Psykopat Gemoy Kesayangan The Owen

Psykopat Gemoy Kesayangan The Owen
Rengekan Kai


__ADS_3

Meja makan the Owen saat ini sudah diduduki oleh semua anggota keluarga. Kai duduk diantara Carl dan Brandon.


"Baby puas bermain hide and seek tadi??"tanya Opa Lucifer.


"Mmmm rasanya Kai tidak bermain hide and seek Opa, Kai tadi memetik rambutan di belakang mansion. Tau-tau bangun sudah di kamar"jawab Kai dengan watadosnya yang membuat gemas penghuni meja makan.


"Oooo jadi seperti itu ya??"tanya Papi Dixon dengan alis terangkat.


"Baby tadi kamu membuat seluruh mansion heboh karena mencarimu"ujar Mama Silvia dengan wajah kesal.


"Iya kah????"jawab Kai dengan mata melotot.


"Sudah....sudah lebih baik kita makan malam dulu"cegah Oma Emma yang yakin perdebatan unfaedah ini tidak akan ada habisnya.


"Dallen pimpin doa"titah Opa Lucifer


Makan malam dilalui dengan tenang. 20 menit kemudian makan malam pun usai.


Seluruh anggota keluarga duduk di ruang keluarga. Para Dady dan Opa sibuk dengan urusan kantor dan markas ZEUS (klan mafia milik keluarga the Owen). Begitu pun para Mommy dan Oma sibuk dengan urusan butik, restoran dan toko bunga. Sedangkan para Kakak tertua juga sibuk dengan urusan kantor dan perkuliahan mereka. Dan para bungsu duduk di atas karpet bulu sambil bermain handphone atau laptop mereka.


Kai mendekat pada Dady Aldric.


"Dad..."panggil Kai


"Baby mau apa hm"tanya Dady Aldric dengan suara beratnya.


"Bolehkah besok Kai masuk sekolah?"tanya Kai dengan senyum manisnya hingga membuat pipinya mirip mochi.


"Tidak Baby!"jawab Dady Aldric singkat.


"Tapi Dad Kai sudah pulih, ayolah Dad ya...ya...ya.."Kai mengeluarkan jurus rayuannya.


"Tapi Baby ..."namun perkataan Dady Aldric sudah dipotong oleh Kai.


"Ayolah Dad, Kai akan baik-baik saja lagian kan squadnya the Owen sudah bertambah buat jagain Kai di sekolah Dad,"rengek Kai menggoyang-goyang lengan sang Dady.


Para orang tua yang melihat hidung dan pipi Kai yang sudah mulai memerah karena mau menangis pun semakin gemas hingga menggigit pipi bagian dalam mulut mereka.


"Hufffff baiklah Baby besok kau boleh sekolah" ujar Dady Aldric mengalah.


"Asyikkkk makasi Dad, love Dady sekebun mansion"kekeh Kai memeluk Dady Aldric dan mencium pipi sang Dady.

__ADS_1


Dady Aldric mendapat pandangan tidak mengenakan dari seluruh anggota keluarga.


"Ok, waktunya tidur guys"ucap Mami Harlin.


Ke enam bungsu the Owen beranjak menuju kamar masing-masing. Jo mencuri start untuk menggendong sang adik. Membuat si bungsu terkejut bukan main, namun bisa apa keluarganya mempunyai kebiasaan seperti itu. Tapi Kai merasakan kebahagiaan bisa merasakan memiliki Kakak yang baik dan menyayanginya dengan tulus walau kadang sedikit protektif.


"Night Baby"ucap boys bungsu pada adik kecil mereka dan bergantian mencium pipi sang adik.


"Night too Abang Kakak"jawab Kai mencari PW untuk tidur.


Chayton menutup pintu kamar sibungsu dengan perlahan. Dan mereka menuju kamar masing-masing untuk segera beristirahat.


Sekarang jadwal untuk membangunkan si bungsu jatuh pada Mama Silvia. Mama Silvia dengan gaya bar-barnya akan membangunkan Baby kesayangannya itu.


"Ceklek"


Mama Silvia membuka pintu kamar Kai, dan disuguhkan dengan pemandangan si bungsu masih tertidur lelap.


"Baby bangun..."ujar Mama Silvia dan belum mendapat respon dari si bungsu.


Mama Silvia berteriak di telinga Kai agar Baby koala itu segera bangun.


"Apa an dah toa mesjid di Tarok di kamar gue. Berisik banget"oceh Kai setengah sadar.


"Kai Nararya Lucifer Owen.....!"teriak Mama Silvia yang membuat Kai terlonjak dan terduduk.


"Astaga ampun kanjeng ratu Mama, Kai khilaf"ucap Kai yang berlari ke kamar mandi menyelamatkan diri dari amukan singa PMS.


"Anak itu kapan akan berubah bangun selalu kesiangan senang sekali membuat gula darahku naik. Untung sayang"gerutu Mama Silvia menuju kamarnya.


"Ada apa sayang?? Pagi-pagi sudah seperti singa."ucap Papa Arthur pada Mama Silvia.


"Apa kau bilang, singa?????"teriak Mama Silvia menggema di kamar mereka.


"Astaga aku membangunkan singa tidur, bisa tidur di luar ini"gerutu Papa Arthur menyadari kebodohannya.


"Bu....bukan itu sayang, aku hanya bertanya kenapa kau marah pagi-pagi. Itu saja sayang"bujuk Papa Arthur memeluk Mama Silvia.


"Kau sama saja dengan putrimu, tiap pagi membuatku darah tinggi."kesal Mama Silvia melerai pelukan Papa Arthur dan melangkah ke luar kamar.


"Astaga Baby, kau menyeret Papamu ini dalam masalah"keluh Papa Arthur

__ADS_1


Mama Silvia menuju dapur untuk membantu Mommy Fanny dan Mami Harlin untuk menyiapkan sarapan.


"Kak Silvia kenapa???"tanya Mami Harlin.


"Si bungsu setiap pagi selalu membuatku senam jantung"gerutu Mama Silvia.


Mommy Fanny dan Mami Harlin hanya bisa menahan diri agar tidak tertawa lepas, salah-salah mereka yang akan diamuk kakak tertua mereka ini.


Semua sudah duduk di meja makan. Mama Silvia masih menatap kesal pada sang putri. Yang ditatap malah cengengesan di samping Opa Lucifer.


Mereka bingung dengan situasi yang sedang berlangsung. Biasanya Mama Silvia akan marah seperti itu jika menghadapi kenakalan si kembar Chayden dan Chayton. Tapi sekarang mereka kan tidak pernah lagi berulah lagi siapa tersangkanya sekarang???


"Ekhem ayo sarapan, Aldric pimpin doa" titah Opa Lucifer.


Sarapan pun selesai, para bungsu pamit untuk berangkat sekolah. Ketika Kai pamit pada Mama Silvia Kai mulai menjahilinya lagi.


"Maafin Kai ya Mama kanjeng ratu, tadi khilaf"ucapnya nyengir...


"Ada apa ini??"tanya Papi Dixon penasaran.


"Ini Pi, Kai mau minta maaf sama Mama karena tadi bilang suara Mama kayak toa mesjid"cicit Kai di belakang Alan.


"Puffft bwahhhahhhhah"seketika tawa semua bungsu meledak yang membuat Mama Silvia makin meradang.


"Kaiiiii"teriak Mama Silvia


Kai mengambil ancang-ancang kabur dan segera menyalakan motornya sebelum motor kesayangannya disita Mama Silvia.


"Baby tunggu,"teriak Jo yang segera menyusul sang adik dan diikuti bungsu lainnya.


"Apa Baby selalu membuatmu marah seperti ini Silvia??"tanya Oma Emma menahan tawanya.


"Iya Mom, tapi aku tak bisa betul-betul marah padanya. Itu seperti tradisi setiap pagi bagi kami"jawab Mama Silvia memandang bungsu itu yang telah hilang dari pandangan mata.


"Iya, membangunkan bayi satu itu memang banyak dramanya"tambah Mami Harlin.


"Stok kesabaran harus tebal"imbuh Mommy Fanny.


Mereka tertawa bersama mengingat tingkah absurd dan random Baby kesayangan mereka.


Mansion itu sekarang tidak pernah sepi dari tawa dan keceriaan semenjak kedatangan Baby Kai ke sana.

__ADS_1


__ADS_2