
Happy reading 😘😘😘
Di sela-sela perbincangan Nabila dengan Fairuz, anak buah Abimana berlari ke arah mereka. Dia ... Johan. Karena baterai handphone kesayangannya lowbat, Johan memilih untuk langsung menemui tuannya itu.
"Tu-tuan. Tuan muda Rangga. Dia ...," ucap Johan dengan nafas tersengal-sengal.
"Rangga kenapa, Jo?" Raut wajah Abimana berubah pias. Begitu juga dengan Kirana. Mereka berpikir, sesuatu yang buruk telah terjadi pada sang menantu, Rangga Adithya Fairuz.
"Tuan muda Rangga, dia ...." Johan kembali menggantung ucapannya sehingga membuat Abimana dan Kirana semakin mencemaskan kondisi Rangga.
"Jo, atur nafasmu dulu! Baru kemudian, sampaikan kabar mengenai kondisi Rangga!" titah Kirana.
Johan melakukan apa yang diperintahkan oleh Kirana. Ia mulai mengatur nafanya lantas kembali berucap. "Tuan, Nyonya, tuan muda Rangga ... dia sudah sadar dari komanya."
"Apa Jo, Rangga sudah sadar?" tanya yang terlisan dari bibir Abimana, seolah tidak percaya dengan kabar baik yang disampaikan oleh Johan.
"Iya Tuan, tuan muda Rangga sudah sadar."
"Alhamdulillah yaa Robb." Abimana dan Kirana seketika mengucap hamdalah dengan kompak kala mendengar jawaban yang dilisankan oleh Johan. Kebahagiaan sepasang suami istri itu melebihi ketika pria yang selama ini mengabdi kepada mereka mengabarkan kehamilan Khanza.
Abimana dan Kirana bersujud sebagai ungkapan rasa syukur mereka kepada Illahi atas kebahagiaan yang tiada ternilai oleh apapun, sadarnya sang menantu dari koma.
Nabila dan Fairuz bertanya-tanya di dalam hati saat menyaksikan kedua mertua putra mereka melakukan sujud syukur. Gegas, Nabila beranjak dari posisi duduk lantas berjalan ke arah Abimana dan Kirana yang baru saja bangkit dari sujud.
"Bim, Ran, kenapa kalian melakukan sujud syukur?"
Abimana dan Kirana saling berpandangan dan mengulas senyum.
"Bil, Rangga sudah sadar dari koma." Kirana menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Nabila disertai rekahan senyum dan binar bahagia yang terlihat jelas di manik mata.
"Yaa Allah, putraku sudah sadar? Benarkah yang kamu ucapkan itu, Ran?"
Kirana mengangguk samar tanpa memudar senyum yang membingkai wajah cantiknya. "Iya Bil. Rangga benar-benar sudah sadar."
"Alhamdulillah yaa Allah. Trimakasih atas kasih sayang-Mu yaa Robb ...."
Nabila meluruhkan tubuhnya lantas bersujud sebagai ungkapan rasa syukur. Ia teramat bahagia dan bersyukur atas kasih sayang Allah yang telah mengembalikan kesadaran sang putra, Rangga Adithya Fairuz.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah, yang kamu dustakan?
Fairuz ikut merasakan kebahagiaan tatkala mendengar bahwa putranya telah sadar dari koma. Ia hanya bisa meng-ekspresikan perasaannya itu dengan mengucap hamdalah disertai air mata bahagia.
"Aku sudah tidak sabar untuk segera menemui putraku, Ran."
__ADS_1
"Rangga bukan hanya putramu, Bil. Tetapi, dia juga putraku. Rangga putra kita. Sama seperti mu, aku pun sudah tidak sabar untuk menemuinya," sahutnya.
Kedua wanita itu berpeluk singkat dan melukis senyum sebelum beranjak dari tepian sungai Thames.
.....
Setelah Albirru melangkah pergi, Rangga meminta Khanza untuk berbaring di sebelahnya. Pria berparas rupawan itu ingin meluapkan kerinduan dengan memeluk tubuh Khanza, istri yang teramat dicintainya.
"Sayang, aku kangen," bisiknya sembari mengeratkan pelukan dan mencium lama kening Khanza.
"Aku juga kangen Mas. Tapi, longgarkan pelukanmu ini! Jangan terlalu erat memeluk!" ujar Khanza menginterupsi.
"Owhhh iya, Yang. Maafkan aku. Karena terlalu kangen, aku jadi terlupa dengan malaikat kecil yang ada di dalam perutmu."
Khanza mengerutkan dahi hingga kedua pangkal alisnya saling bertaut. Ia merasa heran, bagaimana bisa suaminya mengetahui bahwa ada malaikat kecil di dalam perutnya (rahim).
"Mas, bagaimana kamu bisa tau ... ada malaikat kecil di dalam perutku?"
Rangga mengulas senyum dan mengecup singkat bibir kekasih hatinya. "Sayang, meski aku dalam kondisi koma sehingga tidak bisa menggerakan seluruh anggota tubuh, tetapi suamimu ini masih bisa mendengar dan merasa. Aku mendengar setiap kata yang terucap dari bibir sayang. Bahkan, aku mendengar perbincangan sayang dengan kak Birru ...." Rangga menjeda ucapannya dan merenggang pelukan. Lalu ia tatap wajah cantik sang istri dengan intens.
"Yang, kamu tega padaku. Di saat suamimu ini sedang koma, kamu malah berniat untuk menceraikanku dan menikah dengan kak Birru."
Khanza tergelak lirih mendengar ucapan suaminya yang menggelikan. "Aku nggak berniat sama sekali untuk menceraikanmu Mas. Apalagi menikah dengan kak Birru. Aku mengimbangi acting kak Birru hanya untuk membangunkanmu dari koma, Mas."
"Hukuman?"
"Heem."
Tanpa aba-aba, Rangga menyambar bibir ranum Khanza.
Meski terkesiap, Khanza tidak menolak. Bahkan mengimbangi sentuhan bibir kekasih halalnya itu. Keduanya saling memagutkan bibir, menyesap rasa manis yang mereka rindukan.
CEKLEK
"Assalamu'alaikum."
Rangga dan Khanza terkesiap saat mendengar suara pintu terbuka diikuti ucapan salam. Gegas mereka mengakhiri pagutan bibir dan melerai pelukan.
"Wa-wa'alaikumsalam ...," jawab mereka dengan terbata.
"Rangga, Khanza, boleh kah kami masuk?" tanya yang terucap dari bibir Kirana.
"Tentu saja boleh, Bunda." Khanza menjawab pertanyaan sang bunda dengan tertunduk malu.
__ADS_1
Dengan hati-hati, Khanza beranjak dari ranjang. Kemudian ia menyambut kedatangan sang bunda, ayah, serta ibu mertuanya dan mencium telapak tangan mereka secara bergantian.
"Rangga putraku." Nabila menghambur ke pelukan sang putra diiringi isak tangis.
"Bunda." Rangga membalas pelukan sang bunda. Abimana, Kirana, dan Khanza merasa terharu ketika menyaksikan ibu dan anak itu saling berpeluk.
"Alhamdulillah, Ngga. Bunda sangat bersyukur dan teramat bahagia ketika mendengar kabar bahwa kamu sudah sadar dari koma, Nak. Trimakasih telah berjuang untuk kembali, sayang." Nabila sedikit merenggang pelukan lalu menghujani wajah Rangga dengan kecupan tanda kasih sayang dan rasa cinta seorang bunda terhadap putranya.
"Rangga bisa tersadar dari koma berkat ikhtiyar dan doa-doa yang dilangitkan oleh bunda, Khanza, beserta semua orang yang mengasihi Rangga. Meski ...." Rangga menggantung ucapannya.
"Meski apa sayang?"
"Meski, Khanza ingin menceraikan Rangga dan menikah dengan kak Birru," jawabnya sembari melirik sang istri dan memasang wajah sok sedih.
Semua mata tertuju pada Khanza. Seolah, mereka ingin meminta penjelasan darinya.
Khanza membuang nafas sedikit kasar. Ia teramat kesal dengan gurauan Rangga yang sama sekali tidak lucu.
"Khanza, apa benar yang diucapkan oleh Rangga? Kamu ingin menceraikan Rangga dan menikah dengan Birru?"
Khanza menunduk. Ia tidak berani membalas tatapan sang bunda.
"Khanza, jawab pertanyaan Bunda!" Kirana sedikit meninggikan intonasi suara. Meluapkan amarah yang hampir meledak.
"Iya Bunda." Khanza menjawab lirih.
"Astaghfirullah ...." Semua orang yang berada di ruangan itu mengucap istighfar dan mengelus dada tatkala mendengar jawaban yang dilisankan oleh Khanza.
"Tapi ... tapi boong Bund." Khanza mengangkat wajahnya dan tersenyum nyengir. Seolah tanpa merasa bersalah, Rangga tergelak lirih kala melihat ekspresi bunda dan kedua orang tua Khanza ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Maaf jika bertebaran typo 😉
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤
__ADS_1