
Semuanya anggota inti GOLDEN GLADIOL aka Anos telah berkumpul di ruang pertemuan milik Zeus. Dua tim yang melakukan tugas ke Brazil dan Meksiko juga telah kembali dan bergabung bersama mereka. Di sana juga ada Erlang yang masih duduk di kursi roda juga Ronney Abraham, Michael Al Barca dan Marie Frederick Alexander dalam keadaan tidak sadar dan terikat.
Erlang membuka suara ingin meminta maaf pada Alden khususnya geng BLACK HOLE.
"Bbbos...maafin gue!!"kata Erlang terbata.
"Lo tau kan nggak ada maaf buat seorang pengkhianat dalam kamus gue!!!"sahut Alden datar.
"Gue tau, dan gue siap dihukum Bos!!"jawab Erlang mantap.
"Gue emang bakal ngehukum Lo dan ngeluarin Lo dari BLACK HOLE dan OIHS!!"jawab Alden lebih dingin.
Tanpa sadar Erlang berlari dan berlutut di kaki Alden.
"Bbsos gue mohon hukum gue apa aja, tapi jangan keluarin gue dari sekolah dan BLACK HOLE!!"mohon Erlang.
Alan dan Jo memapah Erlang kembali ke kursi rodanya, keduanya merasa kasihan pada Erlang.
"Itu udah final, Lo cabut dari sekolah dan BLACK HOLE!!"kata Alden dengan suara menggelegar.
Erlang hanya bisa menangis merenungi kesalahannya. Ke mana ia akan melangkah setelah ini apalagi setelah Erlang tau kalau Ronney Abraham bukanlah kakek kandungnya. Ia hanya dijadikan alat untuk menghancurkan musuh oleh laki-laki tua itu.
"Tolong, maafin gue Bbos!!"ujar Erlang disela tangisnya.
Tak lama terdengar suara ketukan sepatu di lorong markas Zeus. Seorang laki-laki seusia dengan Opa Matius memasuki ruang pertemuan itu.
"Apa kabar kalian, Owen's bersaudara??"tanya laki-laki itu pada duo Opa.
"Baik, Dellano."ujar duo Opa menyambut dan memeluk laki-laki itu secara bergantian.
"Dan mereka??"tanya Tuan Dellano pada duo Opa.
"Mereka semua anak dan cucu-cucuku!!"jawab Opa Matius.
"Kau ingin membuat kubu mafia sendiri, Mat??"gurau tuan Dellano.
"Kalau bisa kenapa tidak??"jawab Opa Matius.
"Kau duduklah dulu!!"kata Opa Lucifer pada tuan Dellano.
"Hei, siapa gadis kecil itu??"tanya Tuan Dellano menunjuk ke arah Kai.
"Dia cucu bungsuku, Kai!!"jawab Opa Matius.
"Baiklah, jadi apa tujuanmu kemari, Dellano Roosevelt??"tanya Opa Matius tanpa basa basi.
"Lady Chucky mengirim pesan padaku untuk menjemput cucuku kemari!!"ujar tuan Dellano.
"Ihhh, baiklah. Jadi kau sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucumu??"tanya Opa Lucifer.
"Betul, Lu. Aku ingin segera bertemu dengannya!!"ujar tuan Dellano.
__ADS_1
Alan mendorong kursi roda milik Erlang ke arah tuan Dellano. Di sisi Erlang ia sangat ketakutan apa ini hukuman yang akan diberikan oleh Alden diberikan pada ketua mafia dari Eropa. Jantungnya berdegup kencang, ekspresi ketakutannya terlihat jelas.
"Silakan, Opa Dellano ini cucumu!!"tutur Alan dan membuat Erlang terkejut.
Tuan Dellano menatap dalam pada kedua netra Erlang, terlihat jelas netra itu sama dengan milik mendiang putranya.
"Greb"
Tuan Dellano langsung memeluk Erlang dengan erat dan mencium pucuk kepala sang cucu berkali-kali.
"Akhirnya Kakek menemukanmu, Cucuku!!"ujar tuan Dellano berurai air mata.
"Benarkah Anda Kakek kandung saya??"tanya Erlang.
"Apa kau meragukanku, Boy??"tanya tuan Dellano.
"Bukan begitu, hanya aku memiliki pengalaman tidak baik dengan orang yang memiliki sebutan Kakek!!"ujar Erlang.
"Kau cucuku, satu-satunya penerusku. Penerus klan Dellano!!"ujar tuan Dellano.
Erlang kembali memeluk tuan Dellano dengan erat. Rasanya kali ini tidak akan salah, karena Erlang menemukan kenyamanan ketika berada di pelukan Tuan Dellano.
"Cukup nostalgianya, Dellano. Apa kau tidak ingin membalas kematian anak dan menantumu??"tanya Opa Lucifer.
"Itu yang sangat ku nantikan, Lu. Mana baj*ngan itu??"tanya tuan Dellano mengeluarkan aura hitamnya.
"Siram dia!!"titah Opa Matius pada salah seorang pengawal.
Pengawal itu pun mengambil seember air yang dicampur dengan es untuk disiramkan pada Ronney Abraham.
Ronney Abraham terkejut dan merasakan dingin di sekujur tubuhnya ulah air es yang disiramkan pengawal tadi.
"Bangs*t siapa yang berani mengikatku??"bentak Ronney Abraham.
"Kau ingat aku?? Old friend!!"kata tuan Dellano dengan menekan dua kata terakhir.
"Kau.....bagaimana bisa dan kau.......!!"mata Ronney Abraham tertuju pada Erlang yang saat ini berdiri di samping Tuan Dellano.
"Kenapa, kau terkejut aku bisa menemukan cucuku?? Jangan lupa Ronney Abraham koneksiku ada di mana saja!!"ujar tuan Dellano angkuh.
"Kau berani padaku karena aku dalam keadaan terikat begini!!"ejek Ronney Abraham.
"Lepaskan dia!!"titah Opa Matius.
Dua orang pengawal Zeus melepas ikatan Ronney Abraham. Namun baru saja ia mengambil ancang-ancang sebuah pukulan mendarat di wajahnya.
"Itu karena Lo ngirim anak ama cucu Lo ke keluarga gue. Dan ini buat cucu Lo yang berani ngebentak para bodyguard mansion gue!!" kata Kai melayangkan sebuah tendangan yang membuat Ronney Abraham terkapar tak berdaya.
"Astaga, bahkan melawan seorang gadis saja kau kalah, Ronney!!"ejek tuan Dellano.
"Brengs*k!!"maki Ronney Abraham bersiap memberi pukulan pada Tuan Dellano.
__ADS_1
Perkelahian keduanya berlangsung sengit, semua orang di ruangan itu hanya jadi penonton yang baik.
"Kakek, cukup!!"kata Erlang menghalangi Tuan Dellano memukuli Ronney Abraham.
"Apa kau menyayanginya, Cucuku??"tanya Tuan Dellano dengan nada sendu.
"Aku juga ingin membalas kematian kedua orang tuaku dan juga atas penderitaan ku selama ini akibat ulahnya, Kek!!"ujar Erlang.
"Baiklah, sekarang dia bagianmu!!"kata tuan Dellano mengambil tempat duduk di sebelah Kai.
Erlang memukuli Ronney secara brutal tidak sedikitpun ia memberi celah pada Ronney untuk membalas setiap pukulannya. Hingga akhirnya Ronney terkapar tidak berdaya dengan keadaan wajah yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Finish him!!"kata Alden melemparkan sebuah belati pada Erlang.
Erlang menangkap belati itu dengan bersemangat, dengan membabi buta Erlang menusuk tubuh Ronney hingga darah terciprat ke mana-mana.
"Ini buat kedua orang tua gue dan ini buat penderitaan gue selama jadi budak Lo, tua Bangka keparat!!"kata Erlang menebas putus kepala Ronney.
Nafas Erlang memburu, ada perasaan sangat lega ia rasakan saat ini.
Alden dan Alan berjalan ke arah Erlang.
"Mulai hari ini Lo keluar dari BLACK HOLE dan OIHS, ikutlah dengan Tuan Dellano tempat Lo yang seharusnya bersama dia!!"kata Alden dan diangguki oleh Alan.
"Tapi, Bos.......!!"Erlang ingin protes namun Alden telah lebih dulu duduk kembali di kursinya.
Tuan Dellano memperhatikan Alden dan Alan sedari tadi, tuan Dellano nampak tertarik dengan tato Phoenix yang ada di pelipis mereka. Dan tato yang sama juga ada pada pemuda lainnya juga pada Kai.
"Mat, apa keluargamu keluarga terpilih itu??"tanya tuan Dellano.
"Maksudmu??"tanya Opa Matius bingung.
"Apa kalian tidak tau mengenai sebuah legenda lama, di mana akan ada suatu masa siang saat raja iblis Anos, akan memilih sendiri pewaris dan anggotanya. Dan mereka memiliki tanda khusus di tubuh mereka."tutur tuan Dellano.
"Oh aku tidak mengetahui masalah legenda itu, Dellano dan mengenai tato burung Phoenix itu adalah ulah cucu-cucu ku karena itu akan menjadi tanda mereka satu sama lain dan dibuat dengan tinta khusus!!"elak Opa Matius.
"Ku kira keluargamu adalah keluarga terpilih itu, aku akan sangat bangga bisa menjadi salah satu koneksi kalian!!"kata tuan Dellano mendesah kecewa.
"Kau ada-ada saja, Dellano!!"kata Opa Lucifer menertawakan tuan Dellano.
"Baiklah, aku harus segera kembali ke Spanyol. Istriku pasti senang bisa bertemu lagi dengan cucunya ini!"girang tuan Dellano.
"Baiklah, kalian berhati-hatilah!!"kata Opa Lucifer.
"Kek, apa Erlang tidak bisa di sini saja?? Alden dan yang lain udah nemenin Erlang sejak kecil, Kek!!"kata Erlang yang rasanya berat meninggalkan Alden dan BLACK HOLE.
"Kita harus pulang, Boy. Nenekmu sangat merindukanmu!!"kata tuan Dellano tegas.
Erlang menghela nafas panjang lalu memeluk satu persatu Alden bersaudara. Hingga sampai pada Kai.
"Princess, terima kasih!!"ujar Erlang dan pergi begitu saja meninggalkan semua orang di ruangan itu. Alden dan Alan sendiri tak kalah sedih, sebab mereka bertiga besar dan tumbuh bersama namun keduanya masih bisa menutup kesedihan di wajah mereka.
__ADS_1
"Owen, terima kasih atas bantuan kalian. Aku pergi dulu!!"kata Tuan Dellano menyusul sang cucu.
"See you, Dellano!!"sahut Opa Matius.