
Jam sembilan pagi Kai mendarat di landasan pacu milik keluarga Adler. Terlihat sebuah mobil telah menunggu kedatangannya.
"Kai......!"panggil seorang co pilot membangunkan Kai.
Kai tidak menyahuti panggilan itu, namun Jayden mulai bergerak karena terganggu dengan panggilan dan ketukan di pintu. Dengan langkah gontai Jayden melangkah ke arah pintu.
"Ada apa, ya??"tanya Jayden.
"Maaf, Tuan Muda kita sudah sampai. Tolong bangunkan Kai."kata co pilot itu lalu kembali ke tempatnya.
Jayden masih sedikit pusing, ntah karena kurang tidur ntah karena banyak pikiran.
"Rian Rion bangun!!"kata Jayden yang membangunkan adik kembarnya yang masih tidur memeluk Kai.
"Adek ayo bangun!"kata Jayden mengelus pipi sang adik dengan jempolnya.
"Eughhhhhhh......sebentar lagi."rengek Kai seperti biasa.
"Ayo Dek kita udah sampai, ayo bangun."kata Jayden menarik tangan Kai agar segera duduk.
"Iya....iya ini Kai bangun Kak!"katanya mengucek mata.
"Jangan dikucek terlalu kuat nanti malah tambah merah!!"kata Jayden.
"Ternyata sudah sampai."seru si kembar bersamaan.
"Ayo turun!"kata Kai berjalan lebih dahulu setelah mencuci muka.
Ke empatnya langsung melangkah ke arah mobil yang sedang terparkir itu dengan Kai yang langsung mengambil alih stir mobil dari sang sopir.
Kai melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang menuju tempat pemakaman khusus keluarga Adler.
"Adek, ini ke mana? Kok kita lewat pemakaman gini?"kata Rion ngeri melihat sekitarnya.
"Kita akan menemui seseorang!"kata Kai lalu menghentikan laju mobil di sebuah gerbang pemakaman yang bertuliskan bahasa Rusia "Pemakaman Keluarga Adler".
Kai terus menyusuri area pemakaman itu hingga berhenti di sebuah lokasi makam empat nisan yang terlihat di sana.
"Ini makam siapa, Dek??"tanya Rion dengan perasaan tidak enak.
"Kakak ingin bertemu Bubu bukan?? Di sinilah Bubu tinggal sekarang Kak."kata Kai lalu berjongkok di antara makam sang ibu dan Daddynya.
Dengan jelas Jayden dan si kembar dapat melihat tulisan dan foto yang ada di nisan itu "Yamaguchi Himawari Aina".
Ke tiganya langsung lemas dan jatuh tersungkur. Hati mereka terasa sangat hancur melihat makam orang yang sangat ingin mereka jumpai ada di depan mereka.
"Ibu, apa kau tidak ingin bertemu dengan kami??"tanya Rian terisak hebat.
Sedangkan Jayden dan Rion hanya menangis tanpa suara begitu pula Kai yang mengusap sayang makam sang Daddy.
__ADS_1
"Bubu meninggal beberapa saat setelah melahirkan Kai, karena ia tidak bisa bertahan lagi karena kerusakan di rahimnya akibat siksaan dari Tuan Giorgino. Kalian beruntung walau tidak bisa bertemu Bubu sekarang namun dulu kalian merasakan hangatnya dipeluk oleh Bubu, disusui olehnya tapi Kai tidak merasakan semua itu."ujar Kai dengan air mata yang sudah mengajak sungai.
Ke tiganya sontak menatap sang adik yang saat ini sedang memeluk nisan sang ayah. Ntah kebetulan ntah memang alam pun merasakan kesedihan hati ke empat Kakak beradik itu hingga hujan pun turun dengan derasnya.
Ke tiga Kakaknya segera memeluk sang adik di bawah guyuran hujan, biarkan hujan menghapus rasa sakit mereka biarkan hujan membersihkan semua kenangan buruk mereka.
Di saat ke empatnya sedang berpelukan tanpa mereka sadari beberapa orang laki-laki sudah berdiri mengelilingi mereka. Jayden yang merasakan kehadiran siluet orang-orang di sekelilingnya membuat Jayden bangkit dan merasa was-was jika itu adalah orang suruhan sang Papa, Tuan Giorgino Frederick Alexander.
Kai yang menyadari itu langsung menubruk tubuh Papa Harada.
Dan melepas segala sesak yang ia rasakan di pelukan laki-laki itu. Ke tiga Kakak Kai hanya terdiam melihat para laki-laki keturunan Jepang asli itu.
"Grandpa, merekalah orang yang sedang kita cari!!"kata Kai.
"Cucuku...!!"ujar Grandpa Yamaguchi melihat ke tiga remaja laki-laki yang masih bingung itu.
Ke tiga laki-laki itu melihat ke arah Kai seolah bertanya siapa laki-laki tua yang memanggil mereka dengan sebutan cucuku itu.
"Dia Kakek kita Kak, Grandpa Yamaguchi Haruto!!"kata Kai pada ke tiga Kakaknya tersebut.
"Grandpa.....!!"beo ke tiganya.
Grandpa Yamaguchi pun mengangguk mengiyakan perkataan Kai.
Ke tiganya melangkah ke arah Grandpa Yamaguchi, menatap sejenak laki-laki tua di hadapan mereka yang sangat mirip dengan mendiang ibu mereka. Ke tiganya sontak berlutut di kaki sang kakek mengingat jika ayah mereka adalah penyebab utama segala penderitaan yang dialami oleh Yamaguchi Himawari Aina, ibu kandung mereka.
"Apa yang kalian lakukan? Bangunlah!"ujar Grandpa Yamaguchi.
"Bangunlah, selama ini Grandpa mencoba melacak keberadaan kalian namun hasilnya nihil. Bangunlah!"ujar Grandpa Yamaguchi membangunkan ke tiganya dari keadaan mereka yang saat ini tengah berlutut.
Ke tiganya menuruti perintah sang Kakek dan memeluk laki-laki tua itu dengan erat. Akhirnya mereka bisa berada dalam lingkungan keluarga yang sebenarnya yang benar-benar menerima kehadiran mereka.
Ke empat laki-laki itu saling berpelukan melepas kerinduan masing-masing. Sedangkan ke empat laki yang mungkin masih berusia sekitar empat puluh tahunan dan sebelas orang pemuda lainnya melihat kejadian itu dengan berbagai pandangan.
"Ayo, Grandpa kenalkan dengan Paman dan saudara kalian yang lain."kata Grandpa Yamaguchi pada ke tiga remaja itu.
Mereka saling berkenalan satu sama lain, terlihat para Paman dan sepupu mereka menerima kehadiran mereka dengan baik dan hangat.
"Maafkan ayah kami, dia penyebab semua penderitaan ibu dan adik kami."ujar Jayden mengulangi kata-katanya tadi.
"Itu kesalahan ayah kalian jangan meminta maaf untuk kesalahannya, biar ia mempertanggungjawabkan semua kesalahannya. Sekarang tanggung jawab kalian menjaga adik bungsu kalian, satu-satunya saudari yang kalian miliki. Peninggalan satu-satunya ibu kalian."kata Papa Harada pada anak-anak mendiang adiknya itu.
"Selamat datang di keluarga kalian kembali, Saudaraku!!"ujar Hiroshi pada ke tiga remaja itu.
"Terima kasih , Kak!!"sahut ke tiganya.
Grandpa Yamaguchi melangkah ke arah makam mendiang sang putri.
"Ai lihatlah sekarang semua anak-anakmu telah berkumpul, tugas ayah telah selesai Nak!!"ujar sosok laki-laki tua itu jongkok di samping nisan sang putri.
__ADS_1
Mereka membiarkan Grandpa Yamaguchi melepaskan segala keluh kesahnya di makam sang Putri.
"Papa bangga padamu, Musume. Kau telah menyatukan kembali keluarga kita!"kata papa Hideaki pada Kai.
"Siapa yang akan menyangka jika musuh bebuyutan kami di sekolah adalah Kakak kandung Kai, Pa."ujar Kai tersenyum mengenang pertemuan pertama di sekolah.
"Maksudmu, imouto-san??"tanya salah seorang sepupu Kai.
"Ya mereka bertiga adalah musuh bebuyutan Kai dan the Owen. Ya sebenarnya sih tindakan mereka tidak salah karena membela adik perempuan mereka."kata Kai lagi.
"Mereka juga punya adik perempuan lain, Musume?"tanya Papa Harada.
"Bukan adik kandung, Pa. Anak dari wanita yang selama ini telah menjaga dan merawat Kakak sejak ditinggalkan Bubu tapi sayang ke tiga adik mereka saat ini mengalami depresi karena ulah Tuan Giorgino Frederick Alexander. Mereka dirawat di rumah sakit jiwa dan juga menderita penyakit HIV."jelas Kai.
"Bagaimana bisa??"tanya Papa Hideaki tidak percaya.
"Tuan Giorgino menyuruh ke tiganya untuk mendekati the Owen dan dua putri Watanabe memberi afrodisiak pada minuman para Abangku termasuk Kak Benjiro dan Kak Daichi. Tentunya kalian tau setelahnya siapa yang membuat mereka seperti itu."tutur Kai dengan sorot mata tajam.
"Kenapa harus dibuat hingga seperti itu, Musume?"tanya Papa Daiki.
"Itu akibatnya jika mengusik orang-orang dari klan Golden Gladiol!"jawab Kai dingin.
"Apa maksudmu, Musume? Bukankah waktu itu mereka adalah teman-temanmu?"tanya Papa Harada pada Kai.
"Sebenarnya, Kai adalah ketua dari GOLDEN GLADIOL itu sendiri, Pa. Dan sekarang Kak Benjiro dan ke tiga puluh lima orang lainnya telah dipilih oleh Anos sebagai kakak tangannya untuk membangun kerajaannya dan menjadi bagian dari GOLDEN GLADIOL. Jadi jangan memaksa mereka untuk bergabung dengan Yamaguchi lagi. Kami hanya akan mengawasi dan menjaga Yamaguchi."kata Kai.
Semua anggota keluarga Yamaguchi tentu saja kaget mendengar kenyataan itu. Pantas saja sang adik dan anak mereka tidak mau mengurus Yamaguchi. Sebab klan yang ia miliki berasa di peringkat pertama.
"Pletaaak"
"Augghh"
"Sakit Kak..!"omel Kai pada Hitoshi yang menyentil jidatnya.
"Kau seenaknya mengambil keputusan sendiri, imouto-san?"kesal sang Kakak.
"Kan sekarang sudah ada mereka bertiga yang bisa kalian gembleng dengan baik."jawab Kai tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Lalu kau sendiri, imouto-san?"tanya sepupu Kai yang lain.
"GOLDEN GLADIOL hanya akan mengawasi the Owen, Yamaguchi dan the Brontes. Atau jika kalian mau bergabung saja dengan GOLDEN GLADIOL."canda Kai.
Sedang sibuk mengobrol tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Uncle Twins, Pablo dan Pedro.
"Astaga, Mi Amore kau di sini berdiri dan berbincang santai sedangkan ke semua Kakak dan Daddymu saat ini tengah mengamuk di Indonesia."ujar Uncle Pedro menatap kesal pada keponakan yang sangat ia sayangi itu.
"Astaga Kai lupa memberi tau mereka, Pa. Bang Xander dan Kak Ace pasti marah besar."ujar Kai panik.
"Sudah ayo semuanya kita ke mansion dulu, ganti pakaian kalian dulu!"ujar Uncle Pablo pada keluarga mendiang Kakak iparnya itu.
__ADS_1
Mereka pun mengikuti Twins Uncle menuju kediaman Adler.