Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Selimut Tetangga


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Tapi, mengapa Mas Rangga berkata ... bahwa kamu bukan tipe lelaki setia, Mas?"


Rangga tertawa kecil lalu membalas pertanyaan polos yang terlontar dari bibir istrinya. "Pfftttt .... Mas Ranggamu ini memang bukanlah tipe lelaki SETIA. Setiap tikungan ada."


"Dasar kamu, Mas." Khanza mengecup pipi Rangga. Lantas ia benamkan kepalanya di dada bidang yang selalu membuatnya merasa nyaman.


"Yang, malam sedingin ini ... enaknya ngapain ya?"


"Enaknya, makan mie rebus Mas."


"Sayang laper?"


"Nggak Mas. Aku ngantuk."


"Jangan ngantuk dulu Yang. Aku kedinginan lho ini." Pancing Rangga sambil melingkarkan tangan di pinggang istrinya.


"Pakai selimut tebal Mas, biar nggak kedinginan." Khanza menyahut diikuti gerakan kelopak matanya yang mulai mengatup.


"Selimutnya ngantuk. Atau ... aku pinjem selimut tetangga aja ya?" bisiknya seraya bercanda.


Mata yang semula mengatup, seketika kembali terbuka lebar.


"Apa kamu bilang, Mas? Selimut tetangga?" Khanza melontarkan kalimat tanya disertai gerakan dadanya yang kembang kembis.


"Canda Sayang. Makanya, suami kedinginan jangan dianggurin donk. Dibelai-belai sayang. Diselimuti dengan kehangatan cinta."


"Pasti cuma alibi. Mas Rangga sebenarnya lagi nggak bercanda 'kan? Mas Rangga ingin meminjam selimut tetangga yang lagi nganggur 'kan?" Khanza terisak. Hormon kehamilan membuatnya mudah sekali terpancing emosi.


"Sayang, demi Allah ... aku hanya bercanda --"


"Mas, jika Mas Rangga memang ingin merasakan selimut tetangga, sana minta diselimuti si Markoneng!"


"Markoneng? Aku nggak kenal, Yang. Kalau Inah, aku kenal," ujarnya sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


"Yaudah sonoh, minta diselimutin Inah biar nggak kedinginan!" Khanza mendorong dada bidang Rangga hingga suaminya itu terjatuh ke lantai.


"Duh Dek, pantatku sakit." Rangga bergumam sembari mengusap pantatnya yang lumayan nyeri-nyeri sedap karena berciuman dengan lantai.


"Baru aja bilang bukan lelaki SETIA, setiap tikungan ada. Sekarang malah ingin meminjam selimut tetangga. Kamu memang sama dengan simbahnya biawak, Mas. Pintar berkata manis, tapi ternyata --" Suara Khanza tercekat. Ia tidak mampu lagi melanjutkan kata-kata karena rasa sesak yang menjalar sampai ke kerongkongan.


Rangga merasa sangat menyesal karena melontarkan candaan yang membuat Khanza terpancing emosi. Ia sungguh tidak tega melihat wajah cantik wanita yang dicintainya itu kini basah oleh derai air mata.


Gegas, Rangga kembali naik ke ranjang. Ia raih tubuh Khanza dan membawanya ke dalam dekapan.


"Sayang, maafkan suamimu ini. Maaf karena bercandaku kelewatan. Sumpah demi apapun, aku nggak butuh selimut tetangga. Yang aku butuhkan hanya dekapan cinta dari istriku seorang, Dokter Saqueena Khanza Humaira." Rangga mengusap punggung Khanza dengan gerakan naik turun seraya menenangkan sang istri agar tangisnya mereda.

__ADS_1


"Kamu jahat Mas. Sangat jahat. Bercandamu sungguh tidak lucu."


"Please Sayang, jangan mengatakan aku jahat! Bisa-bisa, aku ikut menangis lho."


"Yaudah, kita nangis bareng."


"Kalau kita nangis bareng, kasihan dedek yang ada di perut donk. Tidur mereka pasti akan terganggu karena mendengar suara cempreng papi dan mommy-nya."


"Mereka? Maksud kamu apa, Mas? Bayi kita kan belum di USG."


Rangga merenggang dekapan lantas ia melengkungkan bibir hingga terbitlah seutas senyum khas yang semakin menambah ketampanan wajahnya.


"Yang, kemarin malam aku bermimpi. Kita memiliki bayi kembar. Satu perempuan dan yang satunya lagi laki-laki," tuturnya disertai binar yang menyiratkan makna. Ia ulurkan tangan untuk menyeka jejak air mata yang membasahi wajah cantik istri tercinta.


"Bayi kembar?"


"Heem."


"Semoga buah cinta kita yang ada di dalam rahimku ini benar-benar kembar ya Mas," tutur Khanza penuh harap.


"Aamiin semoga Yang." Rangga melabuhkan bibirnya di kening sang istri.


"Mas ...." Khanza menatap manik mata suaminya dengan tatapan penuh cinta.


"Apa Sayang?" Rangga membalas tatapan istrinya.


"Besok pagi, mau 'kan mengantarku ke rumah sakit untuk melakukan USG?"


"Tapi apa Mas?"


"Tapi, malam ini ... selimutin aku ya Yang!"


Bibir Khanza mencebik, diikuti tangannya yang terulur untuk mencubit pipi suaminya.


"Mulai lagi 'kan membahas soal selimut."


"Ya 'kan malam ini, aku benar-benar kedinginan Yang."


"Hiliiihhh, bilang aja ... Mas Rangga mau minta jatah."


"Tuh Sayang udah tau. Dikasih 'kan ... jatahnya?" Rangga melontarkan tanya sambil menaik turunkan kedua alis.


"Mmmm ... kasih nggak ya?" Khanza pura-pura berpikir. Padahal sebenarnya, dia pun menginginkan sentuhan sang kekasih halal.


"Kasih donk. Ya Yang ... ya ... ya!"


Khanza menghembus nafas pelan. Ia menerbitkan senyum dan berkata, "baiklah Mas. Tapi pelan-pelan dan tidak lebih dari satu ronde. Aku benar-benar ngantuk dan lelah, Mas."


"Asiap Sayang. Suamimu yang handsome ini akan melakukannya pelan-pelan dan tidak lebih dari satu ronde."

__ADS_1


"Janji ... !" Khanza mengacungkan jari kelingkingnya.


"Iya janji, Sayangku." Rangga menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Khanza. Keduanya saling melempar senyum sebelum memulai ritual penyatuan raga.


“Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar.”


Khanza tergelak kala mendengar bacaan doa yang terlantun dari bibir Rangga. Bukannya membaca doa sebelum bersenggama, Rangga malah membaca doa sebelum makan. Ya Salammmmm. Tepuk jidat. 🤦‍♀️


"Pffftttt ... hhhhaha. Doa yang kamu baca salah, Mas. Memangnya, Mas Rangga mau makan, hmm?"


"Ya 'kan aku ingin memakanmu Yang," sahutnya beralibi.


"Tapi bukan begitu doanya, Mas. Masa Mas Rangga lupa sih?"


"Aku nggak lupa Yang. Hanya berpura-pura lupa, karena ... aku ingin kita membacanya bersama."


"Hmmm. Baiklah, Mas."


Keduanya pun membaca doa sebelum bersenggama dengan kompak untuk mengawali ritual penyatuan raga, mereguk kenikmatan surga dunia.


"Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa. Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami."


Seusai membaca doa, Rangga mengecup lama perut Khanza yang sudah terlihat buncit sambil berucap, "sebentar lagi, papi akan menjengukmu Sayang."


Rangga mulai menjamah seluruh tubuh Khanza. Hingga tubuh wanita yang sangat dicintainya itu meremang.


"Mas Rangga ...."


"Khanza Sayang ...."


Suara hembusan angin dan binatang malam, mengiringi nada-nada cinta yang terlantun merdu dari bibir sepasang kekasih ketika tubuh mereka saling bersentuhan tanpa sehelai benang pun yang menjadi penghalang.


Suasana semakin syahdu saat air langit turut menyertai ritual yang membawa dua insan tenggelam ke dalam asmaraloka ....


Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Episode ini full partnya Rangga dan Khanza. Bagi Kakak-Kakak yang penasaran dengan kelanjutan kisah Rudi, insya Allah ... di episode selanjutnya.


Mon maaf jika bertebaran typo, karena si othor tidak bisa fokus. Bocil ngrengek minta main sama emaknya 😁🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉

__ADS_1


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2