Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)

Pernikahan Tanpa Cinta (Khanza Story)
Firasat


__ADS_3


Happy reading 😘😘😘


"Ren, jika kamu membutuhkan bahu untuk bersandar ... maka bersandarlah di bahu kak Dara. Meski kita baru saja berkenalan, kak Dara siap untuk menjadi sandaran dan tempatmu untuk berkeluh kesah. Anggaplah, kak Dara sebagai kakakmu sendiri."


Ucapan Dara bagaikan oase di tengah padang gersang. Laksana embun yang mampu membasuh lara sukma ....


....


Mesin waktu menunjuk angka sembilan pagi. Dara, Dylan, dan Reni baru saja selesai menjalankan ibadah sholat sunah dhuha di Masjid Kampus UGM.


Masjid tersebut memiliki arsitektur ... perpaduan dari gaya arsitektur Masjid Nabawi, kebudayaan Tionghoa, India dan Jawa. Di halamannya terdapat kolam yang serupa dengan yang terdapat pada bangunan Taj Mahal.



Usai menjalankan ibadah sholat sunah dhuha, ketiga insan itu menengadahkan tangan seraya melangitkan pinta kepada Illahi Robbi agar senantiasa diberikan nikmat iman dan ketakhwaan. Mereka juga meminta dibukakan pintu rejeki dari arah mana pun dan dijauhkan dari sifat kufur nikmat.


Setelah menyimpan mukena, Dara dan Reni kembali berbincang di serambi masjid. Sedangkan Dylan, ia duduk menunggu di halaman masjid, tepatnya di sisi kiri kolam sambil melantunkan kalam cinta.


Reni menghela nafas dalam untuk menghempas rasa sesak sebelum menceritakan kisah hidupnya yang teramat pelik kepada Dara. Reni berharap, dengan bercerita ... beban batinnya dapat berkurang.


"Dua tahun yang lalu, ayah dan bunda mengalami kecelakaan tunggal. Mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan. Ayah meninggal di tempat, sedangkan bunda ... menyusul ayah setelah dua bulan dirawat di rumah sakit. Sebelum bunda meninggal, beliau menitipkan saya pada nenek --" Reni menjeda sejenak ucapannya dan kembali menghela nafas diikuti titik-titik air yang mulai menganak di kelopak mata.


"Sejak saat itu, saya hanya memiliki nenek. Kami tinggal di rumah kontrakan karena rumah peninggalan almarhum ayah ... saya jual untuk mengobati penyakit nenek dan untuk membayar hutang-hutang beliau. Meski sudah rutin berobat, penyakit nenek tidak kunjung sembuh dan malah semakin parah. Terakhir, nenek harus menjalani operasi. Untuk membiayai operasi nenek, saya telah melakukan dosa besar. Sa-saya menjual harga diri saya kepada seorang pria dewasa --" Suara Reni tercekat. Rasa sesak yang semula sedikit terkikis, kini kembali hadir kala terbayang kejadian di hotel malam itu. Malam terlarang saat Farhan merenggut kesuciannya dengan cara kasar.

__ADS_1


TES


Titik-titik air jatuh tanpa permisi membasahi wajah seiring guncangan hebat tubuhnya.


Dara merasa teramat empati. Ia ulurkan tangan untuk meraih tubuh Reni dan membawanya ke dalam pelukan.


"Ren, kamu harus bersabar dan tetap tegar. Allah selalu bersama hamba-Nya yang berserah diri. Yakinlah, setelah kegelapan maka akan hadir cahaya terang yang menyinari hidupmu."


Perlahan, Dara merenggang pelukan. Ia tatap manik mata Reni yang basah lantas mengulurkan jemari tangan untuk mengusap wajah gadis malang itu.


Kemudian, ia kembali berucap, "Ren, Nabi bersabda ... bahwa orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, selanjutnya ... mereka yang berada di bawahnya, lalu mereka yang berada di bawahnya lagi. Seorang hamba akan diberi cobaan berdasarkan kualitas agamanya atau imannya. Apabila agamanya kuat maka ujiannya semakin berat dan apabila agamanya lemah maka dia akan diberi ujian sesuai dengan kadar agamanya. Cobaan akan senantiasa bersama seorang hamba sampai dia dibiarkan berjalan di atas muka bumi ini tanpa membawa dosa."


"Tapi, Kak ... saya telah melakukan dosa besar. Saya telah berzina .... Saya perempuan kotor. Saya sudah tidak suci lagi --" Air mata Reni kembali tertumpah. Ia merasa teramat hina dan berdosa.


"Tapi, Kak. Reni teramat malu bertemu dengan nenek. Entah bagaimana sikap nenek, jika beliau mengetahui perbuatan cucunya ini. Reni takut, nenek akan murka dan penyakit beliau semakin bertambah parah," sahutnya dengan terisak.


"Ren, jangan berprasangka buruk! Bukankah, kamu melakukan perbuatan terlarang itu demi nenekmu. Insya Allah, nenekmu akan memahami dan mau mengerti, karena kamu terpaksa melakukannya demi menyelamatkan nyawa beliau."


"Tapi Kak --"


"Sstttt, tidak ada kata tapi. Sekarang, kak Dara dan Bang Dylan akan mengantarmu ke rumah sakit."


Dara beranjak dari posisi duduk lantas menarik lengan Reni, agar gadis yang sudah tidak perawan itu ... segera beranjak.


Lalu, keduanya mengayun tungkai menuju halaman masjid untuk menemui Dylan.

__ADS_1


....


Pagi ini, entah mengapa ... hati Annisa merasa tidak tenang. Firasatnya berkata ... akan ada sesuatu yang menimpa.


Bahkan, gulungan awan hitam yang sedari tadi menyelimuti langit, semakin menguatkan firasat gadis itu.


Di dalam benak Annisa melangitkan pinta, "Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu’minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna’u bi ’atho-ika. Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu."


Usai melangitkan pinta dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, Annisa kembali mengayun kaki. Namun sebelum ia memasuki area rumah sakit, seseorang menyekap mulutnya dari belakang ....


Entah apa yang akan terjadi. Mungkinkah firasat Annisa menjadi nyata? Jika benar, semoga akan datang malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuk menyelamatkan wanita saleha itu ....


🌹🌹🌹🌹


Bersambung ....


Mon maaf jika bertebaran typo 😉🙏


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍


Tekan ❤ untuk favoritkan karya


Beri gift atau vote seikhlasnya, agar author tetap semangat berkarya 😉


Trimakasih sudah berkunjung dan banyak cinta 😘❤

__ADS_1


__ADS_2