
Happy reading 😘😘😘
Sejak tinggal di pondok pesantren Al Hidayah, Rudi bekerja di apotik yang dimiliki oleh Annisa atas tawaran dari Ilham. Setiap hari, Rudi bekerja dengan sangat ulet dan rajin. Karena dengan bekerja di apotik Annisa, Rudi bisa mendapatkan sejumlah uang untuk menafkahi ketiga putrinya, Mawar, Melati, dan Jingga, meski tanpa sepengetahuan kedua orang tua angkatnya, Herman dan Dewi.
Pagi ini Rudi bekerja satu shift dengan Arum. Wanita itu nampak murung sebab seusai subuh tadi, ia mendapat amanah dari beberapa santriwati untuk mengirimkan proposal. Proposal tersebut mereka tujukan untuk Rudi, duda tampan yang memiliki sejuta pesona.
Dengan menekuk wajahnya, Arum menyerahkan beberapa proposal yang berisi biodata para santriwati yang berniat mendaftarkan diri untuk menjadi calon makmum Rudi Hardiansyah. Seperti biasa, Rudi menerimanya disertai seutas senyum. Setelah menerima beberapa proposal tersebut, Rudi lantas meletakkannya di atas nakas tanpa berkeinginan untuk membacanya.
"Mas, kenapa semua proposal yang diberikan oleh para santriwati tidak pernah sampeyan baca? Termasuk proposal dari saya?"
Rudi kembali menyunggingkan seutas senyum, lantas menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh Arum. "Mbak Arum. Saya bukanlah sosok calon imam idaman. Saya ini, hanyalah seorang pendosa. Mbak Arum dan para santriwati yang lain ber hak mendapatkan calon imam yang saleh, tidak seperti saya."
"Mas, seperti apapun masa lalu Mas Rudi, Arum bisa menerima kog. Yang terpenting saat ini 'kan, Mas Rudi sudah bertaubat. Mas Rudi sudah menjelma menjadi sosok imam idaman."
"Tapi Mbak --"
"Atau jangan-jangan, Mas Rudi jatuh hati pada mbak Annisa? Makanya, tidak mau memberi kesempatan untuk saya atau santriwati yang lain," tandas Arum memangkas ucapan Rudi dengan melipat kedua tangan di depan dada dan menatap wajah rupawan pria pujaan hatinya itu dengan tatapan menyelidik.
Seketika, Rudi menundukkan wajah untuk menghindari tatapan Arum.
"Mas, sampeyan kog malah menunduk dan tidak menjawab pertanyaan Arum?" Arum kembali melontarkan kalimat tanya tanpa mengalihkan tatapannya.
Hening
Rudi masih membisu. Di dalam benak, ia tidak bisa memungkiri bahwa dugaan Arum seratus persen ... benar. Rudi memang jatuh hati pada Annisa. Namun, ia berusaha menepis karena merasa tidak pantas berdampingan dengan seorang wanita saleha dan mendekati kata sempurna, dokter Nabilla Annisa Chairanie. Rudi teramat takut, jika kelak ia mengecewakan Ilham, Suci, dan wanita yang dicintainya. Ia sungguh tidak ingin kisah Anjani kembali terulang.
__ADS_1
"Diamnya Mas Rudi menandakan bahwa dugaan Arum tidak salah. Mas Rudi jatuh hati pada mbak Annisa. Jika benar demikian, Arum ikhlas Mas. Mbak Annisa memang sangat pantas menjadi calon makmum Mas Rudi. Arum sangat yakin, mbak Annisa pun memiliki perasaan yang sama dengan Mas Rudi," ujar Arum sambil berlalu pergi meninggalkan Rudi yang masih setia dalam diamnya.
Perlahan, Rudi menengadahkan wajah lalu mendaratkan bobot tubuhnya di atas kursi.
"Ucapan mbak Arum memang tidak salah. Saya telah jatuh hati pada dek Annisa. Namun, saya tidak berani mengakuinya, karena saya tidak pantas untuk dek Annisa. Saya hanyalah seorang pendosa dan jauh dari kata sempurna --" monolog Rudi diikuti helaan nafas berat.
Tanpa Rudi sadari, Annisa mendengar monolog yang terlisan dari bibirnya. Seketika, wanita itu menyandarkan punggung dan memegang dadanya yang berdenyut merdu. Sungguh, ia tidak menyangka jika Rudi memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Mas. Nissa tidak menginginkan sosok yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah. Yang terpenting bagi Nissa, balasan cinta dari mas Rudi. Nissa yakin, mas Rudi sudah benar-benar bertaubat. Nissa juga yakin, mas Rudi sosok pria yang mampu menjadi imam terbaik untuk Nissa," monolog Annisa yang hanya terlisan di dalam hati.
....
Seusai menjalankan ibadah sholat dzuhur, Annisa menemui abinya. Ia mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya terhadap Rudi.
Selain itu, Annisa juga menceritakan kejadian tadi pagi, saat ia mendengar kata-kata yang diucapkan oleh sang pria pujaan.
Ilham menerbitkan senyum dan membelai lembut jilbab sang putri. Dengan suaranya yang terdengar lembut ia pun bertutur, "Nissa putriku, abi akan segera meminta Rudi untuk menghalalkanmu Sayang. Insya Allah, Rudi jodoh yang telah ditakdirkan untuk putri kesayangan abi dan ummi."
"Benarkah, Bi?"
"Iya, Sayang. Bukankah niat baik itu harus disegerakan?"
Annisa mengangguk pelan lantas menghambur ke pelukan abinya.
"Trimakasih, Abi."
"Iya Sayang." Ilham membalas pelukan Annisa. Ia hujani pucuk kepala putrinya itu dengan kecupan sayang.
__ADS_1
Perlahan, Annisa merenggang pelukan. Kemudian ditatapnya manik mata sang abi dengan lekat sebelum melisankan tanya.
"Abi, bagaimana dengan ummi? Mungkinkah ummi merestui Nissa dan mas Rudi untuk mengikrarkan janji suci?"
"Insya Allah, Sayang. Insya Allah, ummi akan memberikan restunya. Karena sebenarnya, ummi sudah mengetahui perasaan Dokter Annisa terhadap kang mas Rudi, sejak lima bulan yang lalu --" jawabnya seraya menggoda sang putri.
"Jangan-jangan, Abi juga sudah mengetahuinya sejak lima bulan yang lalu?" tanya yang terlisan disertai tatapan penuh selidik.
Ilham tergelak lirih dan menjapit hidung mancung putrinya dengan gemas.
"Tentu saja, Sayang."
"Aaaaaa, Nissa jadi malu Abi. Ternyata Nissa tidak bisa menyembunyikan perasaan Nissa ... dari Abi dan Ummi," ujar Annisa sambil menutup wajah cantiknya dengan kedua telapak tangan karena merasa teramat malu.
Entah, kelak Rudi dan Annisa benar-benar dua insan yang ditakdirkan menjadi sepasang kekasih halal atau tidak, hanya sang penulis skenario dan Illahi Robbi yang maha tahu .....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Maaf, UP nya segini dulu ya kakak-kakak. Insya Allah, nanti atau besok dilanjut lagi 😅🙏🙏
Mon maaf jika bertebaran typo 😊🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
__ADS_1
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤