Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Penyesalan


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Mereka sama sekali tidak mengetahuinya, Ma. Karena papa dan mama terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri. Sekalipun, papa dan mama tidak pernah merengkuh saya dalam dekapan. Mereka juga tidak pernah mendengar keluh kesah putra semata wayangnya ini. Bagi mereka, kebahagiaan saya hanya bisa dinilai dengan harta dan tahta. Mereka tidak berpikir, saya sangat membutuhkan dekapan kasih sayang dan tempat untuk berbagi cerita."


Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Jordan, Rossa merasa empati terhadap menantunya itu. Ia tidak pernah menyangka, kehidupan keluarga Pandesa yang terlihat bahagia dan harmonis, ternyata menyimpan sisi kelam ....


TES


Buliran bening jatuh tanpa permisi membasahi wajah Rossa dan Jordan. Keduanya tak mampu lagi membendung luapan rasa yang menciptakan sensasi rasa ngilu di ulu hati.


Rossa meraih tubuh Jordan lalu membawanya ke dalam pelukan. Lantas ia melisankan kata-kata dengan suaranya yang terdengar bergetar. "Jordan, putraku. Seharusnya, tantemu bertanggung jawab atas perbuatan yang ia lakukan. Bukan malah meninggalkanmu tanpa menyembuhkan penyakit yang ia ciptakan sehingga membuat masa depanmu hancur. Selain tantemu, papa dan mamamu juga harus bertanggung jawab. Mereka berhak mengetahui keadaanmu, Jordan. Karena, papa dan mamamu berkewajiban menyembuhkan penyakitmu."


Jordan menangis tergugu dalam pelukan mama mertuanya, menumpahkan lara yang mendera jiwa.


Rossa mengusap punggung Jordan dengan gerakan naik turun seraya mentransfer energi positif agar menantunya itu merasa tenang.


Setelah tangis sang menantu mereda, Rossa melerai pelukan dengan perlahan. Jemari lentiknya terulur untuk mengusap jejak air mata yang membasahi wajah Jordan. Bagi Rossa, Jordan bukan hanya sekedar seorang menantu. Namun, ia sudah menganggap Jordan sebagai putranya sendiri.


Hati Jordan menghangat kala mendapat perhatian dari Rossa yang belum pernah ia dapatkan dari mama kandungnya. Jordan menerbitkan senyum. Ia pun berganti menyeka jejak air mata sang mama mertua.


"Jordan, kita harus segera memberitahu papa dan mamamu. Mama yakin, papa dan mamamu akan menyadari kesalahan mereka. Mama juga yakin, mereka pasti akan berupaya untuk menyembuhkan penyakitmu."


"Tapi Ma. Jordan takut jika papa murka --"


"Jordan, kamu tidak perlu takut. Mama ada di sampingmu. Mama akan menjadi penguatmu, karena kamu adalah putra mama. Jika papamu murka, maka mama yang akan menghadapi kemurkaan beliau," tutur Rossa meyakinkan menantunya.


"Trimakasih Ma --"


"Iya Jordan. Lebih baik, kita bersegera menemui papa dan mamamu. Mereka ada di mansion 'kan?"


"Iya Ma. Papa dan mama berada di mansion."


"Syukurlah jika memang benar mereka sedang berada di mansion. Mama tidak perlu mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli tiket pesawat." Rossa melontarkan candaan agar ia dan menantunya tidak terus menerus tenggelam dalam kesedihan.

__ADS_1


"Jika papa dan mama saya berada di LN, Mama tidak perlu mengeluarkan sejumlah uang untuk menemui mereka. Karena, Jordan memiliki burung besi sendiri yang bisa mengantar kita ke mana saja Ma," sahutnya mengimbangi candaan Rossa. Keduanya pun melengkungkan bibir, hingga seutas senyum terbit membingkai wajah yang semula terlihat sendu.


....


Setelah melewati perjalanan selama satu jam, mobil yang membawa Rossa dan Jordan telah sampai di mansion milik keluarga Pandesa. Mereka disambut hangat oleh kedua tuan rumah, Pandesa dan Aulia.


Pandesa dan Aulia bergantian memeluk putra mereka lalu menyalami sang besan.


"Silahkan duduk, Jeng Rossa!" Aulia mempersilahkan besannya untuk duduk di sofa.


"Trimakasih, Jeng Aulia," sahutnya sembari mendaratkan bobot tubuh diikuti oleh Aulia, Pandesa, dan Jordan.


"Oya, di mana Milea? Kenapa, menantu kami tidak ikut?"


Rossa mengulas senyum lalu menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh besannya.


"Milea sedang menjalani perawatan di rumah sakit, Jeng. Jadi, putri saya tidak bisa ikut --"


"Loh, memangnya ... Milea sakit apa Jeng?" tanya yang terlisan disertai kerutan di dahi.


"Panjang ceritanya Jeng. Namun, saya akan menceritakannya ...."


Aulia dan Pandesa sangat terkejut tatkala mendengar cerita yang dituturkan oleh Rossa. Mereka sungguh tidak menyangka, bahwa sang putra pernah mengalami kekerasan se-sual. Rasa sesal, kecewa, marah, dan sedih membaur menjadi satu. Sepasang suami istri itu merengkuh tubuh putra mereka lalu memeluknya erat.


"Maafkan Papa dan Mama, Nak. Maafkan kami yang selama ini mengabaikanmu. Papa dan Mama telah melakukan kesalahan terbesar sehingga menghancurkan masa depanmu." Suara Pandesa terdengar bergetar. Air matanya tertumpah membasahi wajah tampannya yang tak lagi muda.


"Mama sangat menyesal, Sayang. Seharusnya, mama mengabulkan permintaanmu waktu itu --" Suara Aulia tercekat karena rasa yang menyesakkan dada ketika mengingat Jordan kecil.


Perlahan, Aulia melerai pelukan diikuti oleh Jordan dan Pandesa. Ketiganya mengusap wajah yang terbingkai air mata duka.


Aulia membuang nafas berat sebelum melanjutkan ucapannya. "Waktu kamu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Mama dan Papa berjuang melebarkan sayap bisnis kami ke LN. Saat itu, kamu selalu saja merengek dan meminta agar mama tidak meninggalkanmu, Nak. Kamu meminta supaya Papa saja yang bekerja. Namun, karena keegoan dan ambisi, mama mengabaikan permintaanmu. Mama meyakini, kamu akan bahagia dengan kemewahan yang kami beri. Ternyata mama salah. Mama teramat sangat salah. Pada kenyataannya, segala kemewahan yang kami beri, tidak bisa menjamin masa depanmu cerah. Tetapi malah menghancurkan hidupmu. Andai waktu bisa berputar kembali, mama ingin memilih menjadi ibu rumah tangga yang semestinya. Bukan seorang wanita karier yang sukses tetapi mengorbankan masa depan putranya sendiri --"


Aulia kembali meneteskan air mata. Luapan penyesalan membuat batinnya tersiksa.


Astmosfer keharuan menyelimuti seisi ruangan. Netra Rossa berkaca-kaca menyaksikan adegan yang berhasil menyentuh relung rasa.

__ADS_1


"Jeng Aulia, Mas Pandesa, jangan terlalu larut dalam penyesalan. Lebih baik, tebuslah penyesalan kalian dengan mengupayakan kesembuhan Jordan. Sesuai saran Mbak Kiran, Ibunda Dylan ... kita bawa Jordan dan Milea ke psikiater. Kata mbak Kiran, beliau mengenal seorang psikiater yang bisa menyembuhkan penyakit putra putri kita. Kalau tidak salah, psikiater itu bernama ... dokter Paula," tutur Rossa memecah keheningan yang sejenak tercipta.


"Paula?" Pandesa melontarkan tanya disertai kedua bola matanya yang berotasi sempurna.


"Mas Pandesa mengenal Paula?"


"Iya, saya mengenal Paula. Dia putri sahabat saya yang sekarang berprofesi sebagai seorang psikiater."


"Alhamdulillah jika Paula yang dimaksud mbak Kiran adalah putri sahabat Mas Pandesa. Lebih baik, kita segera menemui dokter Paula untuk berkonsultasi."


Rossa merasa sedikit lega sebab satu persatu permasalahan yang menimpa keluarganya ... terurai .....


....


Bonus visual Dokter Paula


Dokter Paula atau Sindi Paulia (nama asli visual Dokter Paula)



Sindi Paulia merupakan salah satu sahabat author yang masih berusia belia. Di usianya yang masih sangat belia itu, Sindi bercita-cita ingin menjadi seorang psikiater. Sebagai seorang sahabat sekaligus emak online bagi Sindy, author melangitkan pinta ... semoga cita-cita Sindy kelak terwujud. Aamiin allohumma aamiin.


Salah satu karya Sindy yang sempat meledak dan menjadi perbincangan di salah satu media social berjudul "My Duda CEO" yang kini tengah digarap season keduanya.😍



🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mon maaf jika UP nya sekarang sering kali terlambat. Mon maaf juga jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya

__ADS_1


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤


__ADS_2