
Happy reading 😘😘😘
"Lihatlah sayang!"
Netra Khanza berbinar ketika melihat pemandangan yang membuat hatinya semakin melting. Khanza melting se melting meltingnya dengan kejutan yang diberikan oleh Rangga.
Aneka warna kembang api bertuliskan "Happy Milad Bidadari Hatiku."
....
Malam ini merupakan malam yang bertabur kebahagiaan bagi Khanza. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia sebab memiliki suami yang teramat romantis. Selain romantis, Rangga juga tipe pria setia. Sekali dia jatuh cinta pada wanita, maka akan sulit baginya untuk berpaling. Bagi Rangga, Khanza adalah cinta pertama dan terakhir.
Khanza menyisir surai hitamnya yang panjang tergerai. Sesekali kedua sudut bibirnya melengkung kala teringat masa yang telah lalu. Tepatnya ketika ia dan Rangga masih duduk di bangku SMA. Rangga selalu saja mengiriminya surat cinta bertuliskan gombalan ala santri. Rangga juga sering memberikannya setangkai bunga mawar sebagai tanda cinta. Namun, Khanza selalu saja menolak pemberian pria itu. Bukan hanya menolak, Khanza dengan terang-terangan memperingatkan Rangga agar tidak lagi bersikap sok sweet. Bahkan mengusirnya bila Rangga berkunjung ke rumah.
Dan sekarang, pria itu malah menjadi suaminya. Rasa benci, sebal, jijik telah melebur dan berubah menjadi cinta.
"Sayang, dari tadi kog nyisir rambutnya nggak selesai-selesai?" Rangga melisankan tanya begitu ia keluar dari dalam kamar mandi.
Tidak ada jawaban. Khanza masih tenggelam dalam lamunan.
"Za, sayang. Kog nggak dijawab sich?"
Khanza masih tetap setia dengan lamunannya. Sampai-sampai ia tidak menyadari ... Rangga sudah duduk di tepi ranjang bersebelahan dengannya.
GREP
Rangga mengangkat tubuh Khanza lalu memangku istri comelnya itu.
Khanza terkesiap dan tersadar dari lamunan.
Rangga tergelak lirih melihat ekspresi wajah Khanza yang nampak sangat terkejut. Bahkan, rona merah tercetak jelas di wajah cantiknya.
"M-mas, kog belum mengenakan pakaian?"
__ADS_1
"Pffttt ... bukannya menjawab pertanyaan Mas, ehh malah ganti bertanya?"
"Memangnya, Mas Rangga tanya apa?"
"Sudah lupa tuch," seloroh Rangga menirukan salah satu iklan obat sakit kepala.
Bibir Khanza mencebik. Lantas ia membalas ucapan suaminya itu. "Issshhh, Mas Rangga. Aku serius lho."
"Mas malah dua rius."
"Mas. Aku cubit lho kalau nggak serius."
"Boleh. Nyubit yang mana pun boleh. Asal nggak nyubit hatiku."
"Menyebalkan."
"Meski sebel tapi cinta banget 'kan?"
Rangga sedikit memutar tubuh Khanza lantas memandu tangan sang istri untuk melingkar di lehernya. Ia tatap lekat-lekat manik mata yang terbingkai binar cinta.
Jantung Khanza berdentum-dentum. Lidahnya serasa kelu saat netra mereka saling bersiborok.
"A-aku bahagia Mas. Bahkan sangat-sangat bahagia."
"Alhamdulillah ...."
"Mas."
"Hmmmm?"
"Bagaimana bisa kamu bekerja sama dengan Kak Birru untuk nge prank aku? Memangnya, Mas Rangga nggak cemburu saat mendengar ucapan Kak Birru?"
Rangga mengulas senyum kemudian ia selipkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya. "Siapa bilang aku nggak cemburu? Jujur, aku cemburu banget Yang. Tapi demi kamu, aku hempaskan rasa cemburu itu. Lagi pula, aku sudah mengetahui kisah kalian sejak lama 'kan? Tepatnya, ketika kamu dan Kak Birru berbincang di kedai kopi Merapi."
__ADS_1
"Iya Mas. Saat itu, aku terpaksa memperkenalkanmu sebagai calon imamku pada Kak Birru. Dan ternyata, ucapanku itu adalah doa yang sebenarnya nggak ingin ku lisankan."
"Mungkin saat kamu mengucapkannya, malaikat, penduduk langit, dan semua makhluk yang berada di kaki Gunung Merapi mengamini, sehingga kata-kata yang terlisan dari bibirmu diijabah oleh Allah."
Khanza menyandarkan kepala di dada bidang suaminya. Terbayang olehnya kejadian di masa silam ....
Flasback on (cuplikan episode Mantan Jadi Besan 'Calon Imam')
Seusai berbincang, Khanza dan Zahra kembali membaur bersama para tamu yang lain. Meski hatinya sedang tidak baik-baik saja, Khanza berusaha menghias wajahnya dengan seutas senyum.
Pandangan netra Rangga sedari tadi tidak beralih dari Khanza. Ia mengerti dan memahami apa yang tengah bidadari hatinya rasa. Besar keinginan Rangga Adhitya Fairuz untuk menjadi seorang calon imam bagi Saqueena Khanza Humaira.
"Za ... bisakah kita bicara sebentar?" Kalimat tanya yang terlisan dari bibir Birru. Tentu saja setelah ia meminta ijin pada Zahra, wanita yang berstatus sebagai istri sah-nya.
Khanza terdiam. Dadanya berdesir. Degup jantungnya bertalu-talu ketika mendengar suara Birru, pria rupawan dengan sejuta pesona yang mampu memikat hati para gadis. Salah satunya ... Khanza.
"Za, pergilah bersama Kak Birru ke taman belakang atau ke suatu tempat yang nyaman untuk berbincang!" titah Zahra. Bibirnya melengkung. Namun, binar matanya menyiratkan apa yang tengah dirasa. Meski mengijinkan sang suami untuk berbincang dengan Khanza, tetap saja hatinya terasa perih seolah tertusuk benda tajam yang tak kasat mata. Terluka tapi tak berdarah.
"Tapi, Kak --"
"Za, Kak Zahra mohon ...," pinta Zahra dengan suaranya yang terdengar lirih. Ia raih tangan Khanza lalu menggenggamnya dengan erat.
Khanza membuang nafas sedikit kasar. Dengan terpaksa, ia memenuhi permintaan Zahra.
"Baiklah, Kak. Tapi, Khanza tidak bisa berlama-lama."
"Hanya sebentar saja, Za. Tidak sampai 24 jam," sahut Birru. Bibir dipaksa menyungging seutas senyum meski manik mata berlensa hijau terlihat mengembun.
"Khanza memberikan waktu maksimal ... dua jam, Kak," tandas Khanza disertai hembusan nafas kasar. Mati-matian ia berusaha menahan himpitan rasa. Rasa cinta berbaur dengan kerinduan. Seandainya Birru masih sendiri, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Tidak akan ada hati yang terluka.
Zahra melepas genggaman tangannya. Ia mempersilahkan Khanza dan Birru untuk segera pergi.
Kedua insan yang sama-sama tengah menahan himpitan rasa itu berlalu pergi dari hadapan Zahra. Mereka pergi ke suatu tempat yang hanya berjarak beberapa kilometer dari puncak Gunung Merapi. Kedai kopi Merapi.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....