Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Khilaf Terbesar


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Okey, kita lanjut ngobrolnya di restaurant K & R ya! Perut mbak Khanza sudah sangat lapar, Va." Khanza tersenyum nyengir sambil mengusap perutnya yang sudah berteriak nyaring.


"Baiklah, Mbak. Kebetulan, Dhava juga sudah sangat lapar," sahutnya disertai seutas senyum.


Keduanya pun memutar tumit. Lalu mengayun kaki menuju restaurant K & R yang berada tidak jauh dari Rumah Sakit ICPA.


....


Restaurant K & R


Khanza dan Dhava menikmati semua makanan yang mereka pesan sebelum melanjutkan obrolan yang sempat terpangkas. Keduanya nampak sangat lahap. Seolah sudah beberapa hari tidak menjamah makanan.


"Va, sekarang jelaskan pada mbak Khanza! Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan Anjani?" tanya yang terlisan dari bibir Khanza setelah ia dan Dhava menandaskan makanan mereka.


Dhava menghela nafas dalam lantas menjawab pertanyaan yang dilisankan oleh Khanza. "Sebenarnya hubungan Dhava dan Anjani saat ini hanya sekedar teman, tidak lebih. Namun, dahulu kami pernah menjadi sepasang kekasih. Kami menjalin cinta dari SMA --" Dhava menjeda sejenak ucapannya. Ia kembali menghela nafas dalam, menghalau rasa sesak yang tiba-tiba menyapa kala teringat masa lalunya bersama Anjani. Wanita yang selalu bertahta di hati hingga saat ini.


"Sayang, jalinan cinta yang telah lama kami jaga harus kandas karena perbuatan Rudi dua tahun yang silam. Rudi meminta sekretaris pribadinya yang tak lain adalah Anjani ... untuk lembur kerja. Dengan alasan, banyak pekerjaan yang mesti diselesaikan malam itu. Anjani tidak menaruh curiga sedikit pun terhadap bosnya yang ternyata memiliki rencana busuk. Disaat pekerjaan Anjani hampir saja selesai, Rudi memberinya minuman yang sudah dicampur obat. Anjani merasa tubuhnya terbakar api hasrat setelah menandaskan minuman pemberian sang bos. Dan malam itu, Anjani melakukan khilaf terbesar dengan menyerahkan kesuciannya pada Rudi."


Dhava tertunduk lesu. Terlihat titik-titik air memenuhi pelupuk netranya karena luapan rasa yang menyiksa jiwa.

__ADS_1


Khanza merasa empati. Ia mengusap pundak Dhava seraya memberi kekuatan.


"Mbak Khanza mengerti apa yang kamu rasakan, Va. Melepaskan seseorang yang kita cintai, memang sangat berat dan menyakitkan. Namun kita harus apa, jika takdir cinta memang tidak berpihak. Ikhlas dan yakin bahwa skenario Allah itu indah, Va. Jika kalian masih berjodoh, entah bagaimana pun caranya, Anjani akan kembali padamu. Namun jika kalian tidak berjodoh, percayalah bahwa kelak akan datang seorang makmum pengganti yang lebih baik. Seperti mbak Khanza yang kini telah memiliki seorang imam pengganti, Rangga Adithya Fairuz. Pria berparas rupawan yang mendekati kata sempurna," tutur Khanza diikuti lengkungan bibir yang menghiasi wajah cantiknya.


"Sebenarnya, sudah sejak lama Dhava mengikhlaskan Anjani, Mbak. Meski, Dhava tidak memungkiri bahwa di dalam hati ini masih tertoreh namanya. Dhava mengira, Anjani akan hidup bahagia setelah menikah dengan Rudi. Pria itu memiliki harta dan tahta. Namun ternyata, Dhava salah. Dua bulan yang lalu, Dhava bertemu kembali dengan Anjani di acara reoni SMA. Semua teman yang sudah memiliki istri ataupun suami, datang bersama pasangannya. Kecuali Anjani. Wanita malang itu hanya datang seorang diri tanpa didampingi oleh suaminya. Meski ia berusaha tersenyum, tetapi binar di matanya menyiratkan kesedihan. Sejak pertemuan itu, Anjani sering berkunjung ke kafe Dhava. Dia menumpahkan keluh kesahnya pada Dhava. Anjani berkata, dia diperlakukan layaknya seorang ratu selama mereka menikah. Namun perlakuan Rudi yang terkesan sweet, tiba-tiba berubah sejak pria itu mempunyai sekretaris pribadi yang baru. Karena curiga dengan perubahan sikap Rudi, Anjani seringkali membuntuti suaminya itu. Anjani teramat syok ketika mendapati Rudi tengah bermesraan dengan sang sekretaris di ruang kerja," ujar Dhava panjang lebar.


"Jadi, sikap Rudi berubah bukan karena dia kecewa setelah melihat hasil USG yang menunjukkan ... buah hati mereka berjenis kelamin perempuan?" tanya yang terlisan diikuti hembusan nafas kasar.


"Bukan, Mbak. Itu hanya alibi Rudi. Ia tidak ingin terlihat sangat buruk di mata keluarga dan rekan bisnisnya. Oleh karena itu, Rudi menjadikan hasil USG sebagai alasan." Dhava terlihat emosi. Tangannya mengepal seolah ia ingin menghadiahi Rudi dengan bogeman mentah.


Tidak jauh beda dengan Dhava. Khanza pun mengepalkan tangan disertai netra yang terbingkai kabut amarah. Sebagai seorang wanita, ia tidak terima dengan perbuatan Rudi yang terkesan cemen (cetek mental) atau biasa disebut tidak bernyali. Pria cemen itu jelas-jelas berselingkuh karena tidak bisa menjaga pandangan mata, hati, dan kesetiaannya sebagai seorang suami. Namun dia malah menyalahkan istrinya yang tidak bisa memberi keturunan ... seorang bayi berjenis kelamin laki-laki. Sungguh alasan yang tidak masuk akal.


"Seperti apa sih wajah si Rudi? Biar aku bejek-bejek pakai teklek." Khanza meluapkan emosinya.


"Wajahnya ... lumayan handsome, Mbak. Tapi lebih handsome mas Rangga bila dibandingkan dengan Rudi." Meski Dhava tersulut emosi, tetapi ketika melihat ekspresi Khanza ... ia teramat geli. Rasa-rasanya Dhava ingin tergelak, tetapi ia takut jika menjadi pelampiasan amarah seorang Saquenna Khanza Humaira.


"Duhhh, maafkan mbak Khanza, Va. Mbak Khanza nggak sadar jika menyakiti lenganmu." Khanza tersenyum nyengir sambil mengangkat dua jarinya. ✌


"Dimaafkan Mbak. Yang terpenting jangan mencengkram yang lain. Bisa kena pasal dari mas Rangga lho," candanya.


"Haissshhh apaan sih? Sudah yuk, buruan kamu ke kasir. Sekalian bayarin makananku ya!" Khanza tersenyum lebar.


"Hmmm, bukankah restaurant ini milik mas Keanu dan mbak Raina? Jadi, kita tidak perlu membayar, Mbak." Dhava mengimbangi candaan Khanza disertai tawa yang tertahan.

__ADS_1


"Nggak boleh gitu, Va! Meski restaurant ini milik mas Keanu dan mbak Raina, kita tetep harus bayar. Lama-lama restaurant ini bisa bangkrut jika kita maunya geratisan terus," sungut Khanza.


Dhava tergelak lirih mendengar ucapan Khanza yang sukses menggelitik indra pendengarannya.


"Just kidding, Mbak. Dhava akan membayarnya supaya restaurant ini nggak bangkrut."


"Nah, gitu donk."


Dhava beranjak dari tempat duduk diikuti oleh Khanza. Setelah melakukan pembayaran, Dhava menyusul Khanza yang terlebih dahulu keluar dari restaurant K & R.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Lanjut besok ya Kakak-Kakak UP nya. 😉


Bagi Kakak-Kakak yang ingin bergabung di Grub Chat author yang baru menetas dua hari yang lalu, silahkan follow akun author dan masuk langsung ke Grub. ☺


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya. Mumpung masih hari Kamis ... hayukkk kasih vote 😉


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2