Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Boncabe 5


__ADS_3


Obat Rindu bag. 5


Happy reading 😘😘😘


Semesta turut berbahagia atas kelahiran malaikat kecil, buah hati pasangan Rangga dan Khanza. Malaikat kecil berjenis kelamin laki-laki itu mereka beri nama Rakha Aditya Ramadhan. Rakha diambil dari nama Rangga-Khanza, sedangkan Aditya Ramadhan berarti seorang laki-laki pandai, teguh, dan bijaksana yang terlahir di bulan suci Ramadhan.


Rama, panggilan sayang yang diberikan oleh Khanza kepada putra bungsunya itu.


"Happy milad imamku, kekasihku, suamiku, sandaran hatiku, papi dari ketiga buah hatiku, semoga selalu diberi kesehatan, kelapangan rejeki, umur yang panjang, dan ... semoga rumah tangga kita senantiasa sakinah, mawadah, warohmah." Doa tulus terlisan dari bibir Khanza teruntuk pria yang telah mempersembahkan kisah cinta nan indah, meski mungkin tak seindah kisah cinta Rama dan Sinta, atau kisah Nabi dan Aisyah. Dia ... Rangga Adithya Fairuz. Seorang pria yang tanpa lelah memperjuangkan cinta diiringi untaian doa di sepertiga malam.


"Aamiin yaa Robb. Trimakasih, Mommy sayang," balas Rangga sambil melabuhkan kecupan di kening Khanza.


"Maaf Pi, mommy terlupa sehingga belum mempersiapkan kado spesial untuk Papi. Seharusnya, kemarin mommy mengucapkan kata selamat dan memberi kado spesial --," sesal Khanza. Raut wajahnya terbingkai sendu. Ia merasa bersalah karena terlupa pada hari yang teramat spesial bagi suaminya itu.


Seutas senyum terbit menghiasi wajah Rangga. Ia usap pipi Khanza dan kembali melabuhkan kecupan.


"Mi, wajar jika Mommy terlupa. Kemarin, Mommy berjuang melahirkan putra kita. Bagi papi, kelahiran baby Rama merupakan kado yang teramat spesial dari Allah dan Mommy. Oleh karena itu, papi-lah yang seharusnya mengucapkan kata terima kasih pada Mommy. Terima kasih karena telah melahirkan ketiga buah hati kita, terima kasih karena telah membalas cinta papi, terima kasih telah bersedia menjadi istri sekaligus seorang mommy yang hebat."


Ucapan Rangga menyentuh relung rasa. Hingga embun yang membingkai kelopak mata, jatuh membasahi wajah ayu Saqueena Khanza Humaira.


Rangga dan Khanza saling berpeluk, menyelami rasa yang menyentuhkan rasa hangat sampai ke dalam kalbu.


"Assalamu'alaikum --" Terdengar ucapan salam yang sukses mengalihkan atensi Rangga dan Khanza. Keduanya lantas melerai pelukan dan membalas salam.


"Wa'allaikumsalam. Ayah, Bunda --"


Rupanya Abimana dan Kirana yang datang. Mereka datang bersama kedua cucu yang teramat sangat menggemaskan. Siapa lagi jika bukan si kembar, Azzam dan Humaira.


Rangga beranjak dari posisi duduk lantas mencium punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian. Kemudian ia peluk tubuh Azzam dan Humaira serta menghujani pipi kedua buah hatinya itu dengan kecupan, seraya menumpahkan kerinduan.


"Selamat, Khanza sayang. Ayah dan Bunda turut berbahagia atas kelahiran putra kalian," ucap Kirana sembari memeluk tubuh Khanza dan mencium pucuk kepala putrinya itu.


Tangan yang semula menjuntai diangkatnya untuk membalas pelukan sang bunda. Kedua wanita berbeda generasi itu saling berpeluk hingga menciptakan rasa haru yang menyelimuti seisi ruang batin.

__ADS_1


Usai Kirana melepas pelukan, Abimana berganti mengucap kata selamat dan memeluk tubuh Khanza. Ia kecup pucuk kepala putrinya itu dengan sayang.


Khanza semakin merasa bahagia karena curahan rasa sayang dan perhatian kedua orang tuanya. Di dalam benak ia melangitkan rasa syukur kepada Illahi atas anugerah yang tiada terkira. Dicintai oleh pria yang mendekati kata sempurna, memiliki orang tua yang bijak, hebat, dan sangat menyayanginya, serta mempunyai tiga buah hati yang menjadi pelengkap kebahagiaan.


Setelah Abimana melerai pelukan, perlahan Khanza beranjak dari ranjang untuk merengkuh tubuh kedua buah hatinya, Azzam dan Humaira. Ia tumpahkan kerinduan dengan membawa kedua buah hatinya itu ke dalam dekapan. Lalu ia hujani wajah si kembar dengan kecupan.


"Mommy kangen, Sayang." Khanza mengeratkan dekapan hingga membuat dua buah hatinya merasa sesak.


"Mom, Azzam dan Humaira juga kangen. Tapi jangan seperti ini donk! Azzam sesek," protes Azzam yang mendapat dukungan dari Humaira.


"Iya Mom. Humaira juga sesek."


Seketika Khanza merenggang dekapan. Ia mengulas senyum dan menoel hidung mancung kedua buah hatinya.


"Maaf, Sayang. Karena terlalu kangen ... mommy mendekap kalian dengan sangat erat. Sini, kasih mommy kiss!"


Muachhhhh


Azzam dan Humaira menuruti permintaan sang mommy. Azzam mencium pipi kiri. Sedangkan Humaira mencium pipi kanan.


Senyum Khanza mengembang diiringi binar mata yang menyiratkan rasa haru bercampur bahagia. "I love you too, Azzam dan Humaira cintanya Papi-Mommy," balasnya.


Suara tangisan baby Rama mengalihkan perhatian semua orang yang berada di ruangan itu, tak terkecuali Khanza. Ia pun segera meraih tubuh sang buah hati yang berada di box bayi lantas membawanya ke dalam gendongan.


"Putra mommy, haus ya?" Khanza tersenyum dan mengecup pipi baby Rama. Ia kembali mendaratkan bobot tubuh di atas ranjang, kemudian membuka kancing baju dan bersegera memberi buah hatinya itu asi.


"Wahhhhh, Dedek minumnya kuat banget," ujar Azzam sambil mengusap lembut kepala adik bungsunya. Humaira pun mengikuti apa yang dilakukan oleh kembarannya. Mengusap kepala baby Rama dengan lembut.


"Minumnya pelan-pelan aja, Dek! Mas Azzam dan Mbak Humaira nggak minta kog. Cuma pingin ngincip sedikit."


Celotehan Azzam menggelitik indra pendengaran, sehingga Khanza tergelak lirih. Pernyataan 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya', seakan berlaku bagi Azzam. Meski belum genap berusia enam tahun, Azzam begitu mirip dengan Rangga. Dari wajah, perilaku, hingga cara berbicaranya pun sama. Khanza berharap, kelak jika Azzam telah dewasa, kesetiaan serta kemuliaan hatinya pun sama seperti Rangga ....


Khanza membenahi kembali kancing bajunya lalu menyerahkan baby Rama kepada bundanya setelah ia selesai menyusui.


"Selamat siang." Seorang suster masuk ke dalam ruangan disusul oleh beberapa rekannya. Mereka membawa buket bunga mawar merah berbentuk love.

__ADS_1


"Nyonya Khanza, ini buket bunga mawar untuk anda," tutur salah seorang suster yang bernama Mery. Ia menyerahkan buket bunga mawar merah yang dibawanya kepada Khanza. Sedangkan rekan-rekan Mery menaruh semua buket bunga mawar merah yang mereka bawa di atas nakas dan sofa.


"Bu-buat saya? Semuanya, Sus?" Khanza melisankan tanya sembari menerima buket bunga mawar merah dari tangan Mery.


"Iya Nyonya," jawabnya disertai seutas senyum.


"Benarkah? Serius Sus?"


Mery kembali mengulas senyum dan mengangguk pelan. "Benar, Nyonya. Semua buket bunga mawar ini sebagai hadiah anniversary--pernikahan anda dengan suami."


"Da-dari siapa semua buket bunga mawar ini, Sus?" Nada suara Khanza terdengar bergetar.


"Tentu saja dari suami anda Nyonya. Tuan Rangga."


"Pi, benarkah?" Khanza menggiring pandangannya ke arah pria yang sedari tadi berdiri di sisi ranjang.


Rangga menerbitkan senyum dan mengerjapkan kelopak mata. "Iya, Mommy sayang. Semua buket bunga mawar ini ... dari papi. Mommy suka 'kan?"


Khanza mengangguk. Lidahnya serasa kelu untuk sekedar membalas pertanyaan yang terlisan dari bibir Rangga. Hanya binar di matanya yang mewakili untaian kata yang ingin ia ucapkan sebagai ungkapan rasa yang memenuhi relung rasa. Khanza bahagia. Bahkan teramat sangat bahagia dengan kejutan yang diberikan oleh Rangga.


Kebahagiaan demi kebahagiaan yang hadir membuat Khanza semakin percaya, bahwa takdir yang digoreskan oleh Illahi adalah terbaik untuknya.


Pernikahan yang berawal tanpa cinta, tidak selalu membenamkan seseorang ke dalam lubang derita dan kesedihan. Seperti kisah cinta Rangga dan Khanza ....


....


Selamat bertambah usia suamiku, imamku, ayah dari putriku. Selamat juga untuk kita. Karena hari ini merupakan hari yang teramat spesial bagi kita. Tepat sembilan tahun yang lalu, kita mengkikrarkan janji suci di hadapan penghulu, merangkai kisah cinta atas ridho dan halal-Nya ....


Happy anniversary, suamiku. Tak henti-hentinya aku berterima kasih pada Allah karena sudah mempertemukan kita dan mengizinkan kita untuk hidup bersama. Semoga keluarga kita senantiasa diberi kebahagiaan dan berkah-Nya.


Terima kasih untuk kamu yang selalu merasa cukup hanya dengan kehadiranku. Terima kasih untuk telinga dan lengan yang selalu ada. Terima kasih sudah menjadi teman bicara, berbagi rasa, dan bertukar cerita. Dan terima kasih telah memilih aku untuk hidup bersamamu ....


Ayuwidia


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


__ADS_2