
Happy reading 😘😘😘
Tanpa menunggu waktu lama, Annisa, Ilham, dan Keanu bergegas masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka menuju ke lantai dua.
Sesampainya di lantai dua, ketiga insan itu terkesiap kala mendengar suara teriakan seseorang menyebut nama 'Dhava' .... Ternyata, suara teriakan itu berasal dari bibir Rudi.
"Arghhhh ...." Rudi kembali berteriak saat Yudi menghujamkan pisau belati tepat di dadanya. Ya, rupanya ... Rudi menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi Dhava.
"Rudi ...." Teriakan Dhava mengiringi gerakan tangannya untuk menopang tubuh Rudi yang luruh ke lantai.
Darah mengucur deras dari tubuh Rudi, hingga membuat Annisa teramat syok tatkala melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya.
"Mas Rudi ...." Annisa mendaratkan bobot tubuh di sisi pria yang mampu membuatnya jatuh hati itu. Dengan tangan gemetar, Annisa merobek baju koko Rudi untuk membebat luka sebagai upaya menghentikan pendarahan.
Tidak ingin kecolongan, Keanu dan Ilham segera meringkus dua pria be-jat, Farhan dan Yudi. Sedangkan Surti, ia segera mengenakan pakaian untuk menutupi tubuh polosnya.
Ilham sungguh tidak percaya, Farhan tega melakukan perbuatan yang teramat keji. Seorang pemuda yang berpendidikan tinggi dan selalu diajarkan ilmu agama sewaktu kecil hingga remaja ... berkamuflase menjadi seorang pria yang tidak berakhlak.
Ilham dan Keanu menyerahkan kedua pria be-jat itu kepada dua orang polisi yang baru saja tiba di kamar. Ilham meminta agar Farhan dan para anak buahnya segera ditangkap serta diberi hukuman setimpal dengan perbuatan yang telah mereka lakukan.
Karena teramat khawatir dengan keadaan Rudi saat ini, Dhava pun meraih gawai yang ia simpan di saku kemeja. Lantas, ia menghubungi rumah sakit agar segera mengirim para medis ke villa itu.
"Dek Ni-sa ...." Rudi memanggil nama Annisa dengan suaranya yang terdengar lirih. Ditatapnya wajah ayu yang selama beberapa bulan ini selalu menghiasi hari-harinya, dengan tatapan yang mengisyaratkan rasa cinta.
__ADS_1
"Dek Ni-sa. A-ku --"
"Mas Rudi, bertahanlah! Nisa sungguh tidak kuasa jika Mas Rudi --" Suara Annisa tercekat seiring linangan air yang jatuh dari telaga bening. Dada wanita itu terasa sesak. Ulu hatinya teramat nyeri. Annisa sungguh tak kuasa menyaksikan keadaan Rudi yang sangat menyedihkan itu. Ia teramat takut, jika firasatnya menjadi kenyataan. Kehilangan sosok yang disayang dan dicinta.
"Dek Ni-sa, mas Rudi titip Mawar, Melati, dan Jingga. Ajari mereka ilmu agama agar kelak menjadi anak-anak yang saleha. Dek, sampaikan permintaan maaf saya pada ayah dan bunda! Sa-saya, sudah bertobat. Sa-saya benar-benar sudah bertobat," pinta Rudi dengan suaranya yang semakin terdengar lirih.
"Mas, jangan berkata seperti itu! Nisa mencintai Mas Rudi. Nisa sungguh tidak mampu jika harus kehilanganmu Mas," tutur Annisa mengungkap risalah hati diikuti suara isak tangis yang menyesakkan dada.
Rudi menerbitkan seutas senyum lalu membalas ucapan Annisa, wanita yang mampu memantapkan tekadnya untuk berhijrah.
"Dek Nisa, ana uhibbuki fillah. Sa-saya juga mencintaimu. Sa-saya mencintaimu karena Allah. Ikhlaskan sa-ya pergi dan bukalah pintu hatimu untuk calon imam pengganti. Sa-saya yakin, Dhava lah pria yang tepat untuk menjadi imam Dek Nisa."
Tubuh Annisa berguncang hebat. Ia tak kuasa menahan duka yang semakin mendalam kala mendengar ucapan Rudi. Annisa sungguh tidak menyangka, Rudi pun memiliki perasaan yang sama dengannya. Mencintai dalam diam selama lima bulan. Selalu bersama, namun tak halal sehingga mengharuskan keduanya untuk menjaga pandangan dan menjaga jarak karena teramat takut jika Illahi murka.
Rudi meraup udara untuk mensuplay paru-parunya dengan oksigen sebelum kembali bersuara. Ia alihkan pandangan netranya ke arah Ilham yang baru saja meluruhkan tubuhnya di sisi sang putri.
Rudi menjeda sejenak ucapannya lantas mengalihkan pandangan netranya ke arah Dhava.
"Dha-va, ijinkan sa-saya menebus kesalahan di masa lalu. Sa-saya telah merebut Anjani darimu. Sa-saya ingin kamu bisa merengkuh kebahagiaan bersama sosok wanita saleha dan sempurna. Wanita itu ... Dek Nisa. Jadikanlah Dek Nisa kekasih halal! Jaga dan lindungi Dek Nisa! Sa-saya yakin, kamu calon imam yang tepat untuk Dek Ni-sa. Dha-va, saya mohon kabulkan-lah permintaan sa-ya yang terakhir --"
Dada Rudi kembang kempis, seolah nyawanya tengah dicabut perlahan oleh malaikat Izrail (malaikat pencabut nyawa).
Di sisa hembusan nafasnya, Rudi meminta Ilham untuk menuntunnya melafazkan syahadat.
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah --"
__ADS_1
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."
Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.
Rudi pergi menghadap Illahi dengan menerbitkan senyum. Wajah pria mantan pendosa itu terlihat teduh, seolah tiada rasa sakit yang menyiksanya.
"Mas Rudi, bangun Mas! Jangan tinggalkan Nisa! Kamu jahat Mas. Mengungkap perasaanmu saat malaikat Izrail datang menjemput. Kamu sungguh jahat Mas --" Annisa mengguncang tubuh pria yang sudah tak bernyawa itu. Berharap Rudi akan kembali membuka mata.
"Nisa sayang, ikhlaskan kepergian Rudi. Insya Allah, Rudi meninggal dalam keadaan husnul khotimah," tutur Ilham seraya menenangkan putrinya.
"Abi --" Annisa menghambur ke pelukan abinya. Ia menumpahkan duka dengan linangan air mata yang masih setia membingkai wajah hingga tubuhnya serasa lemas. Annisa pun pingsan dalam pelukan sang abi ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
__ADS_1
Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤