
Daddy Aldric, Alden dan Sam telah sampai di markas Yamaguchi. Dengan langkah tergesa-gesa Dady Aldric dituntun oleh Alden menuju ruang perawatan Kai. Seketika hati Dady Aldric mencelos melihat sang putri terbaring tidak berdaya di ranjang rawat.
"Baby, bangunlah sayang ini Dady!!!"lirih Dady Aldric memegang jari lentik milik sang putri.
"Baby tidak rindu dengan Dady?? Bangunlah sayang!!"ujar Dady Aldric mengusap punggung tangan putri kesayangannya.
Lalu Dady Aldric keluar dari ruang rawat Kai dan mencari anak-anaknya. Alan yang melihat Dady Aldric langsung berlari menubruk tubuh sang Dady.
"Maafkan aku Dad, aku gagal menjaga adikku"ujar Alan penuh penyesalan.
"Ini bukan salahmu, ini jalan yang harus kita lalui. Kuatlah demi adikmu, dia pasti tidak ingin melihatmu seperti ini!!"kata Dady Aldric mencoba menyemangati Alan.
Ketika Dady Aldric menenangkan Alan, Papa Harada datang ke ruangan itu. Dan menatap lama pada Dady Aldric.
"Ini kau Al??"tanya Papa Harada tidak percaya
"Kau......Harada????"tanya Dady Aldric kembali.
"Iya, astaga dunia ini sempit ternyata"ujar Papa Harada yang berjalan ke arah Papa Harada dan langsung memeluknya.
"Apa yang kau lakukan di sini??"tanya Dady Aldric.
"Aku pemimpin markas Yamaguchi wilayah Utara Al, dan kau sendiri sedang apa di markasku??"tanya Papa Harada.
"Mereka semua anak-anakku Harada!!"jelas Dady Aldric.
"Dan yang terbaring itu putri bungsuku"jawab Dady Aldric sendu.
"Dia anak adikku, Al."sahut Papa Harada.
"Aku tidak menyangka ternyata teman kuliahku adalah pemimpin wilayah Utara ini. Tapi kenapa kau tidak pernah menampakkan dirimu??"tanya Dady Aldric.
"Sebenarnya klan Yamaguchi sepenuhnya milik Musume, putri bungsu kita. Tapi sikap keras kepalanya tidak bisa dikendalikan oleh Papaku, terpaksa aku dan ketiga saudara yang sekarang memimpin di bawah pengawasan Papa dan juga Musume. Aku sebenarnya sama sekali tidak tertarik dengan dunia mafia. Tapi aku juga tidak ingin klan keluargaku hancur karena tidak memiliki pemimpin. Dan beruntung semua anak-anak mau membantu kami menjaga klan ini."jelas Papa Harada.
"Lalu bagaimana keadaan Baby bisa seperti ini??"tanya Dady Aldric.
__ADS_1
"Alan dan Musume ingin pergi ke mansion pribadi milik Musume, namun di tengah jalan mereka dihadang dan terjadilah baku tembak yang menyebabkan Musume terkena tembakan. Untung di saat itu ada dokter klan GOLDEN GLADIOL di sini, namun ia hanya bisa memperlambat kerja racun itu. Kita berharap saja ia bisa membuat penawar racun itu"jelas Papa Harada yang terlihat frustasi.
"Kadang aku bingung menghadapi Baby Kai, ia selalu menempatkan diri dalam situasi berbahaya. Jika dilarang ia akan mengancam meninggalkan mansion."tukas Dady Aldric.
"Itulah yang Papaku hadapi Al, makanya kami tidak memaksanya untuk mengurus klan ini. Walaupun secara tidak langsung ia sering campur tangan. Musume tidak akan tenang sebelum ia menemukan pembunuh Dadynya Maximilian Lucius Adler."terang Papa Harada.
"Lalu di mana dokter yang sedang menangani Baby, Harada??"tanya Dady Aldric.
"Saat ini ia ada di laboratorium mungkin sebentar lagi akan keluar karena sudah jam makan siang, karena tadi pagi ia melewatkan sarapannya."tutur Papa Harada.
Para remaja laki-laki itu heran menatap kedua laki-laki dewasa di depan mereka.
"Apa Dady dan Papa saling kenal??"tanya Daichi penasaran.
"Iya, Dady dan Harada dulu satu kampus saat di Oxford, dan ada satu orang lagi teman kami Kim Joo Yoon namun entah dimana sekarang si gendut berkaca mata tebal itu."ujar Dady Aldric.
Ketika mereka sedang berbincang, Taro terlihat bergegas melangkah ke arah mereka.
"Tuan Harada, ada masalah dengan Kai. Detak jantungnya melemah"lapor Taro pada Papa Harada.
Taro pun segera ke laboratorium memanggil Vikram dan Sam.
Mereka berlari ke arah ruang rawat Kai, yang saat ini sedang ditangani oleh dua orang perawat.
"Maaf Tuan-tuan, Anda sebaiknya menunggu di luar!!!"ucap salah satu perawat itu.
Vikram yang baru saja sampai segera menyelonong masuk ke ruang rawat Kai.
Namun Dady Aldric dan Papa Harada bersikeras untuk berada di ruangan itu, dan dibiarkan saja oleh Vikram karena saat ini fokusnya hanya pada sang adik.
"Dokter, saturasi oksigen pasien semakin menurun!!"lapor salah seorang perawat pada Vikram.
Vikram berusaha sekuat tenaga agar bisa menangani keadaan sang adik sebaik mungkin, mencoba untuk mengalahkan rasa takut akan kehilangan adik yang paling ia sayangi.
"Dok, jantung pasien juga semakin dan tekanan darahnya menurun!"lapor perawat itu yang mulai terlihat khawatir.
__ADS_1
"Pacemaker!!!! Segera!!"perintah Vikram pada kedua perawat itu.
Kedua perawat itu segera menyiapkan apa yang diminta oleh Vikram.
Vikram mengambil Pacemaker dan menggosokkan keduanya.
"250 joule!!"perintah Vikram pada perawat.
"250 Joule, clear!!"
Vikram meletakan Pacemaker itu di dada Kai namun detak jantung tidak meningkat sama sekali. Ia mencobanya sekali lagi namun tetap dengan hasil yang sama.
"Naikkan!!! 300 Joule!!"perintah Vikram lagi
"300 Joule, clear!!"
Namun lagi tidak membuahkan hasil, malah detak jantung Kai semakin menurun. Kali ini pertahanan Vikram hampir saja roboh jika Sam tidak segera mendekat dan menguatkannya.
"Tangani adek dengan profesional Vik!!! Jangan libatkan perasaanmu, Kai tidak akan suka!!"tutur Sam mencoba menguatkan Vikram walau pun hatinya sendiri saat serasa hancur melihat tubuh adik yang ia sayang terbaring tak berdaya.
Vikram mencoba sekali lagi.
"310 Joule!!!"perintah Vikram pada perawat.
"310 Joule, clear!!"
Namun.....
"Tiiitttttttttttt"
Bunyi nyaring alat pendeteksi jantung Kai dan monitor menunjukkan garis lurus yang menandakan jantung Kai berhenti berdetak.
"Adek, ini nggak lucu Abang nggak suka ini Kai"lirih Vikram dengan air mata yang sudah lolos dari matanya.
Sedangkan yang lain mencoba mencerna apa yang baru saja mereka saksikan.... Dady Aldric dan Papa Harada luruh ke lantai. Dunia nya telah hancur.....
__ADS_1
"Nggak.....ini cuma mimpi"gumam Sam menggeleng tidak percaya.