
Happy Reading πππ
Khanza, Nabila, dan ketiga perawat bernafas lega setelah dua jam berjuang dengan menggunakan alat-alat medis. Ikhtiyar dan perjuangan mereka tidaklah sia-sia.
"Alhamdulillah." Kata yang terlantun disertai senyuman yang menyiratkan makna, setelah mereka berhasil menyelamatkan nyawa ibu dan sang buah hati ....
....
Khanza terlebih dahulu keluar dari ruang operasi sebab cacing di dalam perutnya terus menerus demo. Semenjak hamil, ia mudah sekali lapar. Jika sudah sangat lapar, Khanza bisa menghabiskan dua sampai tiga porsi makanan.
Khanza terkesiap saat pandangan netranya menangkap objek yang sangat familiar tengah duduk di kursi tunggu. Di dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa pria itu berada di rumah sakit ini? Siapa gerangan yang ia tunggu hingga raut wajahnya menyiratkan kegelisahan?
"Dhava." Khanza memanggil nama pria itu sembari berjalan mendekat.
Dhava mengangkat wajahnya yang semula sedikit menunduk. Lalu ia gulirkan pandangaan netranya ke arah asal suara. Seketika, netra Dhava berotasi sempurna saat menatap wajah cantik yang tidak asing baginya.
"Mbak Khanza," ucapnya sembari beranjak dari posisi duduk.
"Loh ... Va, kenapa kamu berada di rumah sakit ini? Sepertinya, kamu sedang menunggu seseorang. Jika iya, siapa yang kamu tunggu? Bukan om Rai atau tante Alya 'kan?" cecarnya.
__ADS_1
Dhava menerbitkan seutas senyum lantas menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Khanza. "Mbak Khanza benar. Dhava sedang menunggu seseorang. Bukan papa atau pun mama. Tetapi ... teman Dhava, Mbak."
"Siapa namanya, Va?"
"Namanya ... Anjani, Mbak."
"Anjani? Kog namanya seperti pasien yang baru saja mbak operasi. Atau jangan-jangan, memang dia?"
"Iya Mbak. Pasien yang baru saja Mbak Khanza operasi adalah Anjani ... teman Dhava. Tiga jam yang lalu, Anjani mengirim pesan singkat ... bahwa dia berada di Rumah Sakit ICPA dan akan segera dioperasi caesar. Karena sangat mengkhawatirkan keadaan Anjani, Dhava bergegas menyusulnya ke rumah sakit ini, Mbak. Meski ... Dhava harus meninggalkan meeting --"
Khanza mengernyitkan dahi. Ia berusaha mencerna kata-kata yang diucapkan oleh Dhava. Seketika, terbesit tanya di dalam hati yang ingin ia lisankan. Jika hanya sekedar teman, mengapa Anjani malah mengirim pesan singkat ke nomor Dhava, bukan ke nomor suami atau keluarganya yang lain. Dan ... mengapa Dhava sangat mengkhawatirkan Anjani. Bahkan dia rela meninggalkan meeting demi untuk segera menyusul wanita itu.
"Ehemmm, Mbak ... bagaimana kondisi Anjani dan bayinya?"
"Mmm ... Alhamdulillah, Anjani dan bayinya selamat, Va. Bayi perempuan yang dilahirkan oleh temanmu itu ... sehat dan tak kurang suatu apapun. Wajahnya juga sangat cantik seperti bundanya."
"Alhamdulillah. Trimakasih yaa Allah." Dhava meluruhkan tubuhnya lalu bersujud seraya mengungkapkan rasa syukur kepada Illahi. Melihat sikap Dhava yang berlebihan, Khanza semakin yakin, hubungan Dhava dan Anjani bukan sekedar teman.
"Va, apa benar hubunganmu dengan Anjani hanya sekedar teman? Atau mungkin ... kalian memiliki suatu hubungan yang spesial? Kenapa, Anjani tidak menghubungi suami atau keluarganya. Tetapi, dia malah mengirim pesan singkat ke nomormu. Dan ... mengapa kamu sangat mengkhawatirkannya? Sikapmu yang seperti ini membuat mbak Khanza semakin yakin, hubungan kalian pasti bukan sekedar teman," ujarnya setelah Dhava bangkit dari sujud.
Wajah Dhava berubah sendu. Senyumnya yang semula terbit, kini perlahan memudar kala mendengar ucapan yang dilisankan oleh Khanza.
__ADS_1
"Anjani sudah tidak memiliki keluarga selain suami dan kedua mertuanya, Mbak. Ayah dan ibu Anjani sudah lama meninggal. Tepatnya, ketika Anjani masih duduk di bangku SMA. Dhava yakin, Anjani sudah menghubungi suaminya. Namun seperti biasa, suami Anjani pasti mengabaikan pesan atau telepon dari istrinya. Mengenai hubungan kami ... nanti akan Dhava jelaskan pada Mbak Khanza."
"Okey, kita lanjut ngobrolnya di restaurant K & R ya! Perut mbak Khanza sudah sangat lapar, Va." Khanza tersenyum nyengir sambil mengusap perutnya yang sudah berteriak nyaring.
"Baiklah, Mbak. Kebetulan, Dhava juga sudah sangat lapar," sahutnya disertai seutas senyum.
Keduanya pun memutar tumit. Lalu mengayun kaki menuju restaurant K & R yang berada tidak jauh dari Rumah Sakit ICPA.
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
UP nya segini dulu ya Kakak-Kakak. Si kecil baru demam. Insya Allah, nanti author sambung lagi βΊπ
Mon maaf juga jika bertebaran typo ππ
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like π
Tekan β€ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya. Mumpung masih hari Rabu, hayukkk kasih vote π
__ADS_1
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta πβ€