


"Kalian dua manusia yang sama sekali tidak berakhlak. Terutama kamu, Rudi. Kamu membuat Ayah dan Bunda kecewa. Kami teramat malu mempunyai putra bejat sepertimu. Mulai hari ini, ayah tidak akan menganggapmu sebagai putra kami. Pergilah bersama wanita jal** itu! Tinggalkan tahta dan harta yang ayah amanahkan selama ini."


JEGLER


Kata-kata yang terlisan dari bibir Herman bagaikan petir yang menyambar. Rudi benar-benar tidak menyangka, ayahnya akan sangat murka. Dan kemurkaan ayahnya itu menjadi awal kehancuran hidupnya ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2