Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Aroma Parfum


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


Seusai menjalankan ibadah sholat subuh, Adithya memasak makanan sederhana untuk istrinya. Meski seorang pria, ia terampil sekali memainkan spatula.


Tanpa Adithya sadari, Khanza memperhatikannya sedari tadi. Dokter cantik nan comel itu berjalan mendekat ketika Adithya hampir selesai memasak.


"Lagi masak apa, Dith?" tanyanya.


Adithya sedikit terkejut mendengar suara istrinya. Ia pun mematikan kompor lantas menaruh spatula sebelum menjawab pertanyaan yang terlisan dari bibir Khanza, sang istri tercinta.


"Masak sayur bayam, tempe goreng, dan ayam goreng untuk istriku," jawabnya disertai senyuman yang membingkai wajah.


"Ooo ...." Khanza hanya ber O ria mendengar jawaban Adithya.


"Sudah matang semua, mari kita sarapan istriku! Jam delapan nanti, Mas Adithya yang ganteng akan mengantarmu ke Rumah Sakit ICPA," tuturnya tanpa memudarkan senyum.


Ucapan Adithya menggelitik indra pendengaran Khanza. Bibir wanita itu pun mencebik, ia tidak terima jika Adithya memuji dirinya sendiri. "Ishhhh, ganteng kalau dilihat dari lubang semut."


"Bukan dari lubang semut, Za. Tapi dari hatimu yang terdalam. Andai kamu menatapku dengan mata hatimu, pasti kegantenganku akan terlihat," sahut Adithya sambil menatap wajah cantik istrinya dengan intens.


"Seandainya memang ganteng, kalau masih berkumis dan berjenggot lebat ... aku nggak bakalan jatuh hati Dit --" Khanza membalas ucapan Adithya dengan mengalihkan wajah. Ia merasa canggung jika suaminya itu menatap dirinya dengan intens. Andai Khanza membalas tatapan Adithya, mungkin dia akan mengetahui wajah tampan di balik kumis Pak Raden dan jenggot Syekh Poji. Namun sayang, Khanza tidak pernah mau menatap manik mata yang jelas-jelas sudah sangat familiar baginya.


"Kenapa? Bukankah pria berkumis dan berjenggot lebat itu terlihat lebih maco?" tanya yang terlisan tanpa mengalihkan tatapannya.


Khanza tergelak lirih mendengar ucapan suaminya. Ia bawa tubuhnya sedikit menjauh dari Adithya. "Bukannya maco, tapi malah membuatku bergidik ngeri, Dith. Jujur, aku nggak suka kumis dan jenggot mu itu --"


"Jadi, cukurlah kumis dan jenggot mu itu, Dith! Siapa tau setelah melihat wajahmu tanpa kumis Pak Raden dan jenggot Syekh Poji, aku bisa langsung tersepona," sambungnya.


"Biaya untuk menumbuhkan kumis dan jenggot selebat ini nggak murah lho Za. Aku harus menabung terlebih dahulu untuk membeli obat penumbuh rambut --"


"Berapa biayanya? Biar aku ganti. Tapi dengan satu syarat, cukur dulu kumis dan jenggotmu itu, Dith!" titahnya.


"Tanpa diganti pun, aku akan mencukur kumis dan jenggot kesayanganku ini, asal --" Adithya menggantung ucapannya.


"Asal apa?" Khanza melisankan tanya dengan menautkan kedua pangkal alisnya.


"Asal malam nanti, kita tidur seranjang dan mereguk kenikmatan surga dunia. Jadilah milikku seutuhnya Saqueena Khanza Humaira!" bisik Adithya seraya menjawab pertanyaan yang terlisan dari bibir istrinya.


Khanza meremang mendengar jawaban yang terlontar dari bibir Adithya. Terbayang olehnya adegan yang membuat bulu kuduknya merinding.


"Ti-tidak. Aku tidak bisa --"

__ADS_1


"Kenapa tidak bisa, Za? Kita 'kan sudah halal melakukannya. Bahkan itu salah satu bentuk ibadah bagi setiap pasangan suami istri."


"A-aku belum siap, Dith --"


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu sampai kamu siap. Setelah itu, aku akan mencukur kumis dan jenggotku ini."


"Cukur dulu kumis dan jenggotmu itu! Biar tidak menggelikan saat kamu menyentuhku."


"Aku nggak akan mencukur kumis dan jenggot ini sebelum memilikimu seutuhnya Saqueena Khanza Humaira. Aku takut, setelah melihat wajahku tanpa kumis dan jenggot, kamu malah menyuruhku pergi --"


Khanza mengerutkan dahi kala mendengar ucapan suaminya. "Menyuruhmu pergi? Maksudmu apa Dit?"


Adithya menghela nafas dalam. Ingin rasanya ia mengungkap yang sebenarnya. Namun ia urungkan sebab belum siap jika Khanza kembali menyuruhnya pergi seperti beberapa tahun yang lalu.


"Za, wajahku cacat. Aku tidak ingin kamu semakin takut jika melihat wajahku tanpa kumis dan jenggot. Aku belum siap jika kamu memintaku pergi karena tidak ingin melihat wajahku lagi --"


"Seperti apapun wajahmu, asalkan tanpa kumis dan jenggot, insya Allah ... aku akan berusaha menerimanya Dith --"


Hening ... Adithya bergeming. Ia tenggelam dalam ingatan masa lalu saat Khanza memintanya untuk pergi menjauh.


"Aku sudah lapar. Ayo kita sarapan!"


"Iya." Adithya membalas ajakan istrinya tanpa semangat.


"Aku buatkan teh atau kopi, Dith?"


"Teh saja, Za."


"Baiklah. Kamu suka gula pasir, gula Jawa, atau gula batu?"


"Gula batu."


"Gula batunya yang warna putih atau kuning?"


"Putih."


"Sedikit atau banyak?".


"Sedang, Za."


"Okay. Airnya panas atau hangat?"

__ADS_1


"Ya Allah, Za. Kapan teh nya jadi jika kamu terus-terusan bertanya, hum?" Adithya terlihat kesal sekaligus gemas dengan kecomelan istrinya.


Khanza tertawa geli melihat ekspresi Adithya. "Pffftt ... canda Dith. Wajahmu tambah jelek kalau lagi kesel. Sebentar, aku buatkan teh nya."


Dengan cekatan, Khanza membuat dua cangkir teh nasgitel.


Tanpa menunggu lama, dua cangkir teh nasgitel telah tersaji di atas meja makan bersanding dengan sayur beserta lauk hasil olahan tangan Adithya.


....


Seusai sarapan dan mencuci alat makan, Khanza bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit ICPA. Ia mengenakan stelan berupa hem berwarna putih dan celana kain berwarna hitam.


"Sudah siap, Za?" Tanpa permisi Adithya masuk ke dalam kamar istrinya.


"Sebentar lagi, Dith. Tinggal memasang hiasan jilbab. Agak susah masang nya --"


"Coba sini aku pasangkan!" Adithya meraih hiasan jilbab dari tangan istrinya.


Pria berambut gondrong itu mendekatkan wajahnya lantas membantu sang istri memasang hiasan jilbab.


Deg ... Deg ... Deg ....


Jantung Khanza berdisco saat mencium aroma parfum Adithya yang tidak asing. Aroma parfum Adithya sama persis dengan parfum yang biasa digunakan oleh Rangga.


"Sudah terpasang. Ayo, kita berangkat istriku!" ucap Adithya dengan melengkungkan bibirnya.


"I-Iya Dith."


🌹🌹🌹🌹


Bersambung .....


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Komentar


Klik fav ❤


Beri gift atau vote jika berkenan memberi semangat untuk author agar tetap berkarya 😇


Trimakasih dan banyak cinta ❤😘

__ADS_1


__ADS_2