Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Tragedi Handuk


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


Khanza mengakhiri ritual mandinya kemudian ia memutar tubuh untuk mengambil handuk yang berada di gantungan.


Betapa terkejutnya Khanza ketika menyadari kehadiran Adithya. Seketika ia pun berteriak ....


"Adithyaaaaaaaaaa ...."


Setelah membalut tubuh polosnya dengan handuk, Khanza memukuli tubuh Adithya dengan tangan kosong tanpa ampun, meluapkan amarah bercampur kekesalan yang sudah sampai di ubun-ubun.


"Dasar o-mes. Suka ngeliatin orang mandi. Aku bejek-bejek baru tau rasa," tukas Khanza tanpa menghentikan pukulannya.


"Adududuh, sakit Za. Jangan siksa suami tampanmu ini," pintanya sambil mengaduh.


Khanza memutar bola mata jengah saat mendengar ucapan Adithya yang terkesan ke PD an.


"Tampan dari Hongkhonggg? Ngaca dulu Dit!"


"Aku udah ngaca, Za. Bundaku selalu bilang ... aku mirip dengan artis --"


"Mirip artis? Kamu tuch mirip Pak Raden yang kumisnya lebat di film si Unyil," sarkas Khanza.


"Za, please jangan memukulku lagi! Aku mau buang air kecil. Sudah kebelet banget."


"Halah, alibi."


"Beneran, Za. Aku sudah nggak tahan. Kalau ngompol gimana?"


"Urusan kamu lah --"


"Yaudah, kamu keluar dulu ya! Aku buang air kecil sebentar. Tapi --"


"Tapi apa?" ketusnya disertai mata yang nyalang.


"Itu." Adithya menunjuk dengan dagunya.


"Itu apaan sich?" Khanza mengerutkan dahi. Ia tidak faham dengan maksud ucapan suaminya.


"Itumu ditutup dulu sebelum keluar, Khanza sayang!" sahut Adithya setengah berbisik.

__ADS_1


"Itumu? Apa itumu ... itumu? Ngomong tuch yang jelas, Dit!" ketus Khanza sambil berkacak pinggang dan membusungkan dada. Karena amarah yang meluap-luap, ia tidak sadar ... handuknya melorot. 🙄


Adithya menghela nafas dalam. Ia berusaha mati-matian untuk meredupkan api yang semakin membara.


"Za, pejamkan kedua matamu! Aku mau buang air kecil sebentar, okey!" pinta Adithya dengan suaranya yang terdengar lembut.


Ucapan Adithya bagaikan sihir yang mampu menghipnotis istrinya. Khanza menurut. Ia memejamkan mata sampai Adhitya memberikan instruksi.


"Sekarang bukalah matamu, Za! Aku sudah selesai buang air kecil."


Perlahan Khanza membuka netranya. Lantas ia menagih penjelasan dari Adithya.


"Sekarang, jelaskan apa yang kamu maksud dengan itumu!"


Adithya tersenyum simpul. Lalu ia membenarkan handuk Khanza yang melorot. "Za, handukmu melorot. Sebelum keluar dari dalam kamar mandi, lebih baik harta terindahmu yang masih suci dan belum terjamah ini ditutup!"


Netra Khanza membola disertai wajah yang terhias rona merah saat menyadari handuknya melorot. Khanza teramat malu. Ia pun segera memutar tumit lalu keluar dari dalam kamar mandi dengan langkah lebar.


Rangga tergelak melihat ekspresi wajah istrinya yang sangat menggemaskan. Namun tawanya memudar saat tubuh bagian bawahnya memberi sinyal untuk segera dimanjakan.


"Duh Dek, sabar dulu ya! Belum saatnya kamu mendapat jatah," gumamnya lirih.


Pagi ini suasana di rumah Abimana terasa berbeda karena kehadiran Keanu, Raina, Chayra, dan tentunya Adithya. Mereka menikmati sarapan bersama dengan di iringi obrolan ringan.


Raut kebahagiaan terlukis jelas di wajah Abimana, Kirana, Dylan, Keanu, Raina, Adithya, dan Chayra. Namun tidak dengan Khanza. Wajahnya terlihat masam.


"Za, ambilkan makanan untuk suamimu!" titah Kirana pada putrinya.


Khanza membalas ucapan Bundanya dengan malas, "dia bisa ngambil sendiri Bund."


"Za, sebagai seorang istri yang baik, layanilah suamimu! Jangan sampai putri Bunda menjadi istri yang durhaka," tutur Kirana dengan suaranya yang dilirihkan.


Khanza menghembus nafas kasar. Dengan sangat terpaksa ia mematuhi perintah sang bunda. Tangannya terulur untuk mengambil piring kosong lalu mengisinya dengan nasi serta lauk berupa cha bayam, ayam goreng, kerupuk, dan sambal terasi.


"Nih, dimakan!" ketusnya sambil menaruh piring yang sudah terisi nasi dan lauk di hadapan Adithya.


Kirana mengelus dada, menyaksikan sikap putrinya yang sama sekali tidak sopan terhadap suami. Bukan hanya Kirana yang mengelus dada ketika menyaksikan sikap Khanza. Namun Abimana, Keanu, dan Raina pun melakukan hal yang sama dengan Kirana. Bahkan mereka kompak mengucap istighfar.


Setelah selesai sarapan nanti, Kirana berniat untuk kembali memberi wejangan kepada putrinya agar bisa menghargai Adithya sebagai seorang suami.

__ADS_1


...


Seusai sarapan, Abimana bercengkrama bersama keluarganya di gazebo. Mereka berbincang ditemani kesegaran teh hangat gula batu dan camilan berupa keripik singkong.


"Za, Dith, kalian ingin berbulan madu di mana?" Abimana melisankan kalimat tanya yang ditujukan pada sepasang pengantin baru, Adithya dan Khanza.


Khanza sama sekali tidak merespon pertanyaan ayahnya. Ia malah asik memainkan game yang tengah viral.


"Kami ingin berbulan madu di desa W saja, Yah. Saya sudah mempersiapkan gubug untuk kami tinggali. Saya berniat, bukan hanya berbulan madu, tetapi menetap di desa tersebut," sahut Adithya tanpa ragu.


Khanza memutar bola mata malas ketika mendengar ucapan Adithya. Mau tidak mau, suka tidak suka, sebagai seorang istri ia harus bersedia mengikuti kemauan suaminya, tinggal di desa W.


"Bagaimana Za, kamu tidak keberatan 'kan, jika kalian tinggal di desa W?" tanya Abimana sembari menatap wajah putrinya dengan intens.


"Nggak Yah," jawabnya singkat tanpa menatap wajah lawan bicara. Ingin protes pun, percuma.


"Syukurlah kalau begitu. Kapan kalian akan berangkat ke Desa W?"


"Insya Allah secepatnya, Yah. Mungkin dua hari lagi." Adithya menjawab pertanyaan ayah mertuanya dengan mantap. Ia ingin segera pergi ke desa W dan hanya tinggal berdua bersama Khanza meski di rumah yang teramat sederhana. Adithya berharap, setelah tinggal berdua di desa W, hati Khanza akan mulai luluh.


"Baiklah, Dith. Ayah dan Bunda mempercayakan putri kami kepadamu. Jangan pernah membuatnya bersedih! Bimbing Khanza menjadi seorang istri yang salehah. Bersabarlah dengan sifat dan sikapnya yang terkadang memancing emosimu," tutur Abimana.


"Iya Yah. Trimakasih atas kepercayaan yang Ayah dan Bunda berikan. Saya berjanji sebisa mungkin tidak akan membuat Khanza bersedih. Saya juga akan berusaha membimbingnya menjadi seorang istri yang salehah. Tentang sifat dan sikap Khanza, saya sudah memakluminya, Yah."


Mendengar ucapan sang menantu, Abimana dan Kirana semakin yakin bahwa Adithya-lah pria yang sangat tepat menjadi pendamping hidup putri mereka. Keduanya juga yakin, suatu saat nanti hati Khanza akan luluh oleh ketulusan cinta Adithya.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Beri komentar


Rate 5


Gift atau vote jika berkenan mendukung author agar tetap berkarya


Trimakasih dan banyak cinta ❤😘

__ADS_1


__ADS_2