
Usai pertemuan mengharukan antara orang-orang itu Kai dan kedua Opanya kembali ke Indonesia dan Twins Uncle kembali ke Rusia sedangkan Syam dikirim oleh Kai ke Tiongkok untuk menjalani pengobatan bersaman Vanness dan Jerry ditemani oleh Zack.
Para Daddy dan Mommy heran sepulangnya Kai dari Malaysia banyak perubahan yang terjadi pada Kai, ia jadi lebih banyak diam dan melamun.
"Pa, sebenarnya apa yang terjadi kenapa Baby jadi sering melamun dan diam termenung seperti itu??"tanya Daddy Aldric penasaran.
"Baby, mendapatkan beberapa petunjuk tentang pelaku pembunuhan Max dan juga beberapa orang yang berkaitan dengan masa lalu Max namun yang lebih mengejutkan Baby memiliki tiga Kakak yang berasal dari ibu yang yang sama namun hingga sekarang identitas ke tiganya belum didapatkan oleh Haruto."jelas Opa Matius.
Kakak Kai yang lain ntah mengapa merasa tidak suka mendengar kabar itu padahal sebelumnya mereka juga saling bersaing untuk selalu berdekatan dengan si bungsu namun tidak pernah terselip rasa benci di hati mereka untuk satu sama lain.
Hari demi hari Kai lalui seperti biasa namun sekarang Kai mengurangi pengambilan misi karena pikirannya yang kurang fokus ia takut membahayakan Kakak-kakaknya dalam misi itu nanti.
"Baby, apa kamu akan terus seperti ini??"tanya Jo pada sang adik yang sedang bermalas-malasan di sofa.
"Kai nggak tau Bang, rasanya aneh saja mendengar penjelasan Grandpa Haruto mengenai tiga Kakak Kai lainnya. Entah harus senang ntah harus sedih. Kenapa rahasia ini disimpan begitu lama dari Kai apalagi mengenai semua hal yang terjadi pada Bubu. Membayangkannya saja membuat hati Kai sakit Bang."jawab Kai mendudukkan tubuhnya.
"Jangan menyerah Dek, jalani saja. Ambilah nanti tindakan yang menurutmu paling benar. Kami selalu ada di sampingmu!!"kata Melvin.
"Melvin benar imouto-san, kau tidak sendiri menghadapi semua ini kau punya kami. Kakak-kakak yang selalu akan menjaga dan melindungi mu!!"tambah Benjiro memeluk sang adik.
"Makasi Bang!"ujar Kai merasa lebih baik setelah mendengar perkataan para Kakaknya.
"Ayo tidur....besok sekolah!!"kata Alden menggendong sang adik di punggungnya.
Mereka mengikuti langkah kaki Alden menuju lantai dua untuk segera beristirahat karena besok harus masuk sekolah. Mereka kali ini kembali menemani sang adik tidur. Setidaknya itu bisa membuat Kai sedikit rileks menghadapi kerandoman para Kakaknya.
"Hufffff syukurlah para remaja itu sudah mulai berpikiran dewasa dan bisa sedikit menghibur adik mereka."ujar Papa Jacob.
"Kau benar Kak, kapan semua ini akan berakhir. Aku lebih merindukan putriku yang nakal dan bar bar dibandingkan dengan yang sekarang lebih banyak diam dan melamun!!"sahut Daddy Aldric.
"Sayangnya Baby tidak mengizinkan kita untuk ikut campur dalam masalah ini!"sahut Ace sedikit kecewa.
"Tapi bagaimana jika kita melakukannya secara diam-diam??"usul Uno.
"Kau benar, kita bisa melakukannya secara diam-diam!!"sahut Brandon.
Sepulang sekolah Kai pergi ke restoran untuk mengecek keadaan restorannya. Kai pergi sendiri karena ingin mencari ketenangan sejenak setelah menyelesaikan urusan restoran.
"Bang, Kai ke restoran sebentar ya mau ngecek perkembangan resto bentar!!"kata Kai saat menaiki motornya.
"Kami temani ya, Dek!!"kata Jackson pada sang adik karena perasaannya tidak enak.
"Nggak usah Bang, orang ke resto doang kan dekat dari Secret Palace!!"tolak Jo.
"Hmmm baiklah!"jawab Jackson sedikit kecewa begitu pula dengan Kakaknya yang lain.
Kai melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju restoran. Sekitar sepuluh menit Kai pun sampai di restoran dan melihat keadaan restorannya sangat ramai hari ini, setidaknya itu cukup membuat suasana hati Kai membaik. Kai menemui manager restoran untuk mendapatkan laporan keuangan restorannya.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian Kai keluar dari ruangan manager dan keluar untuk pergi ke pantai sebentar menenangkan hatinya.
Tak sengaja di pintu masuk Kai menabrak beberapa orang remaja laki-laki.
"Eh maaf!!"ujar Kai.
Lalu Kai melihat sebuah foto yang jatuh bersamaan dengan dompet laki-laki yang baru saja ia tabrak.
"Ini.....!!"Kai menatap lama foto yang baru saja ia pungut dari lantai.
Ke tiga laki-laki itu menoleh ke arah Kai.
"Lo......!!"kaget salah satu dari mereka.
"Kenapa foto nyokap gue ada sama kalian??"kata Kai dengan mata melotot tajam.
"Degh"
Jantung ke tiga laki-laki itu berdetak cepat mendengar ucapan yang baru saja Kai lontarkan.
"Greep"
"Eeeh lepas.....ngapain kalian meluk-meluk gue!!"kata Kai mencoba berontak dalam pelukan salah satu dari mereka.
Sedangkan dua laki-laki lainnya menangis terisak melihat gadis yang saat ini tengah dipeluk Kakak tertua mereka.
"Dek,.....ini Kakak!!"ujar laki-laki yang tadi memeluk Kai.
"Degh"
"Kakak??, apa mereka ini anak Bubu yang lahir di bawah siksaan itu??"bathin Kai dengan mata mulai mengembun.
"Adek!!"panggil dua laki-laki lainnya.
Kai melihat ke arah keduanya, rahang Kai mengetat dengan kuat, kenyataan macam apa ini. Takdir apa yang sedang ia jalani sekarang. Ke tiga laki-laki yang selama ini selalu mencari masalah dengannya adalah Kakak kandungnya. Yang lahir tanpa diberi status yang baik oleh laki-laki bajingan itu.
Kai lirih ke lantai namun dengan cepat ke dua laki-laki lainnya menangkap tubuh Kai.
"Dad, Kai harus apa sekarang?? Kenyataan ini begitu berat Dad. Mereka Kakak kandung Kai Dad anak dari laki-laki yang menyiksa Bubu namun nasib mereka lebih miris dari Kai Dad, Kai harus apa??"bathin Kai dengan bahu bergetar hebat karena menangis di pelukan ke tiga laki-laki itu.
Si sulung menggendong Kai ala bridal style dan memasukkannya ke mobil lalu membawa Kai ke tempat yang lebih tenang untuk bicara. Ia melakukan mobilnya ke arah pantai. Kau ke empatnya keluar dari mobil dengan Kai berjalan di antara mereka. Ke empatnya duduk begitu saja di pasir sambil memandang ke arah lautan lepas.
"Dek.....maafkan Kakak!!"ujar si sulung membuka pembicaraan diantara mereka namun lagi Kai masih diam otak Kai benar-benar sulit mencerna semua kejadian yang baru saja ia alami ini.
"Dek, bicaralah kalau pun kamu marah pada kami tidak apa. Tapi bicaralah!!"ujar si kembar.
Namun Kai tetap bungkam di seribu bahasa.
__ADS_1
"Kita memang nggak sepadan Dek, kami lahir dari sebuah kesalahan, keserakahan dan penderitaan ibu kita bukan dalam sebuah ikatan suci seperti anak lainnya. Dan kami juga bukan anak yang diinginkan oleh laki-laki baj*ngan itu. Tak apa kalau kamu tidak mau menerima kehadiran kami. Kami paham, tapi setidaknya kami sudah mengetahui siapa adik kami yang selama ini dipisahkan dari kami. Dan saat masanya tiba Kakak akan membalas semua rasa sakit yang ibu kita rasakan pada laki-laki brengs*k itu!!"ujar laki-laki yang tertua diantara mereka.
"Maafkan kami atas semua tindakan kami selama ini. Maaf atas keterlambatan kami dalam mengetahui siapa kamu sebenarnya. Dan seorang wanita yang dari dulu telah rela menjaga kami dari laki-laki baj*ngan itu juga meminta maaf padamu karena terlambat menyelamatkan ibu kita!!"ujar si kembar.
"Maafkan kami jaga dirimu baik-baik, Dek!!"ke tiga laki-laki itu terisak lalu bangkit berniat meninggalkan tempat itu karena mereka sadar sulit bagi Kai untuk memaafkan apalagi menerima mereka sebagai Kakak karena mereka anak dari laki-laki yang telah membuat luka yang begitu dalam bagi ibu mereka.
Ke tiganya berjalan ke arah mobil namun........
"Kakak......!"
Kai memeluk si sulung dari belakang.
"Dek.....!!"si sulung berbalik dan balas memeluk Kai tidak kalah erat. Begitu pun dengan si kembar yang ikut memeluk kedua saudaranya itu.
"Maafkan Kakak Dek!!"kata si sulung di sela tangisnya.
"Kakak!!"hanya itu yang bisa keluar dari mulut Kai ada rasa bahagia di hatinya memiliki Kakak kandung namun ada juga rasa sedih di hatinya karena sang ibu tidak bisa melihat mereka telah bertemu sekarang.
Usai puas melepaskan kerinduan mereka, si sulung mengajak sang adik untuk duduk di salah satu gazebo di sana.
"Kapan kalian mengetahui kalau kalian memiliki adik??"tanya Kai.
"Dua hari lalu, saat laki-laki baj*ngan itu memukul Mama lagi!!"ujar Rion.
"Memukul bagaimana??"tanya Kai tidak paham karena selama ini di keluarga Owen ia tidak pernah ada kekerasan apalagi pada wanita.
"Laki-laki baj*Ingan itu selalu memukul Mama jika ada ucapan Mama yang tidak ia sukai apalagi jika Mama melarang Amber, Berta dan Alicia mengikuti rencananya."ujar Rion.
"Lalu kenapa dia kenal dengan Bubu??"tanya Kai.
"Bubu??"beo ke tiga laki-laki itu.
"Ya, Kai memanggil ibu dengan Bubu!!"sahut Kai.
"Dulu saat Bubu disiksa habis-habisan oleh baj*ngan itu Mama menyuruh Bubu melarikan diri dan meninggalkan kami. Setelah itu baj*ngan itu berniat menjual kami namun dicegah oleh Mama karena Bubu berjanji akan menjemput kami, namun kata Mama setelah mendapatkan kabar dari Bubu bahwa ia baru saja melahirkan mu, Mama tidak mendapatkan kabar lagi dari Bubu hingga sekarang. Di mana Bubu, Dek??"tanya Rian penasaran.
Kai menarik nafas panjang, bagaimana cara memberi tau kalau ibu mereka telah meninggal.
"Ayo ikut Kai!!"katanya sambil menelpon seseorang.
"Bang, siapin pesawat ke Rusia sekarang!!"titah Kai pada pengawalnya.
"Dek, kita sebenarnya mau ke mana??"tanya Jayden pada sang adik.
"Ikut saja, kalian ingin bertemu dengan Bubu bukan??"kata Kai lalu duduk di kursi pengemudi dan ke tiga Kakaknya duduk di kursi lainnya.
Mereka tidak ingin banyak bertanya, mereka hanya mengikuti apa yang adik mereka perintahkan. Tidak lama mereka sampai di bandara dan terlihat sebuah pesawat telah menunggu mereka di landasan gerbang. Kai juga memberi tau sang Grandpa untuk bertemu di Rusia nanti. Jo juga memberi tau para Pamannya yang tak lain adalah Kakak dari Bubu mereka.
__ADS_1