
Obat rindu bag. 4
Happy reading 😘😘😘
Raut wajah Rangga dan Udin seketika berubah. Keduanya merasa teramat malu. Harga diri mereka seolah ditelanjangi oleh perilaku konyol mereka sendiri ....
"Ehem, Pi. Buruan ke kamar, terus bersih-bersih badan! Dan ... Pak Udin, silahkan bersih-bersih badan juga!" titah Khanza setelah tawanya terhenti.
Udin mengangguk lantas mengayun tungkai menuju kamarnya. Ia masih merasa teramat malu untuk sekedar menengadahkan wajah. Sedangkan Rangga, ia masih di posisi yang sama, berdiri di hadapan Khanza dengan menundukkan kepala. Sama seperti Udin, Rangga pun merasa teramat malu. Seorang pria yang dikenal pemberani oleh Khanza, ternyata bisa ketakutan hanya karena mendengar rekaman suara nyai Nofi yang sangat mirip dengan suara ketawa khas mbak Kunti.
"Pi, yuk ke kamar! Bersihin badan biar bau ompolnya pak Udin hilang!" ajaknya disertai seutas senyum.
"Huum Mi," sahut Rangga tanpa semangat.
"Oya Pi, mana buah pisangnya?" Khanza celingak-celinguk mencari buah pisang hasil petikan Rangga dan Udin.
"Papi taruh di kolong meja, Mi."
"What?" Manik mata Khanza membola. Kedua telapak tangannya terangkat untuk menutupi mulutnya yang menganga.
Rangga mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Dahinya mengerut hingga kedua pangkal alisnya saling bertaut. Ia merasa heran dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Khanza. Baginya, ekspresi istrinya itu terkesan berlebihan.
"Kog Mommy ekspresinya gitu amat sih?"
Alih-alih menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rangga, Khanza malah berganti mencecar suaminya itu dengan pertanyaan. "Pi, bukannya tadi pak Udin ngompol di sana ya? Buah pisangnya terkena ompol donk?"
Rangga menepuk jidat. Terbayang olehnya nasib si buah pisang yang telah tercemar ompolnya Udin. Bisa dipastikan, harum khas buah pisang berganti bau yang sukses membuat siapapun seketika pingsan jika mencium aromanya.
"Maaf Mi." Hanya kata itu yang mampu Rangga lisankan.
Raut wajah Khanza berubah sendu. Keinginannya untuk menikmati buah pisang hasil petikan Rangga dan Udin kandas sudah. Bagaimana mungkin dia bisa menikmati buah pisang yang beraroma teramat sangat tidak sedap.
Poor Khanza
"Mi, maaf ya! Atau ... papi petikkan buah pisangnya lagi?" Rangga meraih tangan Khanza dan menatap lekat manik mata yang terbingkai embun. Ia merayu, supaya raut wajah istrinya kembali berbinar.
__ADS_1
Rangga merasa bersalah telah mengecewakan Khanza. Tubuhnya serasa lunglai karena perjuangan serta pengorbanannya dengan Udin berakhir sia-sia.
"Nggak usah Pi. Mommy sudah nggak ngidam pisang." Khanza berkilah lalu mengibaskan tangan untuk melepas genggaman tangan Rangga. Ia ayunkan kaki menaiki anak tangga, menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Rangga menghela nafas panjang dan menyugar rambutnya ke belakang. Dengan langkah gontai, ia menyusul istrinya.
Khanza meluruhkan tubuhnya di atas ranjang. Diraihnya bantal guling lalu dibawanya ke dalam pelukan. Hormon kehamilan membuat Khanza menjadi mudah menangis hanya karena hal-hal sepele. Seperti saat ini. Khanza menangis karena keinginannya untuk memakan buah pisang yang dipetik langsung dari pohonnya tidak terwujud.
Sebagai seorang suami, Rangga sungguh tidak tega melihat istri tercintanya itu meneteskan air mata.
Ingin rasanya ia segera merengkuh tubuh Khanza dan mendekapnya untuk memberi rasa tenang. Namun karena pakaian dan sarung yang dikenakan tercemar bau tak sedap, Rangga memilih untuk segera membersihkan badan.
Usai membersihkan badan, Rangga merangkak ke atas ranjang dengan balutan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Mi, papi benar-benar minta maaf! Maaf, karena papi telah mengecewakan Mommy. Papi membuat Mommy meneteskan air mata," sesal Rangga. Ia peluk tubuh Khanza dari belakang dan menghujani pucuk kepala istrinya itu dengan kecupan.
Khanza menghapus jejak air mata yang membasahi wajahnya dengan jemari tangan. Ia mulai luluh kala mendengar ucapan Rangga yang menyiratkan rasa sesal. Perlahan, Khanza merotasikan tubuhnya hingga berhadapan dengan Rangga. Lalu ia tatap iris mata suaminya itu.
"Pi, seharusnya mommy yang minta maaf. Papi dan pak Udin sudah berusaha menuruti permintaan mommy, memetik buah pisang di malam hari. Sampai-sampai, Papi dan pak Udin ketakutan karena mendengar suara mbak Kunti KW." Khanza tertawa kecil. Ia usap pipi suaminya dengan sayang.
"Mi, bagaimana kalau papi ganti buah pisangnya? Pastinya, dengan buah pisang yang lebih enak," ujar Rangga sambil menunjuk pisang tanduk dengan gerakan netranya.
"Justru karena papi o-mes, Mommy malah tambah cinta 'kan?"
Pipi Khanza semakin memerah saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Rangga.
Tanpa aba-aba, Rangga mulai menyerang Khanza dengan menyatukan bibir dan menjamah dua harta terindah yang halal disentuhnya. Khanza tidak kuasa menolak. Karena ia pun selalu candu dengan sentuhan suaminya.
Ketika Rangga bersiap membenamkan tubuhnya, perut Khanza berteriak nyaring disusul cicitan yang seketika membuat Rangga bagai diguyur air es, memadamkan api hasrat yang semula membara.
"Pi, mommy lapar."
"Mommy, ingin makan apa? Buah pisang?"
Khanza menggeleng. "Bukan."
"Nasi goreng?"
__ADS_1
"Iya, Pi. Mommy ingin makan nasi goreng janda."
"Nasi goreng janda? Belinya di mana, Mi?"
"Di sebelah utara pemakaman Kantil, Pi."
Rangga bergidik ngeri. Baru saja bisa bernafas lega setelah terlepas dari bayang-bayang mas Poci dan mbak Kunti, Khanza malah memintanya untuk membeli nasi goreng janda di warung makan yang berada di sebelah utara rumah kedua makhluk itu.
"Mi, bagaimana kalau malam ini ... Mommy makan nasi goreng papi handsome aja? Dijamin lezat dan bikin nagih. Lagian, sekarang sudah nggak ada nasi goreng janda. Jandanya udah nikah seminggu yang lalu." Rangga mencoba bernegosiasi. Ia berharap istrinya akan menerima usulnya.
Khanza menghela nafas panjang. Terlihat, ia sejenak berpikir.
"Baiklah, Pi. Tapi, nasi goreng papi handsomenya diirisi cabe berwarna merah, semburat kuning, dan hijau. Jangan lupa, dilengkapi telur kampung yang digoreng setengah matang dan ditaburi bawang goreng sejumlah 99 biji. Tidak boleh kurang ataupun lebih. Satu lagi, nasi gorengnya jangan terlalu banyak kecap dan sausnya," ujar Khanza yang sukses membuat kepala Rangga tuing-tuing.
Semangat bertuing-tuing Rangga!!! othor said.
.....
Ayunda Chayra Putri, putri sulung pasangan Keanu dan Raina. Kini usia Chayra genap lima belas tahun. Selisih beberapa bulan saja dengan usia Muhammad Alif Firdaus, putra angkat Abimana dan Kirana.
Chayra menganggap Alif sebagai abang sekaligus sahabatnya. Namun tidak dengan Alif. Bagi Alif, Chayra sosok gadis yang teramat spesial dan merupakan cinta pertamanya. Bukan seorang sahabat apalagi adik.
Sebenarnya, Alif ingin sekali mengutarakan rasa cintanya yang terpendam. Namun, ia merasa belum saatnya. Selain usia mereka masih lima belas tahun, Alif sadar diri. Dia siapa dan Chayra siapa. Mereka berada di dalam hierarki yang berbeda ....
Insya Allah jika Illahi berkehendak memberi ridho serta kemudahan, kisah perjalanan cinta Alif dan Chayra akan author rilis di bulan puasa. Sebenarnya, author berencana ... Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story) merupakan sekuel terakhir Cinta Gadis Biasa "Alya" dan Istri Comel Pilihan Abi. Namun karena beberapa pembaca setia menginginkan agar author melanjutkan kisah Alif dan Chayra, it's okay ... author Istri Comel akan mengabulkan. Apa sih yang nggak buat kakak-kakak ter love? 😉
Mohon do'anya ya kakak-kakak, supaya author bisa segera meraba alurnya. 😌🙏
Okay, author kasih bocoran dulu judulnya.
Imam Pengganti
Kira-kira, covernya bagus yang mana ya? Si othor masih galon 🤦♀️🤦♀️🤦♀️
__ADS_1
Sampai berjumpa di Boncabe selanjutnya 😘😘😘
Love love sekebon jagung, banana, terong 💗💗💗