Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Undangan Pernikahan


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


Sejak mengetahui perbuatan Farhan yang teramat keji, Abdullah dan Salimah sangat terpukul. Keduanya kecewa pada Farhan, putra semata wayang yang mereka banggakan.


Karena teramat malu menghadapi tetangga sekitar dan para pencari berita, mereka mengurung diri di dalam rumah selama tiga minggu. Bahkan, kedua paruh baya itu enggan menjenguk Farhan di penjara.


Pagi ini, Ilham, Suci, Annisa, dan Dhava berkunjung ke rumah Abdullah untuk bersilaturahim sekaligus menyampaikan undangan pernikahan.


Setelah mengucap tiga kali salam, pintu rumah Abdullah terbuka. Nampak Salimah berdiri di balik pintu itu.


Salimah mempersilahkan para tamunya untuk masuk ke dalam rumah lantas memandu mereka menuju ruang tamu.


"Silahkan duduk Ustadz, Nyai, Nak Annisa, dan Nak ...."


"Saya Dhava, Nyai."


"Nak Dhava. Mari, silahkan duduk!" tutur Salimah mempersilahkan keempat tamunya untuk duduk di sofa.


"Kyai Abdullah di mana, Nyai?" tanya yang terlisan dari bibir Ilham setelah ia mendaratkan bobot tubuhnya di sofa.


"Beliau sedang berada di kamar. Sebentar, saya panggilkan, Ustadz." Gegas, Salimah mengayun tungkai menuju kamar untuk memanggil suaminya.


Tanpa menunggu waktu lama, Salimah kembali ke ruang tamu bersama Abdullah. Wanita paruh baya itu tak lupa membawa nampan berisi camilan dan enam cangkir teh hangat yang akan disajikan untuk para tamu dan suaminya.


Ilham beranjak dari posisi duduk, diikuti oleh Suci, Annisa, dan Dhava. Mereka mengucap salam seraya memberi hormat kepada Abdullah.


Setelah kembali beranjak duduk, Ilham mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan mereka ke rumah Abdullah. Abdullah menanggapi dengan memasang raut wajah sendu, sebab besar keinginannya untuk menjadikan Annisa sebagai menantu. Namun, setelah mengetahui perbuatan sang putra yang teramat keji, Abdullah menyadari bahwa Farhan bukanlah calon imam yang layak untuk Annisa, seorang wanita berparas cantik nan saleha.

__ADS_1


"Terima kasih saya ucapkan karena Ustadz beserta keluarga berkenan mengundang kami untuk menghadiri acara pernikahan Nak Annisa dan Nak Dhava. Insya Allah, jika tidak ada halangan apapun ... dengan senang hati kami akan hadir." Abdullah menjeda sejenak ucapannya. Ia menghela nafas dalam untuk menghempas rasa sesak yang memenuhi relung rasa, sebelum kembali bersuara.


"Ustadz, Nyai, Nak Annisa, dan Nak Dhava. Kami sebagai orang tua Farhan, memohon maaf atas perbuatan putra kami. Kami telah gagal mendidik Farhan, sehingga dia tumbuh menjadi seorang pria yang tidak berakhlak mulia. Jujur, saya teramat malu. Saya malu karena putra yang kami banggakan ternyata tega menghalalkan segala cara untuk menggapai keinginannya. Menculik Nak Annisa dan bermaksud untuk berbuat zina. Sa-saya sungguh malu. Saya malu kepada Allah, Ustadz, Nyai, Nak Annisa, Nak Dhava, dan semua orang yang menganggap kami ... sangat memegang teguh ajaran agama. Namun pada kenyataannya, justru putra kami telah melanggarnya. Saya sungguh tidak mengerti, mengapa Farhan yang dulu alim ... berkamuflase menjadi seorang pria be-jat --" Suara Abdullah tercekat karena rasa sesak yang semakin meraja. Tubuh pria paruh baya itu berguncang diikuti lelehan air bening yang membingkai wajah.


Ilham teramat berempati kepada Abdullah. Ia sangat memahami apa yang tengah dirasakan oleh Abdullah dan Salimah. Sedih, malu, kecewa, dan marah, membaur menjadi satu hingga membuat kedua paruh baya itu tak sanggup menyembunyikan raut wajah sendu.


"Kyai, kami sudah memaafkan perbuatan Nak Farhan. Mungkin Nak Farhan memiliki alasan yang kuat, kenapa dia bisa berubah. Lebih baik, Kyai dan Nyai menemui Nak Farhan untuk membicarakan perubahan pribadinya dari hati ke hati dengan tetap mengendalikan emosi," tutur Ilham bijak.


Abdullah menyeka jejak air mata yang membingkai wajah. Lalu ia membalas ucapan yang terlisan dari bibir Ilham. "Terima kasih, Ustadz. Kami akan segera menemui Farhan. Saya rasa, memang ada baiknya jika kami mengetahui penyebab perubahan pribadi putra kami. Mungkin, saya terlalu keras mendidik Farhan ketika dia masih kecil. Sehingga, dia tertekan dan berakibat pada perubahan pribadinya saat ini."


"Oya, diminum dulu teh hangatnya, Ustadz, Nyai, Nak Annisa, Nak Dhava! Nanti keburu dingin lho." Salimah menyela perbincangan dengan mempersilahkan para tamunya untuk menikmati kesegaran teh hangat.


"Terima kasih Nyai," sahut Suci sembari meraih secangkir teh hangat, diikuti oleh Ilham, Annisa, dan Dhava.


Mesin waktu menunjuk angka sebelas siang. Ilham, Suci, Annisa, dan Dhava beranjak dari posisi duduk lantas berniat untuk berpamitan dengan tuan rumah.


Abdullah dan Salimah pun beranjak dari posisi duduk. Kedua paruh baya itu menghantarkan keempat tamu mereka sampai di depan pintu sembari memberi pelukan singkat. Salimah memeluk Suci dan Annisa secara bergantian. Pun Abdullah. Ia memeluk Ilham dan Dhava.


Hari ini Dylan sengaja tidak berangkat ke kafe. Ia dan Dara ingin menghabiskan waktu berdua dengan berjalan-jalan di Malioboro. Seperti yang pernah mereka lakukan ketika masih remaja. Tepatnya, ketika mereka duduk di bangku SMA.


Setelah lelah berjalan, kedua insan itu duduk di bangku panjang sambil menikmati es cream vanilla dan lompia Samijaya.


"Bang Dylan ...."


"Ya Sayang."


"Bang Dylan masih ingat nggak? Dulu, setiap hari sabtu, kita sering nongkrong di Malioboro. Saat itu, kita bagaikan sepasang kekasih yang sedang pacaran. Tapi, setelah Bang Dylan dekat dengan Milea, Abang tidak pernah lagi mengajakku nongkrong. Jujur, aku sedih banget Bang. Aku merasa kehilangan moment indah bersamamu," ujar Dara sendu.


"Ya, Abang ingat. Maafkan Abang, Sayang. Sekarang, Sayang tidak perlu bersedih lagi. Karena, Abang sudah menjadi milik Sayang seutuhnya. Kita akan selalu melewati moment indah bersama, tanpa ada Milea yang lain." Dylan merengkuh bahu Dara dan menghujani wajah cantik istrinya itu dengan kecupan.

__ADS_1


"Bang ...."


"Hehem ...."


"Nanti, kita mampir ke baby shop, ya! Dara ingin membeli perlengkapan untuk kedua calon buah hati kita."


"Baiklah, Sayang. Apa sih yang nggak buat Sayang. Asal --" Dylan menggantung ucapannya.


"Asal apa Bang?" tanya yang terlisan disertai tautan kedua pangkal alis.


"Asal, jangan lupa jatah nanti malam!"


"Ishhh, si Abang." Bibir Dara mencebik. Ia menghadiahi cubitan sayang di paha suaminya.


Bukannya merintih, Dylan malah tergelak dan berganti mendaratkan cubitan di pipi Dara.


"Dylan --" Terdengar suara lembut memanggil nama Dylan. Seketika, sepasang kekasih yang tengah bercengkrama itu merotasikan kepala ke arah sumber suara.


"Kamu --" Netra Dylan dan Dara membola saat pandangan netra mereka menangkap objek yang sangat familiar ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Double UP nya segini dulu ya Kakak-kakak ter love. Kepala si othor masih cenat-cenut. 🥺


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya. Mumpung hari Senin, yukkkk sumbangkan vote untuk si othor remahan kulit kacang ini 😉


Terima kasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2