Psykopat Gemoy Kesayangan The Owen

Psykopat Gemoy Kesayangan The Owen
Serangan Fajar


__ADS_3

Ketika asyik berbincang-bincang handphone Kai dan Uncle Twins berdering. Saat melihat siapa yang menghubungi mereka ketiga orang itu saling berpandangan.


"Ma Cherie, kita harus berangkat sekarang"ajak Uncle Pedro.


Kai hanya membalas tatapan datar dan memandang ke arah Uncle Pablo yang memberi anggukan sebagai tanda persetujuan.


"Lapochka kami harus berangkat ke Rusia sekarang ada penyerangan di markas utama, kami harus membawa Mi Amor bersama kami!"ujar Uncle Pablo meminta izin pada sang Kakak.


"Tapi Uncle sepertinya kita tidak akan sampai tepat waktu"jawab Kai.


"Tunggu sebentar!"Kai berlari ke kamarnya.


"Tapi...."ucapan Uncle Pablo hanya mengambang di udara karena Kai telah melesat pergi.


Kai kembali dengan membawa laptopnya.


"Let's play f*ck j*rk"seringai Kai.


Kai mengeluarkan handphone nya dan menghubungi seseorang.


"Bang William berapa jumlah Soldiers yang ada di Rusia sekarang??"tanya Kai pada orang itu.


"........."


"Kirim 2000 orang ke markas utama the BRONTES, pakai perlengkapan seperti biasa!"perintah Kai pada orang itu dan mematikan sambungan teleponnya.


"........"


"Uncle hubungi kepala pengawal markas, akan ada bantuan dari orang-orang yang memakai Hoodie berlambang bunga Gladiol di lengan kanannya."ucap Kai sambil memasang alat penghubung miliknya dengan EAGLE EYE yang ada di markas utama the BRONTES.


"Baik"Uncle Pablo pun segera menghubungi kepala pengawal untuk memberitahukan hal itu.


"Kakak apakah kalian ingin ingin bermain game dengan Kai??"tanya Kai dengan senyuman iblisnya.


"Sure Baby, we are really want it"jawab mereka.


"Tapi kita butuh laptop kalian"ucap Kai.


"Baik, tunggu sebentar!"jawab mereka bergegas mengambil laptop mereka.


Kemudian semuanya siap dengan laptop masing-masing.


"Gunakan ini!!!"suruh Kai pada ketujuh Kakaknya, dan mereka mengikuti instruksi dari Kai. Kai menyambungkan seluruh laptop Kakaknya dengan EAGLE EYE DRONE yang ada di markas utama the BRONTES.


"Siap???"tanya Kai.


"Siap"jawab mereka.


"Kita akan mengendalikan EAGLE EYE DRONE dari sini, sasaran kita adalah semua yang mengeluarkan aura merah, sedangkan yang mengeluarkan aura hijau adalah team kita. Dan kalau bisa pindai semua titik merah itu adalah posisi Snipers mereka. So have fun my Big Brother"ucap Kai tersenyum smirk.


Ketujuh remaja laki-laki itu mulai mengendalikan EAGLE EYE DRONE masing-masing. Bagi mereka ini permainan yang seru. Jika biasanya hanya bermain dengan game animasi di handphone namun sekarang mereka bisa bermain dengan manusia sungguhan. Sungguh menantang adrenalin.

__ADS_1


"Uncle Twins kita akan mengamankan data base miliki the BRONTES, untuk berjaga saja jika mereka sampai menyentuh Pilar."ucap Kai dan diangguki oleh Uncle Twins.


Para tetua yang melihat sikap Kai saat mengendalikan semua masalah dengan tenang sangat kagum. Tidak menyangka bocah 14 tahun itu sangat pro dalam menghadapi masalah seperti ini, apalagi ia mengendalikannya dari jarak jauh. Beberapa saat kemudian handphone Kai kembali berdering.


"Hallo...Ivanov..."jawab Kai.


"........."


"Baik, mulai!!!!"perintah Kai dengan nada tegas.


Para kakak Kai melihat kedatangan ribuan orang dengan menggunakan Hoodie hitam dengan lambang bunga Gladiol yang menyala karena warna bunga itu yang dibuat dari tinta emas khusus.


"Apakah itu GOLDEN GLADIOL????"sorak Alan.


Kai hanya membalas dengan senyuman.


"GOLDEN GLADIOL"


"WE ARE THE STRONGER"


"WE ARE THE WINNER"


"GG"


"ATTACK!!!!"


Teriak seorang remaja laki-laki yang sepertinya bertindak sebagai panglima tempur dari GOLDEN GLADIOL.


Sedangkan para bungsu The Owen dan duo Yamaguchi masih sibuk mengendalikan DRONE mereka masing-masing.


Alden dan Benjiro sudah membunuh cukup banyak snipers lawan. Markas the BRONTES sekarang sudah menjadi lautan darah. Keganasan dan kekuatan GOLDEN GLADIOL memang tidak perlu diragukan lagi.


Akhirnya penyerangan pada markas utama the BRONTES itu dimenangkan oleh The Brontes dan GOLDEN GLADIOL secara mutlak.


Ketika Kai selesai memback up semua data base milik the BRONTES, Kai melihat sebuah siluet menuju ruang para Pilar. Ia seperti mengenal gestur laki-laki itu.


"Kak Benji pindai ke arah selatan!!!"perintah Kai pada Benjiro.


"Lihat di pergelangan tangannya!!"ucap Kai lagi.


Benjiro terbelalak menyaksikan gelang khusus milik klannya di pakai oleh orang lain.Tapi jika dilihat gestur tubuhnya dia bukanlah keturunan klannya.


"Imouto-san siapa laki-laki itu??"tanya Benjiro dengan wajah merah padam.


"Laki-laki itu juga yang membunuh Dady Ian Kak"jawab Kai sendu dan mengirim file rekaman pembunuhan sang Dady kepada semua Kakaknya.


Mereka terbelalak menyaksikan bagaimana orang itu dengan sadis telah menghabisi Uncle mereka di depan adik bungsu mereka.


Mommy Fanny luruh ke lantai setelah menyaksikan bagaimana kakaknya telah dihabisi dengan kejam.


"Berarti orang ini adalah inti dari BLACK COBRA atau bisa jadi ketua dari BLACK COBRA itu sendiri."ujar Papa Jacob.

__ADS_1


"Hanya itu petunjuk yang kita miliki sekarang Uncle"ucap Kai pada Uncle Twinsnya yang bergetar karena menahan amarah mereka.


"Ivanov, cek semua anggota GOLDEN GLADIOL dan BRONTES, obati yang terluka."titah Kai.


"........."


Tak lama kemudian handphone Kai kembali berdering.


"Hallo.....Ivanov"


"............."


"Baik, kalian cabut!!!!!"perintah Kai.


"Kak Benji kita harus bertanya kepada Grandpa mengenai gelang itu"ujar Kai.


"Kau benar imouto-san, Kakak tidak ingin klan kita mengalami salah paham dengan the BRONTES atau klan lainnya hanya karena pemilik gelang itu"sahut Benjiro.


"Uncle Twins coba telpon ke markas utama untuk mengecek keadaan markas sekarang."titah Kai dan segera dilaksanakan oleh Uncle Pedro.


"Ma Cherie ada kebocoran informasi kata salah seorang Pilar Poison."lapor Uncle Pedro.


"Akan Kai lacak dia"ucap Kai memainkan laptopnya dengan santai.


Setelah mencari beberapa menit Kai mendapatkan identitas orang yang berkhianat pada the BRONTES.


"I got you, damn"sorak Kai.


"Vadlena....cari seluruh keluarga baj*ng*n ini"perintah Kai mengirimkan data pengkhianat itu pada Vadlena.


Seluruh laki-laki di ruangan itu penasaran dengan apa yang akan Kai lakukan pada keluarga pengkhianat itu.


"Mi Amore apa memang harus kita melibatkan keluarga mereka"sanggah Uncle Pablo


"Uncle lupa kalau the BRONTES menjamin kehidupan setiap anggota dan seluruh keluarganya dari jabatan tertinggi hingga pada jabatan paling rendah, dan BRONTES hanya meminta satu jaminan yaitu KESETIAAN. Yang terkena imbas bukan hanya kita Uncle tapi juga anggota BRONTES yang lainnya Uncle. Jadi di sini Kai salah di mana. Dia berkhianat sedangkan kita sudah mensejahterakan keluarganya. Dari yang tertua hingga yang termuda kita jamin kesejahteraan dan keamanan mereka. Apalagi yang membuatnya ingin berkhianat??"tanya Kai pada Uncle Pablo.


"Kai benar Pablo, bukankah kau sendiri juga salah satu korban dari pengkhianat itu dan malah menyebabkan kakak tertuamu tewas"ucap Papi Dixon membenarkan pendapat Kai.


Mendengar hal itu Pablo terdiam, semua itu benar karena pengkhianatan ia kehilangan kakak laki-laki yang paling ia sayangi malah ia juga nyaris kehilangan nyawanya sendiri dan juga keponakannya, satu-satu keturunan Maximilian.


"Berikan mereka apa yang pantas mereka dapatkan Mi Amor!"perintah Uncle Pablo dengan wajah dinginnya.


"Sesuai keinginanmu Uncle"jawab Kai.


"Hallo....."


".........."


"Wakili aku di sana, ambil yang pantas diambil dan musnahkan sisanya jangan lupa perlihatkan pada semua anggota BRONTES ini hukuman untuk seorang pengkhianat."titah Kai pada Vadlena.


Tidak lama kemudian si setiap laptop terpampang live dari penyiksaan keluarga itu. Kai memandangnya dengan mata penuh binar. Begitu juga dengan Uncle Twins dan para Kakaknya. Terlihat sang pengkhianat terduduk lemas menyaksikan bagaimana keluarganya tewas dengan keadaan yang mengenaskan. Dan sekarang ia menunggu giliran untuk menyusul mereka.

__ADS_1


__ADS_2