
Happy reading πππ
Rossa meraih tangan Milea yang sudah berlumuran darah segar. Ia bebat sumber pendarahan dengan syal yang semula melingkar di lehernya.
"Sayang, kita harus segera ke rumah sakit. Mama takut, kamu akan kehilangan banyak darah."
"Tidak Mama. Milea tidak ingin ke rumah sakit jika bukan Dylan yang mengantar. Milea ingin Dylan. Milea hanya ingin Dy-lan --" lirihhya sebelum memejamkan netra.
"Milea sayang. Bangun Nak! Bangun Sayang!" Rossa menepuk-nepuk pipi Milea, berusaha menyadarkan putrinya yang tidak sadarkan diri.
....
Rossa teramat panik. Tubuhnya berguncang hebat. Ia sangat takut jika putrinya tidak bisa bertahan karena kehilangan banyak darah.
"Papa, Pa ...." Rossa berteriak memanggil suaminya.
"Papa, Milea ... Pa," teriaknya lagi.
Danu meletakkan kembali secangkir kopi yang ingin ia nikmati tatkala mendengar suara teriakan istrinya. Gegas, Danu beranjak dari sofa dan membawa tubuhnya menuju ke arah sumber suara.
"Ma, apa yang terjadi?" Danu melisankan tanya saat ia mendapati istrinya menangis dan mendekap tubuh Milea.
"Pa, Milea. Putri kita berusaha bunuh diri --"
Danu tersentak. Ia sungguh tidak percaya dengan kenekatan putrinya yang bisa berakibat fatal.
"Apa? Milea berusaha bunuh diri?"
Rossa mengangguk lemah. "Iya Pa. Putri kita menggores tangannya dengan pisau. Milea menginginkan Dylan, Pa. Sebelum pingsan, Milea berkata ... lebih baik dia mati dari pada hidup tanpa Dylan --"
"Milea tidak berubah. Ia terlalu keras kepala. Seharusnya putri kita sadar, bahwa Dylan yang sekarang bukanlah Dylan yang dahulu selalu ada untuknya. Dylan sudah mempunyai istri, Ma --"
__ADS_1
"Sudahlah Pa. Jangan menyalahkan putri kita. Lebih baik, kita segera membawa Milea ke rumah sakit. Mama sangat takut Pa. Mama sangat takut jika Milea kehilangan banyak darah dan akan ... ahh --" Rossa tak mampu meneruskan kata-kata yang terlisan. Sebagai seorang ibu, Rossa tidak sanggup jika harus kehilangan putri semata wayangnya.
"I-ya Ma. Kita bawa Milea ke rumah sakit sekarang."
Danu memanggil asisten pribadinya yang bernama Rizqi. Lalu ia menyuruh pria berperawakan gagah itu untuk segera membopong Milea dan mengantar mereka ke rumah sakit.
....
Sesampainya di rumah sakit, Milea langsung mendapat penanganan dari para petugas medis. Beruntung, nyawa wanita itu bisa terselamatkan meski sempat kehilangan banyak darah.
Setelah memastikan kondisi putrinya, Rossa berniat untuk menemui Dylan. Rossa ingin meminta Dylan agar bersedia menghibur dan memberi motivasi Milea.
"Pa, titip Milea sebentar ya!" ujarnya. Rossa beranjak dari posisi duduk lantas mencium kening putrinya.
"Memangnya, Mama mau ke mana?" Danu melontarkan kalimat tanya diikuti tautan kedua pangkal alis.
"Mama ingin menemui Dylan, Pa."
"Mama ingin meminta Dylan agar dia bersedia menghibur dan memberi motivasi putri kita. Karena, hanya Dylan yang dibutuhkan Milea saat ini Pa," jawab Rossa ber argument.
"Ma, Mama masih ingat 'kan dengan perkataan ibunda Dylan? Dia tidak ingin ... Milea bersandar di bahu putranya lagi. Dan akan lebih baik jika mulai saat ini, Milea dibiasakan bersandar pada bahu kita, Ma."
"Papa benar. Tapi, bagaimana jika Milea akan berbuat nekat lagi? Mama tidak ingin, Milea kembali menyakiti dirinya sendiri karena yang dibutuhkan putri kita saat ini hanya Dylan, bukan kita atau yang lain."
"Tapi Ma --"
"Pa, apapun akan mama lakukan demi Milea. Meski harus bersimpuh di telapak kaki Dylan dan ibundanya. Hanya Milea putri kita satu-satunya, Pa. Mama tidak ingin masa depan Milea semakin hancur," keukeh Rossa.
Tanpa menghiraukan suaminya, Rossa memutar tumit lalu mengayun kaki. Ia bertekad ingin segera menemui Dylan ....
.....
__ADS_1
Rossa menelan kecewa ketika ia sampai di hotel tempat Dylan dan Dara menginap sebab sepasang pengantin baru itu sudah chek-out dua jam yang lalu. Namun, Rossa tetap ber sikeukeuh ingin menemui Dylan. Ia meminta Rizqi untuk segera mengantarnya ke kediaman Abimana. Rossa sangat yakin, saat ini Dylan berada di rumah kedua orang tuanya.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, mobil yang membawa Rossa telah sampai di kediaman Abimana.
Rossa kembali menelan kecewa, sebab objek yang dicarinya ternyata sedang tidak berada di rumah itu.
"Silahkan duduk dulu, Mbak Rossa." Kirana menyambut hangat kedatangan Rossa dan mempersilahkan tamunya itu untuk duduk.
"Trimakasih Mbak Kiran," sahutnya sembari mendaratkan bobot tubuh di sofa.
"Sebenarnya, kedatangan saya ke rumah ini bertujuan untuk menemui Dylan," tuturnya membuka perbincangan.
"Ada perlu apa, Mbak Rossa ingin menemui putra saya? Dylan dan Dara sedang menikmati masa bulan madu mereka. Saya sebagai orang tua Dylan, tidak ingin masa-masa indah yang sedang dinikmati oleh putra dan menantu saya ... terganggu," sahut Kirana tegas.
"Tapi saat ini, kami sangat membutuhkan Dylan. Hanya Dylan yang bisa menguatkan Milea. Hanya Dylan yang bisa memberi motivasi putri saya yang saat ini tengah berputus asa. Milea berusaha bunuh diri, Mbak. Sebelum pingsan, Milea berkata bahwa ia lebih baik mati jika hidup tanpa Dylan --"
Kirana menghela nafas berat. Menghempas rasa yang sekilas membuatnya dilema untuk mengambil keputusan. Antara mengijinkan Dylan untuk menemui Milea atau melarang putranya untuk kembali berurusan dengan Milea ....
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Maaf, UP nya segini dulu ya kakak-kakak. Insya Allah lanjut besok atau nanti βΊπ
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like π
Tekan β€ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya π
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta πβ€
__ADS_1