
Happy reading 😘😘😘
Setelah acara makan bersama selesai, Abimana dan Kirana kembali mendapatkan kejutan ....
"Surpriseeeeee ...."
Senyum terbit menghiasi wajah kedua paruh baya itu saat Miranda, Yu Ghenah, Yu Kijul, Yu Uwuh (para tukang gendhong), Bagiyo, Isti, dan Arjuna (seluruh tokoh yang author sebutkan ada di novel Istri Comel Pilihan Abi) tiba-tiba hadir. Mereka menyapa dan mengucapkan selamat kepada dua orang yang tengah berbahagia, Abimana dan Kirana.
"Mas ganteng, Mbak cantik, perkenankan saya untuk menyanyikan sebuah lagu yang sangat fenomenal. Lagu ini mengingatkan saya saat pertama kali bertemu dengan Mas ganteng dan Mbak cantik," ujar Miranda dengan gaya bicaranya yang kemayu.
Kirana tergelak lirih mendengar suara khas Miranda. Terbayang olehnya kenangan yang telah lalu. Tepatnya, ketika ia dan Abimana belum terikat janji suci pernikahan.
Flashback on
(Cuplikan salah satu episode Istri Comel Pilihan Abi) ☺
Abimana, Kirana, Yu Kijul, dan Yu Ghenah, kini tengah duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Kirana duduk bersebelahan dengan Abimana, sedangkan Kijul duduk bersebelahan dengan Ghenah.
Kirana memesan empat porsi soto daging sapi dan empat gelas es kopyor.
Tanpa menunggu waktu lama, salah seorang karyawan datang membawa pesanan Kirana. Setelah menaruh semua pesanan di atas meja, karyawan tersebut mempersilahkan mereka untuk menikmati soto dan es kopyor, dengan disertai senyuman ramah.
Usai membaca doa sebelum makan, Abimana, Kirana, Kijul, dan Ghenah mulai melahap soto dan es kopyor yang sukses menggugah nafsu makan mereka.
"Matur nuwun Mbak Kiran, kami sudah ditraktir soto dan es kopyor," ucap Kijul setelah selesai menghabiskan makanan dan minumannya.
"Sama-sama Yu. Tapi, makanan dan minuman yang Yu Kijul habiskan, dibayar sendiri lho!" Kirana melontarkan candaan dengan nada bicaranya yang terdengar serius, hingga membuat raut wajah Kijul berubah sedih.
"Waduuuuhhhh, lha nanti saya pulangnya naik apa, kalau harus membayar soto dan es kopyor?"
"Naik sandal jepit Yu," jawab Kirana seraya menahan tawa. Abimana yang mendengar celotehan sahabatnya itu, berasa ingin menjitak si gadis konyol.
"Sandal saya cuma sepasang ini, lha nanti kalau untuk jalan sampai ke Kulon Progo, bisa jebol Mbak," balas Kijul dengan sendu.
"Ya mau bagaimana lagi Yu. Soto dan es kopyornya sudah terlanjur habis."
"Haduuuuhhh, piye iki Ghenah?" (Haduuuh, bagaimana ini Ghenah?) Raut wajah Kijul semakin nampak menyedihkan.
"Pfffftttt ... hahhaha, sudah Yu jangan bersedih! Saya hanya bercanda."
"Walaaahhhhh, Mbak Kirana ternyata cantik-cantik suka bercanda juga. Masuk grup srimulet saja Mbak!"
"Wahhhhh, nggak ach. Nanti tante Nunung bisa kesaing."
"Owhh, ya ikut audisi komedi saja Mbak!"
"Apalagi itu Yu. Jurinya nanti malah klepek-klepek melihat titisan Dewi Candra Kirana."
Celotehan Kirana membuat Abimana, Kijul, dan Ghenah, tertawa lebar.
Di sela-sela candaan mereka, datanglah seorang pengamen dengan memakai pakaian yang minim, polesan wajah tebal, tangannya membawa alat musik tambourine icik icik. Tepatnya si pengamen adalah seorang waria. Wanita setengah pria.
__ADS_1
Setelah memberi sapaan, si pengamen memperkenalkan diri.
"Haiiii, nama saya Miranda. Nama asli saya Maradona. Oke dech, saya akan menyanyikan sebuah lagu yang membuat para pengunjung sekalian hatinya ... ambyarrrr."
Miranda mulai bersenandung dengan memainkan alat musik yang ia bawa.
"Wikk ... wikk, ewerrr ... eweerr ... ambyarr. Achh, ach ambyarrr. Uchhh, ach ... ambyar. Ekkkkk achhhhh, ambyarrrr."
Para pengunjung tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi Miranda. Begitu juga dengan Kirana dan Abimana.
Setelah usai beraksi, Miranda berjalan mendekati para pengunjung untuk meminta saweran.
Ketika tiba di samping Abimana, Miranda mengusap pipi pria tampan itu. Abimana terkejut dengan apa yang dilakukan oleh si waria. Ia pun menepis tangan jahil Miranda.
Kirana yang melihat kelakuan Miranda, seketika memasang wajah galaknya. Kedua netra si gadis menatap tajam pada pengamen jahil itu.
"Jauhkan tanganmu dari suamiku!"
"Ehhh, maaf. Ternyata sudah punya istri tho Mas?" Bibir Miranda nampak gemetar melihat tatapan Kirana yang seolah ingin membunuh ditambah ucapan yang terdengar tegas.
"Yaiyalah. Jangan ganjen ya dengan suamikuhhh!"
"I ... iya Mbak."
"Nich sawerannya." Kirana memberikan selembar uang kertas berwarna biru. Miranda menerimanya dengan wajah yang sumringah.
"Ahaaaa, trimakasih Mbak syantiiik. Bisa buat beli bedak donk. Miranda permisi dulu ya Mbak syantikkkk."
"Hemmmmzzz."
"Pfffftttt ... hhhhahhaha, pipimu ternoda ya Bim? Ya Allah Bim, sepertinya Miranda naksir berat sama kamu dech."
"Hisssshhh, apaan sich Markonah. Ayo buruan pergi dari sini!"
"Hhhhehe, baiklah Abimkuhhh."
Kirana beranjak dari duduknya, ia pun berjalan menuju meja kasir untuk membayar semua makanan dan minuman yang telah disantap.
Flashback off ☺
Gelak tawa terdengar memenuhi seisi ruangan ketika Miranda memulai aksinya. Mereka teramat geli melihat gerakan tubuh Miranda yang masih luwes dan mendengar suaranya yang masih kemayu meski sudah berusia lebih dari separuh abad.
Namun di tengah-tengah aksinya ... Miranda mengaduh sambil memegangi punggungnya.
"Duh ... duh, boyokku encok."
"Ono opo, Mir?" tanya yang terlontar dari bibir Isti disertai raut wajahnya yang menyiratkan kekhawatiran.
"Encokku kumat, Mbak Is."
"Walah-walah. Mugakno, dikurangi sik kemayu Mir!" (Makanya, dikurangi yang kemayu Mir).
"Lebih baik, Mbak Miranda istirahat dulu di kamar tamu! Sekalian, punggung Mbak Miranda diolesi balsem," tutur Kirana karena merasa prihatin.
__ADS_1
"Trimakasih Mbak cantik. Saya di sini saja." Miranda menolak dengan halus.
"Tapi, bagaimana dengan punggung sampeyan?"
"Punggung saya masih di belakang, Mbak cantik. Jadi, tidak masalah jika hanya terasa nyeri-nyeri sedap. Nanti juga bisa sembuh sendiri kog."
Kirana berusaha menahan tawa saat mendengar celotehan Miranda yang sukses menggelitik indra pendengarannya.
Percakapan kedua insan yang berbeda gender itu terpangkas kala terdengar suara kerinduan Illahi memanggil para hamba untuk bersujud dan ruku' pada-Nya.
Acara kembali terjeda. Abimana memandu semua orang yang berada di ruangan itu untuk bergegas mengambil air wudhu dan menjalankan ibadah sholat isya' berjamaah.
....
Mesin waktu menunjuk angka sembilan malam. Keanu meminta ayah dan bundanya untuk beristirahat di kamar. Tentunya, setelah semua orang yang ikut andil memberikan surprise ... meninggalkan aula.
Betapa terkejutnya Abimana dan Kirana saat pintu kamar mereka terbuka lebar.
Speechless
Kamar berukuran 4x5 itu disulap layaknya kamar pengantin. Ranjang mereka pun dihiasi rangkaian bunga yang menambah kesan romantis.
Abimana menerbitkan senyum saat membaca kertas kecil yang tergeletak di atas nakas ....
Ayah, Bunda ... selamat melewati malam panjang yang teramat indah. Buatkan kami adek lagi, ya! 😘
Keanu, Khanza, Dylan
"Yah, apa tulisannya? Kog Ayah senyam-senyum sih?" Kirana melisankan tanya disertai kedua pangkal alis yang saling bertaut.
"Nih, Bunda baca sendiri!" titahnya sembari menyodorkan kertas kecil tersebut.
Netra Kirana berotasi sempurna kala membaca tulisan yang tertera. Tubuhnya seketika meremang saat terbayang apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kejutan yang diberikan oleh putra putri kita teramat spesial, Bund. Mereka sangat faham ... cara menyenangkan ayah dan bundanya," tutur Abimana sembari menatap manik mata sang belahan jiwa dengan tatapan penuh cinta.
Menit berikutnya, rembulan tersenyum malu-malu ... menyaksikan dua insan yang tak lagi muda itu saling bercumbu, menyatukan raga, mereguk kenikmatan surga dunia ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Note: Bab sebelumnya ada sedikit revisi 😊🙏
Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
__ADS_1
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤