
Happy reading 😘😘😘
"Khanza, jawab pertanyaan Bunda!" Kirana sedikit meninggikan intonasi suara. Meluapkan amarah yang hampir meledak.
"Iya Bunda." Khanza menjawab lirih.
"Astaghfirullah ...." Semua orang yang berada di ruangan itu mengucap istighfar dan mengelus dada tatkala mendengar jawaban yang dilisankan oleh Khanza.
"Tapi ... tapi boong Bund." Khanza mengangkat wajahnya dan tersenyum nyengir. Seolah tanpa merasa bersalah, Rangga tergelak lirih kala melihat ekspresi bunda dan kedua orang tua Khanza ....
"Maksudmu apa anak nakal?" Kirana melempar tatapan tajam dan menjapit hidung mancung putrinya yang comel karena merasa di prank.
"Awwww, sakit Bunda. Maaf. Khanza bisa menjelaskan. Tapi lepaskan dulu japitannya!" pinta Khanza mengiba.
Kirana pun melepas japitan tangannya tanpa mengalihkan tatapan tajam pada sang putri. Namun sebelum Khanza berucap, Nabila menginterupsi dengan meninggikan intonasi suara.
"Rangga, kenapa kamu malah menertawakan kami? Kamu tau nggak, jantung bunda hampir copot mendengar ucapanmu tadi. Tidak mungkin 'kan, Khanza menceraikanmu dan menikah dengan pria yang sudah beristri? Jangan mempermainkan perasaan orang tua, Rangga, Khanza. Jangan sampai ucapan yang terlisan malah menjadi doa untuk kalian ...."
Ucapan Nabila sukses mencubit Rangga dan Khanza. Keduanya dihinggapi oleh perasaan bersalah. Terutama Rangga. Niatnya bercanda malah menjadi boomerang. Bunda dan kedua mertuanya terlihat sangat marah.
"Maafkan Rangga dan Khanza. Kami tidak bermaksud membuat Bunda, Bunda Kiran, serta Ayah Abim jantungan dan marah. Sebenarnya, Rangga hanya ingin memberitahu bahwa Rangga bisa sadar dari koma berkat kak Birru dan Khanza. Mereka berpura-pura melontarkan ucapan yang jahat. Kak Birru meminta Khanza untuk menceraikan saya. Setelah kami bercerai, mereka ingin menikah," tutur Rangga dengan menundukkan kepala.
Khanza mendaratkan bobot tubuhnya di tepi ranjang. Lantas ia genggam erat tangan Rangga seraya mentransfer energi positif agar pria yang berstatus sebagai suaminya itu merasa tenang.
"Khanza juga meminta maaf atas ucapan dan perilaku kami yang masih kekanak-kanakan. Sungguh, kami tidak bermaksud untuk mempermainkan perasaan Ayah, Bunda, dan Bunda Nabila --" ucapnya penuh rasa sesal diikuti titik-titik air yang mulai menganak di kelopak mata.
Nabila, Kirana, serta Abimana terenyuh mendengar ucapan Rangga dan Khanza. Amarah yang sempat menyapa, kini terhempas berganti rasa iba.
"Rangga, Khanza, ayah sudah memaafkan kalian. Begitu juga dengan Bunda Kiran dan Bunda Nabila. Bercanda boleh-boleh saja. Tapi harus tau adab. Tidak sopan Nak, bila seorang anak mempermainkan perasaan orang tua, atau dalam istilah gaul 'nge-prank'. Beruntung yang kalian prank tidak jantungan. Jika seandainya salah satu dari kami jantungan, pasti kalian akan sangat menyesal," tutur Abimana bijak.
"Trimakasih Ayah. Kami sungguh meminta maaf," ucap Rangga lirih.
__ADS_1
Abimana membalas ucapan sang menantu dengan anggukan dan seutas senyum.
"Ngga, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu Nak," tutur Nabila ragu.
"Siapa Bund?" tanya yang terucap disertai tautan kedua pangkal alis.
"Ayahmu."
....
Boys squad yang terdiri dari Jeffry, Sammy, Alvin, mengunjungi salah seorang anak buah Clarisa yang kini mendekam di penjara. Dia ... Devan. Mereka berniat untuk memberi sejumlah uang dan mobil sport keluaran terbaru kepada Devan sesuai dengan yang telah dijanjikan.
Senyum smirks diperlihatkan oleh Jeffry ketika salah seorang petugas polisi membawa Devan ke hadapan mereka.
"Haiii, Bro! Bagaimana kabarmu? Kamu senang 'kan tinggal di hotel yang sangat mewah ini?"
Kalimat cibiran yang dilontarkan oleh Sammy berhasil memancing amarah Devan. Pria itu menatap nyalang ketiga pria yang pernah menjadi rekannya, secara bergantian.
BRAKK
"Kalian pembohong. Aku sudah memberitahu semuanya tentang nyonya Clarisa, tetapi apa balasan kalian, hah? Kalian mengirimku ke penjara. Bahkan, sejumlah uang dan mobil sport yang kalian janjikan hanyalah bualan," sarkas Devan dengan meninggikan suara.
"Kami sama sekali tidak berbohong. Apa yang kami janjikan bukan hanya sekedar bualan. Justru, kedatangan kami ke hotel prodeo ini ... untuk memberi sejumlah uang dan mobil sport yang telah kami janjikan," ujar Alvin dengan memperlihatkan seutas senyum yang menyiratkan makna.
"Kau tidak berbohong 'kan Vin?"
"Tentu saja tidak, Dev. Apa yang aku ucapkan ini bukanlah suatu kebohongan."
Alvin menyerahkan koper dan kotak kecil kepada Devan. Seketika netra Devan berbinar. Amarahnya yang meletup-letup kini terhempas begitu saja.
"Aku tidak sedang bermimpi 'kan? Kalian benar-benar memberiku sejumlah uang dan mobil sport keluaran terbaru?"
__ADS_1
"Iya Dev. Kamu sedang tidak bermimpi. Kamu bisa mempergunakan sejumlah uang itu untuk keluar dari penjara. Sewalah pengacara handal di kota ini! Yasudah, karena waktu berkunjung sudah hampir habis, kami mohon diri dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan. Silahkan menikmati hadiah yang kamu impi-impikan itu," ujar Alvin sebelum ia melangkah pergi bersama kedua sahabatnya, Jeffry dan Sammy.
Setelah boys squad berlalu pergi, Devan segera membuka koper dan kotak kecil pemberian mantan rekannya. Ia mengira, koper dan kotak kecil itu berisi sejumlah uang dan kunci mobil sport. Namun sayang, ia salah.
Binar bahagia di netranya menghilang berganti amarah yang kembali meletup-letup ketika ia melihat isi koper dan kotak kecil itu. Sejumlah uang monopoli dan miniatur mobil sport keluaran terbaru.
"Kurang ajar kalian. Arggghhhhgg ...." Devan berteriak frustasi.
Jeffry, Sammy, dan Alvin tertawa lebar. Terbayang oleh mereka ekspresi kemarahan Devan.
"Ke mana kita, Bro?" Di sela-sela tawa mereka, Alvin melontarkan kalimat tanya sembari tetap fokus memainkan stir mobilnya.
"Ke Masjid Hijau. Ada kajian di sana. Siapa tau, dengan mengikuti kajian, kita bisa bertemu jodoh, seorang wanita saleha, bidadari dunia," jawab Sammy penuh damba.
CETAK
Satu jitakan di daratkan oleh Jeffry tepat di dahi sahabatnya yang konyol, Sammy.
"Awww, sakit Bro. Dasar beruang kutub."
"Makanya, luruskan niat. Jangan mengikuti kajian jika hanya berniat mencari jodoh!" sahut Jeffry dengan entengnya. Ia sandarkan kepala pada headrest lalu memejamkan mata, mengacuhkan Sammy yang tengah komat-kamit meluapkan kekesalan .....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Maaf jika bertebaran typo 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
__ADS_1
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤