
Bab 118
"Ardian...!" suara Nia yang lembut terasa menggema di ruang dapur.
Ardian menoleh. Dia dan Ayu sedang dalam posisi berdiri menghadap meja makan. Ayu barusan selesai masak dan menaruh 2 piring nasi goreng ke atas meja saat Nia tiba-tiba muncul.
Ardian tercekat melihat Nia berdiri di ambang pintu dapur dengan mata membeliak ke arah dirinya dan Ayu.
"Ni... Ni-a..," sebut Ardian dengan bibir bergetar. Digerakkannya tubuhnya yang tinggi menghadap gadis itu. Hatinya spontan kaget melihat sosok Nia tiba-tiba muncul di villanya bagaikan sekelabat bayangan dalam mimpi.
Apakah aku sedang bermimpi? Ardian mencubit lengannya dan terasa sakit. Berarti aku tak sedang bermimpi, batinnya.
Mata Ardian pun memandang Nia lekat, seolah tak percaya walaupun disadarinya ini nyata. Ekspresi wajah Ardian benar-benar tercengang melihat kehadiran Nia.
Ayu yang sedang berdiri di samping Ardian yang tadi ikut menoleh pun tercengang. Dia juga menggerakkan tubuhnya yang sintal menghadap Nia lalu memandang gadis yang baru datang itu.
Hatinya benar-benar kaget saat mendengar suara seorang gadis memanggil nama Ardian ditambah lagi gadis itu sekonyong-konyong muncul di situ.
Seperti dihipnotis, Ardian berjalan mendekati Nia. Dia maju beberapa langkah hingga berdiri di depan gadis itu. Saat jaraknya dengan Nia tinggal setengah meter lagi, dia pun langsung memeluk gadis itu.
"Akhirnya kau kembali juga," kata Ardian pada gadis yang sedang dipeluknya. Kedua tangannya melingkari punggung gadis itu sementara wajahnya mencium harum rambut Nia yang terurai panjang dan lembut hingga ke punggung.
"Iya, Ardi. Aku kembali," balas Nia dengan suara kecil namun dirasa Ayu seperti petir menggelegar di dekat telinga. Menghentak keras dan menyadarkannya dari mimpi panjangnya sekaligus memupus sirna impiannya.
Nia memanggil Ardian dengan Ardi saja, dan memang hanya gadis itu yang diizinkan Ardian memanggilnya begitu. Ayu sama sekali tak tahu. Lebih tak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya sekarang melihat Ardian memeluk Nia.
__ADS_1
Ternyata inilah sosok Nia yang selama ini sangat dikhawatirkannya akan kembali ke Medan. Terlebih lagi ke sisi Ardian. Dari cerita Shella, Ayu tahu Nia pernah tinggal di villa Ardian selama 3 tahun dan hubungannya dengan cowok itu sangat dekat.
Oh, sekarang dia sudah kembali. Gadis sahabat masa kecil Ardian yang sangat spesial bagi cowok itu sudah kembali.
Jadi, apalagi artinya diriku bagi Pak Ardian kini? Seperti mimpi, di jam yang sama Pak Ardian memeluk punggungnya, lalu di jam yang sama pula Pak Ardian memeluk punggung gadis lain.
Ayu menggeleng-geleng frustasi, tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Matanya menatap nanar ke depan, pada pemandangan aneh yang menusuk tajam. Dalam jarak 3 meter darinya, dia melihat Ardian memeluk Nia.
Sakit. Itu yang dirasakan hatinya. Bergolak. Itu yang diguncangkan dadanya. Dan cemburu. Itu yang disiratkan matanya. Panas dingin marah kesal sedih bersatu padu membuncah membuat jantung Ayu berdegup kencang.
Dalam sekejap Ardian melupakannya. Cowok itu seolah lupa kalau dia sedang bersama Ayu tadi dan memeluk punggung gadis itu sebelum Nia datang. Ardian pun seperti tak sadar kalau di belakang dirinya berdiri Ayu yang sedang menatapinya dengan terpaku.
"Aku merindukanmu," bisik Ardian di telinga Nia. "Kenapa lama sekali kamu kembali? Menunggumu setahun seperti seabad."
"Iya, sekarang aku sudah di sini, Ardi," jawab Nia.
Nia melepaskan pelukan Ardian karena menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka. Seseorang yang membuatnya tak nyaman berada di pelukan Ardian. Seseorang yang seperti mengganggu atau mengusik pertemuan kembali dirinya dengan Ardian.
Ardian menyadari reaksi Nia yang melepaskan pelukannya karena merasa tak nyaman. Sedetik, dua detik, sepuluh detik dia memandangi Nia dengan tatapan bertanya. Kerinduannya masih belum habis terlampiaskan saat gadis itu mendorong tubuhnya sedikit untuk menjauh darinya.
"Kenapa, Nia?" tanya Ardian tak mengerti dengan sorot mata yang masih diliputi kerinduan membuncah.
"Ada seseorang di belakangmu," jawab Nia dengan pandangan lurus ke depan.
Tatapan mata Nia segera bertemu tatapan mata Ayu yang menusuk seperti beling tajam. Nia melihat sorot mata itu dipenuhi gejolak amarah. Lensa matanya berkaca-kaca menahan tangis yang hendak pecah.
__ADS_1
Ardian tersadar. Dia seolah ingat kembali dirinya sedang bersama Ayu saat Nia datang.
Ayu. Ya, Ayu. Di mana Ayu sekarang? Ardian celingak-celinguk padahal Ayu sedang berdiri di belakangnya.
Ardian mengingat kembali. Tadi dia dan Ayu sedang hendak memakan nasi goreng saat Nia muncul.
Spontan Ardian berbalik melihat meja makan. Ayu sedang berdiri di situ memperhatikan dirinya dan Nia.
Sekali lagi Ardian tercekat. Hatinya berdesir. Jantungnya berdegup kencang. Sorot mata Ayu sangat lain dari biasanya. Seperti tadi saat Ardian menyebut nama Nia namun kali ini jauh lebih mengerikan.
Ardian meneguk ludah. Tak pernah dia melihat ekspresi wajah Ayu seperti itu. Wajah manis dengan gigi gingsul dan lesung pipit yang selama ini amat menggoda dirinya seolah hilang. Sorot mata berbinar ceria dan terang bersinar bagaikan rembulan pun lenyap tak berbekas. Walaupun matanya masih besar dan bundar namun tak lagi indah.
Keindahan dan kecantikan seorang wanita itu ternyata tak terpancar dari fisik, melainkan dari hati. Ardian baru menyadarinya sekarang. Nia memiliki kecantikan fisik yang terpancar dari hati Sedangkan Ayu memiliki kecantikan fisik namun hatinya tak mampu mengimbangi kecantikan fisiknya.
"Yu?" sambil menahan napas Ardian memanggil namanya. Seolah baru terjaga dari mimpi, Ardian bertanya, "Kamu kenapa, Yu?" dilihatinya wajah Ayu yang merah padam dan matanya yang berkaca-kaca.
Ardian baru menyadari kalau gadis itu sangat terpukul melihat dirinya yang memeluk Nia. Tapi seharusnya Ayu tahu kalau Nia ini adalah gadis spesial yang pernah diceritakannya pada Ayu saat malam old and new di Berastagi. Waktu itu Ayu bahkan menyarankan Ardian menelepon Nia.
Jadi seharusnya sekarang Ayu tahu kalau Nia inilah yang pernah sangat dekat dengan dirinya. Dan Ayu juga harus siap jika dirinya kembali dekat dengan Nia karena selama ini Ardian tak pernah memberi Ayu status pasti atau mengakuinya sebagai pacar.
Itu biasa bagi Ardian. Namun tak biasa bagi Ayu. Sedangkan bagi Nia, memergoki Ardian sedang bersama Ayu adalah suatu hal yang dia tahu biasa bagi Ardian namun seolah tak biasa bagi dirinya. Karena dia melihat Ayu bukan gadis sembarangan seperti teman-teman cewek Ardian yang lain yang dulu pernah jalan bareng Ardian.
Ayu, seperti seorang gadis yang mumpuni bersaing dengannya dalam hal mendapatkan perhatian Ardian.
* * *
__ADS_1