
Jika saat ini Kai tertidur pulas di rumah Putri. Berbeda dengan para Big Bro yang saat ini grasak-grusuk mencari keberadaan sang adik di kantin. Tak lama Jo melihat Jordan cs memasuki kantin dan menanyakan keberadaan Kai.
"Kamu teman sekelas Kai bukan??"tanya Jo pada Jordan.
"Iya Bang, ada apa ya??"tanya Jordan.
"Baby mana??"tanya Jo lagi.
"Tadi dia dibawa pergi sama Putri, Bang!!"jawab Jordan dan diangguki temannya yang lain.
"Kenapa dibawa pergi dan ke mana??"tanya Alan mulai marah karena sang adik dibawa pergi tanpa izin dari mereka.
"Tadi Kai nangis dan uring-uringan lagi Bang Alan. Dia bilang dia kangen sama Daddy nya. Dia pengen manja-manja dan banyak lagi tadi yang dia bilang pengen lakuin sama Daddy nya. Lantas Putri lewat melihat Kai menangis lantas Putri membawa Kai pergi dan kami semua nggak tau Kai dibawa ke mana. Coba Abang telepon aja Kai!!"kata Jordan pada Alan.
"Baiklah, terima kasih."ujar Alan.
Alan kembali ke meja inti BLACK HOLE. Lalu menjelaskan apa yang terjadi dengan si bungsu Owen itu. Kemudian Alden menyuruh Alan agar segera menelpon Kai.
Alan segera menghubungi kontak sang adik.
Mendengar dering handphone milik Kai, membuat Putri yang berbaring di samping Kai jadi kaget. Putri melihat siapa yang menelepon Kai ternyata itu adalah salah satu kakaknya.
Putri pun mengangkat panggilan itu.
"Hhallo"
"..........."
"Iya, Bang Kai ada di rumah Putri sekarang"
"..........."
"Baik Bang"
Lalu panggilan telepon itu pun terputus.
"Bagaimana Lan??"tanya Daichi penasaran.
"Baby sedang tidur, sepertinya apa yang Bang William katakan kemarin harus mulai kita lakukan jika tidak Baby akan mencari jalan lain agar ia merasa nyaman!!"kata Alan.
"What that do you mean??"tanya Chayton.
"Jangan sampai Baby merasa nyaman dengan yang lain. Itu akan membuatnya semakin menjauh dari kita. Apalagi Baby memiliki banyak tanggung jawab sekarang ia pasti butuh seseorang untuk tempatnya berkeluh kesah. Bagaimana pun Baby masih lah anak remaja bahkan usianya saja sekarang belum legal."jelas Alan pada saudara-saudaranya.
Mereka terdiam sejenak, apa yang Alan katakan semuanya benar, adik mereka masih sangat kecil untuk memanggul semua masalah di pundaknya sendirian.
Di sisi lain......
Kai terbangun ia melihat Putri yang juga ikut terlelap di sampingnya. Ia melihat sekelilingnya, rupanya Kai baru sadar jika dia tertidur di kamar Putri bukan di kamarnya.
"Put, bangun....."kata Kai mengguncang bahu Putri.
__ADS_1
"Eughhhhhhh, kamu udah bangun??"tanya Putri mengucek matanya.
"Oh iya tadi Bang Alan menelpon, dia nanyain kamu. Aku bilang kamu ada di rumahku nggak apa-apa kan Kai??"tanya Putri sedikit takut jika Kai marah karena ia telah lancang mengangkat telepon milik Kai.
"Nggak apa-apa, santai aja!!"ujar Kai.
"Ini udah jam makan siang, kita makan dulu yuk!!"ajak Putri pada Kai.
Kai berjalan menuruti perkataan Putri. Di meja makan telah terhidang makanan untuk mereka berdua. Juga semua anggota keluarga Putri telah berkumpul. Kai dapat melihat bahwa keluarga kecil ini begitu hangat. Ia pun jadi teringat dengan keluarganya sekarang.
"Put, gue pulang dulu ya!!"kata Kai pada Putri.
"Kai, makan siang dulu sayang setelah itu baru pulang!!"ujar Bunda Putri pada Kai.
Kai pun segan jika harus menolak ajakan Bunda Putri.
"Iya, Bun!!"jawab Kai mendudukkan diri di samping Putri.
Mereka pun makan dengan tenang sesekali adik-adik Putri meminta suapan pada Pak Reza. Hal itu pun tidak luput dari penglihatan Kai. Bolehkah ia merasakan hal yang sama sekali lagi, disuapi sang Daddy???
Lamunan Kai buyar ketika sebuah suapan berada di depan mulutnya. Dan pelakunya adalah ayah Putri.
"Aaaaaa" sontak Kai membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Ayah Putri menyuapi Kai dengan tangan tanpa menggunakan sendok. Persis seperti yang Daddy Ian sering lakukan padanya. Katanya jika disuapi dengan tangan maka akan terasa lebih kenyang walau pun makanan yang masuk sedikit. Seketika air mata Kai luruh. Kenangan-kenangan masa kecil bersama Daddy Ian kembali berputar di memorinya.
Melihat air mata Kai yang menetes Pak Reza segera mengusapnya.
"Jangan menangis ketika makan, nak.!!"kata Pak Reza pada Kai.
Lima belas menit kemudian Frank pun datang.
"Bunda, Ayah Kai pulang dulu. Terima kasih makan siangnya!!"ujar Kai menyalim tangan kedua orang tua Putri.
"Sama-sama, sering-seringlah main ke sini!!"kata Pak Reza mengelus sayang puncak kepala Kai.
"Tentu, Yah!!"ujar Kai lalu masuk ke mobil dan meninggalkan halaman rumah sederhana itu.
"Kai....."panggil Frank.
"Iya, ada apa Uncle??"tanya Kai.
"Bolos lagi??"tanya Frank.
"Hmmmmm, Uncle bolehkah Kai egois sekali saja. Kai hanya ingin melepaskan rindu pada Daddy??"tanya Kai sendu menatap ke arah jalan.
Frank tidak menjawab pertanyaan Kai namun dia membawa Kai ke sebuah tempat.
Kai diam tidak bertanya lagi, karena Frank tidak menjawab pertanyaannya. Kai merasa sangat kesal saat ini. Ingin rasanya memukul wajah Paman Frank nya itu.
Kai heran karena Frank tidak membawanya pulang ke mansion, tapi malah membawanya ke sebuah pantai.
"Kenapa Uncle membawa Kai ke sini?? Kemarin Kai juga sudah puas bermain di pantai sama teman-teman!!"keluh Kai.
__ADS_1
Lagi Frank tidak menjawab pertanyaan Kai, Frank melepas jas dan semua peralatan bodyguard nya tak lama terlihat Taro yang datang ke pantai itu dengan menggunakan sepeda motornya.
"Apa yang mereka rencanakan??"bathin Kai dengan kening berkerut.
"Kai.........!"sapa Taro yang juga melepas jas dan peralatan bodyguard miliknya.
Lalu keduanya menarik tangan ke arah ombak. Tadi sebelum berangkat menjemput Kai ke rumah Putri Frank menghubungi Taro ia ingin Taro ikut mengembalikan mood Kai yang memburuk beberapa hari ini.
Kali Kai merasakan bermain bersama keluarga. Frank juga mengajak Kai naik kuda menyusuri pantai. Mereka melakukan banyak aktifitas keluarga selayaknya keluarga pada umumnya. Frank memperlakukan Kai layaknya seorang anak kecil begitu pun dengan Taro yang memperlakukannya seperti adik. Hangat.......
Ketiga orang itu menghabiskan waktu di pantai. Tidak sadar keadaan di mansion yang kembali kacau karena tadi saat Alden bersaudara menjemput Kai ke rumah Putri yang dijemput malah tidak ada di tempat. Ace melacak kembali keberadaan sang adik karena handphone ketiga orang itu tidak menjawab ketika dihubungi. Kali Ace mendapatkan posisi sang adik di pantai.
"Biar aku yang menjemputnya!!"kata Opa Lucifer.
"Aku ikut, Dad!"kata Daddy Aldric.
"No, Al stay here!! Mood Baby sedang tidak baik!!"kata Opa Lucifer.
Akhirnya dengan berat hati mereka semua mengikuti perkataan Opa Lucifer.
Kali ini bahkan Opa Lucifer pergi tanpa pengawalan.
Dua puluh menit kemudian Opa Lucifer sampai di tempat yang tadi dilacak oleh Ace. Dari kejauhan Opa Lucifer dapat melihat sang cucu tertawa lepas dan sangat bahagia bermain bersama Frank dan juga Taro. Opa Lucifer pun membuka jasnya lalu bergabung dengan ketiga orang itu.
"Baby, kau melupakan Opamu ini???"tanya Opa Lucifer menggendong Kai.
"Ehhhhh Opa ngapain di sini??"tanya Kai kaget.
"Kau melupakan janjimu membawa Opa healing, hmmmm!!"kata Opa Lucifer merajuk.
Ketiga orang itu menjatuhkan rahang melihat tingkah Opa Lucifer barusan.
"Mmmm itu salah Uncle Frank dan Kak Taro mereka yang merencanakan semua ini Opa."kata Kai melihat ke arah Frank dan Taro.Tentu saja keduanya kicep mendengar aduan Kai pada Opa Lucifer, takut dengan hukuman yang menunggu mereka.
"Ya sudah ayo kita lanjutkan bersenang-senang nya!!"kata Opa Lucifer bersemangat.
Ketiganya melongo mencerna perkataan Opa Lucifer barusan. Tapi masa bodohlah yang penting melanjutkan kesenangan mereka tadi pikir ketiganya.
"Kita main voli!!" usul Opa Lucifer.
"Ok, siapa takut!!"jawab Kai.
"Opa akan berpasangan dengan Taro dan kamu Baby dengan Frank!!"titah Opa Lucifer.
"Taruhannya, Opa??"tanya Kai lagi.
"Yang kalah membantu tugas di perusahaan yang menang!!"kata Opa Lucifer.
"Deal"jawab Kai.
Pertandingan pun dimulai. Ternyata usia tidak mempengaruhi stamina seorang Opa Lucifer. Dia tetap bisa bermain dengan baik dan bersemangat. Tubuh mafia ....... memang tahan banting guys. Oiii ingat di mansion orang lagi misuh-misuh nungguin kalian.
__ADS_1