Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Talak


__ADS_3

Happy reading 😘😘😘


"Just kidding, Mbak. Dhava akan membayarnya supaya restaurant ini nggak bangkrut."


"Nah, gitu donk."


Dhava beranjak dari tempat duduk diikuti oleh Khanza. Setelah melakukan pembayaran, Dhava menyusul Khanza yang sudah terlebih dahulu keluar dari restaurant K & R.


....


Anjani menatap langit-langit kamar dengan pandangan netranya yang menerawang. Terbayang olehnya kejadian sebelum ia dibawa ke rumah sakit oleh Jaka dan Ijah. Kedua orang itu merupakan pelayan yang teramat empati terhadap Anjani.


Flashback on


Anjani terkesiap saat membuka pintu kamarnya yang seolah sengaja tidak dikunci dari dalam. Tatapannya nanar ketika menyaksikan adegan yang terekam jelas di pelupuk mata. Pria yang masih berstatus sebagai suaminya, tengah berzina. Meski sudah beberapa kali memergoki Rudi berzina dengan sekretaris pribadinya, tetapi kali ini ... Anjani tidak kuasa menahan amarah yang sudah meletup-letup.


Anjani mengepalkan tangan. Kentara sekali jika sebenarnya ... ia ingin melayangkan tinju ke tubuh Dahlia yang merupakan sekretaris pribadi sekaligus teman ranjang suaminya. Namun, Anjani memikirkan nasib bayi yang masih berada di dalam kandungannya. Anjani tidak ingin bertindak gegabah yang mungkin malah akan berakibat fatal.


"Mas, kenapa kamu tega melakukan zina di kamar kita? Kenapa kamu tidak melakukannya di hotel atau di ruang kerja ... tempat yang biasa kalian gunakan untuk bermesraan. Mas, aku sangat marah dan kecewa padamu. Selama ini aku berusaha untuk selalu bersabar, tetapi batas kesabaranku kini telah habis. Semakin aku bersabar, semakin kamu menginjak-injak harga diriku sebagai seorang istri. Mas, dulu kamu bilang ... hanya aku wanita yang sangat kamu cintai. Dulu kamu bilang, nekat merenggut kesucianku dengan cara yang curang karena ingin menjadikanku satu-satunya ratu di dalam hidupmu. Meski saat itu aku sangat membencimu, kamu berusaha meluluhkan hatiku dengan sikapmu yang selalu sweet. Namun setelah mengenal wanita itu, kamu tega menghancurkan perasaanku, Mas. Kamu tega menodai janji suci pernikahan kita dengan melakukan perbuatan terlarang dengannya." Suara Anjani terdengar bergetar. Ia berusaha tegar meski jiwanya terguncang.


Rudi tersenyum miring. Ia sama sekali tidak berempati kala melihat keadaan istrinya. Tanpa ragu, Rudi melepas cincin yang melingkar di jari manisnya. Pertanda ia ingin mengakhiri hubungannya dengan Anjani.


"Jani, aku menalakmu. Aku akan segera mengurus perceraian kita dan akan menikahi Dahlia. Asal kamu tau, dulu ... aku memang mencitaimu. Tetapi semenjak bertemu dengan Dahlia, perasaan cintaku terhadapmu sudah terkikis. Tubuh Dahlia lebih menggiurkan dari pada tubuhmu yang sekarang tidak menarik lagi. Aku merasakan kepuasan saat menyatukan raga dengannya. Dahlia lebih pandai melayaniku dengan gayanya yang bervariasi. Tidak sepertimu yang hanya bisa pasrah ketika aku meminta untuk dilayani," sahutnya dengan intonasi suara yang meninggi dan bernada sarkasme.


Kata-kata yang diucapkan oleh Rudi bagaikan ribuan pisau yang menghujam tepat di ulu hati. Menyisakan luka yang tak kasat mata.


Tubuh Anjani luruh diikuti buliran kristal yang mengalir deras dari telaga beningnya. Ia tak kuasa menopang raga yang seolah tanpa nyawa.


Melihat keadaan Anjani yang sangat memprihatinkan, Jaka dan Ijah bergegas membawa wanita malang itu ... keluar dari dalam kamar. Mereka tidak memperdulikan tatapan nyalang sang tuan. Bahkan di dalam batin, kedua pelayan itu mengucap sumpah serapah yang ditujukan untuk Rudi.

__ADS_1


"Pak Jaka, tolong bawa saya ke rumah sakit. Sepertinya, sebentar lagi saya akan melahirkan," pinta Anjani sembari mengusap perutnya yang sudah terasa sakit.


"Ba-baik Nyonya. Saya akan membawa Nyonya ke rumah sakit."


Gegas, Jaka mengayun kaki untuk menyiapkan mobil yang masih berada di dalam garasi. Namun ayunan kakinya terhenti ketika terdengar suara bariton yang melontarkan kalimat perintah. "Stop Jaka! Jangan antarkan wanita itu ke rumah sakit! Dia bisa pergi sendiri dengan menggunakan taksi online atau kendaraan umum yang lain. Mulai sekarang, dia bukan lagi nyonya di rumah ini. Dia hanya sampah yang harus segera dibuang. Wanita yatim piatu itu tidak bisa memberiku keturunan seorang bayi laki-laki. Jadi, sudah sepantasnya ia keluar dari rumah yang terlalu megah untuknya."


Rudi kembali bersuara pedas setelah sejenak menjeda ucapannya. "Oya, jangan lupa ... bawa sekalian dua kurcacimu itu! Aku dan kekasihku tidak ingin direpotkan oleh mereka."


PLAKK


Tangan Anjani mendarat indah tepat di pipi suaminya. Amarah yang telah sampai di ubun-ubun memberinya kekuatan untuk melayangkan tangan. Bukan hanya menampar, Anjani juga memuntir burung pipit pria yang telah menyematkan sebutan kurcaci pada kedua putrinya.


"Arggghhhhh ... kurang ajar kau!" Rudi memekik sembari memegangi burung pipitnya. Apa yang dilakukan oleh Anjani terhadapnya menciptakan sensari rasa sakit yang luar biasa.


Anjani menarik salah satu sudut bibirnya dan melemparkan tatapan nyalang. Lantas dengan lantang ia berkata, "rasa sakit yang kamu rasakan itu tidak seberapa bila dibanding dengan rasa sakit yang aku rasakan selama ini, Mas. Aku yakin, kelak kamu akan merasakan rasa sakit yang sama denganku."


"Kau ...." Rudi menunjuk muka Anjani dengan jari telunjuknya disertai netra yang memancarkan api amarah.


"Tuan Rudi yang terhormat, anda sangat tega menyebut kedua putri kita ... kurcaci. Asal anda tahu, kedua putri yang anda sebut kurcaci, mereka adalah hasil dari kecurangan yang pernah anda perbuat terhadap saya. Andai waktu itu anda tidak berbuat curang, saya yakin ... dua kurcaci itu tidak akan terlahir ke dunia. Anda boleh menyebut kedua putri kita ... kurcaci. Tetapi anda harus ingat bahwa di dalam tubuh mereka mengalir darah anda. Itu berarti ... anda adalah BAPAK PARA KURCACI." Suara Anjani terdengar penuh penekanan.


Setelah puas membalas kata-kata pedas yang terlontar dari bibir suaminya, Anjani masuk ke dalam kamar untuk menemui kedua putrinya yang masih terlelap. Anjani meminta Ijah untuk menggendong salah satu putrinya yang bernama Mawar. Sedangkan ia sendiri menggendong putrinya yang bernama Melati.


"Nyonya, saya akan mengantar anda." Jaka melirihkan suaranya agar tidak terdengar oleh Rudi ataupun Dahlia.


"Jangan Pak! Anda bisa kena masalah."


"Insya Allah, saya tidak akan terkena masalah karena tuan dan wanita itu sudah kembali ke kamar. Lagi pula, saya tidak takut jika terkena masalah. Semisal dipecat oleh tuan Rudi, saya masih mempunyai pekerjaan lain. Jadi, Nyonya tidak usah terlalu mengkhawatirkan saya atau Bi Ijah. Kami yakin, rejeki dari Allah itu akan datang melalui perantara siapapun," tutur Jaka disertai seutas senyum.


"Benar apa yang dikatakan oleh Jaka, Nyah. Nyonya tidak perlu mengkhawatirkan kami. Lebih baik, kita segera berangkat ke rumah sakit. Jangan sampai tuan Rudi kembali datang menghalangi --" ujar Ijah seraya menyahut ucapan Jaka.

__ADS_1


"Iya, Bi. Setelah mengantar saya, tolong bawa Mawar dan Melati ke rumah Bibi dahulu. Saya titip mereka ya Bi."


"Iya Nyah. Saya akan menjaga non Mawar dan Melati dengan senang hati," sahutnya dengan menerbitkan senyum.


Anjani mengirim pesan singkat ke nomor Dhava. Ia berpikir, hanya Dhava lah yang bisa menemani dan menguatkannya saat ini.


Flashback off


....


Bonus visual Suster Meri, putri semata wayang Bi Ijah


Suster Meri atau Arthi Aurora



Arthi Aurora merupakan salah satu sahabat author yang supel dan sangat rajin mendukung karya teman-teman author. Salah satu karyanya yang sangat apik menceritakan kisah cinta Azura dan Tristan 👇



🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2