Saat Cinta Harus Memilih

Saat Cinta Harus Memilih
Pertemuan Insiden Nia-Ardian di Depan Kamar Mandi


__ADS_3

Bab 6


Nia terbangun ketika jam di dinding kamar yang ditempatinya menunjukkan pukul 9. Ya, ampun! Ternyata sudah pukul 9 pagi! Saking nyamannya kamar tidurnya membuat Nia tertidur nyenyak sampai bangun kesiangan. Atau karena rasa lelahnya semalam yang membuatnya pulas sampai jam segini baru bangun?


Dengan tergesa, Nia mengambil baju kaos dan celana ponggol dari dalam tas besarnya. Pakaian di dalam tasnya bahkan belum sempat dipindahkannya ke dalam lemari. Ah, biarlah mandi dulu, kapan-kapan pun bisa disusun bajunya ke lemari, pikirnya.


Nia membuka pintu kamarnya dan buru-buru berjalan ke kamar mandi. Dibukanya shower di kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah menyabuni seluruh tubuhnya dan menyamponi rambut panjangnya yang lembut.


Walaupun dia terlambat bangun dan harus buru-buru mandi untuk bergegas ke bawah sarapan pagi yang dibuatkan Bik Aini, namun Nia masih sempat melantunkan sebuah lagu cinta yang pernah ngetop. Lagunya Band Radja.


Jujurlah padaku bila kau tak lagi cinta


Tinggalkanlah aku bila tak mungkin bersama


Jauhi diriku lupakanlah aku o-o-o-o-o-o-o-o-o-o…


Sementara itu, di kamar seberang.


Ardian menggeliatkan badannya yang terasa berat dan lelah. Matanya membuka enggan, perlahan-lahan. Rasa kantuknya masih belum hilang dan sebenarnya dia masih ingin terlelap lagi sampai siang. Namun suara nyanyian dari luar kamarnya sekonyong-konyong membangunkan dirinya. Bagaikan sedang bermimpi atau malah bagaikan disambar petir, dia mendengar suara merdu seorang gadis yang sedang bernyanyi.


“Arghhh…!” Ardian menjerit kesal sambil membolak-balikkan badannya ke kiri dan ke kanan. Tidurnya terganggu sudah.


Suara itu dari mana pula? pikirnya geram. Di lantai 2 rumahnya tidak ada orang lain selain dirinya. Itu pasti suara nyanyian dari radio yang diputar Bik Aini. Tapi, sejak kapan pula Bik Aini suka mendengar nyanyian dari radio? Kalaupun itu Bik Aini yang memutar radio, dia tak akan berani memutarnya keras-keras sampai terdengar di kamar Ardian. Karena Bik Aini tahu Ardian paling nggak suka diganggu, apalagi saat sedang tertidur lelap.


Karena nggak bisa lagi tertidur, Ardian pun bangkit dari baringnya. Diempaskannya bantal yang digunakannya untuk menutup kedua telinganya ke samping. Dia duduk di tepi ranjang sambil mengerutkan kening. Wajah tampannya yang putih mulus tampak masam. Namun itu tak mengurangi ketampanannya, malah tampak cool dan gagah.


Ardian mengenakan baju kaos putih ketat dan celana tidur ponggol coklat. Tubuhnya yang tinggi atletis dan kekar tampak jelas terbentuk di balik kaos ketat dan celana ponggol itu. Nampak bulu-bulu kaki halus dan lebat mengelilingi betis dan bawah lututnya.


Ketampanan Ardian sungguh tiada cela. Mata besar sorot tajam, hidung mancung, mulut ideal, pelipis dengan jambang tipis yang menghiasi wajah berahang keras, rambut lebat agak berombak, dan kulit putih mulus. Semua itu menjadikan cowok berusia 18 tahun itu bagaikan artis film berwajah blasteran, padahal Ardian sama sekali tak ada darah campuran.


Barangkali karena selama 10 tahun ini dia dibesarkan di kota besar dengan segala fasilitas utama dan dibalut kemewahan yang gemerlap, membuat tubuhnya pun menyesuaikan diri dengan semua itu. Atau bisa juga karena dia sendiri rajin olahraga semisal renang dan jogging hingga memiliki tubuh yang atletis dan kekar. Apalagi Ardian juga suka bermain basket di kompleks perumahan itu.

__ADS_1


Suara nyanyian di luar kamarnya kini terdengar lamat-lamat. Kalau tadi pas di reff-nya yang mengharuskan suara itu meninggi hingga terdengar jelas di telinga Ardian.


Cowok itu duduk tepekur di tepi ranjangnya yang bersprei biru. Telinganya mencoba mendengar lebih jelas asal suara yang membangunkan tidur lelapnya barusan. Sepertinya itu memang suara yang nyata, suara dari seorang gadis belia yang sedang bernyanyi di luar kamarnya. Itu bukan suara dari radio atau kaset apalagi dari aplikasi musik di ponsel.


Rasa herannya semakin menjadi-jadi. Kalau benar itu suara nyanyian seorang gadis, lalu siapa gadis itu? Kenapa ada di rumahnya dan sepertinya dengan senang hati bernyanyi-nyanyi.


Ardian berjalan pelan menuju pintu kamarnya, membukanya perlahan. Dia harus mencari tahu untuk menjawab rasa penasarannya. Kantuknya seolah hilang seketika ketika otaknya sibuk berpikir dan menebak-nebak tadi.


Rasa penasaran itu bukan saja karena ingin tahu siapa yang sedang bernyanyi di luar kamarnya, melainkan juga karena suara itu terdengar familiar di telinganya. Seperti suara seorang gadis yang selalu diimpikannya setiap malam, yang dirindukannya selama 10 tahun ini namun tiada keberanian untuk menjenguk atau menemuinya.


Ardian keluar dari kamar, berjalan ke arah datangnya suara itu. Nyanyian itu kini terdengar lembut, seperti berasal dari kamar mandi di lantai 2 dekat kamar Ardian dan kamar Nia. Langkah-langkah kaki Ardian semakin mendekat. Dan ketika sampai di tempat yang dituju, matanya pun terbelalak dan mulutnya ternganga.


Di depan pintu kamar mandi lantai 2, dilihatnya seorang gadis belia sedang keluar dari kamar mandi dengan tubuh dibalut handuk menutupi dada ke bawah. Rambut panjangnya yang basah dililiti handuk kecil, hingga ketika Ardian menatapnya, tangan gadis itu yang satunya sedang memegang gagang pintu dan satunya lagi memegang handuk kecil yang membeliti kepalanya.


Ardian berdiri seperti patung saat gadis itu berbalik dari pintu kamar mandi yang sedang ditutupnya dan menghadap ke arahnya.


“Awww…!” serunya spontan, kaget mendapati ada sosok makhluk lain yang sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam. Hatinya terlonjak, berdebar keras, tak tahu harus berkata apa selain spontan balas menatap sosok laki-laki tampan di depannya itu.


Diperhatikannya tubuhnya yang kekar, tinggi, dan atletis. Lalu wajahnya yang tampak dingin namun sangat sedap dipandang, membuat hati gadis mana pun akan berdebar melihatnya apalagi bila bersirobok pandang dengan sorot matanya yang tajam.


Nia terus memandang sosok di depannya itu, sedangkan Ardian yang dipandang pun sedari tadi belum lepas memandang gadis di depannya.


“Kamu siapa?!” sentak Ardian saat merasa terjebak dalam situasi seperti itu.


“A-a-aku…”


“Kamu gagap, ya!’ potong Ardian cepat saat melihat gadis di depannya itu tak bisa menjawab dengan cepat.


“Hah? Apa?” bingung Nia sesaat.


“Lho, ditanya kok malah balik nanya? Gadis aneh!” tajam suara Ardian. “Aku tanya, kamu itu siapa? Kenapa ada di rumahku, terlebih lagi ada di lantai 2 ini, markas kebesaranku, tahu nggak?”

__ADS_1


“Mmmm… aku…,” agak ragu Nia hendak menjawab. Namun sebelum dia memperkenalkan diri, Ardian sudah memotong.


“Haduh, lama sekali jawabnya! Cuma bilang diri sendiri siapa kok susah sekali? Padahal kalau nyanyi suaranya melengking tadi macam tiada orang lain di rumah ini saja yang bakal terganggu!” sindir Ardian agak emosi. Teringat bagaimana tadi tidurnya yang nyenyak terganggu gara-gara suara nyanyian gadis itu.


“Maaf…,” Nia menunduk dengan kedua tangan menggenggam erat handuk yang membeliti sebatas dadanya ke bawah, seolah-olah takut belitannya kurang kuat. Hatinya masih merasa kaget dan bingung.


Ya, ampun! Keanehan apa ini, keluar dari kamar mandi langsung bertemu cowok aneh yang marah-marah dan mengatakannya gagap hanya karena tersendat-sendat menjawab ketika ditanya.


Jawaban tersendat itu pun karena kaget tiba-tiba dihadapkan pada situasi seperti ini, diberondong pertanyaan yang sambung-menyambung. Lalu sebelum sempat menjawab, sudah pula dimarahi tanpa sebab.


Ohiya, katanya tadi karena suara nyanyiannya yang melengking. Apa betul suaraku melengking tadi? pikir Nia malu dan merasa bersalah tiba-tiba.


“Ya sudahlah, kalau tak bisa menjawab, aku pun tak tertarik. Huh!” setelah berkata begitu, Ardian berjalan ngeloyor pergi dari hadapan gadis itu, menuju kamar tidurnya dan langsung masuk ke sana.


Dengan langkah seperti dikejar hantu, cepat-cepat Ardian menuju ranjangnya dan menjatuhkan badannya ke situ. Ditutupinya kedua matanya dengan bantal besar sambil berusaha mengatur debar di hatinya. Ada apa ini? Kenapa jantungnya berdetak keras dan tak beraturan?


O-o. Bukannya dia tak pernah melihat gadis-gadis berpakaian seksi di luar sana. Banyak sekali teman yang dikenalnya di sembarang tempat, yang suka berpakaian gaun ketat memperlihatkan belahan dada atau rok pendek ketat di atas lutut hingga memperlihatkan paha putih mulus. Lalu, wajah mereka pun dihiasi make-up tebal dengan bulu mata palsu nan lentik.


Sering sekali Ardian melihat gadis-gadis seperti itu, bahkan berteman dekat dengan mereka. Tapi tak pernah sekali pun hatinya berdebar dan irama jantungnya berdetak tak karuan.


Dari tadi sejak pertama kali dia melihat gadis itu menutup gagang pintu kamar mandi, berbalik dan berhadapan dengannya, sampai mata mereka saling bersirobok, hati Ardian terus berdebar hingga sekarang.


Siapa gadis itu sebenarnya? pikir Ardian kalut. Otaknya tak bisa berpikir jernih semenjak melihat gadis itu untuk “pertama kali”. Bagaimana gayanya saat menutup pintu kamar mandi, saat berbalik dan berhadapan dengannya, saat balas menatapnya dengan hati-hati, saat kedua tangannya menggenggam erat-erat handuk putih yang membeliti dadanya ke bawah, hingga saat dia tergagap hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan Ardian. Semua itu masih terlintas di benak Ardian dan tak bisa dilepaskan sama sekali.


Aduh, ngesalin! Bayangan semua gadis cantik seksi yang pernah dikenalnya seolah menjadi samar dalam sekian detik terhapuskan oleh bayangan alami gadis itu yang “berpakaian handuk”. Lalu rambutnya yang dibeliti handuk kecil dan ekspresinya saat melihat Ardian mengomelinya. Semua itu tak bisa terhapuskan dari benaknya.


Ardian terus menutup kedua matanya dan membiarkan bantal besar menutupi seluruh wajahnya dalam posisi telentang di atas ranjang.


Oh, sekarang dia jadi benar-benar ingin tertidur dan memimpikan gadis itu, walaupun gadis itu adalah nyata dan ada di hadapannya tadi. Tapi Ardian merasa takut semua itu tadi hanyalah mimpi. Jadi dia mencubit lengannya sendiri dengan kuat. Aduh! Sakit rasanya! Berarti tadi itu bukan mimpi, memang ada seorang gadis asing di rumahnya yang ditemuinya tadi.


* * *

__ADS_1


__ADS_2