
Happy reading 😘😘😘
Dada Ilham, Suci, dan Annisa bergemuruh tatkala mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir Farhan. Di dalam hati, mereka melantunkan istighfar untuk meredam amarah supaya tidak menguasai kalbu.
Selain marah, ketiganya juga teramat menyayangkan ucapan Farhan yang sungguh tidak mencerminkan tutur kata seorang putra kyai ....
"Semua persangkaan Nak Farhan sama sekali tidak benar. Insya Allah, Annisa bisa memberi keturunan. Dan ... demi Allah, putri saya tidak pernah disentuh oleh pria yang bukan mahramnya. Annisa selalu menjaga pandangan dan mengenakan hijab panjang untuk menutup aurat serta untuk menjaga diri dari tatapan yang dipenuhi oleh hawa nafsu." Ilham berusaha untuk menahan diri agar amarahnya tidak meluap karena perkataan Farhan yang menyakiti hatinya sebagai seorang ayah.
Setelah menjeda sejenak ucapannya dan menghela nafas panjang, Ilham kembali bersuara dengan nada tegas. "Alasan mengapa kami tidak bisa memenuhi niat baik Kyai Abdullah ... karena Annisa telah menambatkan hatinya pada pria lain. Sebagai orang tua, saya tidak bisa memaksa Annisa untuk menerima Nak Farhan sebagai calon menantu. Bagi saya, siapapun yang akan dipilih oleh Annisa sebagai calon imam, insya Allah ... dialah insan yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk menjadi imam terbaik bagi putri saya. Tidak pandang ... dia seorang mantan pendosa atau hanya seorang pria biasa yang tidak bergelimang harta. Bukankah, harta dan tahta tidak selalu menjamin terciptanya keluarga sakinah, mawadah, warahmah?"
Abdullah beserta istri dan putranya merasa tertohok dengan setiap kalimat yang diucapkan oleh Ilham. Lidah ketiga insan itu tercekat untuk sekedar mengeluarkan kalimat bantahan meski hati mereka membenarkan. Namun di dalam benak, Farhan mengucap sumpah serapah bahwa suatu saat nanti ... Annisa akan menjadi miliknya, entah bagaimanapun caranya.
....
Suara lengkingan tangis baby Azzam dan Humaira memekakkan telinga. Kedua bayi itu menangis bersamaan sehingga membuat Khanza dan Rangga panik.
"Pi, sepertinya Azzam dan Humaira lapar. Mommy akan menyusui Azzam. Papi yang menyusui Humaira, ya!" pinta Khanza sembari menyerahkan baby Humaira kepada suaminya.
"Maksud Mommy apa? Bagaimana papi bisa menyusui Humaira? Puti** papi 'kan tidak bisa mengeluarkan asi --"
"Yaa Allah, Pi. Bukan itu maksud mommy. Papi 'kan bisa menyusui Humaira dengan botol yang sudah diisi air asi. Hangatkan sebentar asinya, sebelum menyusui Humaira," ujar Khanza seraya menjelaskan.
"Owhhh itu tho maksudnya. Papi kog jadi lola begini yakkk?" Rangga tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Tau' ...." Khanza mengendikkan bahu lalu segera menyusui baby Azzam.
"Mmm, mungkin ... papi lola karena sudah hampir satu bulan tidak mendapat jatah Mom," sahutnya sambil menghangatkan asi sebelum menyusui baby Humaira.
"Baru ... hampir satu bulan, belum satu tahun."
"Yeee Mommy. Mana bisa adek kecilku dianggurin selama itu. Bisa karatan, Mom."
"Karatan 'kan bisa diasah lagi, Pi."
__ADS_1
"Caranya ngasah, bagaimana Mom?" Rangga melontarkan tanya sembari menaik turunkan kedua alisnya.
Bukan jawaban yang diberikan oleh Khanza, melainkan cubitan yang sukses membuat Rangga meringis kesakitan.
"Haduchhh, Mommy. Sakit cubitannya."
"Makanya Pi, jangan terlalu o-mes. Tahu sendiri 'kan, Mommy sedang dalam masa ni-fas."
"Iya, papi tau. Memangnya, kurang berapa hari lagi masa ni-fasnya Mom? Papi sudah nggak tahan nich."
"Kurang dua bulan lagi Pi," dustanya dengan menahan tawa.
"Alamakkkkk, selama itu?" Rangga memasang wajah memelas dan disambut anggukan oleh Khanza.
Menit berikutnya, baby Azzam dan baby Humaira tertidur kembali setelah perut mereka kenyang.
Dengan perlahan, Rangga dan Khanza meletakkan bayi kembar mereka di atas ranjang.
"Mom ...." Rangga mengusap pipi Khanza dan menatap manik mata yang selalu membuatnya jatuh cinta dengan tatapan yang menyiratkan makna.
"Papi bener-bener merindukan sentuhan Mommy. Papi ingin dimanjakan Mommy, " ujarnya mengiba.
"Papi nggak bisa terlalu lama berpuasa," sambungnya.
Khanza menghela nafas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Setelah sejenak berpikir, Khanza menerbitkan senyuman manis lantas membisikkan kata-kata yang sukses mencetak binar bahagia di wajah Rangga.
"Kalau begitu, mulailah sekarang Mom ... !" pinta Rangga tanpa sabar.
"Eitzzzz, sebentar. Mommy ganti pakaian dulu. Dan ... papi, jangan lupa memakai parfum supaya ketiaknya nggak bau."
"Baiklah, Mommy-ku sayang. Demi Mommy, papi akan mandi parfum."
"Haisshhh, nggak salah ya? Bukan demi mommy, tapi demi Papi --"
"Iya ... iya ... Sayang, istriku, cintaku, belahan jiwaku, bidadari hatiku, buruan ganti pakaianmu! Papi sudah tidak sabar setelah menanti tujuh purnama."
__ADS_1
"Hiperbola, Pi," ujar Khanza lantas masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Tentu saja pakaian yang membuat Rangga tidak bisa berkedip. Hahay .... 🙈
Rangga bersenandung sambil menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh. Terbayang olehnya ritual yang beberapa minggu ini ia rindu.
"Pi ...."
Rangga merotasikan kepala ketika istrinya memanggil dengan suara yang menggoda.
"Masya Allah, Mommy," pekik Rangga kegirangan. Tanpa aba-aba, ia merengkuh tubuh sang istri yang kini terbalut lingerie warna maroon lantas mendaratkan kecupan di kening.
Khanza menerbitkan senyum lalu memandu suaminya untuk rebah di atas ranjang.
"Pi, karena raga kita belum boleh bersatu, mommy akan membantu papi untuk --" Khanza menggantung ucapannya dan mengerlingkan netra.
Rangga menarik kedua sudut bibirnya dan bersiap untuk dimanjakan oleh Khanza.
Namun sebelum Khanza mulai memanjakan Rangga, terdengar suara tangisan baby Azzam.
"Oe ... oe ... oe ...."
Rangga menghembus nafas kasar dan menepuk jidat. Keinginannya untuk dimanjakan oleh Khanza ... gagal.
"Duh dekkkk ...." 🥺
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Tekan ❤ untuk favoritkan karya
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉
__ADS_1
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤