
Happy reading 😘😘😘
"Kenapa, hanya Bunda saja yang dipeluk. Ayah masih berada di dunia ini lho."
"Ayah ...." lirih Khanza.
Suasana bahagia yang tercipta seketika menguap begitu saja ketika Abimana, Kirana, dan ketiga buah hati mereka saling berpeluk. Seolah, pelukan mereka menegaskan suatu isyarat ....
....
Langit berkawan awan putih yang bergulung-gulung membentuk maha karya Sang Pencipta. Diiringi semilir hembusan sang bayu. Menyejukkan jiwa dan mendamaikan hati setiap insan yang kini tengah berbahagia.
Di bawah naungan sinar sang surya, Rangga dan Khanza menggelar acara aqiqah untuk kedua buah hati mereka, Azzam dan Humaira.
Kedua insan yang kini menyandang gelar papi dan mommy itu mengundang keluarga besar dan para sahabat serta anak yatim piatu yang menuntut ilmu di pesantren Al Hidayah.
Suana nampak hening saat acara dimulai dengan pembacaan kalam cinta yang dilantunkan oleh seorang pria muda. Dia ... Rudi. Seorang mantan pendosa yang memiliki tekad kuat untuk berhijrah setelah hidayah datang menyapa.
Dhava dan Khanza sangat terkejut ketika menyadari bahwa Rudi lah yang melantunkan kalam cinta. Mereka tidak menyangka, seorang mantan pendosa ... ternyata sangat fasih melantunkan kalam cinta. Bahkan, suaranya terdengar merdu dan mampu menggetarkan segumpal daging yang bersemayam di dalam dada, tak terkecuali segumpal daging yang bersemayam di dalam dada Annisa, seorang dokter muda nan saleha, putri pasangan Ilham dan Suci.
Tatkala mendengar kalam cinta yang dilantunkan oleh Rudi, kekaguman Annisa kepada pria itu semakin bertambah. Bunga-bunga cinta di dalam hatinya pun kian bersemi. Namun, Annisa tidak kuasa untuk mengungkap rasa yang selama lima bulan ini dipendamnya pada Rudi, si mantan pendosa.
Meski Annisa sudah mengetahui masa lalu Rudi yang teramat kelam, nyatanya perasaan cinta di dalam hatinya tidak mampu terhapus, malah semakin bersemi seiring berjalannya pasir waktu.
Annisa hanya bisa mencintai dalam diam, tanpa berharap mendapatkan balasan, sebab Rudi pernah berkata bahwa ia telah menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk semua kaum hawa.
Namun, meski Annisa tidak pernah mengungkapkan apa yang dirasa, Ilham dan Suci dapat memahaminya. Kedua paruh baya itu sungguh tidak merasa keberatan jika Annisa dan Rudi digariskan untuk berjodoh. Mereka yakin bahwa Rudi benar-benar sudah bertaubat. Mereka juga yakin, Rudi akan mampu menjadi imam terbaik untuk sang putri.
__ADS_1
Jangan Menilai seseorang berdasarkan masa lalunya, tetapi lihatlah pada hari ini. Setiap orang mampu berubah bahkan jauh lebih baik dari apa yang kita sangkakan.
"Maha benar Allah atas segala firmannya." Rudi mengakhiri lantunan kalam cinta diikuti ucapan salam yang terlisan dari bibirnya.
Usai terlantun kalam cinta, acara selanjutnya adalah kata sambutan dari Rangga. Papi muda berparas rupawan itu mengutarakan rasa syukurnya atas kelahiran kedua buah hati. Ia juga meminta agar semua hadirin memberikan doa tulus mereka untuk baby Azzam dan baby Humaira.
Setelah kata sambutan, dilanjutkan dengan acara inti yaitu mencukur rambut bayi secara simbolik dan di ikuti dengan pengesahan nama kedua bayi, Azzam Aulian Putra dan Humaira Shakila Najma.
Semua nampak larut dalam kebahagiaan, tak terkecuali Abimana dan Kirana, kedua paruh baya yang kini telah memiliki tiga orang cucu, Chayra, Azzam, dan Humaira.
Setelah acara inti selesai, MC mempersilahkan Ilham untuk menyampaikan tausiyah. Meski sudah berumur lebih dari separuh abad, kharisma seorang Reinan Ilham tak memudar. Bahkan, ustadz kharismatik itu semakin digandrungi oleh kaum Hawa, terutama emak-emak.
Seusai mengucap salam, Ilham mulai menyampaikan tausiyah dengan gaya bicaranya yang santai sehingga sukses menarik atensi semua orang yang mendengarnya, tak terkecuali Miranda ... wanita setengah pria yang mengagumi sosok Abimana dan Ilham karena keduanya memiliki sorot mata meneduhkan serta tutur kata yang menyenangkan. Meski fisiknya pria, tetapi jiwa Miranda seperti wanita. Sejak mendengar tausiyah Ilham beberapa hari yang lalu mengenai akhir hidup seorang waria, Miranda bertekad untuk segera berhijrah. Besar keinginannya untuk kembali pada kodratnya sebagai seorang laki-laki, sebelum malaikat maut datang menghampiri. Saat di mana pintu taubat telah tertutup rapat.
"Mari kita sama-sama berdoa, agar anak dan cucu kita termasuk keturunan yang saleh dan salehah," tutur Ilham usai mengakhiri tausiyahnya mengenai aqiqah.
"Robbanaa hablanaa min azwazinaa wa durriyyatinaa qurrota 'ayuun waj'alna lilmuttaqiina imaaman. Robaanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil-akhirati hasanah, waqinaa adzaabannar".
Setelah Ilham mengucapkan salam penutup, MC mempersilahkan tuan rumah dan para tamu undangan untuk menikmati hidangan yang tersaji.
"Va, lihat pria itu! Dia ... Rudi 'kan?" Di sela-sela ritual makannya, Khanza melontarkan kalimat tanya dengan suaranya yang terdengar lirih diikuti gerakan netra ... menunjuk objek yang dimaksud.
"Iya Mbak. Dia Rudi. Dhava baru tau, ternyata Rudi mondok di pesantren pimpinan pakdhe Ilham," sahut Dhava ... melirihkan suara.
"Mbak Khanza juga baru tau, Va. Syukur Alhamdulillah, jika Rudi benar-benar bertaubat. Semoga Allah menerima taubatnya," doa tulus Khanza.
"Aamiin, Dhava juga berharap begitu Mbak. Jujur, Dhava sangat senang melihat perubahan Rudi. Yaaaa, meskipun ... masih terasa sulit untuk memaafkan perbuatannya terhadap almarhumah Anjani."
"Ehemm." Suara deheman mengalihkan atensi Khanza dan Dhava, sehingga percakapan mereka pun terpangkas.
__ADS_1
"Eh, Papi." Khanza tersenyum nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi saat ia menyadari bahwa suaminya sudah kembali dari kamar mandi.
"Mom, sudah selesai gibahnya?" Rangga melontarkan kalimat sindiran sembari mendaratkan bobot tubuhnya di kursi, bersebelahan dengan Khanza.
"Kami nggak gibah, Pi. Hanya membicarakan tentang Rudi," ujar Khanza membela diri.
"Itu sama aja gibah, Mi. Lebih baik, Mommy makan dulu, supaya asinya banyak. Dua buah hati kita pasti akan sangat senang jika asi Mommy mereka berlimpah --".
"Bukan hanya Azzam dan Humaira yang seneng, tapi ... papinya pun seneng, karena bisa ikut mencicipi." Ikhsan memangkas ucapan Rangga dengan celotehannya yang sukses mencetak semburat merah di wajah Khanza.
"Mas, jaga lisanmu! Kasihan Khanza, pasti dia sangat malu. Bercanda boleh, tapi harus memperhatikan waktu dan tempatnya," tutur Alyra menginterupsi.
Seketika bibir Ikhsan terbungkam. Ia tidak berani membalas ucapan Alyra. Sebab jika salah bicara, bisa dipastikan ... istri tercintanya itu tidak akan memberi jatah di malam nanti.
Seusai para tamu menandaskan hidangan yang tersaji, MC kembali melanjutkan acara. Ia meminta Rangga dan Khanza ... menyerahkan bingkisan beserta sejumlah uang untuk anak-anak yatim piatu ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Maaf baru bisa UP dan maaf juga jika bertebaran typo 😊🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤
__ADS_1