Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Dilema


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Juminten, pembantu baru yang bekerja di rumah Abimana, sangat terkejut kala mendengar teriakan seorang wanita yang memanggil-manggil nama Reni. Dengan mulut komat-kamit, ia pun segera menghampiri wanita itu.


"Heeh, Mbok. Kenapa teriak-teriak? Ganggu orang lagi kerja aja," sungut Juminten sambil berkacak pinggang.


"Maaf. Sa-saya ingin bertemu dengan Reni. Ada sesuatu yang sangat penting ingin saya bicarakan dengannya," tutur Salimah dengan merendahkan suara.


"Anda tidak tau etika bertamu ya? Seharusnya anda itu mengucapkan salam, bukan malah berteriak-teriak seperti orang demo," sarkas Juminten masih dengan posisi tangan yang sama.


Salimah tertunduk dan melipat bibirnya. "Maaf." Hanya kata itu yang ia lisankan untuk menanggapi ucapan pedas yang terlontar dari bibir Juminten.


Kirana dan Reni mengayun tungkai kala mendengar kegaduhan di luar rumah. Mereka ingin segera mengetahui penyebab kegaduhan itu.


"Jum, berbicaralah yang sopan! Beliau istri kyai Abdullah. Tidak sepatutnya kamu berbicara dengan nada yang sangat kasar," tegur Kirana dengan melempar tatapan tajam. Ia sungguh tidak suka dengan ucapan pembantu barunya itu. Bukan hanya sekali atau dua kali Kirana mendengar Juminten berbicara dengan nada kasar dan tidak sopan. Namun sudah berulang kali. Kirana jengah. Ia berniat untuk memulangkan pembantu barunya itu ke desa dan memberinya pesangon, agar bisa membuka warung di kampung halaman.


"Maaf Nyah. Saya tidak tau jika beliau istri kyai. Saya kira istri tukang becak langganan kita yang biasa mangkal di ujung jalan." Juminten berkilah dengan alasan yang tidak masuk akal.


"Alasanmu itu sungguh tidak masuk akal Jum. Bagaimana mungkin istri tukang becak itu mendatangi rumah ini?"


"Yaaa, siapa tau ... dia datang ke sini untuk melabrak Mbak Reni, Nyah." Juminten melirik Reni. Pembantu baru itu merasa iri pada putri angkat sang majikan setelah mengetahui cerita yang sebenarnya, bahwa Reni hanyalah seorang anak angkat, bukan anak kandung Abimana dan Kirana.


Fix, Kirana semakin memantapkan hati untuk memulangkan Juminten ke kampung halaman.


"Jum, saya sungguh tidak suka dengan perkataanmu itu. Selama dua minggu ini, saya berusaha untuk bersabar agar tidak terpancing emosi. Namun saya rasa, kesabaran saya sudah berada di ambang batas. Lebih baik, berkemas-kemaslah! Seusai ashar, saya akan meminta pak Dul untuk mengantarmu pulang," ucap Kirana dengan suaranya yang terdengar tegas.


"Tapi, Nyah."


"Tidak ada kata 'tapi'. Saya sudah lelah menasehatimu. Baru dua minggu bekerja di rumah ini, kamu sukses membuat saya darah tinggi."


Juminten tertunduk. "Baiklah, saya tidak akan bekerja lagi di rumah ini. Tapi, jangan antarkan saya pulang ke kampung halaman!" pintanya.


"Lalu, kamu mau diantar ke mana Jum? Bukankah di kota ini, kamu tidak memiliki kenalan atau saudara?"


"Ada Nyah. Saya memiliki kenalan di kota ini."


"Siapa?" tanya yang terlisan diikuti kerutan dahi.

__ADS_1


"Nyonya tidak perlu tau siapa dia. Yang terpenting bagi saya, misi saya bekerja di rumah ini sudah selesai."


Misi??? Entah apa tujuan Juminten bekerja di rumah Abimana. Sebenarnya, sejak awal mengenal Juminten, Kirana sudah merasa curiga pada pembantu barunya itu. Namun ia selalu memupus kecurigaannya dan tetap berpikiran positif.


Juminten menghentak kaki dengan sebal, lantas berlalu pergi dari hadapan majikannya.


Kirana menghembus nafas kasar. Di dalam benak ia mengucap istighfar karena telah terbawa emosi.


"Maaf, atas ketidak nyamanan Nyai. Saya sudah berulang kali menegur dan menasehatinya, tetapi tidak juga membuahkan hasil. Juminten tetap saja tidak berubah," tutur Kirana sungkan.


Salimah menerbitkan senyum. "Tidak apa-apa, Jeng. Saya malah merasa tidak enak hati. Karena saya, Jeng Kiran malah terbawa emosi."


"Bukan karena Nyai. Sebenarnya, selama dua minggu ini saya selalu dibuat emosi dengan ucapan dan tingkah laku Juminten yang kurang sopan. Pernah suatu hari, saya memergoki Juminten masuk ke dalam kamar Khanza putri saya dan membuka semua almarinya. Entah apa yang sedang ia cari," terang Kirana.


"Husnudzon saja, Jeng. Mungkin mbak Juminten ingin membersihkan kamar dan almari mbak Khanza," tutur Salimah bijak.


"Iya Nyai. Maaf, saya malah terlupa untuk mempersilahkan Nyai, masuk ke dalam rumah."


"Tidak apa-apa, Jeng. Sebenarnya, saya terburu-buru karena abah jatuh sakit. Beliau berkeinginan untuk bertemu dengan Reni," ucap Salimah berterus terang.


"Maaf Nyai, untuk apa kyai ingin bertemu dengan saya?" sahut Reni, melisankan tanya.


Reni menghembus nafas berat. Ia merasa dilema. Sebenarnya ia enggan berurusan lagi dengan Farhan dan keluarganya.


Reni ingin membuka lembaran baru dan berusaha melupakan bayang-bayang kelam masa lalu saat mahkotanya dinodai oleh Farhan.


"Ren. Bunda antar ya? Temuilah kyai Abdullah! Mungkin, beliau ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting," tutur Kirana seraya meluluhkan hati Reni.


Reni mengangguk pasrah. Jika Kirana sudah berkehendak, maka ia tidak kuasa menolak.


"Baiklah, Bund. Saya akan menemui beliau. Asal Bunda selalu berada di sisi saya."


Kirana dan Salimah menerbitkan senyum. Mereka merasa lega sebab Reni bersedia untuk menemui Abdullah.


....


Dengan perlahan, Salimah memutar handle pintu. Ia mengayun tungkai, memandu Kirana dan Reni masuk ke dalam kamar, tempat Abdullah dirawat.


"Assalamu'alaikum Bah," ucap Salimah dengan memelankan suara.

__ADS_1


Abdullah membuka kelopak netranya dan membalas ucapan salam yang terlisan dari bibir Salimah.


"Wa'alaikumsalam Ummi," lirih Abdullah.


"Bah, ummi datang bersama Reni dan Jeng Kirana," bisik Salimah.


Abdullah menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk seutas senyum. Dengan suaranya yang terdengar lirih ia meminta Reni supaya mendekat.


Reni mengangguk patuh. Ia berjalan mendekat lalu mendaratkan bobot tubuhnya di sisi ranjang.


"Reni, abah benar-benar meminta maaf kepadamu atas dosa besar yang telah diperbuat oleh Farhan. Abah mohon, menikahlah dengan Farhan. Kasihan cucu abah jika terlahir tanpa seorang ayah," ucap Abdullah mengiba.


Reni menghela nafas dalam, menghempas rasa yang membuatnya tak nyaman. Bagi Reni, permintaan Abdullah merupakan permintaan yang teramat berat dan tidak mungkin bisa ia sanggupi. "Kyai, saya sudah berusaha memaafkan dosa besar yang telah diperbuat oleh tuan Farhan. Tapi bukan berarti saya bersedia untuk menikah dengannya. Meski cucu Kyai terlahir tanpa seorang ayah, saya berjanji ... akan menerima dan mencintainya. Saya juga akan mendidiknya menjadi seorang anak yang saleh ataupun saleha. Jadi, Kyai dan Nyai tidak perlu khawatir --"


Abdullah memejamkan netra diikuti lelehan air bening yang menganak sungai, membasahi wajah sendunya.


"Ren, saya mohon ... tolong kabulkan permintaan saya. Mungkin, permintaan saya ini merupakan permintaan yang terakhir," pinta Abdullah dengan suaranya yang terdengar lirih.


Salimah sungguh tidak sanggup melihat kondisi suaminya yang semakin lemah. Ia pun meluruhkan tubuh dan bersimpuh di kaki Reni.


"Reni, saya mohon. Kabulkan permintaan Abahnya Farhan. Saya mohon dengan sangat Ren." Salimah menangis tergugu. Ia terus memohon agar Reni mengabulkan permintaan suaminya.


"Yaa Allah yaa Robb, bagaimana mungkin hamba menikah dengan pria yang teramat sangat hamba benci," jerit batin Reni.


Dilema. Satu kata yang kini dirasakan oleh Reni. Antara mengabulkan permintaan Abdullah dan Salimah atau tetap keukeuh pada pendiriannya. Tidak sudi menikah dengan orang yang telah merenggut kesuciannya ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Alhamdulillah, bisa UP meski sering kali terlambat 😊


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤

__ADS_1


__ADS_2