
Happy reading 😘😘😘
"Rangga ...." Khanza memekik saat Rangga menghujamkan benda tumpul miliknya semakin dalam.
Rangga tersenyum puas setelah mencapai klima**. Raut bahagia terlukis jelas di wajahnya, sebab wanita yang di dambakan selama ini telah dimiliki seutuhnya ....
"Trimakasih sayang ...." ucapnya sembari mencium kening Khanza seusai menyudahi ritual penyatuan raga.
"Iya Ngga." Khanza mengulas senyum kemudian ia menenggelamkan wajah di dada pria yang digariskan oleh Sang Maha Cinta untuk menjadi imamnya.
"Ngga ...."
"Apa sayang?"
"Maaf --"
"Maaf untuk apa?"
"Untuk semua ucapan dan sikapku yang teramat kasar. Jujur, aku menyesal. Aku juga sangat malu jika teringat masa lalu. Tepatnya saat aku menolak dan memintamu untuk pergi menjauh dariku," tutur Khanza sambil memainkan jari jemari ... membentuk pola tak beraturan di dada bidang suaminya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Za. Semua gadis pasti akan ilfeel jika terus menerus dikejar bahkan dirayu dengan gombalan receh --"
"Tapi, gombalanmu sama sekali nggak receh, Ngga. Semua rayuanmu masih terngiang di telinga ...."
"Oya?"
"Heem."
Bibir Rangga melengkung saat mendengar ucapan istrinya. "Itu berarti, kamu sudah menyukai ku sejak lama, Za --"
"Entahlah, Ngga. Aku masih sanksi dengan perasaanku sendiri."
"Apa yang membuatmu sanksi, hmmm?"
"Aku juga nggak tau, Ngga."
"Mungkin, karena kamu terlalu malu untuk jujur pada hatimu sendiri, Za. Sehingga kamu belum bisa memahami perasaanmu sendiri. Atau, kamu belum sepenuhnya move on dari Kak Birru?"
Khanza menghela nafas panjang. Ia merasa, apa yang dikatakan oleh Rangga ada benarnya. Sebagai seorang wanita, ia terlalu naif. Sehingga tidak bisa memahami ataupun menyadari perasaannya sendiri terhadap Rangga.
"Apa yang kamu ucapkan memang benar, Ngga. Karena terlalu naif, aku nggak bisa memahami perasaanku terhadapmu. Tentang Kak Birru, aku sudah mengikhlaskannya. Dia cinta pertama yang nggak mungkin bisa ku rengkuh --"
"Seandainya Allah berkehendak ... suatu saat nanti kamu dan Kak Birru bisa bersatu, bagaimana Za?" Rangga melisankan tanya yang justru menorehkan rasa ngilu di ulu hatinya.
Khanza menengadahkan kepala. Ia tatap wajah suaminya dengan intens. "Jangan berkata seperti itu lagi! Aku milikmu, dan akan selamanya menjadi milikmu. Kita sudah menyatu, Ngga. Insya Allah till jannah bersamamu --"
Ucapan Khanza bagaikan setetes embun yang menyejukkan. Rasa ngilu di ulu hati yang sempat terasa, hilang tak berbekas.
"Katakan, bahwa kamu mencintaiku Za!" Rangga membalas tatapan Khanza. Ia angkat dagu wanita yang selalu menjadi ratu di hatinya.
"A-aku."
__ADS_1
Heningggg ....
Jantung Khanza berdegup kencang. Dengan bibir gemetar ia pun melisankan kata-kata yang sangat dinantikan oleh Rangga selama ini. "A-aku. Aku mencintaimu Rangga --"
Senyum terbit menghiasi wajah Rupawan Rangga kala mendengar ucapan yang terlisan dari bibir istrinya.
"Ucapkan sekali lagi, Za!" pintanya.
"Aku mencintaimu Rangga --"
CUP
Rangga mendaratkan kecupan singkat di bibir istrinya.
"Aku ingin mendengarnya lagi, Za --"
Khanza mengulas senyum. "Aku mencintaimu Rangga Adithya Fairuz."
Netra Rangga berbinar. Senyumnya semakin merekah.
"Trimakasih sayang. Trimakasih karena telah membalas cintaku." Rangga memeluk tubuh istrinya dengan erat. Ia hujani wajah cantik sang bidadari hati dengan kecupan.
"Aku yang seharusnya berterimakasih, Ngga. Trimakasih telah sabar menanti balasan cinta dariku. Trimakasih telah memperjuangkan cintamu sehingga kita bisa menyatu," tutur Khanza. Ia membalas pelukan Rangga dengan tak kalah erat.
Rembulan tersenyum malu-malu menyaksikan kedua insan yang saling berpeluk.
"Za ...." Rangga meregangkan pelukannya.
"Bolehkah, aku memintanya lagi?"
"Meminta apa Ngga?"
"Meminta jatahku --"
Netra Khanza membola. Terbayang olehnya jika mengiyakan permintaan Rangga, pasti ritual penyatuan raga akan berakhir hingga menjelang subuh, sebab jarum jam di dinding sudah menunjuk pukul dua malam.
"Tapi Ngga --"
"Nanggung Za, sekalian menunggu adzan subuh," bisiknya sambil memainkan squishy hingga membuat Khanza tak mampu berkutik.
....
Seusai subuh, Khanza tidak mampu lagi menahan rasa kantuk yang menyerang akibat perbuatan suaminya semalam hingga dini hari. Tubuhnya serasa lelah. Matanya enggan terbuka.
Berbeda dengan Khanza, Rangga terlihat lebih segar setelah mereguk kenikmatan surga dunia. Seolah tak pernah puas, ia ingin lagi ... lagi ... lagi .... dan lagi, menyesap madu yang telah menjadi candu dan menyatukan raganya dengan raga sang kekasih.
Rangga menarik kedua sudut bibirnya saat Khanza mulai membuka mata dengan perlahan.
"Selamat pagi menjelang siang istriku ...."
Netra Khanza memicing menyesuaikan cahaya mentari yang masuk melalui celah-celah jendela kamar.
__ADS_1
"Hemmm. Selamat pagi juga suami o-mesku." Khanza membalas ucapan Rangga dengan tersenyum tipis. Rasa-rasanya ia masih ingin memejamkan netra.
"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, Za. Bangunlah!"
"Aku masih ngantuk banget, Ngga."
"Mandilah! Supaya badanmu segar dan rasa kantukmu hilang."
"Tapi Ngga, tubuhku serasa lemas --"
GREPP
Rangga meraih tubuh Khanza lantas menggendongnya ala brydal style.
"Mau ngapain, Ngga? Lepaskan aku! Aku masih ingin merem --"
"Meremnya dilanjut nanti, Za. Sekarang, aku akan memandikan mu."
Netra Khanza berotasi sempurna. Ia bergidik saat terbayang, Rangga benar-benar memandikan nya. Bukan hanya memandikan, pasti suaminya itu akan meminta jatah lagi.
"Aaaa ... lepaskan aku Ngga! Aku bisa mandi sendiri." Khanza memekik saat Rangga membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Perlahan Rangga menurunkan tubuh istrinya di bathtub.
"Dimandiin atau mandi sendiri, Nyonya Rangga Adithya Fairuz?" Rangga menggoda Khanza dengan menaik turunkan alisnya.
"Mandi sendiri," ketusnya. Khanza bersedekap dan memasang raut wajah cemberut.
"Baiklah sayang. Setelah sarapan, aku akan memberi sesuatu untukmu, Za."
Raut wajah Khanza seketika berubah kala mendengar ucapan suaminya. Ia pun melisankan tanya disertai binar di manik matanya.
"Apa Ngga?"
"Ada dech. Segeralah mandi dan jangan berendam terlalu lama!" titahnya.
Entah apa yang akan diberi oleh Rangga untuk kekasih hatinya, seorang dokter comel ... Saqueena Khanza Humaira 😉
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Jika ada yang bertanya-tanya, kog nggak ada konfliknya? 😁
Sabar ya Kak, disuguhkan yang manis-manis dulu baru dech mulai konflik 😉
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Klik ❤ untuk fav karya
Berikan gift atau vote bila berkenan mendukung karya receh author 😉
__ADS_1
Trimakasih dan banyak cinta ❤😘