Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Reward


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Annisa dan Ilham merasa lega setelah mendengar kata-kata yang terlisan dari bibir Herman.


Keduanya melangitkan pinta di dalam kalbu, semoga Illahi memberi keridhoan, supaya mereka mampu menjalankan semua amanah almarhum Rudi ....


....


Swastamita menampakkan wujudnya sebagai pertanda bahwa sang raja siang telah pulang ke peraduan. Berganti sapaan rembulan yang sebentar lagi akan hadir berteman taburan bintang-bintang dan diiringi seruan kerinduan Sang Pencipta.


Semua insan yang merindu untuk segera bertemu Robb semesta alam, bergegas mensucikan diri dengan jernihnya air wudhu. Lantas mereka rukuk dan sujud dengan khusyu'....


Selepas waktu isya', Dhava bersilaturahim ke pondok pesantren Al Hidayah bersama Dirga selaku ketua RW dan kedua orang tuanya, Raikhan dan Alya.


Dhava bermaksud memenuhi amanah almarhum Rudi, mengkhitbah Annisa dan berniat untuk segera menghalalkan dokter saleha itu.


Ilham, Suci, dan Annisa menyambut kedatangan para tamu dengan suka cita.


Setelah abi, ummi, dan keempat tamunya duduk di sofa yang berada di ruang tamu, Annisa bergegas menjamu mereka dengan camilan tradisional serta teh nasgitel (panas legi tur kentel).


Jantung Annisa berdentum-dentum saat tanpa sengaja manik matanya bersiborok dengan manik mata Dhava. Seketika Annisa menunduk ... menyembunyikan wajahnya yang dihiasi rona merah.


Di dalam hati, Annisa tak henti-hentinya melisankan istighfar. Sedangkan Dhava, pemuda berparas rupawan itu berusaha menahan tawa kala melihat ekspresi calon istrinya yang sangat menggemaskan. Andai sudah halal, Dhava ingin sekali mencubit pipi Annisa yang kemerah-merahan seperti buah tomat yang tengah masak itu.


Dasar Dhava 🙄


Raikhan membenahi posisi duduknya, lantas ia mewakili sang putra untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka ke pondok pesantren Al Hidayah.


"Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat dari Mas Ilham beserta keluarga. Maksud dan tujuan kedatangan kami ke pondok pesantren Al Hidayah, selain untuk bersilaturahim ... kami juga bermaksud untuk mengkhitbah Ananda Nabilla Annisa Chairanie agar bersedia menerima putra kami Dhava Alfathan sebagai calon imam. Meski putra kami bukanlah seorang pria yang sempurna. Namun insya Allah, putra kami pria yang bertanggung jawab dan tentunya setia --"


Ilham menerbitkan senyum. Dengan tutur katanya yang santun, ustadz kharismatik itu pun membalas ucapan calon besannya. "Kami selaku orang tua Annisa, merasa sangat terhormat dengan kedatangan Dek Raikhan beserta keluarga dan Bapak Ketua RW. Sebab, kedatangan Dek Raikhan beserta keluarga dan Bapak Ketua RW, sungguh sudah kami nantikan sejak beberapa hari yang lalu. Sebagai orang tua, kami menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Annisa, putri kami." Ilham menjeda sejenak ucapannya lalu mengedarkan pandangan netranya ke arah sang putri yang masih setia menunduk. Ia pun lantas melisankan kalimat tanya yang ditujukan kepada Annisa.


"Nabilla Annisa Chairanie, bersediakah putri kesayangan Abi dan Ummi ... menerima Nak Dhava sebagai calon imam?"

__ADS_1


Annisa menghela nafas dalam, kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Ia berusaha menghempas perasaan yang membuat lidahnya serasa kelu untuk berkata-kata.


"Sebelumnya, Annisa mengucapkan terima kasih kepada Om Raikhan, Tante Alya, dan Bapak Ketua RW yang telah bersedia menghantarkan Mas Dhava untuk mengkhitbah saya. Jujur, saya teramat bersyukur karena Mas Dhava berkenan menjadikan saya sebagai calon istri. Namun, perlu Mas Dhava ingat, usia saya lebih tua delapan tahun dari usia Mas Dhava. Saya juga bukanlah seorang wanita yang sempurna. Sebelum saya memberi keputusan, alangkah baiknya jika Mas Dhava mempertimbangkan lagi niat untuk mengkhitbah saya."


Pandangan netra Dhava tak lepas dari objek yang sedari tadi mengalihkan atensinya. Sosok berwajah cantik dengan balutan hijab berwarna biru muda. Meski Annisa menunduk, ekspresi dokter saleha itu kentara sekali.


"Ehem, Dek Nisa."


DEG DEG DEG


Jantung Annisa semakin berdentum-dentum saat pertama kali Dhava memanggilnya ... 'Dek Nisa'. Pasalnya, selama ini ... pemuda yang masih berusia dua puluh tiga tahun itu selalu memanggilnya 'Mbak Nisa'.


"Dek Nisa, perbedaan umur bukanlah suatu penghalang bagi saya untuk tetap meneguhkan niat. Saya tidak butuh sosok yang sempurna untuk menjadi pendamping saya. Yang saya butuhkan adalah orang yang menerima keadaan saya apa adanya, sosok ibu teladan yang akan membina buah hati saya, seorang yang peduli akan kehidupan saya. Dan itu semua ada pada Dek Nisa. Terlebih lagi saya tidak melihat kekurangan yang ada pada diri Dek Nisa," ujar Dhava dengan mantap.


Ucapan Dhava sukses membuat hati Annisa berdaun-daun hingga terbitlah senyuman yang merekah menghiasi wajah ayunya.


"Jika memang demikian, Bismillah ... saya menerima Mas Dhava sebagai calon imam," tutur Annisa tanpa ragu.


"Alhamdulillah." Kata-kata yang terlisan dari bibir Annisa, seketika mendapat sambutan dari semua orang yang berada di ruangan itu.


....


"Mommy, sekali lagi ya!" mohon Rangga dengan memasang wajah puppy eyes.


"Tapi Pi, nanti kalau si kembar bangun, bagaimana?"


"Hanya sekali saja, Mi. Aku udah kangen banget sampai-sampai benda pusakaku hampir karatan karena menunggu tujuh purnama."


Khanza menggeleng kepala dan menerbitkan senyum karena ucapan suaminya yang hiperbola.


"Baiklah, Pi. Satu kali lagi. Tidak lebih!" ujar Khanza mengalah.


"Siap Mommy cinta."


Dengan penuh semangat, Rangga kembali menghujamkan benda pusakanya. Namun baru saja mendesak tubuh istrinya, terdengar tangisan baby Azzam dan baby Humaira.

__ADS_1


"Pi, si kembar bangun."


"Tapi, tanggung Mi."


"Hadechhh Pi. Kan bisa dilanjut nanti setelah mereka tidur lagi." Khanza berusaha membujuk suami o-mesnya itu agar mau mengerti.


"Baiklah," sahut Rangga sambil mengerucutkan bibir. Dengan tanpa semangat, Rangga mengangkat tubuhnya lantas segera mengenakan pakaian.


Setelah berpakaian, Rangga dan Khanza bergegas meraih tubuh baby Azzam dan baby Humaira lalu menggendong kedua buah hati mereka itu. Khanza menggendong baby Humaira sedangkan Rangga menggendong baby Azzam.


Hidung Rangga kembang kempis saat bau tak sedap menggelitik indra penciumannya. Ditambah lagi, tangannya terasa basah begitu ia menggendong baby Azzam.


"Mi, kog baunya sedap banget ya?"


Khanza berusaha menahan tawa yang hampir meledak ketika melihat pakaian yang dikenakan oleh Rangga terhias warna kuning.


"Pi, dedek pup ...."


Netra Rangga berotasi sempurna. Gegas, ia memeriksa pantat baby Azzam. Dan benar saja yang diucapkan oleh Khanza. Baby Azzam pup.


"Itu reward untuk Papi karena sukses mencetak gol sejumlah lima kali," ujar Khanza diikuti tawa yang sudah tak tertahankan.


"Yaa salammmmm ...." 🤦‍♂️


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Yang kangen Dylan dan Dara, insya Allah next episode ya Kakak-kakak ter love ❤


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2