
Happy reading πππ
"Kak, aku tidak bisa meninggalkan mas Rangga meski sedetikpun. Aku ingin selalu berada di sisinya, menanti hingga suamiku kembali membuka mata."
"Tapi Za, kamu butuh istirahat yang cukup. Kasihan malaikat kecil yang ada di rahimmu jika bundanya kelelahan."
"Khanza sama sekali tidak merasa kelelahan Kak. Lagian, Khanza tidak bisa beristirahat dengan tenang jika berada jauh dari mas Rangga."
CEKLEK
"Assalamu'alaikum ...."
Perbincangan mereka terpangkas saat terdengar suara pintu terbuka diikuti ucapan salam ....
Khanza dan Albirru merotasikan kepala ke arah asal suara lantas membalas salam yang dilisankan oleh dua wanita paruh baya, Kirana dan Nabila.
"Bunda --"
"Khanza sayang." Nabila memeluk erat tubuh menantunya dan meluapkan segala duka yang menyiksa dengan menitikkan buliran bening.
Tangan yang semula menjuntai, ia angkat dengan perlahan untuk membalas pelukan wanita yang telah melahirkan suaminya.
"Bunda, maaf. Maaf karena Khanza tidak bisa mencegah orang biada* itu menusuk Mas Rangga. Khanza bersalah, Bunda," ucapnya dipenuhi rasa sesal.
"Kamu sama sekali tidak bersalah, sayang. Bunda lah yang bersalah. Bunda yakin, pasti anak buah Clarisa lah yang menusuk Rangga ...." Suara Nabila terdengar bergetar diikuti buliran bening yang masih setia membingkai wajah.
__ADS_1
Perlahan, Nabila melerai pelukannya lalu berjalan menghampiri sang putra yang terbaring tak berdaya.
"Ranggaaaa ...." Tangis Nabila pecah. Ia peluk tubuh putranya yang sama sekali tidak mampu untuk merespon.
"Rangga, bangunlah sayang. Ini Bunda Nak. Bunda mohon, jangan menutup matamu terus Nak. Ada istri dan calon buah hati kalian menanti." Suara Nabila terdengar menyayat hati. Hingga membuat siapapun yang mendengar, akan ikut menitikkan air mata.
Kirana yang berusaha tegar kini tak kuasa menahan titik-titik air yang sudah menganak di kelopak mata. Begitu juga Albirru dan Khanza. Mereka larut dalam kedukaan.
"Bund, Khanza takut bila mas Rangga akan --" Khanza tak mampu untuk melanjutkan kata-kata. Meski ia yakin bahwa suaminya akan bangun dari koma. Namun rasa takut kehilangan Rangga semakin mendominasi sebab sampai hari ini pria yang menjadi sandaran hatinya itu sama sekali tidak merespon rangsangan yang diberikan oleh dokter atau pun dirinya. Khanza benar-benar takut. Takut pria yang mendekati kata sempurna itu hilang dari hidupnya.
Kirana meraih tubuh Khanza. Ia peluk tubuh rapuh putrinya itu dan membisikkan kata-kata yang mampu membesarkan hati. "Sayang, Rangga seorang pria yang kuat. Meski saat ini dia tidak bisa merespon. Namun yakinlah, bahwa suamimu itu sedang berjuang untuk bisa kembali lagi. Bunda sangat yakin, doa yang selalu kamu langitkan segera diijabah oleh Allah. Tidak ada yang tidak mungkin jika Dia sudah berkehendak."
Kirana dan Khanza melerai pelukan. Keduanya menyeka jejak air mata dengan jemari tangan.
"Nabila, jangan seperti ini! Pasti putramu akan sangat sedih. Kamu harus tegar, Bil. Tunjukkan pada putramu, bahwa kamu adalah seorang bunda yang kuat. Ingat Bil, jangan sampai tujuan Clarisa akan tercapai. Semua yang dilakukan oleh wanita iblis itu pasti untuk menghancurkan hidupmu," tutur Kirana sembari mengusap pundak sahabat sekaligus besannya itu.
"Justru dengan melukai Rangga dan Mas Fairuz, dia akan menyaksikan kehancuranmu Bil. Dia ingin membunuhmu perlahan dengan duka yang ia ciptakan. Jadi, tetaplah tegar! Jangan menunjukkan bahwa kamu seorang wanita lemah. Lawan Clarisa dengan kekuatan hatimu. Sekarang yang dapat kita lakukan adalah, berdoa supaya Rangga bisa segera bangun dari komanya dan semoga mas Fairuz bisa segera diselamatkan. Mas Abim sudah menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk menemukan Clarisa dan meminta mas Tama agar bekerjasama dengan kepolisian Inggris. Aku yakin, kelak Clarisa akan mendapatkan balasan yang setimpal."
"Iya Ran. Aku berharap, wanita iblis itu akan mendekam di penjara seumur hidup dan tersiksa karena dosa-dosa yang dia lakukan." Netra Nabila memerah dipenuhi oleh api amarah.
"Lebih baik, kita bersiap-siap untuk bersujud pada-Nya. Sudah masuk waktu dzuhur, Bil." Kirana mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Nabila untuk bersiap-siap menjalankan ibadah sholat dzuhur.
"Iya Ran. Aku ingin segera mengadu pada-Nya," sahutnya disertai jari lentik yang terulur untuk mengusap jejak air mata.
"Birru, Khanza, kalian juga ingin ikut kami jamaah sholat dzuhur?" tanya yang terlisan dari bibir Kirana.
__ADS_1
"Khanza sholat dzuhur di sini saja Bunda."
"Birru juga di sini saja, Tante."
"Baiklah jika kalian ingin menjalankan ibadah sholat dzuhur di sini. Kami tinggal dulu ya," ucap Kirana dengan mengulas senyum sebelum melangkah pergi bersama Nabila.
"Iya Te." Birru membalas ucapan ibunda Khanza disertai lengkungan bibir yang membingkai wajah rupawannya.
"Kak, lebih baik Kak Birru menyusul bunda! Jalankan sholat jamaah bersama mereka!" titah Khanza setelah bunda dan ibu mertuanya keluar dari ruangan. Khanza mengusir Birru dengan halus. Ia tidak ingin berada di dalam ruangan bersama pria blonde itu terlalu lama. Sebagai seorang istri, Khanza ingin menjaga perasaan Rangga meski suaminya itu masih koma.
"Aku ingin menjadi imam-mu, Za."
Netra Khanza berotasi sempurna kala mendengar ucapan yang terlisan dari bibir pria yang pernah menjadi raja di hatinya.
"Boleh 'kan aku menjadi imam-mu?"
Hening, tiada sahutan dari Khanza. Tanpa mereka sadari, ulu hati pria yang masih terbaring tak berdaya, serasa nyeri. Meski sama sekali tidak bisa merespon dengan gerakan tubuh. Namun, Rangga masih bisa mendengar dan merasa ....
πΉπΉπΉπΉ
Bersambung ....
Maaf, UP nya alon-alon ya Kakak-Kakak terzeyenkkkk, sebab othornya sedang kurang enak badan βΊπ
Mohon maaf jika bertebaran typo ππ
__ADS_1
Like, komen, beri gift atau vote jika berkenan memberi semangat othor remahan kulit bawang π₯°
Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta ππ