
Happy reading
"Ada apa Pak? Kenapa Bapak terlihat sangat panik?"
"Istri saya akan segera melahirkan Mas. Ketubannya sudah pecah. Saya tidak tau harus bagaimana? Mau melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, tapi tangan dan kaki saya gemetar saat menyaksikan istri saya kesakitan dan air ketubannya keluar semakin banyak," jawab pria itu dengan bibir gemetar. Netranya berkaca-kaca. Ia sungguh tidak tega melihat penderitaan sang istri, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa selain melangitkan pinta.
"Bapak yang tenang ya! Kebetulan istri saya ini seorang dokter obgyn. Insya Allah, istri saya akan membantu proses persalinan istri Bapak," tutur Rangga seraya membesarkan hati pria yang bernama Kusno itu.
"Benarkah, Mas?" tanya yang terlisan disertai binar di manik matanya.
"Tentu saja, Pak. Sekarang, ijinkan istri saya untuk memeriksa kondisi istri anda!" pinta Rangga.
"Baiklah Mas."
"Bu Dokter, silahkan periksa kondisi istri saya! Saya mohon dengan teramat sangat, selamatkan nyawa istri saya dan bayi kami," pinta Kusno dengan penuh pengharapan.
"Insya Allah, saya akan membantu proses persalinan istri Bapak. Sebagai seorang manusia biasa, saya hanya bisa berusaha semampunya. Bapak berdoa saja, semoga proses persalinan berjalan dengan lancar! Istri Bapak beserta bayi yang akan dilahirkan selamat, sehat, dan tidak kurang suatu apapun," tutur Khanza sambil mengulas senyum.
"Trimakasih Bu Dokter --"
Khanza membalas ucapan Kusno dengan mengangguk samar disertai senyum yang masih setia menghiasi wajah cantiknya.
Khanza segera memeriksa kondisi istri Kusno. Dokter berhijab itu sangat terkejut ketika melihat kepala bayi sudah keluar sedikit.
"Ya Allah, buah hati Ibu sudah tidak sabar ingin keluar. Ibu harus kuat. Berjuanglah demi sang buah hati dan jangan sampai menyerah ya Bu!" tutur Khanza lembut.
"I-iya Mbak. Saya akan berjuang demi buah hati kami," balasnya dengan bibir gemetar karena menahan rasa sakit yang luar biasa.
Sebelum memberi instruksi pada si ibu, Khanza meminta Rangga untuk menghubungi Nabila (ibu mertuanya) yang saat ini berada di Rumah Sakit ICPA, agar segera mengirim mobil ambulance. Sesuai dengan permintaan istrinya, Rangga pun segera menghubungi sang bunda.
"Sekarang, mulai mengejan ya Bu, tarik nafas perlahan dan dorong ... !" Khanza mulai memberi instruksi pada istri Kusno, pasien pertama yang ia tangani di dalam mobil.
"Urggghhhhhh ...." Istri Kusno berusaha mengejan. Wajahnya memerah dan mengernyit. Rasa sakit yang dirasakan beribu-ribu kali dari rasa sakit yang pernah ia rasa.
"Dorong lagi Bu!"
"Urgggghhhhh ...."
"Atur nafas lagi dan dorong, anda pasti bisa Bu!" titah Khanza seraya memberi semangat.
"Argghhhhhh ...."
__ADS_1
"Sekali lagi Bu, dorong!"
"Erghhhh ...."
"Arghhhhh ...."
Kedua netra Khanza berkaca-kaca melihat sesosok malaikat kecil yang telah terlahir ke dunia.
"Alhamdulillah yaa Allah, hamba berhasil membantu kelahiran malaikat kecil ini," lirihnya.
Dengan tangan gemetar, Khanza menarik bayi yang baru saja dilahirkan oleh istri Kusno. Kemudian ia menepuk-nepuk punggung bayi mungil itu dengan pelan hingga tangisannya terdengar melengking.
"Oe ... oe ... oe ...."
Semua orang yang mendengar tangisan bayi itu merasa sangat terharu, tak terkecuali Khanza dan Rangga.
"Alhamdulillah Bu, selamat ... anak Bapak dan Ibu seorang putri yang sangat cantik," tutur Khanza dengan tersenyum manis.
"Alhamdulillah, trimakasih Ya Allah. Trimakasih juga Bu Dokter. Berkat Bu Dokter, putri kami terlahir dengan selamat." Istri Kusno membalas ucapan Khanza disertai linangan air mata bahagia. Rasa sakit yang luar biasa terbayarkan dengan kelahiran sang buah hati.
"Iya Bu. Ini semua berkat kasih sayang dan pertolongan dari Allah. Saya hanya menjadi perantara saja," sahut Khanza merendah.
Khanza segera memotong tali pusar kemudian membersihkan bayi yang baru saja dilahirkan oleh istri Kusno. Tak lupa, ia juga memeriksa kesehatan bayi itu.
"Alhamdulillah yaa Robb, Engkau telah memberi kami pertolongan melalui perantara seorang malaikat tak bersayap. Dengan kasih sayangMu, Engkau menyelamatkan istri dan bayi hambaMu ini," ucapnya dengan bibir gemetar. Kusno tidak mampu lagi membendung titik-titik air yang sedari tadi menganak di kelopak mata.
Pria berperawakan gagah itu beranjak dari posisi duduknya. Tanpa sabar, ia segera menghampiri sang istri yang kini tengah duduk di jok mobil bagian belakang sambil menyandarkan punggung pada headrest.
Diciumnya kening sang istri, mencurahkan rasa cinta dan ungkapan terimakasih karena telah berjuang melahirkan buah hati mereka.
"Trimakasih Sayang."
"Iya Mas. Aku juga berterimakasih karena kamu telah menjadikan ku seorang wanita sempurna --" Keduanya saling berpeluk diiringi isak tangis bahagia.
Setelah melerai pelukan dan menyeka air mata, Kusno menghampiri sepasang suami istri yang berhati mulia, Rangga dan Khanza.
"Perkenalkan, nama saya Kusno dan istri saya ... Lisa!" Kusno mengulurkan tangan diikuti lengkungan bibirnya.
Rangga mengulas senyum dan membalas uluran tangan Kusno. Kemudian ia memperkenalkan dirinya dan sang istri.
"Saya Rangga, Pak. Dan istri saya ini bernama Khanza."
__ADS_1
"Masya Allah, nama yang sangat bagus. Rangga dan Khanza," pujinya dengan melebarkan senyum.
"Saya sangat berterimakasih atas kemuliaan hati Mas Rangga dan Dokter Khanza. Entah bagaimana saya bisa membalas kebaikan anda berdua," imbuhnya.
"Kami ikhlas lillahita'ala dan sama sekali tidak mengharap balasan Pak. Lagi pula, kami hanya sebagai perantara Allah," ucap Rangga merendah.
Setelah setengah jam menunggu, mobil ambulance yang dikirim oleh Nabila sampai di TKP.
Para medis yang bertugas segera membawa Lisa dan bayinya ke rumah sakit dengan mobil ambulance. Sedangkan Kusno, Rangga, dan Khanza mengikuti dari belakang.
Begitu sampai di rumah sakit, Khanza disambut oleh Nabila. Ia meminta Khanza untuk menangani pasien yang akan menjalani operasi cecar.
Sebelum masuk ke ruang operasi, Khanza berpesan pada salah seorang rekan dokter untuk memeriksa kembali kondisi Lisa dan bayinya.
"Ngga, aku tinggal ke ruang operasi ya?"
"Iya sayang. Aku akan menunggumu."
"Loh, hari ini kamu nggak ngojek lagi Ngga?" tanya yang terlisan disertai kernyitan dahi.
"Nggak Za. Santuy aja! Meski nggak narik, tep dapet penghasilan kog," jawabnya dengan enteng.
"Maksudmu apa Ngga?"
Rangga menarik kedua sudut bibirnya lalu menjawab tanya yang dilisankan oleh Khanza. "Nanti aku beri tau Za. Sekarang, jalankan tugasmu sebagai seorang dokter obgyn terlebih dahulu!"
"Baiklah kalau begitu. Kamu memang selalu membuatku penisirin Ngga," ucap Khanza sebelum memutar tumit dan memasuki ruang operasi ....
🌹🌹🌹🌹
Bersambung .....
Beri semangat author dengan selalu meninggalkan jejak like 👍
Tinggalkan komentar
Klik love ❤ untuk fav karya
Beri gift berupa poin, koin, atau vote jika berkenan mendukung karya author
Boleh juga share di sosmed kakak-kakak terlove jika kisah Khanza ini menginspirasi ☺
__ADS_1
Trimakasih dan banyak cinta....❤😘