
Alden sendiri saat ini tengah menghadapi tuan Mc Cullen ketua klan Red Devils. Pertarungan keduanya berlangsung cukup sengit, cukup sulit bagi Tuan Mc Cullen untuk mengimbangi pergerakan Alden yang begitu lincah dan tidak terbaca. Hingga akhirnya di saat Tuan Mc Cullen lengah belati Alden menebas leher laki-laki empat puluh tahunan itu.
"Go to the hell, bastard!"kata Alden menyeringai lalu meninggalkan begitu saja tubuh laki-laki yang baru saja ia habisi.
Kai akhirnya bisa menembus pertahanan Tuan Alexander, ketua klan BLACK COBRA.
"Kau gadis kecil kenapa ingin sekali menghabisiku?"tanya Tuan Alexander penasaran.
"Lo ingat laki-laki yang Lo habisi tujuh tahun lalu, ketua the Brontes?"tanya Kai dengan penuh penekanan.
"Tentu saja aku ingat, bahkan sudah mati pun laki-laki itu masih terus menghalangi jalanku untuk menguasai the Brontes."jawabnya dengan nada datar.
"Baguslah jika seperti itu berarti Lo emang nggak pantas menempati posisi sebagai seorang pemimpin!"jawab Kai dengan ekspresi wajah mengejek.
"Apa maksudmu, bocah kencur!"kata Tuan Alexander mulai terpancing emosi.
"Lo tanyain aja ntar ama Daddy gue, karena bentar lagi Lo bakal gue kirim buat nemuin dia ama nyokap gue!"ujar Kai mengambil ancang-ancang untuk menyerang Tuan Alexander.
Dengan lincah dan lihai Kai bisa mengelak dari setiap serangan yang dilancarkan oleh Tuan Alexander.
Tuan Alexander mulai kewalahan menghadapi Kai, tenaga dan kecepatan pukulannya tidak main-main.
"Siapa kamu sebenarnya, Bocah?"tanya Tuan Alexander memegangi dadanya yang sakit akibat pukulan dari Kai.
"Gue maut Lo gue bakal ngirim Lo pada Daddy gue Maximilian Lucius Adler dan Bubu gue Yamaguchi Himawari Aina!"ujar Kai kembali menyerang Tuan Alexander tanpa memberi celah sedikit pun untuk memberi perlawanan.
Tuan Alexander terkejut bukan main, ternyata yang ada di hadapannya adalah anak dari orang yang telah ia bunuh dan ia siksa secara tidak manusiawi.
Terlihat jelas dendam dan kebencian memancar dari kedua mata Kai.
Mereka kembali melanjutkan pertarungan itu, hingga akhirnya hanya keduanya yang tersisa karena yang lainnya telah berhasil menumbangkan lawan masing-masing.
Xander melihat sang adik yang sedang menghajar Tuan Alexander secara membabi buta.
"Jayden tolong Papa!"ujar laki-laki itu dengan tatapan memelas pada anak laki-laki tertuanya.
"Cih, menolongmu jangan harap!"sarkas Jayden yang hanya menonton saat Kai menghajar Tuan Alexander.
Kai menusukkan katana miliknya pada Tuan Alexander dengan cepat.
"Ini buat Daddy gue!"ujar Kai tersenyum lepas karena dendam sang Daddy telah terbalaskan.
"Ini untuk waktu yang hilang antara aku dan adik bungsuku!"ujar Rion menancapkan belati di dada laki-laki yang note banenya adalah ayah kandungnya.
"Ini untuk semua keluargaku yang telah kau bantai!"Xander menyarangkan pisau miliknya di perut Tuan Alexander.
"Dan ini untuk semua penderitaan ibuku, dan untuk semua kasih sayangnya yang telah kau rampas dari kami berempat!"kata Jayden menembak laki-laki itu.
Perlahan kesadaran Tuan Alexander mulai menghilang. Dan matanya pun mulai tertutup.
__ADS_1
Grandpa Yamaguchi segera memeluk ke empat cucunya itu, namun di luar dugaan Tuan Alexander secara perlahan mengeluarkan senjata dari balik punggungnya lalu menembak ke arah Rion dan Rian. Grandpa Yamaguchi yang melihat semua itu segera menjadikan dirinya sebagai tameng bagi cucunya itu.
"Dooor"
"Dooor"
"Dooor"
Tiga tembakan dilepaskan oleh Tuan Alexander ke arah ke lima orang itu.
"Grandpa..........!"teriak semua cucu Tuan Yamaguchi secara bersamaan.
"Baj*ngan.......mati lah kau!!"teriak Daichi berlari ke arah Tuan Alexander lalu menebas kepalanya dengan katana yang masih ia pegang.
"Grandpa bertahanlah!!"ujar Kai memeluk tubuh sang kakek diiringi buliran air mata yang terus berjatuhan.
"Cepat bawa Grandpa ke rumah sakit!!"ujar Benjiro berlari mengambil mobil.
Mereka bergegas mengangkat tubuh Tuan Yamaguchi ke atas mobil. Kai masih memangku kepala sang kakek. Air matanya terus mengalir.
"Grandpa, bertahanlah Kai mohon!"ujar Kai disela tangis yang semakin menjadi.
"Kak Ben, cepatlah Grandpa kehilangan banyak darah!!!"bentak Kai pada sang Kakak.
Benjiro memacu kecepatan mobil hingga batas maksimal, ia tidak peduli dengan keadaan jalan raya yang saat ini tengah ramai.
"Cepat tolong Ketua!!"teriak Daichi pada semua Dokter yang berlari menyongsong kedatangan Daichi dan Jayden.
"Grandpa......kami mohon bertahanlah!!"ujar Daichi terkulai lemas di lantai.
"Kak Daichi bagaimana Grandpa?"kata Kai menghambur ke arah sang Kakak.
"Grandpa sedang ditangani di dalam, imouto-san. Tenanglah jangan menangis!"ujar Daichi membawa sang adik ke dalam pelukannya.
"Kak...... hiks....hiks....!"Kai masih saja menangis sedangkan Jayden tak berhenti menatap pintu ruangan operasi yang masih tertutup.
"Kak bagaimana Grandpa?"tanya si kembar Rion dan Rian pada si sulung Jayden.
"Dokter masih menangani Grandpa di dalam!"jawab Jayden dengan tatapan masih terfokus pada ruangan operasi.
Tak lama para Kakak Kai yang lain pun sampai di rumah sakit, mereka segera bergabung dengan Kai dan yang lainnya.
Sedangkan di markas cabang Yamaguchi yang lain usai mereka menghabisi para musuh bebuyutannya, semuanya langsung terbang ke Jepang karena mendapatkan kabar jika ketua klan Yamaguchi terluka.
Mereka cemas bukan main saat mendapatkan kabar jika Tuan Yamaguchi terluka parah dan harus dilarikan ke rumah sakit.
"Siapa di sini yang bernama Jayden, Rian, Rion?"tanya sang Dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Kami Dokter!"sahut ke tiganya.
__ADS_1
"Mari masuk, Ketua ingin berbicara dengan kalian Anda juga Nona Muda!"kata Dokter itu memanggil Kai.
Ke empatnya melangkah masuk ke ruang operasi. Terlihat lelaki tua yang tengah terbaring lemah dengan tubuh yang dipenuhi alat-alat untuk menopang kehidupannya.
"Grandpa...!"panggil Kai pelan.
"Kemarilah kalian!!"ujar laki-laki tua itu dengan suara lemah.
Ke empatnya mendekat ke arah bed hospital milik Tuan Yamaguchi.
"Jayden, tolong jaga adik bungsu kalian dengan baik begitu pun dengan kalian kembar. Jangan sampai ia bersedih apalagi menangis. Grandpa serahkan tugas menjaganya pada kalian ber....tiga.....!! Tiiiiiiiiiiiiit."
Ke empatnya panik dan segera berlari memanggil Dokter.
"Dokter cepat tolong Grandpa......!"teriak Kai.
Para Dokter berlari ke arah ruangan yang ditempati oleh ketua besar mereka itu.
"Tolong keluar sebentar!"kata Dokter itu kembali menutup pintu ruangan itu.
"Grandpa.......!"ucap Kai lirih.
Jayden langsung memeluk sang adik yang sedang menangis dengan kencang itu.
"Adek tenang dulu ya, biarkan Dokter melakukan tugasnya!"kata Jayden berusaha untuk menahan air matanya untuk tidak lirih.
Yang lain sebenarnya masih tidak menyukai kehadiran tiga Alexander muda itu namun tidak mungkin di saat seperti ini mereka menuntut penjelasan dari sang adik.
Tak lama Dokter pun keluar dari ruangan operasi.
"Bagaimana keadaan ketua, Dokter?"tanya Benjiro.
"Maaf, ketua tidak bisa kami selamatkan. Peluru itu berhasil menembus jantung dan paru-paru beliau!"sahut Dokter itu.
Semua keturunan Yamaguchi terdiam apalagi Jayden dan si kembar.
"Nggak.....nggak.... Grandpa.........!"teriak Kai berlari ke ruangan operasi memeluk jenazah Tuan Yamaguchi.
"Grandpa bangun.....jangan begini..........jangan ninggalin Kai......kenapa semuanya pergi ninggalin Kai??"ujar Kai terisak di jenazah sang kakek.
Rion dan Rian segera berlari ke arah Kai dan memeluk sang adik.
"Adek, sudah!"ujar Rion mengelus kepala sang adik.
Sedangkan yang lainnya terdiam memandangi jenazah Tuan Yamaguchi. Apalagi Benjiro dan Daichi keduanya nampak terpukul dengan kematian sang kakek. Sedangkan Jayden menatap dalam jenazah sang kakek.
"Takdir ini seperti mempermainkan ku!"gumamnya lirih disertai air mata yang mulai luruh di pipinya.
Hanya Isak tangis yang terdengar di ruangan itu. Para Dokter mulai mempersiapkan jenazah Tuan Yamaguchi untuk diterbangkan ke Rusia. Karena ia ingin dimakamkan di samping makam sang putri, Yamaguchi Himawari Aina.
__ADS_1