
Benjiro memarkirkan mobil di depan IGD Owen's Hospital, dengan segera Alden membawa tubuh sang adik ke atas brankar. Brandon yang melihat adik-adiknya berlari di koridor segera mengambil alih Kai.
Terlihat raut kecemasan di seluruh wajah mereka. Tapi yang sedang dicemaskan malah tersenyum melihat kekonyolan para Kakaknya.
"Baby kapan kau mendapat luka ini??"tanya Brandon pada sang adik.
"Saat melaksanakan misi Kak"jawab Kai tersenyum.
"Kakak akan segera membersihkan dan menjahit kembali lukamu"ujar Brandon pada Kai.
"Iya Kak"jawab Kai.
Brandon memberikan bius lokal pada sang adik, Brandon meringis begitu melihat luka sang adik.
"Astaga Baby, kok bisa jadi gini sih"tanya Brandon tidak habis pikir.
"Namanya juga lagi lengah Kak, ya udah kena dor deh"jawab Kai santai.
"Kakak tidak ingin lagi kamu melakukan misi Baby"sahut Brandon tegas.
"Maaf Kak Kai tidak akan berhenti sebelum menemukan pembunuh Dady Ian. Kalau dilarang Kai akan menghilang, Kai ngga peduli."kesal Kai kemudian menutup matanya.
Brandon pun kembali melanjutkan tugasnya, ia takut jika terus melayani kemarahan sang adik akan berakhir dengan tidak baik baginya.
Setelah semuanya selesai, Brandon memerintahkan suster untuk memindahkan Kai ke ruangan khusus the Owen.
Saat melewati koridor rumah sakit, Brandon melihat kalau adik bungsunya yang lain masih berada di sana dengan wajah kusut.
Brandon pun mendekati mereka.
"Kalian tenang saja, Baby sudah tidak apa-apa, apa kalian sudah memberi tahu orang rumah??"tanya Brandon pada adik-adiknya.
"Astaga belum Kak,"jawab Chayton yang kemudian menelpon Mama Silvia.
Setengah jam kemudian para tetua the Owen sampai di Owen's Hospital. Terdengar bunyi derap langkah menuju kamar rawat Kai.
"Bagaimana keadaan Baby??"tanya Mommy Fanny yang panik mendengar putrinya terkena luka tembak.
"Baby sudah baik Mom, aku hanya memberikan Baby obat tidur agar bisa beristirahat, kalau tidak kalian tahu kan dia anak yang super aktif. Akan sulit untuk membuatnya diam"ujar Brandon.
"Syukurlah"ucap Oma Emma.
"Bisakah kita melihatnya sekarang??"tanya Opa Matius yang sudah tidak sabar.
"Boleh Opa"jawab Brandon.
The Owen family pun menuju ruang rawat Kai.
Terlihat seorang remaja putri berpipi chubby yang tengah tidur dengan tenang.
"Apa luka tembak itu Baby peroleh ketika menjalankan misi kemarin B??"tanya Dady Aldric pada Brandon.
__ADS_1
"Iya Dad, aku mencoba untuk membuatnya berhenti menerima misi, namun baby menolaknya. Baby tidak akan berhenti menerima misi hingga ia menemukan pembunuh Uncle Ian. Dan jika kita bersikeras melarangnya, dia akan meninggalkan mansion"ujar Brandon pada Dady Aldric.
Semua yang ada di ruangan itu hanya bisa menghela nafas panjang.
Tak terasa sekarang sudah hampir sore, namun belum ada tanda-tanda Kai akan bangun. Keluarga the Owen bergantian pulang ke mansion untuk bersih-bersih dan juga mengambil segala keperluan Kai untuk di rumah sakit.
"Sssssh"
Terdengar desisan Kai yang baru sadar dari tidurnya.
"Baby...."panggil Oma Emma.
"Oma....haus"rengek Kai.
"Sebentar Baby"ucap Oma Emma yang terkekeh melihat wajah bantal sang cucu.
Ketika Oma sedang memberikan minum pada Kai, pintu kamar rawat dibuka oleh Mommy dan Dadynya, tapi ada satu hal yang membuat Kai tidak suka. Kehadiran seorang wanita dan juga seorang remaja putri yang berusia mungkin seumuran dengan Kakak bungsunya.
"Baby kau sudah sadar"teriak Alan berlari ke ranjang sang adik.
"Hu um"jawab Kai yang membuat mereka sangat ingin menguyel-nguyel pipi chubby Kai.
"Kau membuat Kakak panik Baby"imbuh Ace.
"Maaf Kak"jawab Kai dengan puppies eyesnya.
"Oooo sayang Dady,"ujar Dady Aldric yang berjalan ke arah ranjang sang putri dan memeluk hangat dan mencium kepalanya.
"Hmmm Baby, kenalkan itu Aunty Elizabeth dan putrinya Gina"ucap Dady Aldric yang hanya dibalas anggukan oleh Kai.
"Elizabeth Marcellino??"tebak Kai dan sontak membuat pucat kedua wanita itu.
"Bbu..Bu..kan hanya Elizabeth saja"ucap wanita itu dengan wajah panik yang coba ia sembunyikan. Sedangkan kedua orang yang dari tadi memperhatikan interaksi tidak biasa Kai juga saling melempar pandangan dengan senyum smirk andalan mereka.
"Maksudmu apa Baby??"tanya Mommy Fanny.
"Kai kira Eliza Marcellino, mirip dengan kenalan Kai yang saat ini ada di Brazil"jawab Kai memancing kembali kepanikan di wajah wanita itu dan yah sukses, dia panik kembali.
"Aunty ini teman Mommy ketika di panti dulu Baby?"jawab Mommy Fanny.
"Ohhh" jawab Kai singkat.
"Apakah ini anak pungut Aunty Fanny??"tanya Ghina tanpa rasa bersalah.
Tentu saja itu membuat seluruh anggota the Owen menatap tajam ke arah Ghina.
"Bukan, dia anak dari mendiang Kakak Aunty"jelas Mommy Fanny takut putrinya tersinggung dengan pertanyaan Ghina.
"Tapi tetap saja dia bukan anak kandung Aunty dan Uncle bukan??"tanya Ghina lagi.
"Kak, Kai lapar..."kata Kai memutus omongan yang tiada arti itu.
__ADS_1
"Maaf Baby, Baby mau makan apa?"tanya Brandon pada sang adik.
"Apa saja Kak, yang penting jangan makanan rumah sakit, hambar ga enak"oceh Kai yang disertai kekehan semua keluarga.
"Bagaimana jika bubur kanji Rumbi, itu enak dengan toping udang??"tanya Ace
"Ok, Kak"jawab Kai mengangkat kedua jempolnya.
Menunggu makanan yang ia pesan datang, semua Kakak Kai duduk di sekeliling ranjang sang adik. Terlihat para kakaknya seolah bergantian menjahili sang adik. Sedangkan para tetua dan kedua wanita tadi ikut bergabung dengan mereka.
"Boys jangan terlalu menjahili adik kalian"ucap Papa Arthur memperingatkan anak laki-lakinya.
Namun tetap saja aksi menjahili itu tetap berlanjut, hingga Kai merengek memanggil Dady Aldric.
"Dady......Abang mengejek Kai Hua......."rengek Kai.
Dady Aldric pun segera berlari ke ranjang sang putri.
"Boys kalian tidak mendengarkan peringatan Papa kalian, maka malam ini kalian tidak boleh menginap di sini!!"tegas Dady Aldric pada semua anak laki-lakinya.
"O Dad, it's not fair"jawab Edward.
"Lagian kenapa Kakak semua harus menjaganya, kan dia sudah besar, di sini juga ada keluarga yang lain. Lebih kita pulang ke mansion dan temani Ghina di sana"ucap Ghina dengan nada manja.
"Kau pergi saja ke mansion sendiri, aku akan menjaga adikku di sini,"sarkas Carl yang tidak menyukai kehadiran Ghina.
"Yah, kau saja yang pulang, kami akan menjaga adik kami di sini"tambah Dallen.
Jawaban mereka membuat Ghina benar-benar geram hingga mengepalkan tangannya diam-diam.
Semua itu dapat dilihat dengan jelas oleh Kai. Ya maklum insting mafia gitu loh guys.
"Maaf ya Ghina, Kakak Baby memang seperti itu jika adiknya sakit. Mereka tidak akan mau dijauhkan dari adiknya"ucap Mommy Fanny meminta maaf atas perkataan putra-putranya.
"Kenapa harus minta maaf Kak Fanny, Ghina itu saja yang terlalu ikut campur urusan Baby dan Kakak-kakaknya"ketus Mami Harlin yang muak dengan kehadiran Aunty Elizabeth dan Ghina.
"Maksud Ghina itu baik kok Harlin, dia cuma ingin Kakak Kai beristirahat dengan baik"ucap Aunty Elizabeth membela sang putri.
"Tidak usah mengurus kami, tidak usah sok memikirkan kami"ujar Jo.
"Boys, your words"peringat Dady Aldric.
"Dady memarahi Bang Jo"ucap Kai yang membuat Dady Aldric gelagapan.
"Tidak Baby, Dady hanya mengingatkan sayang"jawab Dady Aldric.
"Kai tidak mau Dady memarahi kakak-kakak Kai karena orang luar"ketus Kai dan menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut.
"Tidak Baby, maafkan Dady"ujar Dady Aldric namun tetap tidak digubris oleh Kai.
"Biarkan saja Uncle, kenapa harus dibujuk segala, manja sekali"oceh Ghina lagi dan kali ini membuat Papi Jason marah besar.
__ADS_1
"Aldric bawa kedua wanita ini keluar dari sini, jika tidak kau tau akibatnya!"ancam Papi Jason.
Mau tidak mau akhirnya malam itu Mommy Fanny dan Dady Aldric tidak bisa menemani Kai dan terpaksa tidur di mansion.