
Happy reading 😘😘😘
Kesedihan dan kebahagiaan hadir beriringan di dalam hidup seorang Saqueena Khanza Humaira. Meski pegangannya tak lagi kuat, Khanza berusaha untuk tetap tegar demi sang buah hati ....
"Paman, saya ingin menemui mas Rangga. Tolong antarkan saya untuk menemuinya!" pinta Khanza, memohon. Perasaannya tidak tenang kala teringat perut Rangga yang terus menerus mengeluarkan banyak darah. Sebagai seorang dokter, Khanza khawatir jika suaminya itu akan mengalami syok hipovelemik karena banyak kehilangan darah.
"Tapi Nona, tuan Rangga masih berada di ruang operasi --"
"Paman, saya benar-benar tidak tenang jika hanya menunggu di ruangan ini. Saya ingin menunggu mas Rangga di depan ruang operasi."
Johan menghela nafas berat. Ia dilema. Setelah sejenak berpikir, Johan menuruti permintaan nonanya.
"Baiklah, Nona. Tapi dengan syarat, apapun hasil operasinya, Nona harus tetap tegar dan tabah. Nona ingat 'kan, ada kehidupan lain yang harus dijaga!" tutur Johan dengan penuh penekanan. Pria paruh baya itu sangat khawatir dengan kondisi sang nona yang tengah hamil muda.
"Iya Paman. Saya berjanji untuk tetap tegar dan tabah. Bukan hanya demi malaikat kecil yang berada di dalam rahim saya, tetapi demi kami. Saya yakin, pasti mas Rangga juga akan berjuang untuk tetap hidup karena dia sudah berjanji tidak akan pernah pergi meninggalkan saya."
Johan mengulas sedikit senyum. Menatap wajah cantik sang nona yang terbingkai duka, hatinya terasa sakit.
....
Johan dan Khanza menyambut Dokter Arka yang baru saja keluar dari ruang operasi. Dokter bedah yang masih berusia muda itu terkejut ketika melihat sosok yang sangat familiar, Saqueena Khanza Humaira, putri sahabat ayah dan bundanya, sekaligus teman bermainnya semasa kecil.
"Khanza?"
"Arka?" Khanza pun sama seperti Arka. Ia juga terkejut kala melihat sosok yang kini berdiri di hadapannya.
Khanza dan Arka tidak menyangka, mereka akan dipertemukan kembali setelah sepuluh tahun berpisah. Tepatnya, ketika Arka memutuskan untuk kuliah di Inggris.
"Ka-kamu, bekerja di rumah sakit ini Ka?"
__ADS_1
"Iya, Za. Apa kabar Za? Sudah lama kita tidak bertemu ...."
"Kabarku kurang baik, Ka. Kamu, apa kabar?"
"Alhamdulillah, kabarku baik. Oya, ada keperluan apa kamu berada di rumah sakit ini, Za?"
"Aku menunggu suamiku, Ka. Suamiku harus menjalani operasi laparatoromi karena kejadian yang tidak kami duga," jawabnya dengan raut wajah sendu.
"Jadi, pasien yang baru saja aku operasi itu ... suamimu, Za?"
Khanza mengangguk samar lalu menjawab tanya yang terlisan dari bibir Arka. "Iya, Ka. Pasien yang baru saja kamu operasi itu ... suamiku."
Arka menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Dokter tampan itu tidak menyangka bahwa pasien yang baru saja ia operasi adalah suami Khanza. Arka ragu untuk menyampaikan kondisi pasien yang sebenarnya pada teman semasa kecilnya itu.
"Ka, bagaimana operasinya? Berhasil 'kan?"
Arka terdiam sejenak sebelum memberi jawaban. Nampak sekali ia tengah berpikir karena dihinggapi dilema.
"Dia akan apa, Ka?" Khanza melisankan tanya dengan sedikit meninggikan intonasi suara.
"Tenanglah, Za. Aku yakin, suamimu itu pasti bisa melewati masa-masa kritisnya. Yang terpenting saat ini adalah doa. Langitkan pinta pada-Nya. Yakinlah, bahwa Allah akan memberi kesembuhan pada suamimu yang kini tengah berjuang untuk tetap hidup," tuturnya seraya membesarkan hati wanita malang itu.
"Ka, bisakah aku menemui suamiku sekarang?"
"Za, tunggulah sampai suamimu itu dipindahkan ke ruang rawat inap! Kami harus memantaunya secara insentif hingga ia sadar. Kamu bisa melihat suamimu dari kaca. Tentunya, setelah ia dipindahkan ke ruang ICU."
"Baiklah, Ka. Aku mengerti," lirihnya.
....
__ADS_1
Abimana mempercayakan perusahaannya kepada Dylan sebelum ia terbang ke Inggris bersama Kirana dan Nabila. Sedangkan Rumah Sakit ICPA, ia percayakan pada Keanu, Sindy, dan Fabian.
Sindy dan Fabian adalah kedua orang tua Arka. Keduanya sahabat Kirana, ibunda Khanza.
"Bagaimana, Jo? Kamu sudah menemukan pelaku yang telah menusuk Rangga?"
"Belum Tuan. Pelaku bertopi dan memakai masker untuk menutupi wajahnya. Sedangkan plat sepeda motor yang digunakan ternyata palsu. Tapi --"
"Tapi apa Jo?"
"Tapi menurut si beruang kutub, maksud saya Jeffry, topi yang digunakan oleh pelaku sangat tidak asing. Jeffry berkata bahwa pemilik topi itu adalah Devan, salah satu anak buah Clarisa, Tuan."
"Baiklah, perintahkan pada Jeffry, Sammy, dan Alvin untuk menyelidiki orang itu! Dan segera temukan tempat persembunyian Clarisa di Inggris!"
"Baik Tuan."
"Hari ini, saya akan terbang ke Inggris bersama bunda dan ibu mertuanya Khanza. Siapkan dua kamar hotel untuk kami!"
"Baik Tuan, akan segera saya persiapkan."
Abimana mengakhiri panggilan teleponnya. Ia menghembus nafas kasar, menghalau perasaannya yang tengah gusar. Di dalam benak ia berjanji, akan membuat Clarisa menyesali perbuatannya ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mohon maaf jika bertebaran typo 😊🙏
Like, komen, beri gift atau vote jika berkenan memberi semangat othor remahan kulit bawang 🥰
__ADS_1
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘😘