Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Ardian dan Nia Pulang ke Rumah


__ADS_3

Bab 10


"Kapan kita pulang, Ardi?” tanya Nia akhirnya.


“Kamu sudah ingin pulang?” tanya Ardi, menatap gadis di sampingnya.


Nia mengangguk. “Kira-kira papa dan mamamu sudah ada di rumah belum jam segini. Mereka sudah pulang dari Brastagi?” tanya Nia.


“Nggak usah hiraukan mereka,” jawab Ardian datar.


Nia tercekat. Diperhatikannya wajah Ardian berubah tak senang ketika dia menyebut mereka.


“Om Wisnu dan Tante Siska...,” Nia masih hendak melanjutkan.


“Kubilang, jangan sebut nama mereka ketika kita sedang senang-senang seperti ini, Nia!” Ardi memperingatkan.


Nia tertegun. Pemuda itu berubah kasar lagi seperti pertama kali mereka bertemu di rumah semalam. Pasti ada yang membuatnya tak puas hingga tak senang saat papa mamanya disebut.


Kalaupun dia benci mama tirinya, setidaknya pada Om Wisnu, papa kandungnya dia tak akan begitu. Ini, Om Wisnu kok termasuk?


“Aku ingin pulang,” kata Nia pendek.


Sekonyong-konyong Ardian bangkit dari duduknya dan melempar plastik berisi sisa minumannya ke dalam tong sampah. Lemparannya cukup kasar, melewati depan wajah gadis itu.


Nia mengerutkan kening, merasa tindakan Ardian itu agak kurang sopan, tapi ya sudahlah, hal sepele tak ingin dipermasalahkannya. Bisa-bisa mereka ribut nanti kalau melihat dari gelagat Ardian yang mulai tak senang lagi.

__ADS_1


“Ayolah,” kata pemuda itu pendek.


Nia bangkit dari duduknya, menyusul langkah kaki Ardian yang berjalan menuju motor besarnya. Dibebaskan cagaknya dan dia naik ke atas motor, disusul Nia yang duduk di boncengan.


Ardian menghidupkan mesin motornya dan menjalankannya perlahan membelah jalan besar yang kiri kanannya tampak rindang oleh pepohonan. Jalan di situ lebih banyak perumahan villa, tak tampak gedung perkantoran atau bangunan lain selain perumahan.


Motor Ardian melaju dengan kecepatan sedang. Kali ini, motor itu tujuannya hanya satu, segera pulang ke rumah, tanpa maksud meraun-raun berbagai tempat seperti tadi.


Nia duduk di boncengan Ardian tanpa bicara sepatah kata pun. Saat motor mereka melewati berbagai ruas jalan yang dipenuhi oleh gedung-gedung tinggi, Nia hanya memandang sekilas tanpa semangat, tak bermaksud untuk mencermati tempat itu lebih dalam, apalagi sampai mengagumi dan menilainya. Kebahagiaan baginya, ada di dalam hatinya, bukan di luar.


Kira-kira tiga perempat jam kemudian mereka sampai di rumah. Kali ini, Nia tak memberi salam atau mengucapkan terima kasih saat pintu gerbang dibukakan Wak Amat. Kelelahannya dan kekecewaannya atas kekasaran sikap Ardian tadi membuatnya seolah lupa atau hilang ingatan. Kosong, itu yang ada di pikirannya saat motor melaju memasuki gerbang dan berhenti di garasi.


Nia turun dari motor Ardian, melepaskan helm yang menutupi kepalanya. Diserahkannya helm itu pada Ardian lalu buru-buru berjalan menuju pintu masuk tanpa bermaksud menunggu Ardian yang masih sibuk memarkirkan motor, melepas helm, dan membuka jaket. Diliriknya tubuh Nia yang dengan cepat sudah menjauh darinya dan hilang di balik pintu masuk.


Ardian menyusul gadis itu ketika selesai mengurusi motornya. Dia berjalan memasuki pintu utama dan matanya mencari ke mana Nia gerangan begitu pulang? Ternyata, gadis itu langsung masuk ke dalam kamarnya, mencari baju ganti dan bersiap-siap mandi.


Tampaknya, wajahnya tak gembira tadi, bila tersenyum pun seolah dipaksakan.


Ardian baru menyadari wajah Nia tadi terlihat lelah dan pucat, seperti merasa tertekan dan terpaksa menemaninya raun-raun. Padahal Ardian bermaksud baik ingin mengenalkan tempat-tempat di Medan pada gadis itu, membuatnya terhibur. Siapa sangka, gadis itu tidak tertarik dan lebih suka di rumah.


Ardian memejamkan matanya, benaknya dipenuhi berbagai macam pikiran tentang Nia. Perasaannya bercampur baur. Perlahan, dikarenakan rasa lelah karena membawa motor besar selama berjam-jam tadi, Ardian pun jatuh tertidur.


Nia keluar dari kamar sehabis mandi dan bersisiran. Dia melewati kamar Ardian yang terdengar sunyi tanpa suara. Dipikirknya Ardian tak ada di dalam. Barangkali pemuda itu sudah pergi lagi entah ke mana, pikir Nia. Bukankah dia sangat suka jalan-jalan dan menikmati betul setiap detik perjalanannya? Bertolak belakang dengan diri Nia sendiri yang tak suka bila harus melakukan itu lagi.


Membuatnya lelah dan haus saja.

__ADS_1


Perut Nia terasa lapar. Sudah hampir pukul 7 malam saat dia turun dari anak tangga menuju ke dapur. Bik Aini yang tadi tak tampak ketika dia pulang bersama Ardian, kini kelihatan sedang di dapur memasak makan malam.


“Bik,” sapa Nia, mendekati Bik Aini yang sedang mengaduk masakan di kuali dan panci.


“Wah, Non sudah pulang dari jalan-jalan bersama Nak Ardian?” reaksi Bik Aini


“Asyik nggak Non jalan-jalannya?” tanya Bik Aini sambil tersenyum lebar.


Nia menggeleng. “Tak asyik, Bik! Tak asyik sama sekali!”


Ups! Cepat-cepat dia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, takut kalau-kalau jawabannya itu didengar laki-laki galak yang tadi memboncengnya. Bisa-bisa dimarahi lagi seperti tadi, pikirnya.


“Ah, masa?’ tanya Bik Aini.


Nia tersenyum. “Sudahlah, nggak penting diceritakan itu, Bik,” kata Nia. “Bibik masak apa? Kok Om Wisnu dan Tante Siska belum juga pulang dari semalam ke Berastaginya?” heran Nia.


“Oh, sebentar lagi Tuan dan Nyonya bakal sampai di rumah. Mereka makan di rumah malam ini. Tadi Nyonya sudah telepon suruh siap-siap, sebentar lagi sampai,” kata Bibik. “Aduh, ini hampir telat. Non bantuin Bibik ya menghidangkan masakan-masakan ini ke atas meja,” kata Bik Aini seperti baru teringat dan buru-buru menyendok masakannya yang di atas kuali ke atas piring dan mangkuk.


“Siap, Bik! Mana yang harus dibawa?” tanyanya semangat. Kalau disuruh membantu orang tua, Nia paling senang, karena di rumah pun dia ringan tangan dan selalu senang hati membantu ibunya di dapur. Bahkan semua pekerjaan rumah dia yang membereskan sebersih-bersih dan serapi-rapinya sampai ibunya pun senang memiliki putri yang rajin, ringan tangan, pintar, dan baik hati.


Nia membawa piring-piring dan mangkuk-mangkuk berisi masakan Bik Aini, menghidangkannya di atas meja makan segi empat yang cukup besar.


Saat dia sedang asyik menyusun piring dan mangkuk itu di atas meja, Om Wisnu dan Tante Siska berjalan memasuki pintu rumah. Suara kedatangan mereka memecahkan kesunyian di ruang tamu. Nia yang menyadari kehadiran mereka, buru-buru menyelesaikan pekerjaannya, keluar dari ruang makan, berjalan menyongsong Om Wisnu dan Tante Siska.


Dilihatnya, Om Wisnu dan Tante Siska sudah duduk di sofa ruang tamu, mengistirahatkan badan sejenak dari lelahnya perjalanan jauh selama 2 jam lebih dari Berastagi.

__ADS_1


* * *


__ADS_2