
Bab 38
Sebuah becak motor berhenti di depan rumah Nia. Menyusul di dekatnya, sebuah sepeda motor pun berhenti. Pengendaranya, Riko, turun dari sepeda motor lalu berkata pada abang pengendara becak motor.
"Turunkan di sini saja kursi rodanya, Bang."
Kursi roda itu pun diturunkan dari atas becak motor. Kursi roda untuk orang jompo yang kelihatan masih baru dan bagus.
"Ini, Bang, terima kasih ya," Riko membayar ongkos becak lalu becak motor itu pun melaju pergi meninggalkan Riko dengan kursi roda di sampingnya.
Mendengar suara percakapan di depan rumah, Nia yang sedang duduk-duduk di ruang tamu menonton televisi beranjak bangkit. Dia melangkah mendekati asal suara di depan pintu. Sepertinya itu Riko, kata hati Nia yang sudah mengenali suara Riko.
Nia membuka pintu sebelum diketuk. Benarlah, Riko sedang berdiri di situ.
"Loh, Riko? Kok datang lagi?" tanya Nia heran . Karena kemarin barusan cowok itu datang menjenguk ibunya, hari ini datang lagi. Secepat itu, pikir Nia. Dilihatnya ada sebuah kursi roda di samping Riko.
"Kursi roda buat apa, Riko?" tanya Nia heran sambil melirik benda itu.
"Oh, ini kursi roda untuk ibumu, Nia. Barusan aku beli tadi," jawab Riko.
Nia mengernyitkan dahi. "Untuk apa kursi roda?" tanyanya heran.
"Untuk membawa ibumu jalan-jalan. Boleh aku masuk, Nia?" tanya Riko yang sedang menunggu dipersilakan masuk sejak tadi.
"Oh, iya, lupa," Nia memberi jalan pada Riko yang segera meraih kursi roda di sampingnya lalu membawanya masuk.
Setelah benda itu ada di dalam, Riko dan Nia pun duduk di ruang tamu.
"Kamu mau berikan kursi roda ini untuk ibuku?" tanya Nia memperjelas.
"Iya," angguk Riko. "Selama setengah tahun ini ibumu terkurung di rumah saja, tidak pernah keluar jalan-jalan melihat pemandangan luar. Pasti sangat suntuk dan bosan. Dengan adanya kursi roda ini, kita bisa bawa ibumu keluar jalan-jalan. Kamu tinggal mendorongnya saja, tidak usah memapahnya lagi untuk berjalan ke sana ke mari."
"Oh, begitu ya," Nia manggut-manggut.
"Iya, Nia. Ibumu sedang tidur siang?" tanya Riko sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah yang sunyi.
Nia mengangguk. "Iya, apa perlu kupanggilkan? Kayaknya sebentar lagi bangun."
__ADS_1
"Kita tunggu saja sampai ibumu bangun," kata Riko.
Menunggu ibunya Nia bangun dari tidur siang, Nia dan Riko bercakap-cakap di ruang tamu. Tak lupa Nia mengambilkan minuman untuk Riko di dapur.
Kira-kira setengah jam kemudian ibunya Nia bangun dari tidur siang. Nia yang mendengar suaranya dari dalam kamar langsung beranjak menjumpai ibunya.
"Ada Nak Riko lagikah, Nia?" tanya ibunya.
"Iya, Bu. Riko datang lagi menjenguk Ibu, sekalian membawakan Ibu kursi roda baru untuk dipakai jalan-jalan."
"Kursi roda?" heran Bu Rani.
"Betul, Bu. Katanya dengan adanya kursi roda itu, Ibu bisa dibawa keluar jalan-jalan melihat pemandangan. Kalau di rumah saja terus akan merasa bosan," terang Nia.
"Oh, baik sekali Nak Riko. Ibu mau menemuinya dan melihat kursi roda itu," kata Bu Rani sambil mengulurkan tangan, meminta Nia memapahnya keluar dari kamar.
Sesampainya di ruang tamu, Bu Rani didudukkan di atas kursi berhadapan dengan Riko, sementara Nia mengambil tempat di samping ibunya.
"Nak Riko baik sekali, kata Nia membelikan Ibu kursi roda?"
"Iya, Bu," Riko yang sudah memberi salam duluan menjawab sopan.
"Silakan, Bu," Riko meraih kurai roda itu, membukanya di tempat yang agak lapang supaya orang tua itu bisa duduk di situ.
Nia memapah ibunya mendekati kursi roda itu dan mendudukkan ibunya di situ.
"Wah, nyaman juga duduk di sini," katanya sambil terkekeh.
Nia mencoba mendorong ibunya ke sekitaran rumah, sementara Riko memperhatikan sambil tersenyum lega. Hatinya senang karena wajah Bu Rani tampak cerah setelah duduk di situ.
"Ayo kita dorong ibumu keluar dari rumah," kata Riko.
Nia menatap ibunya yang sedang duduk di atas kursi roda. "Ibu mau keluar rumah jalan-jalan?" tanya Nia.
Bu Rani mengangguk. "Iya, mau."
Nia dan Riko pun segera bersiap-siap membawa Bu Rani keluar jalan-jalan.
__ADS_1
Sesampainya di luar, Nia mendorong kursi roda itu menyusuri sepanjang gang rumah mereka sampai ke ujung gang.
"Kita lanjutkan dorong sampai ke lapangan pasir nggak?" usul Riko.
"Ibu mau ke lapangan pasir, Bu? Kita makan pisang panggang di sana," tanya Nia lagi pada ibunya.
Lagi-lagi Bu Rani mengangguk.
"Biar aku saja yang dorong, Nia. Gantian," kata Riko mengambil alih pegangan kursi roda di belakang Bu Rani.
Dengan perlahan dia mendorong diikuti Nia yang berjalan di samping ibunya. Mereka bertiga menyusuri sepanjang jalan menuju lapangan pasir dan tampak seperti sebuah keluarga yang harmonis.
Agak lama baru mereka sampai di tempat tujuan. Riko segera menghentikan laju kursi roda dan menguncinya di dekat para penjual jajanan sore seperti pisang panggang, jagung bakar, dan lain-lain.
Riko mendekati para penjaja makanan sore yang menyusun dagangan mereka di bawah pohon-pohon yang sejuk.
"Pisang panggang 3 dan jagung bakar 3 ya," kata Riko pada 2 pedagang di sana, sementara Nia dan ibunya menunggu di tempat yang agak teduh juga.
Setelah pesanan terbeli, Riko membawanya ke hadapan Nia dan Bu Rani.
"Ini, Bu. Ini, Nia," katanya.
Nia dan ibunya pun menerima jajanan sore yang disodorkan Riko. Sementara Riko pun mengambil tempat dengan duduk di bawah sebatang pohon.
Mereka bertiga menikmati pisang panggang dan jagung bakar di sore yang cerah.
Nia melihat ada kegembiraan terpancar di wajah ibunya karena melakukan sesuatu yang lain di sore ini. Biasanya ibunya hanya akan tidur di kamar sore-sore. Tapi hari ini bisa menghirup udara bebas dan menikmati jajanan sore, melihat pemandangan luar dan mendengar deru kendaraan. Sungguh terasa beda dari setengah tahun terakhir.
Sehabis menikmati jajanan sore, Riko bangkit dari duduknya di bawah pohon dan berjalan ke arah Nia dan ibunya.
"Bentar ya, aku belikan minum," katanya lalu berjalan mendekati penjual minuman di dekat situ. Setelah terbeli, Riko membawanya menemui Nia dan Bu Rani lagi.
Bu Rani dan Nia pun menerima pemberian Riko dengan senang hati. Mereka bertiga minum sambil bercakap-cakap.
Tampaknya Bu Rani mulai bersimpati pada Riko yang dirasanya pemuda yang baik. Riko bukan saja baik kepada Nia, tapi juga kepada dirinya. Perlahan nama Riko mulai melekat di benak dan hati Bu Rani, mengikis perlahan nama Ardian yang selama dia sakit belum pernah menjenguknya sama sekali. Jangankan sampai menjenguknya, membelikannya kursi roda, membawanya jalan-jalan, atau membelikannya jajanan sore, menelepon Nia selama 2 bulan ini saja tiada sama sekali.
Pantaslah juga bila nama Ardian di hati Nia dihapus saja dan diganti dengan sebuah nama baru, Riko.
__ADS_1
* * *