
Happy reading πππ
Dengan sigap, Kirana menopang tubuh Reni yang hampir luruh ke lantai, lantas ia bawa tubuh ringkih itu untuk duduk di bangku panjang yang berada di halaman mushola.
"Ren, kamu kenapa Sayang?" Kirana menepuk-nepuk pipi Reni agar putri angkatnya itu tidak kehilangan kesadaran.
"Bu-bunda. Kepala Reni pusing sekali dan badan Reni sangat lemas," lirih Reni sambil memijit pelipisnya.
"Bertahanlah, Ren! Semoga, ayah segera keluar dari mushola." Kirana diselimuti oleh perasaan khawatir. Ia berharap, suami dan putra angkatnya segera keluar dari mushola.
Rupanya, malaikat meng-aamiini ucapan Kirana. Tanpa menunggu waktu lama, Abimana keluar dari mushola bersama dengan Alif.
"Loh, Reni kenapa, Bund?" tanya yang terlisan diikuti langkah kaki tergesa.
"Entahlah, Yah. Bunda belum memeriksanya. Lebih baik, kita segera membawa Reni ke kamarnya!" titah Kirana.
Abimana mengangguk dan segera membantu istrinya, membawa Reni ke dalam kamar.
Sebelum melangkah, Kirana berpesan pada Alif, agar putra angkatnya itu kembali ke kamar untuk belajar. Ya, setiap usai menjalankan ibadah sholat subuh, Kirana membiasakan Alif untuk belajar. Bukan hanya belajar mengenai mata pelajaran umum. Namun juga mempelajari ayat al qur'an dan hadist.
Dengan hati-hati, Abimana dan Kirana membaringkan tubuh Reni di atas ranjang. Kemudian, Kirana mengambil peralatan medis lalu memeriksa putri angkatnya itu.
Dahi Kirana mengernyit hingga kedua pangkal alisnya saling bertaut saat memeriksa denyut nadi Reni.
"Kenapa, Bund? Sebenarnya, Reni sakit apa?" cecar Abimana dipenuhi rasa ingin tahu. Pria yang masih berwajah tampan di usianya yang hampir menginjak kepala enam itu terlihat sangat mengkhawatirkan Reni, perempuan malang yang telah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
"Yah, Reni hamil," lirih Kirana diikuti hembusan nafas berat.
Abimana dan Reni terkesiap kala mendengar jawaban yang terucap dari bibir Kirana. Bahkan, Reni nampak sangat syok.
__ADS_1
"Ma-maksud Bunda apa? Reni hamil? Ba-bagaimana Bunda bisa berkata seperti itu? Bukankah, Buun-bunda baru memeriksa denyut nadi?" Reni menghujani Kirana dengan kalimat tanya.
"Reni, bunda seorang dokter obgyn. Meski hanya memeriksa denyut nadi, bunda bisa mengetahui bahwa kamu ... hamil. Ren, jumlah denyut nadi seorang wanita yang sedang hamil biasanya sekitar 80-90 denyut per menitnya. Berbeda dengan denyut nadi wanita normal yang tidak hamil, jumlahnya sekitar 60-80 denyut per menitnya.Β Dengan kata lain, ketika hamil denyut nadi wanita akan meningkat sekitar 10-20 denyut per menitnya, seperti denyut nadimu saat ini. Baiklah, sekarang bunda ingin bertanya. Apakah tamu bulananmu datang setelah Farhan menanam benihnya?" ucap Kirana sembari menatap lekat manik mata Reni.
Reni menggeleng lemah. Titik-titik air mulai menganak di kelopak mata sebagai luapan rasa yang menyiksa jiwa.
"Bisa dipastikan, dugaan bunda tidak salah. Namun, jika kamu tidak percaya, lebih baik segera gunakan alat ini!" titah Kirana sambil menyodorkan alat tes kehamilan.
Tubuh Reni berguncang diikuti titik-titik air yang jatuh membingkai wajah.
"Tidak. Saya tidak mau hamil, Bund. Saya tidak menginginkan bayi ini." Reni menggeleng dan memukul-mukul perutnya yang kini berisi darah daging Farhan, seorang pria be-jat yang telah menodainya dengan cara yang sangat kasar.
Kirana duduk di tepi ranjang. Ia rengkuh tubuh putri angkatnya itu lantas membawanya ke dalam pelukan.
"Reni sayang, kamu tidak boleh seperti ini, Nak! Malaikat kecil yang kini hadir di dalam rahimmu sama sekali tidak bersalah. Dia tidak berdosa," tutur Kirana seraya menasehati Reni.
"Tapi Bund, dia darah daging Farhan. Pria be-jat yang telah merenggut kesucian saya dengan cara kasar."
"Ren, siapapun ayah biologisnya, kamu tidak boleh menghukum calon anakmu sendiri. Terimalah kehadirannya dengan keikhlasan hati! Ayah dan Bunda akan segera menghubungi orang tua Farhan untuk meminta pertanggung jawaban dari mereka."
Kirana menerbitkan senyum setipis kertas. Ia usap punggung Reni dengan gerakan naik turun seraya memberi rasa tenang. Kirana sangat memahami perasaan Reni saat ini. Tidak mudah bagi perempuan malang itu untuk menerima kenyataan yang sangat pahit.
"Tidak usah takut Sayang. Ayah dan Bunda akan selalu mendampingimu," bisik Kirana dengan suaranya yang terdengar lembut.
Kirana merenggang pelukan. Diulurkannya jemari tangan untuk menyeka jejak air mata yang membingkai wajah sendu sang putri angkat.
"Benar apa yang dikatakan oleh Bundamu, Ren. Jangan takut jika Farhan murka, karena Ayah dan Bunda akan selalu mendampingimu. Lagi pula, saat ini Farhan berada di dalam penjara. Jadi, tidak mungkin jika ia berani bertindak nekat," ujar Abimana menginterupsi.
Hati Reni menghangat kala mendengar ucapan kedua orang tua angkatnya. Ia merasa teramat disayang dan diperhatikan oleh Abimana dan Kirana.
"Terima kasih, Ayah, Bunda. Terima kasih karena telah mencurahi kasih sayang dan memberikan perhatian lebih kepada saya," ucap Reni tulus.
__ADS_1
.....
Selepas waktu dzuhur, Abimana dan Kirana berkunjung ke rumah Abdullah untuk menyampaikan kehamilan Reni. Meski teramat syok, Abdullah dan Salimah berusaha untuk menguatkan hati.
Setelah sejenak berpikir, Abdullah memutuskan untuk mempertanggung jawabkan perbuatan Farhan dengan cara menikahkan putranya itu dengan Reni.
Farhan menerima keputusan abahnya dengan keikhlasan hati. Ia sadar, bahwa kehamilan Reni murni karena dosa besar yang telah diperbuat olehnya.
Berbeda dengan Farhan. Reni merasa keberatan jika ia harus menikah dengan pria yang telah merenggut kesucian mahkotanya.
Reni merasa trauma jika kelak Farhan akan mengulangi perbuatannya. Menggagahi dengan cara yang sangat kasar dan meninggalkan rasa sakit. Bukan hanya rasa sakit yang dirasakan oleh raga. Namun jiwanya pun turut merasakan sakit.
"Bunda, saya tidak ingin menikah dengan Farhan. Saya tidak sudi, jika ia kembali menyentuh saya dengan caranya yang teramat kasar. Saya minta, ijinkan saya untuk tinggal bersama Ayah, Bunda, dan Alif di pondok pesantren Al Hidayah. Saya ingin menenangkan diri di sana. Saya juga ingin mendekatkan diri pada Illahi. Mungkin dengan cara itulah, saya bisa ikhlas menerima goresan takdir," ucapnya menuangkan keinginan hati.
Kirana mengulas senyum dan mengusap pipi Reni dengan jemari tangan. "Apapun keputusan dan keinginanmu, Ayah dan Bunda akan selalu mendukung. Namun berjanjilah untuk menerima dan mencintai malaikat kecil yang berada di dalam rahimmu!"
"Insya Allah, Bunda. Saya akan berusaha menerima dan mencintainya."
Percakapan mereka terpangkas kala terdengar suara teriakan Salimah. Entah apa yang terjadi, sehingga wanita paruh baya itu tiba-tiba datang ke rumah Abimana dan berteriak .....
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Maaf baru UP. Sudah terbang dari tadi, proses reviewnya lama banget. Dari jam dua siang sampai saat ini π₯Ίπ
Mon maaf jika bertebaran typo ππ
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like π
Tekan β€ untuk favoritkan karya
__ADS_1
Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya π
Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta πβ€