
Bab 14
"Kurang ajar!” kata Ardian setengah berteriak. “Memangnya dia pikir aku ini supirnya? Lagi makan diganggu, disuruh bawa jalan-jalan! Dasar cewek matre, tak tahu diri! Huh!”
Mau tak mau mulut Nia yang sedasng ternganga merapat, menyungging seulas senyum. Geli.
“Apa kamu senyum-senyum, Nia?” sentak Ardian melihat gadis itu cengengesan.
“Hah? Memangnya senyum itu dilarang di rumah ini?” balas Nia spontan.
“Lucu, ya?” gertak Ardian.
“Iya, memang lucu!” jawab Nia tak mau kalah.
“Apanya yang lucu?”
“Kamu!”
“Kok aku yang lucu? Kurang ajar! Bukannya cewek tak tahu diri itu yang lucu, hah?”
“Ya kamulah yang lucu. Marah-marah langsung begitu diajak keluar jalan-jalan. Kalau tak mau, bilang baik-baik dan sopan sama orangnya, dong! Nggak perlu marah-marahi sampai segitunya. Ckckck. Sadis!”
“Woiii…! Dasar kamu cewek, pasti yang kamu bela kaummu!” geram Ardian.
“Lagipula, kamu kok nggak menyimpan nomor ponselnya? Bukankah katanya tadi dia dikenalkan oleh teman baikmu yang namanya Andika?”
Ardian melengos. “Nggak penting, jadi nggak perlu disimpan,” jawab Ardian.
“Oh…,” reaksi Nia.
“Temani aku, ya?” kata Ardian.
“Temani? Maksudnya?” tanya Nia.
“Temani jalan-jalan lagi kayak semalam. Kita akan ke mal, shopping, nonton, makan, nongkrong di kafe.”
“Oh… Hanya mengulang apa yang dikatakan Sinta tadi, ya?” tawa Nia.
"Memang begitu katanya tadi.”
“Aku serius,” Ardian menatap Nia lekat.
__ADS_1
“Aku dua rius,” balas Nia tertawa lepas.
“Sudah selesai sarapannya? Ayo kita pergi!” ajak Ardian sambil bangkit.
“Apaan? Pergi? Ke mana?”
“Ke tempat-tempat yang kusebutkan tadi. Masa lupa? Pikun, nih?”
Nia baru sadar kalau Ardian serius mengajaknya keluar jalan-jalan lagi. Haduh, rasanya dunia mau kiamat membayangkan harus menemani pemuda itu raun-raun seharian dengan sepeda motornya. Tapi, kayaknya kali ini tak raun-raun keliling kota, karena memiliki tempat tujuan dan maksud bepergian.
“Mau nggak? Ayolah, cepat!” seru Ardian agak keras, seperti tak sabaran.
“Mau ke mal dengan pakaian seperti ini?” alasan Nia sambil memandang baju yang dikenakannya. Cuma kaos oblong dengan celana jeans ponggol.
Ardian melihat pakaian Nia sekilas. “Nggak ada yang salah dengan pakaianmu. Sudah, kita berangkat saja sekarang. Tak perlu ganti baju, tak perlu bersolek, kamu sudah cantik begini, apa adanya,” puji Ardian kelepasan bicara.
Ups! Nia merasa jantungnya berdegup kencang. Apa kata Ardian tadi? Dia sudah cantik dengan pakaian seperti ini tanpa perlu bersolek? Wah, mimpi apa semalam, Ardian bisa memujinya begitu, membuat perasaannya senang seketika, melayang seperti di awang-awang.
“Haduh, lama sekali mikirnya,” kata Ardian tak sabar ketika melihat Nia malah melamun. Dia sendiri heran kenapa bisa mengeluarkan pujian spontan yang jujur dari dalam hatinya.
Sebelumnya, Ardian tak pernah memuji cewek mana pun cantik. Bila ditanya teman lelakinya, dia hanya menatap cewek yang dikenalkan mereka sekilas, lalu bergumam, “Ya, lumayan.” Itu saja.
Tapi kali ini, entah dorongan apa yang membuatnya tak mampu menahan kata-kata pujian yang terlontar dari mulutnya. Kata itu jujur berasal dari dalam hatinya. Memang dia merasa Nia adalah gadis alami paling cantik tanpa perlu dandanan mewah apalagi polesan tebal.
Ardian dan Nia berjalan menuju pintu keluar. Sesampainya di pekarangan, Ardian mendekati garasi mobil, membuka pintu mobil itu dengan kunci otomatis yang ada di tangannya lalu menunduk masuk.
Nia masih berdiri di depan mobil itu, menatap dengan bingung.
“Ayo, masuk, Nia!” kata Ardian sambil melongokkan kepala dari jendela mobil yang terbuka.
Nia berjalan mendekati pintu mobil yang di samping tempat duduk Ardian, membukanya lalu masuk ke dalam.
Dengan hati-hati dia duduk di jok depan bersama Ardian yang bersiap-siap menjalankan mobilnya.
“Kenakan sabuk pengaman,” kata Ardian.
Nia menarik sabuk pengaman di tempat yang didudukinya, menautkannya ke sambungan. Karena agak ketat, Ardian membantu Nia melonggarkan sedikit dan menguncinya.
Setelah merasa pas, Ardian pun mulai menjalankan mobilnya keluar dari garasi, mengitari pekarangan rumah sebelum sampai ke pintu gerbang yang dijaga Wak Amat.
Wak Amat membukakan gerbang untuk Ardian dan Nia. Lewat jendela mobil yang tertutup, Nia melambaikan tangan sambil mengangguk pada Wak Amat.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Ardian melaju membelah jalanan di kota Medan yang masih tampak ramai di pagi itu. Kalaupun ada suasana lengang, itu adalah di ruas-ruas jalan tertentu yang lebar dan tidak macet, biasanya itu adalah di ruas jalan yang penuh dengan pepohonan dan lebih banyak perumahan mewah atau pemukiman penduduk. Sedangkan di daerah pertokoan dan perkantoran, jalan raya selalu penuh dengan berbagai macam kendaraan yang sibuk berlalu lalang.
Di sepanjang perjalanan, Ardian lebih banyak diam, namun berkali-kali dia melirik gadis di sampingnya.
Dilihatnya Nia sedang menatap ke samping lewat jendela kaca. Barangkali dia teringat naik kereta api yang menatap ke samping jendela, bukan ke depan, pikir Ardian.
“Ternyata naik mobil lebih nyaman, Ardi,” kata Nia memecah kesunyian. Tak perlu capek, apalagi motormu besar dan tinggi, duduknya pun capek.”
“Iyalah, jelas naik mobil lebih nyaman, tapi lihat juga mobilnya. Kalau mobil mahal ya nyamanlah di dalam,” kata Ardian.
“He-eh. Memangnya kita mau ke mal apa?” tumben, Nia bertanya ingin tahu.
“Centre Point,” jawab Ardian.
"Rencananya, aku mau belikan kamu baju gaun. Tampaknya kamu tak bawa atau tak punya baju gaun, ya?”
“Baju gaun?” tanya Nia.
“Iya, gaun yang dipakai buat ke pesta-pesta, lho. Dua hari lagi ada teman yang ulang tahun, mengundangku ke pesta ultahnya. Maksudku, mau mengajakmu sebagai pendamping. Jadi kamu harus pakai gaun yang cantik dan seksi, seperti gadis-gadis kota.”
Nia menelan ludah. Jadi ceritanya, Ardian yang mau mengubah penampilan Nia, bukan sebaliknya, Nia yang mengubah diri Ardian. Wah, wah.
“Mau kan temani aku ke pesta?” tanya Ardian.
“Temanmu ultah, ya? Pestanya di mana, sih? Pasti banyak teman-temanmu yang hadir. Aku bakalan tak enak nanti karena tak kenal satu pun dari temanmu,” kata Nia ragu.
“Makanya, kamu jadilah pendampingku, biar kukenalkan kamu pada mereka, Nia.”
“Kenapa tak bawa cewek yang lain saja, Sinta misalnya?” tanya Nia hati-hati.
“Sudah, sudah pernah semuanya. Cuma kamu yang belum pernah,” jawab Ardian santai.
Ya, ampun! Berarti dirinya hanya cewek kesekian yang dibawa oleh Ardian ke mana-mana? pikir Nia. Jadi selama ini, sudah berapa jumlah cewek yang pernah dibawa keluar jalan-jalan menemani Ardian? Tiga, lima, tujuh, atau sepuluh?
Hati Nia bergetar. Serasa marah, cemburu, kecewa, atau malu?
“Mau kan Nia temani aku ke pesta?” ulang Ardian lembut. Kita beli gaun pesta dulu di butik yang di mal, ya?” jelas Ardian.
Nia tak menjawab. Dia berusaha menata perasaannya yang kacau-balau dengan memandang keramaian di samping jendela. Mobil mereka melewati kawasan pertokoan dan perkantoran dengan gedung-gedung tinggi.
Melihat Nia yang kemudian diam, Ardian pun tak berkata apa-apa lagi sampai mobil yang dikendarainya sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
* * *