Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Dhava & Annisa


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


POV. Annisa


Gumpalan awan hitam masih setia menaungi angkasa yang sedari tadi bermuram durja. Kesenduannya meraja hingga memaksa air langit tertumpah membasahi bumi tempatku berpijak.


Aku masih duduk di peraduan terakhir seorang mantan pria pendosa yang telah memilih bertemu dengan cinta sejatinya di surga. Ku-lafazkan ayat-ayat cinta untuk mengiringi langkahnya menuju alam keabadian.


Meski sukmaku lara melepas kepergiannya, aku harus ikhlas. Karena aku tau, bahkan sangat tau ... ratap tangis hanya akan memberatkan langkah.


Kasih ... lewat hembusan sang bayu, kusenandungkan risalah hati agar kau tau, betapa aku sangat mencinta. Betapa aku sangat merindu mendengar suara merdumu ketika melantunkan kalam cinta ....


"Mbak Nisa, lebih baik ... kita pulang sekarang! Kasihan abi dan ummi Mbak Nisa. Pasti mereka sangat mengkhawatirkan Mbak Nisa," tutur Dhava dengan suaranya yang terdengar lembut.


Pemuda yang berusia delapan tahun lebih muda dariku itu, masih setia menemani meski para takziah yang lain telah meninggalkan area pemakaman sedari tadi, termasuk abi dan ummi.


Mungkin bagi Dhava, permintaan mas Rudi sebelum ia menghembuskan nafas terakhir, merupakan amanah yang harus dipenuhi, meski aku rasa ... akan membebaninya. Membebani seorang pemuda yang layak memperistri seorang wanita yang berusia sepantaran. Bukan wanita sepertiku. Wanita yang sudah berusia lebih dari tiga puluh tahun.


Bagaimana mungkin, pemuda yang masih berusia dua puluh tiga tahun akan ikhlas hati menikahi seorang wanita berusia tiga puluh satu tahun? Bahkan, dia terpaksa menikah karena amanah dari seorang pria yang telah tiada dan juga ... tanpa dilandasi oleh rasa cinta.


"Mbak Nisa, ayo kita pulang! Hujan semakin deras. Dhava tidak ingin Mbak Nisa sakit." Lagi. Dhava kembali membujukku. Namun entah mengapa, aku masih ingin berlama-lama di tempat ini. Meski bibir dengan fasihnya berkata ikhlas. Namun sejatinya, hati masih enggan melepas. Yaa Robb, ampuni hamba-Mu yang lemah iman ini ....


"Va, pulanglah dulu! Mbak Nisa masih ingin di sini --" sahutku ... lirih, tanpa menoleh ke arahnya.


"Bagaimana, saya tega meninggalkan seorang calon istri berwajah cantik ... di tempat seperti ini seorang diri? Pasti, akan sangat berbahaya karena banyak pocong tampan yang mengintai?" Celotehan pemuda yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri itu, sukses menggelitik indra pendengaran, sehingga seutas senyum terbit begitu saja tanpa aku minta.


Aku pun sedikit merotasikan kepala ke arahnya lantas berucap, "Va, memangnya kamu yakin ... menjadikan mbak Nisa sebagai calon istri? Mbak Nisa lebih tua delapan tahun darimu. Bahkan, sebelumnya ... hubungan kita seperti hubungan kakak dan adik. Tidak lebih --"


Dhava tersenyum simpul. Ia menatap wajahku dengan intens hingga membuatku seketika tertunduk malu. Sebab, aku tidak terbiasa ditatap oleh seorang pria dengan tatapan yang menyiratkan makna, terkecuali saat mas Rudi akan menghembuskan nafasnya yang terakhir.

__ADS_1


"Wahai calon istriku, masih ingatkah kisah cinta Baginda Nabi dan Sayyida Khadijah? Baginda Nabi menikah dengan Sayyida Khadijah meski usia mereka terpaut lima belas tahun. Ketika menikah, usia Baginda Nabi dua puluh lima tahun. Sedangkan Sayyida Khadijah berusia empat puluh tahun. Jadi, usia bukanlah alasan bagi saya untuk menolak amanah almarhum mas Rudi, menikahi seorang wanita saleha, bidadari dunia, Nabilla Annisa Chairanie. Yang terpenting bagi saya, mbak Nisa tidak keberatan menerima saya sebagai calon imam."


Ucapan Dhava yang terdengar tulus ... menyentuh relung hati terdalam, hingga membuatku terpesona dengan cara bicaranya yang teramat manis. Meski usia Dhava lebih muda dariku, ia terlihat dewasa dan bersahaja. Tutur katanya lembut, perangainya menyenangkan.


"Va, apa yang kamu ucapkan itu memang benar. Tapi, Baginda Nabi dan Sayyida Khadijah menikah karena cinta --"


"Dan karena keridhoan Illahi." Dhava memangkas ucapanku.


"Meski di dalam hati kita belum tumbuh benih-benih cinta. Namun saya yakin ... setelah kita menikah, bukan hanya benih-benih cinta saja yang akan tumbuh, tetapi benih di dalam rahim Mbak Nisa pun akan tumbuh --" sambungnya disertai senyuman khas yang menambah ketampanan wajahnya.


Yaa Allah Yaa Robb, celotehan pemuda yang diminta oleh almarhum mas Rudi untuk menikahiku itu ... selalu berhasil membuatku tersenyum. Duka yang semula meraja, perlahan terkikis berganti rasa yang belum bisa kujabarkan dengan rangkaian kata.


....


Seusai sholat isya', Arum menemuiku. Dia memberi kotak musik yang berisi kumpulan lagu yang disenandungkan oleh mas Rudi.


Rupanya, setiap menemani abi mengisi tausiyah, mas Rudi selalu diminta untuk menyenandungkan lagu religi.


"Hasan yang merekamnya, Mbak. Kata Hasan, mas Rudi yang meminta Hasan untuk merekam suaranya, agar suatu saat nanti ... Mbak Annisa bisa mendengarnya --"


Yaa Allah, ulu hatiku kembali terasa nyeri saat mendengar jawaban yang terlisan dari bibir Arum.


Sekelebat bayangan wajah mas Rudi kembali menari-nari di pelupuk mata, hingga bulir kesedihan lolos begitu saja dari kedua sudut netraku ....


ku rasa bahagia bila


ku dekat dengan dirimu


namun engkaupun tau


Tuhan tak merestui

__ADS_1


nampaknya semakin lama


ku menjadi sedih cinta


karena kita selalu saja bersama


maafkanlah cinta kutekadkan hati berhijrah


maaf kita harus berpisah tlah lama ku menundanya


ku ingin berubah nanti Tuhan akan marah


jika kita masih bersama namun tak halal


ku berhijrah cinta ....


(Adam-Hijrah Cintaku)


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Maaf segini dulu ya double UP nya Kakak-kakak ter love. Insya Allah, kita sambung lagi besok. 😉


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉

__ADS_1


Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2