
'Usai acara acara penyerahan hadiah, Kai pun segera diajak pulang oleh Edric.
"Baby saatnya untuk pulang!!!"ajak Edric pada Kai.
"Iya Kak,......eh tunggu dulu Kak Kai ingin menemui teman-teman Kai dulu. Tadi mereka yang nemenin Kai di sini"jelas Kai.
"Di mana mereka??"tanya Edric lagi.
"Di sana"tunjuk Kai pada segerombolan anak laki-laki yang masih duduk menunggu Kai.
Melihat Kai datang dengan Kakaknya, membuat semua remaja laki-laki itu ketar ketir, mereka takut akan mendapat masalah karena telah membantu Kai melarikan diri.
"Hiii guys gue menang ini!!!"teriak Kai ke arah teman-temannya dan disambut dengan sorakan kegembiraan dari teman-temannya.
"Hmmmm.. Kakak Lo marah ga sama kita???"tanya Jordan yang mulai panik.
"Ngga tenang aja, mana mungkin kalian akan dimarahi."ucap Kai menenangkan teman-temannya.
"Kalian yang tadi menemani adik saya??"tanya Edric pada teman-temannya Kai.
"Iya Bang"jawab mereka menunduk
"Kenapa menunduk saya ngga makan orang. Saya mau mengucapkan terima kasih karena kalian telah menjaga adik saya"tutur Edric pada teman-teman Kai.
"Ayo kita temui tetua Baby!!!!ajak Edric merangkul bahu sang adik.
"Kalian juga ayo ikut"titah Edric dengan nada tidak mau dibantah.
Mau tidak mau mereka terpaksa mengikuti ajakan Edric.
Edric membawa Kai dan teman-temannya menuju ruangan pribadi milik Edric.
Di sana para tetua telah menunggu Kai, termasuk juga Ghina dan Aunty Elizabeth.
Kai sedikit menegang memasuki ruangan itu. Ia menatap ke arah Edric seolah tidak ingin memasuki ruangan tersebut, namun Edric malah semakin kuat menarik rangkulannya pada bahu Kai. Begitu pula dengan teman-teman Kai yang merasakan suasana horor ketika memasuki ruangan itu.
__ADS_1
"Puas bermainnya Baby???"tanya Papa Jacob.
"Ma...maaf Pa"jawab Kai menunduk.
"Kenapa Baby tadi tidak bilang saja kalau akan ikut acara ini??"tanya Oma Emma dengan lembut.
"Maaf Oma, Kai takut nanti ga dikasih izin untuk ikut acara ini"jawab Kai masih menunduk.
"Kamu kan belum bicara dari mana tau kalau kami tidak memberi izin???"tanya Oma Emma lagi dan kali ini tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Kai.
"Ck, kamu anak yang ga tau diri. Cuma nyusahin keluarga. Gara-gara kamu satu mansion jadi sibuk nyariin kamu tau ga. Eh kamunya malah senang-senang di sini"kata Ghina memanas-manasi keadaan.
Perkataan Ghina hampir saja membuat Alden lepas kendali dengan emosinya, tetapi tidak jadi karena teman Kai telah mendahuluinya.
"Lo punya mulut dijaga, teman gue di sini ikut kompetisi. Main ngegas aja tu congor gue sulam ntar"sengit Liu teman Kai yang langsung pasang badan tanpa melihat keadaan mereka dikelilingi the Owen.
Keluarga Owen's yang menyaksikan keberanian teman Kai itu kagum, ternyata putri mereka memiliki teman yang betul-betul bisa menjaga putri mereka. Walau pun mereka tau Kai juga tetap bisa menjaga dirinya sendiri.
"Kamu orang luar jangan ikut campur!!!"bentak Aunty Elizabeth.
"Cukup!!"tegas Opa Matius.
"Jadi bagaimana perasaanmu sekarang Baby???"tanya Papi Jason.
"Senang banget Pi, selain famous dapat cuan dapat mobil Ama motor sports keluaran terbaru lagi"ujar Kai tersenyum bangga.
Papi Jason pun melangkah ke arah Kai dan memeluk Kai memberi selamat.
"Selamat ya Little Bee, Papi bangga sama kamu. Bisa berprestasi tanpa membawa embel-embel nama keluarga. Ingin hadiah apa dari Papi??"tanya Papi Jason pada Kai.
"Mau sayang Ama cintanya Papi aja banyak-banyak"jawab Kai mengeratkan pelukannya pada Papi Jason.
"Sama Papi Dixon dan Mami Harlin ga mau minta hadiah juga??"tanya Mami Harlin kesal putrinya tidak meminta hadiah apapun.
"Lho kok ga minta hadiah Baby, mumpung Papi lagi baik"provokasi Jo pada sang adik.
__ADS_1
Namun sepertinya itu semua tidak mempengaruhi pemikiran Kai.
"Uang Kai sendiri udah banyak, mansion sendiri ada, pulau pribadi juga ada, perusahaan sendiri ada, rumah sakit sendiri juga ada tambang sendiri ada banyak jadi mau minta apalagi coba??"tanya Kai menyombongkan diri.
"Hahhhh...."kaget mereka semua yang ada dalam ruangan itu.
"Halah kamu jangan sok-sokan, uang dari mana kamu??? Jual diri?"tanya Ghina semakin memanaskan suasana.
"Srettt...."sebuah shuriken melukai pipi mulus milik Ghina.
"Auh......."teriak Ghina.
"Kau kurang ajar, beraninya kau melukai anakku!"bentak Aunty Elizabeth pada Kai.
"Makanya suruh jaga tu congor. Gue ga takut buat nebas kepala Lo. Paham??"ucap Kai dengan mata tajam memandang Ghina.
"Sudah bagaimana kalau kita makan di restoran Mami Harlin, merayakan kemenangan bungsu the Owen"ucap Opa Lucifer yang tidak mengacuhkan Aunty Elizabeth dan Ghina.
"Tapi Uncle Lucifer, Kai telah melukai Ghina. Lihat pipinya!!"tukas Aunty Elizabeth mencegah kepergian para Owen.
"Salah siapa mulut putrimu sepedas bon cabe"jawab Chayton menahan tawanya.
"Betul itu, untuk lidahnya tidak dijadikan imouto-san makanan Chima dan Chimee di mansion"tambah Daichi yang akhirnya membuat semua cucu the Owen tertawa lepas. Para tetua hanya bisa menahan tawanya karena masih mengingat ada Dady Aldric dan Mommy Fanny di sana. Bagaimana pun Elizabeth itu teman mereka.
Aunty Elizabeth melihat ke arah Dady Aldric, namun Dady Aldric hanya membuang muka suasana hati putrinya sedang baik dia tidak ingin mengacaukannya dengan membela Ghina. Aunty Elizabeth dan Ghina merasa amat sangat terhina. Keinginan mereka untuk menghancurkan the Owen semakin besar.
"Sudah ayo kita makan, kasian Baby dan teman-temannya pasti sudah kelaparan"ujar Opa Matius yang menggendong sang cucu dengan hati-hati takut luka di perut Kai robek kembali. Kai pun segera mencari posisi yang nyaman untuk bisa tidur sejenak dalam gendongan sang Opa. Karena ia memang sudah merasa lapar dan juga sangat lelah setelah mengikuti kompetisi ini.
Yang lain pun segera mengikuti langkah Opa Matius sambil sesekali berseloroh selama perjalanan.
Selama lebih kurang tiga puluh menit berkendara akhirnya mereka sampai di restoran milik Mami Harlin. Restoran yang sangat mewah dengan gaya arsitektur bangunan Eropa klasik.
Mami Harlin mengarahkan mereka menuju VVIP ROOM agar kenyamanan mereka selama makan tidak terganggu. Mami Harlin memanggil kepala pelayan dan menyuruh menghidangkan makanan terfavorit milik restorannya. Sambil menunggu makanan datang mereka berbincang-bincang ringan. Teman-teman mulanya terlihat agak canggung berbincang dengan Kakak-kakaknya, namun lama kelamaan mereka bisa enjoy untuk bisa bergabung dalam circle the Owen.
Beberapa saat menunggu akhirnya makanan pun sampai. Mereka mulai mengambil makanan yang mereka inginkan. Dan segera memulai makan malam secara khidmat dan tenang.
__ADS_1