
Bab 88
Sementara itu di dalam mobil Ardian, Ayu dan Ardian duduk membisu. Ardian sudah menyetir mobilnya keluar dari ruang parkir gedung dan meluncur di jalan raya. Namun belum terdengar percakapan antara dirinya dengan Ayu.
Beberapa saat kemudian Ardian mulai merasa gerah. Ada yang mengganjal di hatinya. Perengkaran sengit antara Ayu dan teman SMP-nya, Riana sungguh tidak bisa dimengerti Ardian.
Biasanya teman sekolah yang sudah lama tak berjumpa pasti akan saling menyapa dengan ramah dan menanyakan kabar masing-masing. Juga akan diselingi basa-basi, pujian, atau canda tawa. Mereka akan saling melepas rindu.
Namun tadi bukan saja Ayu dan Riana tak melakukan hal-hal itu, mereka bahkan terkesan saling tak menyukai bahkan seperti musuh bebuyutan yang bertemu kembali.
Kata Ayu tadi, Riana selalu mengganggunya sejak SMP sampai sekarang. Kalau mengganggu waktu SMP masih bisa dimaklumi karena saat itu mereka masih abg alias anak baru gede. Ini mereka sudah dewasa. Ayu saja sudah 17 tahun. Apa yang bisa menjadi sumber pertengkaran mereka?
Blus Ayu yang berbelahan dada rendahkah? Ah, masa itu sumber pertengkarannya? Ardian menggeleng-geleng tak percaya.
Ohya, sepertinya tadi Riana menyebut nama seorang cowok. Willy. Iya, Willy! Siapa itu Willy? Ardian mengerutkan kening. Kenapa Ayu kelihatan marah sekali dan cepat-cepat masuk ke mobil saat nama Willy disebut Riana? Wajah Ayu kelihatan sangat gugup seolah sangat takut mendengar nama Willy disebut Riana. Ada apa gerangan?
"Ada yang mau kamu katakan kepadaku, Yu?" tanya Ardian saat melihat Ayu masih duduk membisu di sampingnya.
Ardian menyetir mobil perlahan sambil matanya melirik berkali-kali ke wajah Ayu baik secara langsung maupun lewat kaca spion.
Ayu terperangah. Hatinya berdebar keras. Kenapa Pak Ardian bertanya begitu padanya? pikir Ayu cemas.
"Maksud Bapak?" tanya Ayu hati-hati.
Ardian menarik napas panjang. "Ya misalnya kenapa bisa tiba-tiba bertengkar dengan Riana? Masa kamu marah hanya gara-gara dia melihatimu terus?"
__ADS_1
"Dia melihatiku dengan sinis dan iri, Pak," beri tahu Ayu.
"Ohya? Lalu kenapa tak kamu balas dengan candaan saja, Yu? Kenapa harus ngamuk begitu?" Ardian masih belum bisa memahami alasan Ayu.
"Pak Ardian nggak tahu dulu itu dia sangat jahat padaku, Pak. Tapi aku tak pernah membalasnya. Tadi dia mencoba kembali menjahatiku, ya terpaksalah kulawan. Kalau tidak, akan terus ditindas," pungkas Ayu.
"Tadi dia menjahatimu? Dia menyakitimu atau gimana?" Ardian ingin tahu.
Ayu menggigit bibir. Dia tak mungkin mengatakan pada Ardian kalau sumber pertengkaran mereka adalah gara-gara Riana yang terus menanyakan kabar Willy padahal Ayu takut Ardian curiga bila mendengar nama cowok disebut-sebut dalam pembicaraan mereka. Ardian pasti akan penasaran dan bertanya, siapa Willy itu?
"Sumber pertengkaran kalian bukan karena Riana yang terus melihatimu. Melainkan seorang cowok yang bernama Willy kan?" kata Ardian.
Ayu terhenyak. Jantungnya berdegup kencang. Apa yang ditakutkannya akan terjadi. Sia-sia saja selama ini dia menjaga rahasia dirinya yang telah memiliki seorang pacar bernama Willy bila akhirnya Riana berhasil membongkar rahasianya di depan Ardian.
"Siapa Willy itu, Yu?" akhirnya keluar juga pertanyaan itu dari mulut Ardian.
Melihat Ayu tak menjawab, Ardian mengulangi pertanyaannya. "Siapa Willy itu, Yu?"
"I-i-tu kakak kelasku dulu," jawab Ayu terpatah.
"Kakak kelas?" Ardian menatap Ayu sekilas lalu kembali melihat ke depan.
"Iya, kakak kelas yang disukai Riana," jawab Ayu.
"Lalu?" Ardian masih belum menemukan keterkaitan antara kakak kelas yang disukai Riana dengan pertengkaran Ayu-Riana. Apa hubungannya? Mengapa gara-gara kakak kelas itu mereka sampai bertengkar?
__ADS_1
"Lalu... karena aku tak mau bilang kabar Willy, dia pun marah padaku dan terus mendesakku. Akhirnya aku marah juga," jawab Ayu cepat dan sekenanya.
Ardian mengerutkan kening. Penyebab yang disebutkan Ayu itu membuat Ardian tambah bingung. Tidak bisa dicerna otaknya.
"Kenapa dia bertanya padamu kabar Willy? Apa kamu kenal Willy, Yu?"
Ayu diam. Kali ini dia tak tahu harus menjawab apa.
"Kamu kenal Willy, Yu?" ulang Ardian.
Karena terus didesak, Ayu terpaksa mengangguk. "Iya, Pak. Willy itu sepupuku. Dia tak suka Riana."
"Oh...," Ardian menarik napas panjang. Ternyata itu alasannya. Ayu menolak memberi tahu kabar Willy pada Riana karena Willy tak suka Riana. Willy itu sepupunya Ayu, jadi masuk akallah kalau Riana bertanya pada Ayu kabar Willy. Ardian pun manggut-manggut dan tak bertanya lagi.
Ayu melirik hati-hati pada Ardian yang duduk menyetir di sampingnya. Cowok itu kelihatan mulai tenang kembali dan sepertinya dia percaya kata-kata Ayu.
Ayu menyandarkan kepalanya ke sandaran jok mobil. Ditariknya napas panjang dan diembuskannya dengan lega. Aman, kata hatinya. Untuk sementara kebohongannya berhasil menipu Ardian. Tapi bagaimana selanjutnya? Ah, biarlah aman dulu untuk hari ini, bisik hati Ayu sambil memejamkan mata. Dia merasa sangat lelah karena pertengkaran sengit dengan Riana tadi. Karena itu dia pun jatuh tertidur di sandaran jok mobil sementara Ardian menyetir.
Ardian merasakan Ayu yang tertidur di sampingnya di sandaran jok mobil. Dia melihat wajah Ayu yang lelah dan tertidur pulas. Lalu melihat dadanya yang besar naik turun karena tarikan dan embusan napas.
Ardian menahan napasnya sendiri saat merasa janungnya berdegup kencang. Apalagi saat matanya tak sengaja tertuju pada paha putih mulus milik Ayu yang kelihatan jelas karena rok spannya yang pendek tersingkap.
Ardian menghentikan mobilnya di tepi jalan karena dia merasa konsentrasi menyetirnya terganggu gara-gara melihat Ayu tertidur pulas di sampingnya di sandaran jok mobil. Dia mematikan mesin mobilnya lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran jok mobil juga, mencoba mengatasi debaran keras di hatinya.
Hari mulai beranjak larut. Sekitar pukul 10 malam. Jalanan sudah sunyi dan hanya ada lampu jalan remang-remang di tepi jalan. Sementara suasana di dalam mobil Ardian sangat dingin dan membuat menggigil karena embusan AC. Kaca jendela mobil yang tak tembus pandang membuat orang yang di luar mobil tidak bisa melihat orang di dalam mobil.
__ADS_1
Ardian menoleh ke samping kiri dengan posisi kepala bersandar pada jok mobil. Dia melihat wajah cantik Ayu yang sedang tertidur pulas. Ardian menaikkan tangannya, mengusap pipi gadis itu.
* * *