
Bab 84
OMG, pemuda yang baru muncul di samping Ayu ini sangat tinggi dan tampan. Dia juga kelihatan seperti anak milioner yang berwajah selaksa bintang film.
"Si-si-apa ini, Yu?" Riana bertanya pada Ayu dengan rasa ingin tahu yang besar. Matanya tak bisa lepas memperhatikan sosok nyaris sempurna di depannya.
"Ini Pak Ardian, boss-ku," jawab Ayu dengan nada suara yang biasa saja, tidak terkesan menyombongkan diri.
"Boss-mu?" Riana melirik Ardian sambil bicara dengan Ayu.
"Iya," sahut Ayu pendek.
Makjang! Ternyata Ayu menggaet boss-nya sendiri, pekik hati Riana. Pantas saja kalau dilihat dari dandanan Ayu sekarang yang terlihat sangat seksi dan modis. Rupanya dia jalan bersama boss-nya.
"Sudah dulu ya, Riana, kami mau ke sana," Ayu tiba-tiba menggandeng tangan Ardian untuk menjauh dari Riana dan Randy. Sepertinya dia khawatir bila Riana tiba-tiba bertanya atau mengungkit lagi soal Willy. Bisa berabe kalau ketahuan sama Ardian.
"Lha, jangan cepat-cepat pergi dong, Yu," cegah Riana menahan tangan Ayu yang satunya lagi. "Masa kamu nggak kenalkan aku sama boss-mu yang ganteng ini? Hehe," Riana melirik Ardian lagi dengan mata berbinar penuh harap. Berharap mengenal seluk-beluk boss Ayu itu lebih dalam.
Ardian mengernyitkan alis. Dia agak kurang suka melihat sikap Riana yang usil dan ingin tahu. Apalagi melihat Riana yang berkali-kali melirik dan mencuri pandang padanya, sebal rasanya. Padahal dia melihat di samping gadis itu sudah ada seorang cowok yang pasti pacarnya.
"Ini Riana, Pak Ardian," dengan enggan Ayu memperkenalkan Ardian pada Riana.
Ardian mengangguk, "Halo," sapanya sekilas.
"Ini Pak Ardian," Ayu mengenalkan Ardian pada Riana. "Dan itu pacarnya, Randy."
Mereka berkenalan dan saling sapa.
"Ohiya, Pak Ardian. Aku ini teman SMP-nya Pak Ardian. Aku sekelas dengan Ayu dulu. Tapi kalau dengan Willy tidak sekelas. Dia masih satu kelas di atas kami," cerita Riana tanpa diminta.
__ADS_1
Ardian mengerutkan kening. Dia kurang menyimak kata-kata Riana barusan karena dirasanya gadis itu menyebalkan. Tapi sekilas dia mendengar Riana menyebut nama Willy Siapa Willy? Kok dimasukkan ke dalam cerita juga? pikir Ardian.
"Sudah dulu ya, Riana, kami harus ke sana sekarang," Ayu yang jantungnya berdetak kencang saat Riana menyebut nama Willy buru-buru memotong cerita Riana. Dia merasa harus segera pergi dari situ atau menjauhkan diri dari Riana sebelum teman SMP-nya itu membongkar rahasianya. Riana jelas tahu Willy itu pacar Ayu sejak SMP dan mereka sangat dekat selama bertahun-tahun. Pasti Riana penasaran di mana Willy sekarang. Apakah masih tetap bersama Ayu?
"Yuk, Pak Ardian," dengan gugup dan agak terburu Ayu menarik tangan Ardian menjauh dari Riana. Semakin cepat menjauh semakin baik, pikir Ayu. Padahal dia tak sadar kalau kegugupannya itu ditambah ketergesaannya menarik Ardian menjauh dari Riana malah mengundang rasa curiga Riana dan rasa heran Ardian.
Riana tak bisa mencegah Ayu menjauh darinya lagi karena temannya itu sudah kelihatan sangat gerah dan tak suka berlama-lama di sana. Karena itu Riana hanya bisa melihat Ayu dan Ardian bergerak menjauh darinya.
"Tampaknya ada yang aneh dengan sikap temanmu ya," Randy yang berdiri di samping Riana berkomentar. Walaupun dia baru berkenalan dengan Ayu hari ini namun dia merasa teman pacarnya itu memang bersikap agak aneh. Seolah mencemaskan sesuatu.
Sesuatu rahasia besar yang akan terbongkar di depan boss-nya kalau tidak segera menghindar.
"Iya, Ran. Aku juga merasa aneh," jawab Riana. "Aku kenal betul Ayu. Aku tahu sifatnya. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan."
"Menurutmu apa?" tanya Randy ingin tahu.
"Hmmm... kalau melihat sikapnya yang gugup tadi saat aku menyebut nama Willy, sepertinya dia tak mau boss-nya itu tahu soal Willy," tebak Riana sambil mengelus-elus dagu.
"Ya boss-nyalah, Ran. Cuma kayaknya lagi berusaha digaetnya jadi pacar. Lihat saja blus yang dia kenakan, berbelahan dada rendah di tengah. Kan sengaja pamer kasih lihat boss-nya itu. Maksudnya pasti menggoda. Mana tahu sehabis nonton ini mereka masuk ke hotel," nyinyir Riana.
"Kayak kita ya, Riana?" Randy melirik Riana dengan tatapan mata nakal. Riana mendelik.
Randy terkekeh. "Ya sudahlah, itu bukan urusan kita. Mau sama Willy atau sama Pak Ardian kan bukan urusan kita. Ayolah," Randy melingkarkan tangannya ke leher Riana, mengajaknya pergi dari situ.
Randy sengaja menuntun langkah Riana duduk di sofa yang berjauhan dengan sofa yang diduduki Ayu dan Ardian di kawasan cinema.
"Jangan kamu dekati lagi mereka," kata Randy. "Lihatlah wajah temanmu itu. Kasihan, sepertinya sangat takut kamu mengganggu hubungan baiknya dengan boss-nya itu."
"Pasti karena dia takut aku bocorkan rahasia," Riana masih penasaran.
__ADS_1
"Ya sudahlah, bukan urusan kita," balas Randy. "Tidak ada untungnya bagimu bocorkan rahasianya. Toh dia pun tak pernah mengusikmu kan? Gimana hubungan kalian dulu?" Randy ingin tahu.
"Ya sebenarnya sih dia tak pernah menyinggungku secara langsung. Cuma waktu SMP itu aku sangat sebal padanya karena mencuri cowok yang kusuka, kakak kelas kami yang namanya Willy itu. Hahaha," Riana terbahak.
"Waduh, ternyata pacarku yang cakep ini pernah naksir cowok lain. Hiks," Randy pura-pura sedih.
"Hala, cuma naksir doang, nggak mungkinlah pacaran sama dia apalagi jadian," terang Riana.
"Emang kenapa?" Randy membesarkan mata, menunggu jawaban Riana.
"Karena Willy bukan anak orang kaya seperti dirimu. Hahaha."
"Ah, teganya kamu, Riana. Mencintaiku karena harta," Randy pura-pura memasang gaya nangis.
"Jangan nangis dong, Sayang. Aku kan cuma bercanda," Riana membelai wajah Randy lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu cowoknya itu. "Kamu baik padaku selama ini, Ran. Aku sayang kamu," bisiknya di telinga Randy.
"Syukurlah, Riana-ku Sayang. Setidaknya kamu jujur padaku, tidak menyimpan rahasia. Tidak seperti temanmu itu yang tak jujur pada boss-nya," Randy membelai kepala Riana.
Sementara itu, Ayu dan Ardian yang duduk di sofa yang berjauhan dengan Riana dan Randy terlibat tanya jawab. Ardian merasa agak heran melihat sikap Ayu yang gugup tadi saat berhadapan dengan Riana.
"Kenapa, Yu? Kamu pernah punya masalah dengan temanmu yang tadi ya?"
Ayu menggeleng cepat namun masih terkesan gugup. "Tidak, Pak. Nggak ada masalah apa-apa antara kami."
"Oh syukurlah. Kupikir kamu takut dia membalas dendam masa lalu ke kamu. Soalnya aku melihat kamu takut padanya. Dulu dia sering mengganggumukah?"
"Ti-ti-dak, Pak," Ayu menggeleng lagi. Dia merasa tak nyaman Ardian bertanya soal hubungannya dengan Riana dulu.
"Oh, baguslah," Ardian pun tak bertanya lagi karena dia menyadari bahasa tubuh Ayu yang merasa tak nyaman saat ditanya terus hubungan dirinya dengan Riana.
__ADS_1
* * *