Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Bukan Lelaki Setia


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Kalian dua manusia yang sama sekali tidak berakhlak. Terutama kamu, Rudi. Kamu membuat Ayah dan Bunda kecewa. Kami teramat malu mempunyai putra bejat sepertimu. Mulai hari ini, ayah tidak akan menganggapmu sebagai putra kami. Pergilah bersama wanita jal** itu! Tinggalkan tahta dan harta yang ayah amanahkan selama ini."


JEGLER


Kata-kata yang terlisan dari bibir Herman bagaikan petir yang menyambar. Rudi benar-benar tidak menyangka, ayahnya akan sangat murka. Dan kemurkaan ayahnya itu menjadi awal kehancuran hidupnya ....


"Pergilah dari rumah ini! Saya beri kalian waktu dua jam mulai dari sekarang untuk berkemas-kemas. Jika kalian tidak juga keluar melebihi batas waktu yang sudah saya tentukan, saya akan memerintahkan security untuk melempar kalian berdua ke jalanan." Herman kembali berujar dengan meninggikan intonasi suara. Ia mengganti kata 'Ayah' dengan 'Saya' sebab sudah tidak menganggap Rudi sebagai putranya.


Herman memutar tumit lantas berlalu pergi. Ia melantunkan istighfar di dalam hati, memohon ampunan kepada Illahi Robbi atas dosa besar yang diperbuat oleh sang putra sebab merasa turut menanggung dosa itu. Hingga buliran bening lolos dari kedua sudut netranya, sebagai luapan kesedihan yang memenuhi rongga dada.


Rudi beranjak dari ranjang lalu memunguti pakaiannya yang terserak di lantai, diikuti oleh Dahlia. Keduanya nampak terburu-buru mengenakan pakaian, hingga tragedi yang menimpa Rudi pun terjadi ....


"Arghhhhh ...." Rudi berteriak saat senjata pamungkasnya terjepit resleting hingga memerah.


BRUG


Rudi menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Ia merintih sambil mengusap senjata pamungkasnya.


"Ada apa Beb?" tanya yang terlisan dari bibir Dahlia. Wanita itu mendaratkan bobot tubuhnya bersebelahan dengan Rudi.


"Senjata pamungkasku terjepit, Honey. Tolong ambilkan salep yang tersimpan di dalam nakas!" pinta Rudi.


"Okey, Beb." Dahlia mengulurkan tangan untuk membuka nakas. Senyumnya terbit ketika menemukan salep yang dimaksud oleh Rudi.


"Aku oleskan, Beb?"


"Iya Honey."


Perlahan, Dahlia melumuri senjata pamungkas Rudi dengan salep sembari meniup-niupnya untuk mengurangi sensasi rasa perih.


"Sudah Beb," ujarnya setelah selesai mengobati senjata pamungkas yang berperan utama melakukan dosa besar.


"Trimakasih, Honey." Rudi tersenyum dan mendaratkan kecupan singkat di bibir Dahlia.


"Beb, kamu harus segera merayu ayahmu. Aku tidak ingin ... kamu menjadi gelandangan jika benar-benar keluar dari rumah ini." Dahlia memasang wajah sendu sambil bergelayut manja di lengan Rudi.


"Iya Honey, aku akan merayu ayah. Kamu, duduklah dengan tenang di sini! Aku sendiri yang akan menemui pria tua itu."


"Semoga berhasil, Beb. Aku berjanji, setelah kamu berhasil merayu ayahmu, aku akan melayanimu hingga pagi."


"Aku akan menagihnya, Honey. Karena aku sangat yakin, ayah tidak akan benar-benar tega mengusir putra semata wayangnya ini," ujarnya penuh percaya diri.


....

__ADS_1


Rudi mengayun kaki untuk segera menemui sang ayah yang kini sedang duduk bersama dengan ibundanya. Kedua paruh baya itu terlihat murung.


"Ayah, Bunda, Rudi minta maaf. Rudi tidak bermaksud mengecewakan Ayah dan Bunda. Rudi hanya ingin berikhtiyar memberikan cucu laki-laki --" Rudi merendahkan suara. Ia meluruhkan tubuh di hadapan kedua orang tuanya.


PLAKK


Herman melayangkan tamparan hingga membuat sang putra meringis kesakitan sambil mengusap pipinya yang terasa panas bercampur perih.


"Kami tidak membutuhkan cucu laki-laki yang terlahir dari perbuatan zina. Asal kamu tau, cucu kami hanya ketiga putri yang dilahirkan oleh almarhumah Anjani, bukan yang lain."


DEG


Rudi sangat terkejut ketika Herman mengucapkan dua kata 'almarhumah Anjani'. Ia sama sekali belum mengetahui bahwa istrinya yang malang itu sudah meninggal. Saat dihubungi oleh Meri, Rudi mengabaikannya karena tengah asik melakukan ritual penyatuan raga dengan partner ranjangnya. Beruntung, Meri menyimpan nomor gawai Herman, lantas ia segera menghubungi pria paruh baya itu.


"A-apa maksud perkataan Ayah? Almarhumah Anjani? Itu artinya ... Anjani sudah meninggal?"


"Kamu benar. Menantu kesayangan kami sudah meninggal dunia. Ia meninggal karena kebejatanmu. Kamu membunuh Anjani dengan cara yang sangat kejam."


JEGLER


Lagi-lagi perkataan Herman bagai petir yang menyambar hingga membuat tubuh Rudi serasa lunglai.


"Ti-tidak mungkin Anjani meninggal. A-aku tidak membunuhnya. A-aku bukan pembunuh."


"Sekarang, pergilah dari hadapan kami! Kami sudah sangat muak melihat wajahmu dan wajah wanita jal** itu."


"Waktu yang saya berikan sudah hampir habis. Kamu masih ingat 'kan perkataan saya? Jika dalam dua jam kamu dan wanita itu tidak keluar dari rumah ini, saya benar-benar akan menyuruh security untuk melempar kalian ke jalanan."


"Bunda, tolong bantu Rudi untuk meluluhkan hati Ayah!" pinta Rudi mengiba sembari menatap manik mata sang bunda dengan tatapan sendu.


"Saya bukan bundamu, Rud. Putra kami sudah lama meninggal ketika ia masih berusia empat tahun. Karena teramat berduka, kami mengangkat seorang anak jalanan untuk menjadi putra kami. Namun sangat disayangkan. Setelah dewasa, anak jalanan itu malah mengecewakan kami." Suara Dewi terdengar lirih. Ia berusaha menahan himpitan rasa yang menyiksa jiwa kala teringat putra kandungnya yang telah tiada.


Tubuh Rudi semakin lunglai ketika mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Dewi. Ulu hatinya terasa nyeri kala mengetahui kenyataan bahwa ia bukanlah putra kandung Herman dan Dewi.


"I-ini tidak benar. Pasti, Bunda hanya berdusta 'kan?"


"Istri saya tidak berdusta. Kamu memang bukan putra kandung kami. Kami memungutmu dari jalanan. Dan sekarang ... kembalilah ke tempat asalmu! Kami tidak ingin mempunyai seorang putra yang bejat dan tidak berakhlak."


TES


Buliran air bening menetes membasahi wajah Rudi. Rasa sakit yang menderanya saat ini, tidak mampu diungkapkan dengan rangkaian kata-kata. Seketika, ia pun terngiang ucapan istri yang telah ditalaknya, Anjani.


"Rasa sakit yang kamu rasakan itu tidak seberapa bila dibanding dengan rasa sakit yang aku rasakan selama ini, Mas. Aku yakin, kelak kamu akan merasakan rasa sakit yang sama denganku."


....


Di bawah naungan langit-langit kamar, terlihat dua insan sedang bercengkrama. Mereka ... Rangga dan Khanza. Keduanya larut dalam duka ketika Khanza menceritakan kisah Anjani.

__ADS_1


"Kasihan Anjani ya, Mas. Tak terbayang, jika aku berada di posisinya," ucapnya setelah mengakhiri cerita.


Rangga membelai rikma Khanza lalu mengecup lama kening bidadari hatinya itu. Ia tatap manik mata yang selalu membuatnya jatuh hati lantas berkata, "Sayang nggak akan pernah berada di posisi Anjani. Karena, sampai kapan pun ... hanya Saqueena Khanza Humaira yang selalu bertahta di hati."


"Mas, semoga kamu nggak pernah mengingkari kata-katamu --"


Rangga menarik kedua sudut bibirnya. Ia raih dagu Khanza dan melabuhkan kecupan singkat di bibir istri comelnya itu.


"Rupanya, Sayang masih meragukan ketulusan cinta seorang Rangga Adithya Fairuz --"


"Bukan seperti itu Mas. Aku hanya takut, suatu saat hatimu beralih dan nasibku akan seperti An --"


Ucapan Khanza terpangkas saat Rangga menempelkan jari telunjuk di bibir ranumnya.


"Aku tidak ingin mendengarnya, Yang. Tatap mataku! Apa mataku ini seperti mata biawak yang berkeliaran di luar sana?"


Khanza menggeleng pelan. "Nggak Mas."


"Jika tidak, percayalah padaku Yang. Aku bukanlah tipe lelaki setia."


Netra Khanza berotasi sempurna kala mendengar ucapan Rangga yang sukses memancing emosinya.


"Maksud kamu apa, Mas? Kalau kamu bukan tipe lelaki setia, aku be --"


CUP


Rangga kembali melabuhkan bibirnya. Kedua bibir yang bersentuhan saling berpagut, menyesap rasa manis yang selalu menjadi candu.


Setelah mengakhiri pagutan bibir, Rangga mengusap pipi Khanza dan membisikkan kata-kata mesra. "Aku mencintaimu, Khanza. Dahulu, saat ini, dan selamanya ... cintaku ini hanya untukmu seorang."


"Tapi, mengapa Mas Rangga berkata ... bahwa kamu bukan tipe lelaki setia, Mas?"


Rangga tertawa kecil lalu membalas pertanyaan polos yang terlontar dari bibir istrinya. "Pfftttt .... Mas Ranggamu ini memang bukanlah tipe lelaki SETIA. Setiap tikungan ada."


"Dasar kamu, Mas." Khanza mengecup pipi Rangga. Lantas ia benamkan kepalanya di dada bidang yang selalu membuatnya merasa nyaman.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉

__ADS_1


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2