Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Duh Dek


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Dylan mengulas senyum dan mengusap jilbab Dara. Lalu ia berucap, "Ra, setelah menjalankan sholat istikharah tadi malam, aku yakin bahwa kamu lah calon istri yang insya Allah terbaik untukku. Demi Allah aku nggak merasa terpaksa ... menikahimu. Aku berjanji nggak akan lagi mengharap balasan cinta dari Milea. Percaya padaku, Ra! Kamu bukan pelarian cintaku. Tapi, kamu bidadari yang dikirim Allah untuk membuka mata hatiku. Aku sadar, selama ini aku dibutakan oleh cinta. Aku buta karena terlalu mencintai wanita yang tak sepatutnya dicintai."


Hati Dara menghangat tatkala mendengar kata-kata yang terlantun indah dari bibir sang pria pujaan. Ingin rasanya ia memeluk Dylan untuk meluapkan kebahagiaan. Namun itu tidak mungkin ia lakukan, sebab mereka belum menjadi pasangan yang halal ....


....


Abimana dan Kirana bernafas lega setelah mendapat informasi dari Johan bahwa putra bungsu mereka dan Dara dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan keduanya sedang melakukan perjalanan menuju ke kota.


Johan beserta ketiga anak buahnya, Jeffry, Sammy, dan Alvin mengawal kepulangan Dylan dan Dara tanpa sepengetahuan mereka berdua.


Binar bahagia terlukis jelas di wajah Abimana dan Kirana kala dua insan yang dinanti telah tiba dengan selamat dan tak kurang suatu apapun.


"Assalamu'alaikum, Ayah, Bunda." Dylan mengucap salam serta mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


"Wa'alaikumsalam Dylan sayang," balas kedua paruh baya itu dengan kompak. Ketiganya saling berpeluk, menumpahkan rasa yang sempat menyiksa semalaman.


Setelah melerai pelukan, Kirana mengulas senyum dan berganti memeluk Dara, gadis yang ia harapkan menjadi menantu. Kedua wanita berbeda generasi itu saling berpeluk disertai netra yang mengembun.


"Ayo kita masuk! Kangen-kangenannya dilanjut di dalam," titah Abimana menginterupsi.


Seketika Kirana dan Dara mengurai pelukan. Lantas mengikuti jejak kedua pria yang terlebih dahulu mengayunkan kaki.


Abimana mendaratkan bobot tubuhnya di sofa yang berada di ruang keluarga diikuti oleh Kirana, Dylan, dan Dara.


"Dylan, Dara, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? Kenapa, semalam kalian tidak memberi kabar pada Ayah dan Bunda? Asal kalian tau, kami sangat khawatir. Sampai-sampai, kami tidak bisa tidur dengan tenang," tutur Abimana memulai perbincangan.


"Ayah, Bunda, Dylan mohon ... maafkanlah kami berdua. Kami sudah berusaha menghubungi Ayah dan Bunda. Namun sayang, tidak ada sinyal. Lalu kami memutuskan bermalam di rumah sepasang suami istri. Mereka ... pak Hadi dan bu Sari. Keduanya menitipkan salam untuk Ayah dan Bunda," ujar Dylan seraya membalas ucapan sang ayah.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Lan. Yang terpenting, kalian tiba di rumah dengan selamat dan tak kurang suatu apapun. Sampaikan balasan salam dari Ayah dan Bunda kepada pak Hadi beserta istri beliau. Sampaikan juga ucapan terimakasih kami kepada mereka berdua!" Kirana membuka suara, menimpali perbincangan.


"Insya Allah Bund, akan Dylan sampaikan pada pak Hadi dan bu Sari ketika kami bersilaturahim ke rumah mereka, sekalian ...." Dylan menggantung ucapannya sembari melirik gadis yang duduk bersebelahan dengannya.


"Sekalian apa Lan?" Kirana melisankan tanya disertai kedua pangkal alis yang saling bertaut.


"Sekalian ... menyampaikan undangan pernikahan kami," jawabnya dengan mantab.


Abimana dan Kirana terkesiap mendengar jawaban yang diberikan oleh putra mereka. Seolah, keduanya tidak percaya dengan kata-kata yang tertangkap oleh indra pendengaran. Sedangkan Dara, gadis itu tertunduk malu.

__ADS_1


"Masya Allah. Bunda tidak salah dengar 'kan?"


Dylan mengulas senyum lalu menjawab kalimat tanya yang dilisankan oleh sang bunda. "Tentu tidak, Bund. Saya sudah memantapkan hati untuk segera menikahi Dara."


Betapa bahagiannya Abimana dan Kirana kala mendengar jawaban yang terlisan dari bibir Dylan. Keduanya mengucap hamdalah sebagai wujud rasa syukur kepada Illahi.


....


"Mas, aku ingin buah mangga tapi yang langsung di petik dari pohonnya," rengek Khanza sembari bergelayut manja di pangkuan Rangga.


"Baiklah Sayang, nanti mas Rangga akan menyuruh pak Udin untuk memetik buah mangga, sebanyak yang Sayang mau."


"Aku maunya Mas Rangga yang memetik buah mangga. Bukan pak Udin atau yang lain." Khanza memasang wajah sendu agar Rangga menuruti permintaannya.


"Tapi Yang --"


"Nggak ada tapi-tapian! Titik!"


"Beneran titik? Nggak ada koma?"


"Nggak. Aku nggak mau ada yang koma lagi!" tandasnya sambil mengerucutkan bibir.


Rangga menyambar bibir istrinya yang mengerucut. Bukannya menolak, Khanza malah membalas serangan bibir suaminya. Kedua bibir yang bertemu, saling berpagut. Menyesap ranum yang selalu menjadi candu.


Setelah mengakhiri pagutan bibir, Rangga dan Khanza beranjak dari posisi duduk. Keduanya membawa tubuh mereka menuju halaman rumah yang ditumbuhi beberapa pohon mangga. Kebetulan, pohon-pohon itu sudah mulai berbuah.


"Mas ...."


"Ya. Ada apa Sayang?"


"Manjatnya pake' sarung ya!" pinta Khanza dengan memasang wajah puppy eyes.


"Tapi, Yang --"


"Eitzzzz, kan sudah aku bilang nggak ada kata 'tapi'."


"Baiklah, jika itu mau sayang dan buah hati kita," ujar Rangga tanpa semangat. Kemudian ia kembali ke kamar untuk mengambil sarung.


Mau tidak mau, suka tidak suka, Rangga menuruti permintaan istrinya yang tengah hamil muda itu.


Setelah mengenakan sarung, Rangga mulai memanjat pohon mangga. Satu persatu buah mangga dipetiknya teruntuk sang kekasih hati.

__ADS_1


"Mas, petik mangga kembar!" seru Khanza sambil mendongakkan wajah.


"Loh Nyah, wanita hamil itu nggak boleh makan buah kembar lho!" ujar Inah, pelayan yang baru beberapa hari dikirim oleh Kirana untuk melayani sang putri yang tengah hamil muda.


"Kata siapa, Bi?" Khanza mengalihkan wajah ke arah lawan bicara.


"Ya kata nenek buyut kita."


"Bukan kata kakek buyut?" Khanza menimpali ucapan Inah dengan celotehan yang sukses membuat wanita paruh baya itu tergelak.


"Duhhh, perut bi Inah kram gara-gara pertanyaan yang Nyonyah lontarkan," ucap Inah sambil memegangi perutnya yang terasa kram.


"Haisssh si Bibi, sudah dibilang jangan panggil ... nyonyah. Panggil Khanza, okey!"


"Njih, Nyah. Ehhh ... Mbak Khanza."


"Nah gitu donk."


Obrolan mereka terpangkas saat mendengar sesuatu terjatuh dari atas pohon.


BRUGG


Ternyata saat turun dari pohon, sarung Rangga tersangkut dahan. Dengan susah payah ia berusaha melepas sarungnya yang tersangkut itu. Namun naas, koloni semut menyerang tangannya. Sehingga ia pun terjatuh.


"Yaa Allah, Mas Rangga." Khanza dan Inah memekik. Gegas mereka menghampiri Rangga yang tengah mengaduh sembari mengusap punggungnya yang terasa nyeri-nyeri sedap.


"Duh Dek, demi kamu ... aku rela terjatuh dari pohon mangga. Bahkan, aku harus merelakan sarung kesayanganku robek ...," gumamnya di dalam hati.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤

__ADS_1


__ADS_2